7

1466 Words
Salju menutupi pepohonan yang telah mengugurkan seluruh daunnya di musim gugur. Warna putih yang turun dari langit semalam merubah tanah cokelat hangat menjadi putih beku. Di bawah tumpukan butiran putih itu, rumput-rumput dan bakal bunga tengah beristirahat untuk beberapa waktu. Beristirahat hingga sinar mentari di musim semi membangunkan para kelinci dan tupai yang tertidur di sarangnya. Tidur yang melindungi mereka dari kejamnya musim salju di bulan Desember. Rumah penduduk desa yang terbuat dari lempung dan kayu pohon ek nampak kukuh, sementara salju berhasil menyelimuti atap dan halaman. Setiap cerobong asap di rumah sederhana itu mengepulkan asap hitam, perlahan-lahan asap-asap tersebut membumbung tinggi ke angkasa dan bergabung bersama awan beku. Para pria sibuk memecah kayu, sementara para wanita membersihkan jelaga yang menempel di penanak nasi. Anak-anak berlarian di hamparan padang putih. Beberapa anak membuat manusia salju; digunakannya wortel untuk hidung, batu-batu kecil untuk mata, lalu ranting untuk mulut dan tangan. Dua anak laki-laki saling melempar bola salju, bola salju melesat dan hancur menjadi serpihan putih.  Salju di hari itu tidak sedingin biasanya. Salju kali ini terasa ringan dan hangat. Mungkin karena matahari yang bersedia membagi kehangatannya kepada para manusia yang berada di bawah naungannya. Mungkin juga karena sang matahari bahagia melihat anak-anak yang bermain riang. Berlari dan saling mengejar, bersembunyi di balik pepohonan, dan berusaha meninggalkan jejak mereka di atas salju yang tentu saja jejak tersebut akan hilang oleh salju di malam berikutnya. Semua terlihat sempurna.  Alice kecil nampak begitu menggemaskan dalam mantel merahnya. Kedua pipi dan hidung Alice terlihat merah karena cuaca dingin. Usia Alice sudah sembilan tahun, dan ini merupakan salju pertama yang dilihatnya di siang ini. Alice mulai mengambil segenggam salju di tangan kanannya, dilemparnya salju tersebut ke arah Simon. Plukk! Butiran salju mendarat tepat di kepalanya. Rambut hitamnya dipenuhi dengan kristal-kristal mini. Seharusnya Simon segera memasukkan potongan kayu yang telah dipotong Robin ke dalam rumah, namun si kecil Alice terlihat ingin bermain dengannya. ″Kau sengaja, ya?″ tanya Simon sembari melakukan tolak pinggang. ″Akan kuadukan ke Nenek.″ Alice hanya cekikikan menyaksikan wajah jengkel Simon, kemudian dia menjulurkan lidah ke arah Simon. Alice berlari ketika Simon mengejarnya. Mereka berdua berlari di atas ladang salju, sesekali saling lempar bola salju. Beberapa bola mengenai Robin yang tengah melanjutkan pekerjaannya memotong kayu. Apa daya, Robin hanya mendengus kesal kepada Simon dan memilih meneruskan pekerjaannya.  ″Tertangkap!″ teriak Simon. Simon memegang kedua bahu Alice. Setelah memutar Alice beberapa kali, kemudian Simon memeluk Alice yang terus saja menertawakan Simon.  ″Simon, gendong aku,″ pinta Alice. ″Gendong aku!″ Alice melompat-lompat sambil memohon Simon untuk menggendongnya.  ″Alice,″ katanya. ″Kalau kau berbuat jahil padaku, aku tidak mau menemanimu bermain lagi. Mengerti?″ Alice menggeleng. ″Aku ingin bermain dengan Simon.″ ″Hoh, begitukah?″ Simon mengangguk-anguk sembari memperhatikan Alice yang melompat-lompat di depannya, merentangkan kedua lengan mungilnya sembari merengek pada Simon. ″Pilih aku atau Robin?″  ″Simon,″ jawab Alice. ″Aku mau Simon.″  ″Simon,″ panggil Robin jengkel. Sering kali Simon bertanya kepada Alice untuk memilih antara dirinya dan Simon, dan itu menjengkelkan. Pasalnya Alice selalu memilih Simon. Mungkin di mata Alice Robin itu kurang ramah. ″Bagaimana dengan kayu-kayu ini? Aku sudah memotongnya.″ ″Lihat,″ ucap Simon kepada Alice. Simon menunjuk Robin yang tengah menata tumpukan kayu. ″Aku harus membantu Robin. Kasihan ′kan dia? Bagaimana jika kita berdua menolongnya memasukkan kayu-kayu tersebut?″ Menolong Robin? Alice sebenarnya tidak ingin menolong Robin, namun melihat raut memelas Simon, akhirnya Alice memutuskan untuk mambantu Simon memasukkan potongan kayu ke dalam rumah. Simon dan Robin membawa setumpuk kayu, sementara Alice hanya mampu mengangkat sepotong kayu (atau lebih tepatnya menyeret potongan kayu tersebut). Sehari ini mungkin akan dihabiskan Alice dengan memasukkan potongan kayu ke dalam rumah, lalu mungkin dia akan menempel pada sang nenek dan mencicipi sup labu yang begitu digemarinya. Harusnya hari ini dilewatkan dengan penuh kebahagiaan. Ketika Alice hendak mengambil potongan kayu yang berikutnya, kedua mata hazelnya menangkap sebuah pemandangan. Seorang anak perempuan dalam mantel merah mudanya nampak bahagia. Gadis kecil itu memiliki warna rambut yang sama dengan Alice, hanya saja milik anak itu dikuncir rapi dengan pita berwarna merah. Sepatu bot yang membungkus kedua kaki anak itu nampak mengilap.  Alice tidak menginginkan mantel baru, dia juga tidak cemburu dengan pita yang menghias rambut anak itu, dan sepatu bot itu pun tidak membuat Alice iri. Satu-satunya yang membuat iri Alice adalah dua manusia dewasa yang mengapit anak kecil itu. Sepasang manusia yang sudah bisa Alice tebak sebagai ayah dan ibu si anak.  Sudah lama Alice bertanya-tanya, di mana ayah dan ibunya? Alice tidak pernah percaya pada perkataan Robin bahwa Alice datang ke rumah mereka secara ajaib: seekor bangau putih terbang dan masuk ke dalam rumah sambil membawa buntelan putih yang berisi bayi Alice. Alice tidak percaya. Pastinya Alice juga memiliki ayah dan ibu, sama seperti Simon dan Robin, sama seperti anak-anak lainnya di dunia ini. Lalu, ke mana perginya ayah dan ibu milik Alice? Tidakkah mereka ingin berjumpa dengan Alice? Tidakkah mereka ingin memeluk Alice? Tidakkah mereka sayang kepada Alice? Atau ... mungkin mereka membenci Alice? Tanpa disadari butiran bening mengalir turun dari kedua mata Alice. Mengalir turun dan kemudian membasahi kedua pipi apelnya. Cairan bening yang membasahi pipi Alice mulai mengalir semakin deras seiring dengan suara isak Alice. Menyadari Alice tengah menangis tersedu-sedu di halaman rumah, Simon dan Robin segera menghampiri Alice. ″Kenapa?″ tanya Simon. ″Apa kakimu tertimpa kayu? Perutmu sakit? Atau apa kau ingin sesuatu?″ Alice sama sekali tidak menjawab pertanyaan Simon, yang dilakukannya hanya menangis, menangis, dan menangis. Alice tidak tahu cara menjelaskan kesedihan yang dirasakannya. Meski Alice ingin berhenti menangis, namun air mata itu terus saja jatuh dari kedua matanya. Bergulir turun dari kedua pipinya, kemudian menetes di atas salju putih. Simon yang tak tahu sebab musabab tangisan Alice, hanya bisa memeluk Alice dan berkata bahwa Nenek akan segera pulang. Sementara Robin berdiri membisu menatap seorang anak kecil yang tengah bercengkerama bersama ayah dan ibunya. Akhirnya Robin tahu alasan Alice menangis. Meski tahu, Robin memutuskan untuk diam.  Diam, dan Robin mulai menatap jauh ke langit sana.  Ada sebuah pertanyaan yang mengusik batin Robin: adakah orangtua yang tidak menginginkan anaknya? *** Mimpi lama kembali mendatangi Robin. Kenangan akan desa, salju di bulan Desember, Simon, dan anak kecil yang menangis pilu. Ingatan itu semakin kuat di malam ini. Walau datang dalam wujud mimpi, masih saja Robin bisa merasakan setiap kejadian di kala dia berusia empat belas tahun.  Terbaring di atas ranjang. Robin mengenang kehidupan terdahulunya bersama keluarganya. Saat kecil, Fransisca, sang nenek, sering mengajak Robin dan Simon pergi ke hutan. Mengambil akar obat, jamur, ataupun dedaunan hijau yang nantinya akan diubah menjadi sebuah ramuan. Simon yang dua tahun lebih tua dari Robin selalu saja menolong sang nenek menumbuk akar wangi, sementara Robin mengupas buah liar dan mencampur kulit buah tersebut dengan akar wangi yang telah dihaluskan oleh Simon. Mundur beberapa tahun ke belakang saat Robin berusia lima tahun.  Malam ketika salju turun dengan derasnya, Robin dan keluarganya menghabiskan petang seperti biasanya. Fransisca mengaduk sup, Simon tengah menumbuk akar, sementara Robin terhanyut dalam buku yang dibacanya. Semua orang di malam itu sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, hingga suara ketukan pintu mengalihkan perhatian ketiga penghuni ruangan tersebut. Simon segera berjalan ke arah pintu, dan ketika dia membuka pintu sesuatu yang mungil menarik perhatiannya.  Tepat di depan pintu kediamannya terdapat sebuah keranjang rotan. Di dalam keranjang itu sesosok bayi mungil yang diselimuti kain putih tengah tertidur. Simon segera memanggil Robin dan neneknya. Mereka bertiga sangat terkejut mendapati tamu mungil yang mengunjungi pondoknya. Entahlah, siapa gerangan yang tega meninggalkan bayi yang tidak berdaya itu di pondok mereka, yang jelas detik itu juga Fransisca memutuskan untuk mengasuh si bayi. Di dalam keranjang bayi, terdapat secarik kertas yang bertuliskan: Alice. Hanya sebuah nama yang menyertai bayi tersebut, jika diingat-ingat Robin hampir-hampir bisa memastikan bahwa Alice tumbuh menjadi sosok yang menjengkelkan. Selalu mempertanyakan benda asing yang dilihatnya, tidak bisa diam, dan sering menghilang di saat dibutuhkan (semisal ketika Fransisca meminta Robin mengajari Alice berhitung, maka detik itu juga Alice lenyap. Robin menduga bahwa Alice tidak ingin diajari olehnya). Heran, mengapa Simon bisa begitu sabar menghadapi Alice? Ah, lagi-lagi Robin memikirkan Alice. Mungkin karena ingatan di musim salju bulan Desember. Di musim putih yang membuat semua kehidupan terasa melambat, seakan sedetik di saat itu sama saja dengan setahun di masa kini. Kemarin Robin tengah bergulat dengan kasus yang belum terpecahkan, hari ini dia kembali ke masa ketika dia hidup di desa, sedangkan esok.... Besok Robin harus bersiap menuju Kota Kabut. Menyelesaikan seluruh permasalahan dan segera kembali ke rutinitasnya yang hambar.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD