6

1604 Words
″Aku harap, ada penjelasan untuk semua insiden mengerikan ini.″ Amanda Rose, sang kepala akademi menatap murung tempat yang dulunya disebut sebagai kolam.  ″Maaf,″ kata Tuan J yang berdiri tak jauh dari Amanda Rose, pandangannya tak lepas dari petugas berseragam biru yang sibuk merapikan pinggiran kolam. ″Aku sendiri juga tidak mengerti.″ Mereka berdua—Amanda Rose dan Tuan J—tampak kusut. Amanda Rose tidak menyangka kejadian sehebat ini akan terjadi di akademi yang dipimpinnya. Menjadi pemimpin itu bukanlah perkara mudah. Apalagi jika tempat yang menjadi tanggung jawabnya berisi manusia dengan beraneka karakter. Sebelah kepala Amanda Rose terasa berdenyut hebat membayangkan angsuran dana yang harus dibayarnya. Ikan yang ada di dalam kolam sudah bisa dipastikan tidak ada yang selamat, tanaman yang baru ditanam pun tak sempat berbunga, lalu bekas troll yang harus segera dibereskan sebelum menyebabkan kerusakan ekosistem lebih lanjut. Oh, betapa beratnya menjadi seorang Amanda Rose. ″Nyonya, sepertinya Anda harus memikirkan solusi mengenai mendisiplinkan Alice.″ Apa yang diucapkan Tuan J sebenarnya ada baiknya juga.  Memang, pada kejadian ini Alice tidak bersalah. Gadis itu cuma berinisiatif untuk menyelamatkan nyawa (mungkin termasuk nyawa teman-temannya). Amanda Rose harus segera melakukan sesuatu agar energi berlebih yang ada dalam tubuh Alice tersalurkan. Bocah itu sepertinya memiliki bakat merusak perkakas sekolah. ″Mengenai itu,″ ucap Amanda Rose. Dia mulai membalikkan badan, menatap Tuan J. ″Sudah ada penyelesaian. Aku masih tidak mengerti, bagaimana bisa ada monster sungguhan di dalam kotak?″ ″Akan segera kuselidiki. Setelah itu akan kuberikan laporannya.″ *** Amanda Rose duduk di kursi beledu ditemani dua cangkir teh merah. Disesapnya beberapa kali sebelum akhirnya memutuskan untuk mengembalikan cangkir teh ke atas meja. Di seberang meja bundar duduklah Robin. Pemuda itu belum menyentuh cangkir teh yang dihidangkan untuknya. Kedua manik mata berwarna biru itu terus memandang sosok Amanda Rose. ″Terus terang,″ ucap Amanda Rose, pilu. ″Aku tak menyangka kau tinggal serumah dengan muridku yang satu itu.″ ″Dulu,″ koreksi Robin. ″Sekarang aku tinggal di Polaris.″ ″Ah, jadi nenekmu membesarkan dua orang putra dan seorang putri,″ ucap Amanda Rose menyimpulkan. ″Bisakah kita kembali ke permasalahan?″ ucap Robin jengkel. Kembali, Amanda Rose memasukkan satu balok gula ke dalam teh. ″Aku tidak akan bertanya lebih lanjut mengenai hubunganmu dengan Alice. Jadi, hal penting apa yang ingin kautanyakan padaku?″ ″Sudahkah Anda mendengar kasus pembunuhan yang terjadi di Kota Kabut?″ Amanda Rose mengangguk. ″Curiga ada kegelapan yang berperan di sana?″ ″Dua agenku hilang. Mungkin aku akan langsung turun tangan, mengingat Baginda Raja semakin resah.″ ″Tenang saja, aku akan langsung mengirimkan bantuan padamu.″ Tampak senyuman menggoda muncul di wajah rupawan Amanda Rose, tiba-tiba saja Robin merasa bahwa bantuan yang dikirim oleh gurunya itu bukanlah jenis bantuan yang akan ia sukai. *** Amanda Rose hanya bisa tersenyum mengingat pertemuannya dengan Robin. Siapa sangka pemuda dingin itu memiliki hubungan dengan gadis yang paling ditakuti oleh para pengajar. Siapa lagi jika bukan Alice? Alice ditakuti bukan karena kepandaiannya, gadis itu disegani karena seringnya masalah yang datang padanya. Selalu mempertanyakan kebenaran yang diajarkan gurunya, seolah apa yang didengarnya tidaklah benar dan dia menginginkan sebuah pembuktian. Kritis bukanlah sikap yang disukai oleh sebagian orang, Amanda Rose sangat memahami itu. Kini, Amanda Rose paham bagaimana seorang murid bisa memiliki salah satu batu unsur. Itu pemberian nenekku, kata Alice. Tentu saja Amanda Rose mengenal nenek yang dimaksud Alice. Fransisca Heartstone, seorang penyihir putih kenamaan yang dulu termasuk dalam anggota Konsul—lembaga yang terdiri dari beberapa ahli sihir ternama yang bekerja langsung atas perintah sang raja sendiri, lembaga ini bertanggung jawab mengatur penggunaan sihir dan hukumnya bersifat mengekang. Setelah kehilangan putra dan menantunya, Fransisca memutuskan untuk keluar dari Konsul dan menyepi di sebuah desa sebagai seorang peramu demi membesarkan kedua cucunya: Simon Heartstone dan Robin Heartstone. Ditambah berita terbaru bahwa Fransisca juga mengasuh Alice, hal ini membuat Amanda Rose semakin penasaran. ″Kepala Akademi,″ sapa salah seorang pegawainya. ″Ini adalah daftar anggaran belanja yang perlu Anda lunasi.″ Sontak Amanda Rose langsung terkulai lemas melihat berapa banyak digit yang harus dilunasi. Tiba-tiba saja Amanda Rose merasa ingin segera pensiun sedini mungkin dari pekerjaannya. *** Tidak memuaskan. Kunjungan Robin ke sekolah lamanya tidak sesuai dengan keinginannya. Informasi yang diharapkannya akan keluar dari sang guru sama sekali tidak ada yang penting. Sang guru hanya berjanji akan mengirim bala bantuan. Namun bala bantuan yang seperti apa tepatnya? Bagaimana jika Robin tidak menyukai, atau lebih tepatnya tidak membutuhkan bala bantuan yang diberikan padanya? Lalu Alice. Masih saja Alice bersikap acuh tak acuh pada Robin. Robin tidak menyangka jika Alice benar-benar bertandang ke akademi, tidak tanggung-tanggung akademi yang dipilihnya adalah sekolah yang dulu pernah ditempati Robin—akademi yang ada di Kota Polaris. Sungguh kebetulan yang janggal. Terlalu janggal jika disebut sebagai sebuah kebetulan. Sejenak Robin berusaha mengosongkan ruang pikir dari sosok Alice. Dipendamnya jauh-jauh ke dalam dasar pikiran Robin yang terdalam, mengunci dan melempar kunci pikiran itu jauh ke dalam samudra kekalutan. ″Sudah pulang?″ Paul masuk tanpa mengetuk pintu. Seperti biasa, rambut merahnya tampak berantakan. ″Ada laporan untukmu.″ Paul meletakkan setumpuk kertas di meja Robin.  Benar, yang dibutuhkan Robin untuk mengusir kekacauan di otaknya adalah pekerjaan. Sudah hampir dua puluh menit lebih Robin duduk tepekur di kursi kerja. Kini saatnya bagi Robin untuk menuntaskan tugas yang dibebankan padanya. ″Sepertinya ini masih ada sangkut pautnya dengan kasus di Kota Kabut,″ ucap Paul sembari menggantung mantel hitamnya ke dinding. ″Apa tidak sebaiknya melapor ke bagian Urusan Kegelapan?″ Robin terus memindai kata demi kata yang tertera di atas kertas putih. Lagi dan lagi, seorang pemuda dan dua gadis muda ditemukan dalam keadaan tak bernyawa. Jantung ketiga manusia malang itu hilang. Robin tahu bahwa dia harus segera pergi ke Kota Kabut. Jika tidak, Robin takut akan korban yang semakin bertambah. ″Paul, besok kita berangkat.″ ″Apa?″ Paul ingin sekali menikmati akhir pekan di rumah yang nyaman. ″Kenapa aku?″ Robin menjawab tanpa menoleh ke arah Paul, ″Karena kebetulan di sini hanya ada dirimu seorang.″ Merasa tidak punya banyak pilihan, Paul mengiakan saja ajakan, ralat, perintah Robin. Tak disangka, di usianya yang terbilang masih muda dan dalam status melajang, Paul harus mempertaruhkan nyawanya yang hanya ada satu di sebuah tempat yang terkenal akan keangkerannya. ″Apa kau keberatan?″ tanya Robin dengan nada dingin. Sangat keberatan, jerit hati kecil Paul. ″Aku cuma sedang memikirkan calon pendampingku di masa depan.″ Robin sama sekali tidak menyahut topik yang diutarakan Paul, ditatapnya kembali laporan yang berserakan di atas meja.  Sebuah kalimat mengusik benak Robin. Organ jantung hilang dan darah yang terkuras habis dari tubuh. *** ″Kau yakin tidak ingin kembali ke ruang kesehatan?″ tanya Jeanne untuk sekian kalinya. Dan Alice pun menjawab untuk sekian kalinya, ″Aku sangat sehat.″ Setelah menghela napas, lega, barulah Jeanne yakin sahabatnya itu baik-baik saja. ″Kalau kau baik-baik saja, kenapa tidak ikut kelas ilmu penghitungan siang tadi?″ ″Itu karena aku benci berhitung.″ Alice langsung merebahkan tubuh di atas ranjang. ″Dan kebetulan aku ingin tambahan jam tidur.″ Sudah bisa ditebak: Alice tidak menyukai pelajaran Nyonya Miranda. Wanita tua itu begitu teliti terhadap setiap jawaban yang diberikan muridnya. Menyebalkannya, Nyonya Miranda senang menunjuk Alice. Dan jika Alice tidak bisa menjawab pertanyaan yang diberikan padanya, tak segan-segan Nyonya Miranda akan memberikan sebuah buku yang tebal ... tebal ... dan tebal ... dengan tulisan yang kecil ... kecil ... sangat kecil hingga jika ada seekor semut yang secara kebetulan melintas di atas tulisan, Alice bisa mengira bahwa huruf yang ada di dalam bukunya tengah bergerak bebas. ″Teman-teman mengkhawatirkanmu, mereka pikir kau digilas oleh si troll.″ Memang Alice hampir digilas jadi ″Alice penyet″ di taman sana. Untung saja Alice ingat bahwa kaum troll tidak bisa berjalan cepat, mereka juga selalu berjalan dengan pola lurus yang sangat lambat, dan yang teramat penting dari kekurangan troll adalah gampang diprovokasi.  ″Aku tidak ingin ujian yang seperti itu lagi,″ ucap Alice sembari menutup wajah dengan kedua tangan. Kali ini Jeanne setuju dengan sahabatnya. ″Itu menyeramkan.″ ″Sangat,″ tambah Alice. Jeanne ikut merebahkan diri di samping Alice. ″Tadi aku sempat berjumpa dengan pemuda tampan.″ ″Uh huh,″ sahut Alice tanpa membuka kedua mata. ″Rambutnya seperti Tuan J, hanya saja rambut miliknya tidak sepanjang rambut Tuan J.″ Kali ini binar-binar bahagia mulai muncul di kedua mata Jeanne. ″Lalu, kedua mata birunya yang dingin menusuk hati, bibir merahnya yang memikat, dan ketika dia berjalan di samping Kepala Akademi, sosoknya begitu terang benderang. Ve dan Joanna saja setuju dengan pendapatku.″ ″Memangnya dia murid angkatan berapa?″ Semangat yang tadinya menyelimuti Jeanne lenyap berganti dengan suasana murung. ″Sepertinya dia bukan murid sini. Tebakku, dia pegawai Dewan Pengawas. Kalau tidak salah, aku sempat melihat emblem sayap di pakaiannya. Tidak salah lagi, pemuda itu pasti orang penting di Avalon.″ Pemuda berambut hitam dengan kedua mata biru yang memikat?  Pikiran Alice langsung mengarah pada sosok Robin.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD