Saatnya bagi para siswa dan siswi melakukan uji ketangkasan. Para siswa dan siswi berseragam ungu dan hitam tampak berjejer menghias halaman tengah akademi. Semua murid bersiap dengan seluruh perlengkapan yang akan digunakan melawan musuh. Nantinya, setiap murid akan mengambil bola seukuran genggaman yang ada di dalam kotak keputusan (sebuah kotak persegi setinggi tiga puluh sentimeter. Kotak keputusan merupakan peralatan magyk yang berisi mahluk-mahluk ilusi—tidak nyata—hanya digunakan untuk latihan tanding para murid di akademi). Dari sanalah mahluk yang akan menjadi lawan mereka keluar dan tugas siswa tersebut adalah melumpuhkan mahluk tersebut.
Uji ketangkasan dilakukan di bawah pengawasan seorang wizard muda bernama Tuan J. Tidak seorang pun tahu nama asli pria yang senang mengikat rambut hitamnya menjadi ekor kuda. Hanya satu hal yang diketahui oleh para murid: Tuan J merupakan sosok pria tampan di usia dua puluh delapan tahun. Kabarnya, banyak siswi yang diam-diam memendam rasa terhadap Tuan J. Namun tampaknya ketampanan yang dimiliki Tuan J tidak memengaruhi Alice, dan tentunya ketakutan Alice itu beralasan. Pelajaran pertahanan hidup yang diajarkan Tuan J adalah salah satu mata pelajaran yang ingin dihindari Alice. Pasalnya, mahluk-mahluk yang dijadikan sebagai media pengajaran merupakan mahluk-mahluk yang sedikit kurang bersahabat dengan manusia. Masih jelas di ingatan Alice ketika sang guru memintanya untuk menangkap monyet-monyet liar yang berasal dari daratan tropis. Monyet-monyet tersebut mendesis dan mengacak-acak rambut Alice sebelum akhirnya ditangkap oleh Jeanne dan segera dimasukkan ke dalam karung.
Dan benar saja apa yang dibayangkan Alice terjadi.
Seorang siswa berambut keriting kewalahan menghadapi sosok mogly. (Mogly merupakan mahluk setinggi setengah meter dengan wujud kepala babi. Kedua tangan dan kakinya seperti kaki buaya dengan cakar hitam menggelap). Tidak sampai lima menit siswa tersebut sudah berhasil mengalahkan mahluk tersebut. Lalu, ketika tiba giliran Jeanne, dia mendapatkan imp katak sebagai lawan (Alice berharap dialah yang mendapatkan kesempatan untuk melawan imp-imp katak tersebut). Di luar dugaan, Jeanne melemparkan beberapa remah roti yang menarik perhatian ketiga imp gemuk tersebut. Dengan santainya Jeanne melemparkan kandang kelinci untuk mengurung imp-imp tersebut. Ujian selesai, Jeanne sama sekali tidak mengeluarkan keringat.
″Tidak sulit sama sekali,″ ucap Jeanne penuh kemenangan.
Tuan J yang menyaksikan kecerdikan Jeanne tidak memberi komentar dan memilih memanggil Rosalina.
Dengan penuh percaya diri Rosalina memasukkan tangannya dan mengeluarkan sebuah bola berwarna ungu. Sebelum melempar bola tersebut untuk membebaskan mahluk yang ada di dalam bola, Rosalina menyempatkan diri untuk mengibaskan rambut cokelatnya sembari tersenyum cemerlang ke arah Tuan J. Jeanne berkata pada Alice bahwa Rosalina sengaja melakukan itu hanya untuk mengambil hati Tuan J. Alice hanya berkata, ″Tenang, hati Tuan J hanya untuk Tuhan.″ Akibat perkataannya Alice mendapatkan cubitan yang membuat perutnya mulas.
Setelah bola dilempar segera terdengar bunyi boom yang dibarengi dengan kepulan asap hitam. Sosok setinggi tiga meter tampak menjulang dengan kilatan mata berwarna merah; tubuh gempal, kepala berbentuk kerbau, dan dia membawa sebilah kapak bermata dua. Para siswa menjerit melihat seekor utukku mendengus kesal ke arah Rosalina. Sementara Jeanne berdoa agar utukku tersebut mengempaskan Rosalina ke arah kolam.
Itu pastinya sangat menyenangkan, begitulah pikir Jeanne.
Utukku tersebut mulai mengarahkan kapak besarnya, dunkkk, bilah besi menghantam benda tak kasatmata. Rupanya, Rosalina menyempatkan diri merapal tameng pelindung yang menghindarkannya dari sang dewa maut. Kemudian, Rosalina mulai mengarahkan jari telunjuknya dengan gerakan dari atas ke bawah. Satu per satu jeruji mulai mengelilingi si utukku. Meskipun mahluk itu meronta dan berulang kali menghantamkan kapak ke jeruji-jeruji tersebut. Kurungan besi sama sekali tak bergeming, jeruji tetap berdiri kokoh mengurung mahluk buas yang ada di dalam.
″Rosalina, lulus!″ teriak Tuan J.
Anggota geng Rosalina langsung bersorak-sorai menyelamati kemenangan pemimpinnya.
″Huh,″ dengus Jeanne. ″Kenapa doaku tidak terkabul?″
″Karena doamu buruk,″ sahut Alice yang berdiri di sampingnya. ″Bukankah kau pernah berkata untuk tidak melakukan tindak kejahatan pada Rosalina?″
″Itu sebelum aku tahu Rosalina tertarik pada Tuan J.″
Lelah. Alice memutar mata. ″Jean, hentikan. Tuan J itu sepuluh tahun lebih tua darimu, dan dia itu guru.″
Jeanne terus saja berkicau bahwa Tuan J merupakan sosok sempurna seorang pria yang pantas dijadikan calon suami. Menurut Jeanne, jubah berwarna biru tua itu membuat sosok Tuan J terlihat menawan dan misterius, membuat semua gadis berusaha menguak rahasia yang disembunyikan sang guru.
″Alice Senay.″
Akhirnya panggilan Tuan J menyelamatkan Alice dari keharusan mendengar ocehan Jeanne. Alice mulai berjalan menuju kotak keputusan. Sebelum tangannya berhasil menyentuh salah satu bola, Tuan J berkata, ″Ketahuilah, Alice. Mahluk yang ada di dalam kotak keputusan merupakan pencitraan lawan yang setara dengan yang terpilih. Nilai semua siswa akan disesuaikan dengan mahluk yang berhasil mereka kalahkan.″
Alice sama sekali tidak mengerti dengan maksud ucapan Tuan J, tangannya mulai mengaduk-aduk kumpulan bola. Alice berhasil mendapatkan salah satu bola berwarna merah tua. Semilir angin berembus di sekitarnya, ditatapnya pantulan wajahnya di atas bola. Berdoa dalam hati bahwa lawannya nanti bukanlah binatang buas.
***
Sesuai dengan rencana, Robin mulai bertandang ke Akademi Polaris. Setelah berjumpa dengan bagian penerima tamu di lobi utama, seorang pemuda berseragam putih langsung mengarahkan Robin menuju Kantor Kepala Akademi. Sesampainya di sana, Robin tidak menjumpai sang kepala akademi.
″Nona Cleo,″ tanya pemuda yang mengantarkan Robin, ″apakah Anda tahu ke mana perginya Kepala Akademi?″
Sejenak Cleo memperhatikan Robin yang berpakaian rapi ala seorang pengawas. ″Kurasa beliau melihat anak-anak di uji ketangkasan.″
Setelah menerima konfrimasi dari Cleo, pemuda itu pun segera mengantarkan Robin menuju halaman tengah akademi. Sesampainya di sana, Robin bisa melihat wanita yang ingin dikunjunginya tengah berdiri di samping pagar beranda.
Amanda Rose. Wanita berusia enam puluh tahun itu masih terlihat cantik layaknya gadis berumur dua puluh. Rambut merahnya terlihat mengilap dengan tatanan sanggul. Gaun sederhana abu-abu membingkai tubuh langsingnya. Sementara kedua mata hijaunya terus memperhatikan para siswa dari atas balkon.
Penampilan belia Amanda adalah hasil dari kemampuannya meramu akar dan tanaman obat yang membuat kulitnya selalu halus. Selain itu, kemampuan Amanda sebagai seorang penyihir tidak perlu diragukan. Dia menduduki peringkat ketiga sebagai penyihir paling berpengaruh di Avalon. Salah satu dari sekian alasan Robin yakin dengan keputusannya meminta saran dari Amanda Rose.
Mendengar suara gemeletuk sepatu, Amanda langsung membalikkan tubuh. ″Robin!″ sapanya. ″Gerangan apa yang membawa mantan murid kesayanganku ke sini?″
Benar. Sudah lebih dari empat tahun semenjak Robin lulus dari akademi dengan nilai memuaskan. Prestasi yang membuat Robin diterima bekerja di bagian Dewan Pengawas untuk Kerajaan Avalon sebagai seorang penyidik. ″Sedikit masalah di Dewan Pengawas,″ jawabnya.
Terdengar suara riuh para siswa yang saling menyemangati. Robin mulai berjalan mendekat ke arah pagar. Belasan siswa dan siswi berseragam tengah menyaksikan seorang siswa berambut hitam yang berusaha mengalahkan seekor ular raksasa. Ular itu mendesis dan berusaha mengembuskan napas beracun, namun si siswa tak kurang akal. Dia mulai melontarkan magyk kejut yang membuat ular itu terpelanting dan menguar menjadi asap hitam.
″Uji ketangkasan,″ ucap Amanda mengikuti arah pandangan Robin. ″Lihatlah, betapa menggemaskannya mereka ketika tiba pelajaran Tuan J.″
Benar saja, Robin bisa melihat sosok pemuda berambut hitam yang tengah mengawasi jalannya ujian. Pemuda itu terlihat mencolok dalam jubah birunya, sementara siswa dan siswi berbaris di belakang sang guru. Lalu, pandangan Robin terhenti pada sosok gadis berambut pirang.
″Tuan J,″ jelas Amanda, ″guru baru yang langsung meraih puncak kepopuleran di akademi. Lihatlah wajah-wajah para siswi yang—″
″Apakah Alice juga termasuk siswi yang mengikuti uji ketangkasan?″ tanya Robin memotong ucapan Amanda.
″Oh dia.″ Amanda mulai tersenyum mengingat berbagai macam insiden yang diciptakan oleh muridnya yang satu itu.
Robin masih memandang sosok Alice yang tampak bersemangat menyaksikan kawan-kawannya. ″Ada apa dengannya?″
″Alice Senay,″ ucap Amanda penuh intonasi. ″Merupakan salah satu siswi yang cukup meresahkan. Beberapa hari yang lalu dia hampir menyebabkan separuh kelas terbakar. Meski tidak ada korban jiwa di sana, selain jenggot Tuan Ru. Para pengajar sering kali memberikan hukuman menyalin padanya. Menurutku, secara pribadi, dia merupakan sosok yang manis. Memangnya ada apa?″
″Tidak,″ jawabnya. ″Bu—″
Belum sempat Robin melanjutkan ucapannya, para murid berteriak histeris kepada sosok gempal yang muncul di tengah halaman. Asap hijau mengepul di sekitar mahluk itu. Tingginya empat meter dengan kepala botak dan telinga lancip. Kulitnya seperti batu apung, dan tampak beberapa kutil di sekitar hidung dan leher. Mahluk itu mengenakan tunik yang terbuat dari kulit lembu, dan di tangan kanannya terdapat sebuah gada.
Robin mulai menajamkan pandangan, napasnya langsung tersekat.
Alice, gadis itu tengah berdiri di hadapan raksasa bergada.