Sesuai dengan apa yang dikatakan Kazam, sarapan di penginapan disiapkan jam tujuh tepat. Alice dan Rosalina sudah bersiap di meja makan yang diperuntukan bagi Alice, Rosalina, dan Dewan Pengawas yang bekerja di sana. Rosalina terlihat menawan seperti biasanya. Rambut cokelatnya tersisir rapi, wajahnya segar, bahkan Rosalina sempat menggunakan parfum. Pakaian yang dikenakan Rosalina kali ini adalah gaun sederhana berwarna biru dengan rok sepanjang lutut. Kedua kakinya dibalut sepatu kulit berwarna cokelat. Sementara Alice tampak seperti seorang gadis desa yang terjebak di kalangan bangsawan.
Baju yang dipakainya hanyalah baju tradisional yang sering dipakai gadis di desa tempat tinggalnya dahulu. Atasan putih berlengan panjang yang dilengkapi korset berwarna hitam. Lalu rok mengembang bermotif kotak-kotak merah hitam sepanjang lutut. Tidak seperti Rosalina, Alice lebih senang mengenakan sepatu bersol datar. Tidak ada riasan di wajah Alice, tidak pula hiasan di rambut pirang mudanya. Alice membiarkan rambut pirang lurusnya tergerai bebas di atas punggungnya.
Berbagai macam pandangan tertuju pada Alice dan Rosalina. Secara garis besar mereka yang ada di ruang makan menatap kagum sosok Rosalina yang memang terlihat lebih mencolok daripada Alice. Wajar saja, mereka hanya menganggap Alice tak lebih dari seorang gadis cilik dari kota sebelah. Sungguh cara pandang yang membuat Alice merana. Semua orang menyebut Alice dengan kata ″imut″ bahkan Nenek dan Simon pun berujar demikian, kata mereka Alice sangat manis. Jikalau ada yang menyebut Alice dengan sebuatan ″cantik″, orang itu sudah bisa dipastikan adalah Alice sendiri. Ya, hanya Alice seorang yang menyebut diri sendiri cantik karena tidak ada manusia yang bersedia memuji kecantikan (yang mungkin dimilikinya).
″Kenapa orang dari Dewan Pengawas itu lama sekali?″ keluh Rosalina. Gadis itu tak bisa duduk tenang, acap kali dia hanya memotong-motong makanan di atas piringnya tanpa bermaksud menyuapkan potongan tersebut ke dalam mulut.
Alice tidak peduli dengan apa yang dikeluhkan mitra sementaranya itu. Satu-satunya yang ada di kepala Alice hanyalah cara menyelesaikan kasus secepat mungkin lalu pulang ke asramanya yang damai, tenang, dan tidak perlu sekamar dengan musuh bebuyutannya.
Kesal tidak diperhatikan, Rosalina pun mencibir, ″Ya ampun. Itu mungkin roti gandummu yang keempat. Perutmu mulai membuncit, orang bisa berpikir dirimu hamil tiga bulan.″
Perkataan Rosalina benar-benar menohok Alice. Detik itu juga, Alice menghentikan kegiatannya mengunyah roti.
″Mereka lama sekali,″ keluh Rosalina yang tak peduli dengan ucapannya yang sempat membuat hati Alice tertusuk sembilu. ″Harusnya mereka sudah ada di sini untuk sarapan.″
″Mungkin mereka sudah berangkat duluan,″ sahut Alice.
″Mungkinkah? Ini keterlaluan, harusnya mereka menunggu kita.″
Alice tebak para pegawai Dewan Pengawas itu sepertinya bukan orang-orang yang ramah. Alice dan Rosalina hanyalah murid, bukan ahli sihir kompeten. Tidak memiliki pengalaman yang dibutuhkan untuk penyidikan. Setidaknya Rosalina sudah mampu mengklasifikasikan magyk-nya, sementara Alice? Dia bahkan tidak mampu memvisualisasikan sihir menjadi bentuk nyata. Alice tidak bisa merubah aura sihir menjadi api, air, udara, benda apa pun yang Alice inginkan. Sementara mantra yang diajarkan oleh seorang wizard di akademi yang tidak lain bernama Tuan Ru, mantra-mantra itu terlalu rumit dan Alice tidak suka menghafal.
Orang-orang di sekitar mereka berdua pagi ini nampak sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ada seorang wanita muda yang duduk tak jauh dari meja Alice, wanita itu tengah asik dengan potongan roti yang dipesannya. Melihat ke seberang, ada dua lelaki yang tengah bercanda. Lalu ke bagian lobi, tepat di sana, Kazam sedang mengelap meja-meja berbentuk bundar.
″Aku tidak terima mereka memperlakukanku seper.... Hei, Alice! Mau ke mana?″
Mengabaikan cerosos Rosalina, Alice memilih melenggangkan kaki menuju Kazam. Bocah lelaki itu mengenakan celana panjang berwarna cokelat dengan atasan berwarna hitam. Mengelap setiap jengkal sisi meja hingga terlihat mengilap sempurna. Dalam berkerja, Kazam selalu bersenandung riang. Dan senandung Kazam terpotong oleh kedatangan Alice dan Rosalina.
″Permisi,″ katanya. ″Apakah kau melihat petugas Dewan Pengawas turun hari ini?″
Kazam memperhatikan penampilan Alice dari ujung kaki hingga kepala, seulas senyum tersungging. ″Gadis cilik, kau terlambat. Pagi-pagi sekali tuan-tuan itu sudah meninggalkan penginapan.″
″Apa!″ pekik Rosalina. ″Ke mana?″
Kazam melipat kedua tangannya dan berkata, ″Aku tidak yakin, tapi mungkin mereka pergi ke suatu tempat. Yang jelas itu pastinya tempat yang penting, dan mungkin tempat itu dipenuhi oleh wanita cantik.″
Melihat cengiran jahil Kazam, tak ayal membuat Rosalina langsung berbalik menuju pintu keluar sambil menarik, atau lebih tepat dikatakan dengan menyeret Alice.
Dua orang gadis pergi, sementara Kazam kembali pada rutinitasnya: bersih-bersih.
***
Paul benar-benar memikirkan kemungkinan untuk dikirim ke divisi yang berbeda dari Robin. Pemuda itu benar-benar pantas dijuluki sebagai iblis alih-alih pangeran dari Dewan Pengawas. Paul tidak pernah bisa memahami bagaian mana dari diri Robin yang sesuai dengan ciri-ciri seorang pangeran, di mata Paul sosok Robin itu sesamar kabut di malam hari dan seasing angin di musim dingin. Tidak terlihat, tidak bisa dirasa secara langsung, dan yang paling penting adalah tidak bisa disentuh.
Untuk apa mengejar sesuatu yang tidak bisa didapatkan? Paul tidak pernah bisa memahami jalan pikiran para gadis yang mengejar Robin.
Semua hal yang berkaitan dengan Robin tidak jauh-jauh dari kata ″rahasia″. Hanya satu hal yang Paul ketahui mengenai Robin: dia memiliki seorang nenek, satu saudara laki-laki, dan seorang adik perempuan. Tiap kali Paul bertanya mengenai si adik, Robin selalu bersikap defensif dan terkesan tidak ingin membahas lebih jauh.
Meski begitu Paul tetap menghargai keinginan Robin yang tidak ingin membicarakan perihal sang adik. Paul tetap menghormati Robin sebagai rekan kerjanya meskipun Robin selalu memintanya, bukan meminta, di sini lebih sesuai jika dikatakan bahwa Robin selalu memerintahnya melakukan pekerjaan yang sebenarnya tidak disukai Paul.
Semisal seperti saat ini, Paul memeriksa lokasi terakhir di mana korban terbaru ditemukan dalam keadaan mati.
Paul kini berada di sebuah g**g kecil yang terletak di samping bar. g**g tersebut hanya bisa dilalui oleh dua orang manusia dewasa, tepat di sepanjang g**g dipenuhi dengan bebauan yang berasal dari sampah menumpuk. Paul bahkan tidak berani bernapas melalui hidung, dia takut akan aroma yang tidak bisa ditahannya. Maka dari itu Paul sengaja menutup mulut dan hidungnya menggunakan sapu tangan.
Tanah yang dijejaknya lumayan becek, ujung-ujung celananya terkena cipratan air kotor yang menggenang di beberapa lokasi. Paul meneruskan pengamatannya pada tumpukan sampah buah yang ada tepat di bagian belakang pintu bar. Sejenak Paul menggelengkan kepala, dia tidak pernah mengerti alasan pria-pria yang senang menghabiskan akhir malamnya hanya untuk menenggak minuman berbuih yang terasa membakar kerongkongan.
Seekor kucing kampung sempat mengagetkan Paul ketika si kucing dengan percaya dirinya berjalan melenggang dan langsung memasuki tumpukan sampah rumah tangga.
″Setidaknya ada yang bisa ditemukan di sini selain sampah,″ keluh Paul pada dirinya sendiri.
Setelah berkata demikian Paul kemudian melirik ke arah dua orang petugas yang mengenakan setelan yang serupa dengannya. Baju dinas berwarna abu-abu dan hitam, kemudian topi berwarna hitam yang pada salah satu bagiannya dihias dengan rubi merah.
″Aku tidak menemukan apa pun,″ ucap salah seorang petugas berambut cokelat. ″Mungkin kita seharusnya menunggu murid Polaris. Setidaknya kita tidak harus berkotor-kotor ria di sini.″
Paul mengangguk. Benar, seharusnya dia tidak perlu menghabiskan waktu di sini. Jika ada murid akademi, para penyidik dari bagian Dewan Pengawas tidak perlu melakukan pekerjaan kotor. Sebagai senior, Paul setidaknya bisa menikmati indahnya menjadi seorang pemimpin. Paul tinggal menjentikkan jari dan memberi komando kepada juniornya. Indahnya menjadi senior, itulah yang ada dalam pikiran seorang Paul.
Akhir-akhir ini Paul selalu disibukkan dengan lembaran kertas yang berisi laporan kematian. Paul bahkan jarang meluangkan waktunya bersama keluarga, padahal sebagai anak sulung, Paul sangat diharapkan menjadi penerus keluarga dan segera menemukan calon pendamping hidup. Ibunya sudah lama menantikkan kehadiran seorang cucu di tengah-tengah keluarga.
Sayang, itu semua hanya bisa menjadi sebuah bayangan dalam kehidupan Paul. Jika menjadi teman kerja seorang Robin, bisa dipastikan bahwa menikah adalah sebuah hal yang mustahil.
***
Linda. Sesuai dengan dugaan Robin, wanita itu sama sekali tidak membantu Robin. Tidak ada banyak hal yang diketahui Linda perihal matinya salah satu pekerja wanita yang dimilikinya. Robin bisa menangkap sinyal bahwa Linda tidak terlalu memikirkan kesejahteraan pekerjanya. Semua bisa dilihat dari bagaimana Linda memperlakukan bawahannya. Di awal perjumpaan, Linda sempat mencaci salah satu pekerjanya karena salah memberikan minuman.
Jelas, Linda bukan jenis wanita yang bersedia mengorbankan waktu untuk orang lain.
Wanita muda itu sebenarnya sangat cantik. Linda memiliki rambut sewarna madu. Bibirnya penuh, bulu matanya lentik, dan kulitnya seputih s**u. Lalat pun akan tergelincir jika hinggap di kulit mulusnya. Sayang, semua keindahan itu sirna ketika Linda berujar dengan nada ketus, ″Tidak ada hal yang bisa kuberitahukan mengenai pekerjaku. Dan maaf sekali, ada hal penting yang harus aku selesaikan.″
″Mengerti,″ jawab Robin. ″Terima kasih atas kerjasama Anda.″
Tanpa ba, bi, dan bu, Robin langsung bangkit dari kursi emasnya menuju pintu keluar. Linda sama sekali tidak tertarik mengantarkan Robin keluar.
Selain kemewahan yang nampak di dalam kediaman Linda, Robin bisa melihat seberapa luas halaman rumah Linda. Nampak mawar merah merambati gerbang dan dinding luar. Robin berjalan di jalan setapak yang ditata begitu apik dengan batu-batu hitam. Seorang bocah laki-laki ceking menarik pagar hingga tampaklah jalanan. Robin menganggukkan kepalanya sebagai tanda terima kasih. Bocah itu tidak tersenyum, dia memilih menutup pintu dan mengabaikan Robin.
Kediaman Linda terletak terpisah dari pemukiman. Rumah Linda sendiri terbuat dari bata. Bangunan bertingkat tiga itu memiliki sebuah cerobong asap. Tampak rumpun bunga lili kuning yang mengitari sebagian sisi utara rumah tersebut.
Rumah yang terlihat mewah ini meninggalkan kesan suram bagi Robin. Dingin, itulah kata yang sesuai untuk mendeskripsikan kediaman seorang wanita bernama Linda.