9

2585 Words
″Sungguh menyebalkan!″ Alice duduk terombang-ambing di antara tumpukan karung kentang, wortel, dan sejumlah sayuran di dalam kereta kuda yang ditumpanginya. Beruntung, si pemilik bersedia membawa serta Alice dalam perjalan menuju Kota Kabut. Seharian ini Alice terus mengeluh mengenai minimnya dana yang dimilikinya. Setiap Sabtu dan Minggu, Alice akan menggunakan dua hari liburnya untuk bekerja di Toko Buku Nyonya Hana. Toko buku yang terletak kira-kira sepuluh kilometer dari asrama. Tidak seperti Jeanne yang mendapat pasokan dana dari kedua orangtuanya yang bekerja di bagian catatan sipil, Alice harus mencari tambahan dana sendiri untuk kebutuhan pribadinya. Meskipun sarapan, makan siang, dan malam ditanggung oleh pihak sekolah, hal itu tidak membuat Alice berleha-leha.  Kembali ke toko buku, tempat tersebut merupakan salah satu toko yang paling diminati di Polaris. Pasalnya, toko buku milik Nyonya Hana menjual berbagai macam jenis buku, mulai dari bacaan anak, resep masakan, ilmu perhitungan, s*****a dan militer, kumpulan dongeng kuno, hingga pengetahuan magyk. Jika sedang ramai-ramainya, Alice bisa dipastikan pulang di sekitar jam sepuluh malam.  Semua keping perak dan emas yang susah payah dikumpulkan Alice kini harus dikorbankan untuk biaya perjalanan menuju Kota Kabut. Tepat ketika Alice tengah berusaha merapikan pentagram yang diminta oleh Tuan Ru, tiba-tiba saja seorang petugas wanita memanggil Alice. Awalnya Alice sama sekali tidak memiliki firasat tertentu. Alice bahkan tidak bermimpi buruk sebelumnya, namun ternyata kejadian yang tidak diharapkan itu tidak selalu mendapatkan pertanda ataupun peringatan bahwa hal yang tidak mengenakkan akan menimpa seseorang. Amanda Rose hanya tersenyum manis kepada Alice sebelum wanita itu memberikan sebuah lembaran yang ternyata berisi rute untuk pergi ke Kota Kabut. Sejujurnya, Alice ingin menolak perintah kepala akademi, untuk apa Alice melewatkan pelajaran hanya demi berkunjung ke sebuah kota terpencil? Semua berubah ketika Amanda Rose berkata bahwa ini merupakan tes kecakapan yang diperuntukan bagi siswa dan siswi yang memiliki kompetensi. Pahitnya, Amanda Rose menyertakan Rosalina sebagai salah satu kandidat pesaing Alice. Kali ini Alice tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang didapatnya. *** Di belahan dunia lain ada seorang gadis yang tengah berdesak-desakkan dengan sekarung kentang, wortel, dan berbagai macam sayuran. Sementara di sini ada seorang gadis yang dengan indahnya menikmati perjalanan di dalam kapsul magyk.  Tidak sampai empat jam kapsul magyk telah mengantarkan Rosalina dari Polaris ke Kota Kabut. Hari ini Rosalina mengenakan atasan berwarna krem yang dipadukan dengan rok hitam berenda. Rambutnya tampak mengembang sempurna. Mata setiap orang di stasiun tak bisa mengalihkan pandangannya dari sosok semampai Rosalina. Lalu, Rosalina segera dihampiri oleh seorang pria. Pria itu mengangguk sejenak sebelum menanyakan identitas Rosalina. Tanpa buang waktu, pria itu pun mengantarkan Rosalina menuju penginapan. Di dalam kereta kuda, Rosalina mulai memilah-milah catatan yang didapatnya dari Amanda Rose. Catatan yang memberikan informasi pada Rosalina perihal kasus yang akan diselesaikan olehnya, ralat, kasus yang akan Rosalina bantu untuk selesaikan demi salah seorang mantan murid kesayangan sang kepala. Jemari lentik Rosalina terus menelusuri setiap ringkasan. Tidak banyak yang bisa membuat Rosalina puas. Kematian mendadak yang melibatkan magyk gelap sangat besar kemungkinannya. Hanya saja masalah di sini adalah menemukan pelaku pembunuhan. Ada berbagai jenis magyk gelap yang membutuhkan darah dan jantung manusia sebagai media upacara. Setahu Rosalina, tidak banyak manusia yang menguasai hal gelap semacam itu. Jika bukan manusia, lalu siapa pelaku pembunuhan berantai tersebut? Ibliskah? Tidak. Mahluk itu tidak berminat dengan pembunuhan yang terpusat. Lalu sekarang Rosalina harus segera mengentaskan kasus yang membelit ini sebelum saingannya berhasil menuntaskan tugas. Tidak. Rosalina tidak bisa membiarkan itu terjadi. Bunyi gemeretuk langkah kaki kuda membuat Rosalina mengurungkan niat untuk menganalisa catatan. Tak lama kemudian kereta kuda berhenti. Si pria segera membukakan pintu dan mempersilahkan Rosalina untuk turun. Kereta kuda berhenti tepat di depan penginapan megah. Tidak seperti namanya, suasana Kota Kabut lebih mirip dengan kota pada umumnya; perumahan yang berdesakan dengan pertokoan, jalanan dengan palang informasi, lalu bau roti yang menguar di udara. Rosalina segera melangkah masuk ke dalam penginapan. Di sana, tampak Paul dan Robin yang sudah terlebih dahulu sampai.  ″Dirimukah murid yang dikirim oleh Amanda Rose?″ tanya Paul sembari menyodorkan tangan. Rosalina mengangguk singkat. ″Benar, bagaimana Anda bisa tahu?″ Merasa inisiatif berjabat tangan tidak dipedulikan oleh lawan bicara, Paul segera menarik tangannya mundur. ″Terlihat dari emblem akademi yang kaukenakan.″ ″Oh,″ Rosalina bahkan baru sadar pada kebiasaannya mengenakan emblem sekolah di d**a kanannya. Emblem berbentuk oval yang didominasi dengan warna merah, tepat di bagian tengah, terdapat lambang akademi berupa sayap putih. ″Kepala akademi memintaku membantu menyelesaikan kasus.″ ″Kuharap,″ kata Robin, ″kau tidak membuat masalah selama penyelidikan.″ Rosalina mengalihkan pandangan pada sosok Robin yang berdiri di samping Paul. Robin terlihat lebih menarik daripada Paul. Ada aura yang membuat Robin begitu sulit untuk diabaikan, dan memang Rosalina tergelitik untuk mencari tahu lebih dalam mengenai pemuda yang ada di hadapannya. ″Aku merupakan salah satu siswi yang paling kompeten, tidak perlu khawatir mengenai kemampuanku,″ ungkap Rosalina. Mereka berdua, Robin dan Rosalina saling berpandangan. Seakan ada arus listrik di dalam kedua mata itu. Rosalina berusaha meninggalkan kesan mendalam di hadapan Robin. Hanya saja.... ″Aku lebih senang melihat hasil kerjamu.″ Pernyataan Robin mengempiskan balon kebahagiaan Rosalina.  *** Lucu, Alice berangkat dari Polaris ketika matahari baru saja menunjukkan wajah, dan kini Alice tiba di tujuan tepat saat sang surya telah membenamkan seluruh rupanya. Jika saja Alice memiliki dana lebih untuk naik kapsul magyk, pastinya dia hanya perlu menempuh perjalanan sekitar empat jam. Perjalanan menyenangkan yang tidak perlu membuatnya berdesak-desakkan dengan sejumlah barang antah-berantah di dalam kereta kuda. Kota Kabut terlihat asing di malam hari. Beberapa rumah yang terbuat dari kayu ek nampak berjejer di sepanjang jalan. Alice kembali membuka catatan, harusnya dia menuju ke sebuah penginapan yang telah ditunjuk. s**l bagi Alice, si bapak pemilik kereta hanya bersedia mengantar Alice sampai gerbang masuk. Setelah itu Alice harus berjalan kaki untuk mencapai penginapan. Catatan yang Alice miliki tidak banyak membantu. Ingin sekali Alice berteriak keras mengeluarkan seluruh kepenatan. Hari sudah malam dan Alice masih belum juga menemukan penginapan yang dimaksud. Berjalan luntang-lantung bagai anak ayam kehilangan induknya. Menyedihkan. Untung saja bawaan Alice tidak terlalu berat, jika tidak, mungkin Alice akan menangis pilu di tengah malam.   Rangkuman kondisi badan Alice: lelah, rasa pegal di punggung, kaki, lengan, dan bahu karena terlalu lama duduk, lapar, dan yang paling jelas dirasakan Alice adalah rasa kantuk. Lain kali Alice akan meminta biaya akomodasi terlebih dahulu sebelum mengiakan sebuah permintaan berbau perintah.  Alice berjalan menuju salah satu rumah makan yang kebetulan tengah ramai dipadati pengunjung. Semua meja dipenuhi dengan bebek panggang, roti gandum, dan buah-buahan segar. Perut Alice langsung bergemuruh, tanpa perlu dikomando Alice segera duduk dan memesan beberapa roti manis. Ketika Alice tengah menikmati roti manisnya yang ke-tiga, suara ribut mengalihkan perhatiannya. Tepat di sebelah mejanya, seorang gadis pelayan berkomat-kamit tak keruan. Tentu saja komentar pelayan itu ditujukan pada dua pemuda yang nampaknya berani memesan makanan namun tidak memiliki keping untuk membayar. Si pelayan secara otomatis memanggil penjaga. Sontak seorang pria bongsor berkepala botak datang mendekat. Pria itu mulai menunjukkan tangan kanannya yang berotot kepada kedua pemuda yang malang. ″Sudah kukatakan,″ ucap si pemuda berambut cokelat. ″Kantong uang kami terjatuh.″ Si pemuda berambut cokelat nampak berusaha menjelaskan, sementara pemuda yang berambut merah menyembunyikan diri di belakang kawannya. ″Ish,″ decak si pelayan, ″kami bukan panti sosial yang harus menanggung setiap orang yang kelaparan. Jika tidak punya uang, jangan berani datang kemari. Enak saja.″ Si pria botak mulai menarik kerah kedua pemuda seolah mereka berdua adalah dua ekor kucing kampung penyakitan, dan sepertinya pria itu berniat mematahkan tulang kedua pemuda malang tersebut. Tak kuasa melihat kemalangan tersebut Alice berteriak, ″Tunggu! Biar kubayar.″ Sontak semua orang yang ada di dalam ruangan menoleh ke arah Alice. Terlanjur, Alice tidak mungkin menarik kembali ucapannya, ditambah tatapan berbinar si pelayan yang nampak senang akan tindakan Alice. Sejenak Alice berusaha menelan ludah. ″Memang, berapa yang harus mereka bayar?″ ″Mereka berdua harus membayar dua keping,″ jawab si pelayan. ″Dua keping!″ ″Ya, dua keping.″ Alice kemudian melirik ke meja yang berisi daging sapi panggang, roti gandum, s**u kedelai, dan sejumlah buah-buahan. Untuk ukuran Alice, makan dengan menu yang demikian tidaklah sehat bagi kondisi keuangan. Di Polaris Alice harus menghemat pengeluarannya agar ketika tiba liburan semester dia bisa pulang ke rumah, sedangkan di sini, Alice harus meringis melihat betapa mudahnya pundi-pundi uang berpindah tangan. Dengan penuh kebesaran hati, Alice pun mulai mengambil dua keping dan menyerahkannya kepada si pelayan.  ″Bagus,″ ucap si pelayan. ″Sam, lepaskan mereka.″ Si pria pun menuruti perintah dan membebaskan kedua pemuda itu. Sementara Alice memilih keluar dari ruangan dengan hati kembang kempis. Hari ini bahkan dua keping sudah melayang dari kantong Alice, jika dilanjutkan lebih lama, bisa-bisa seluruh simpanan Alice akan hangus. Setidaknya Alice sempat menghabiskan tiga roti manis, jadi perutnya untuk beberapa jam ke depan tidak akan memberikan tabuhan protes. Kembali Alice mengecek catatan, dan barulah Alice sadar dia belum sempat bertanya mengenai penginapan yang harus dituju olehnya.  Kembali. Tidak. Kembali. Tidak. Kembali. Tidak. Tidak kembali. Dua kata itu terus berputar di benak Alice. Keputusan final: Alice akan kembali untuk bertanya. *** Ternyata penginapan yang dimaksud oleh Amanda Rose adalah penginapan besar yang terletak tak jauh dari rumah makan yang dikunjungi Alice. Lega rasanya, Alice berhasil menemukan tempat untuk bermalam, selain itu Alice berharap dia tidak perlu membayar biaya penginapan, secara simpanan Alice di ambang kepunahan. Alice diantar seorang anak laki-laki berumur empat belas tahun. Bocah itu bernama Kazam. Seorang bocah berkulit cokelat emas dengan manik mata berwarna hijau pekat. Rambut bocah itu dipotong pendek, strukturnya bergelombang seperti lekukan awan putih di angkasa. Kazam senang sekali mengenakan celana panjang hitam dengan atasan berwarna kuning. Yang paling penting, ketika Kazam tersenyum giginya terlihat putih sempurna. Dalam hati Alice yakin bahwa Kazam memiliki banyak penggemar di Kota Kabut. ″Nenek!″ panggil Kazam. ″Aku membawa seorang gadis cilik dari Polaris. Katanya dia ke sini atas permintaan seorang wanita bernama Amanda Rose.″ Bocah ini, berani menyebut Alice sebagai gadis cilik. Padahal Alice jelas lebih tua, namun Kazam seolah tidak peduli dengan aturan ″hormati orang yang lebih tua umurnya darimu″. Ditambah Kazam terus berteriak di sepanjang lobi penginapan, membuat beberapa orang langsung menoleh ke arah Alice. Malunya, Alice ingin menggali tanah dan melempar Kazam ke dalam lubang tersebut. Berharap bahwa jika Alice melakukan hal tersebut—mengubur Kazam di tanah yang gembur—mungkin dari dalam tanah akan tumbuh sebatang pohon. Kazam membawa Alice langsung menuju bagian penerima tamu. Tepat di sana, duduklah seorang wanita tua dengan bandana di kepalanya. ″Nenek di—″ ″Aku sudah tahu,″ potong sang wanita tua. Nada suara yang digunakan oleh wanita tua itu hampir-hampir terkesan jenaka. Sesuai dengan cara berpakaian yang dipilih oleh wanita tua itu: rok bertumpuk aneka warna; merah, kuning, hijau, biru, dan ungu, atasan dengan renda hitam berbentuk bunga sepatu, anting-anting panjang dengan helai bulu berwarna cokelat, lalu kalung dengan ornamen batu mirah delima. Rambut peraknya yang bergelombang menjelaskan hubungan darah antara Kazam dengannya. Wanita itu kemudian menyipitkan mata, berusaha memandang sosok Alice yang berdiri di depan meja lobinya. ″Siapa namamu?″ ″Alice,″ jawabnya. ″Alice Senay.″ ″Baiklah, Haris. Kamarmu ada di lantai dua, temanmu sudah tiba lebih awal darimu.″ ″Alice,″ koreksinya. ″Temanku?″ Si wanita menunjuk lantai dua dengan dagunya. ″Gadis cantik berambut cokelat. Bukankah dia itu temanmu, Betris?″ Lagi-lagi Alice harus mengoreksi namanya, sementara Kazam hanya tertawa cekikikan melihat neneknya salah menyebutkan nama. ″Namaku Alice.″ ″Kazam,″ panggil si nenek yang tak menghiraukan protes Alice. ″Segera antar Claris.″ Setelah berkata demikian, si nenek pun kembali ke tempat duduknya, tanpa berkata apa pun. ″Namaku Alice!″ Kazam menepuk pelan pundak Alice. ″Sudahlah, itu bukti bahwa Nenek menyukaimu.″ Mereka berdua segera berjalan menuju tangga. Nampak lukisan burung menghias dinding berwarna krem. Sementara bagian tengah lobi sengaja dijadikan ruang makan, beberapa pelayan silih berganti merapikan meja-meja yang mulai kosong.  Sepanjang meniti tangga, otak Alice dipenuhi dengan berbagai macam pikiran. Mulai dari si nenek yang salah memanggil namanya (Alice curiga si nenek sengaja melakukannya), perjalanan melelahkan di tengah medan sayuran, dan kali ini seorang sahabat. Alice ragu bahwa gadis yang dimaksud nenek tersebut adalah Jeanne.  Jadi, jika bukan Jeanne, siapa gerangan gadis cantik yang dimaksud oleh nenek tersebut? Sampailah Alice di depan kamar ekslusifnya. Begitu pintu dibuka, Rosalina—yang malam itu telah berganti dengan gaun tidur—menyapa Alice dengan suara emas, ″Halo, Mitra.″ ″Kau?″ Alice ingin berkata, tidak mungkin, yang benar saja, apa ini mimpi? Aku tidak percaya, namun Alice memilih untuk bertanya, ″Bagaimana bisa?″ ″Tentu saja bisa,″ jawab Rosalina santai. ″Buktinya, aku sekarang ada di sini.″ Kepala Alice terasa berdenyut. Tidak pernah menyangka bahwa sosok Rosalina bisa berada tepat di hadapan Alice. Sungguh pemandangan yang menyesakkan hati, Alice tak henti-hentinya memperhatikan sosok Rosalina dari ujung kaki hingga ujung kepala. Berbeda dengan keadaan Alice yang kusut masai, Rosalina tampak begitu rapi, bersih, bahkan Alice bisa mencium aroma lemon yang Alice tebak berasal dari Rosalina.  ″Bagaimana bisa kau tidak berantakan sedikit pun?″ ″Alice,″ katanya. ″Aku naik kapsul magyk. Apa kau tidak tahu apa itu kapsul magyk?″ Tentu saja Alice mengetahui keberadaan kendaraan yang luar biasa mahal bagi Alice secara pribadi. Amanda Rose hanya memberikan Alice catatan (yang sebagian belum dibaca), nasihat (yang sebagian besar tidak didengarkan), dan informasi mengenai penginapan yang disewanya (kebetulan juga Alice baru mengetahui letak penginapan di saat terakhir). Kesimpulan: Alice kalah telak. Sementara Alice dan Rosalina saling beradu argumen, Kazam—yang sedari tadi sibuk menyimak perdebatan dua orang gadis yang tampaknya ditakdirkan menjadi rival abadi—terlihat menikmati tontonan gratis antara Alice dan Rosalina. Tenang, karena Kazam adalah anak yang baik, dia pun akhirnya berdeham pelan untuk menarik perhatian, ″Ahem, jadi apa kalian berdua akan terus berdebat hingga fajar terbit?″ Rosalina hanya mengedikkan bahu. ″Aku tidak keberatan jika Alice memang ingin menghabiskan malam di luar kamar.″ ″Hei,″ protes Alice, ″aku juga ingin tidur.″ ″Bagus,″ sahut Kazam. ″Nona cantik, tolong biarkan si gadis cilik untuk beristirahat. Sementara kau,″ tunjuk Kazam pada Alice. ″Gadis cilik, sarapan di sini dimulai jam tujuh pagi. Jangan sampai terlewat.″ Setelah berkata demikian Kazam meninggalkan Alice dan Rosalina, dia pergi tanpa memedulikan suara protes Alice yang tidak rela dipanggil dengan sebutan ″gadis cilik″. ″Pemuda yang memiliki selera tinggi,″ komentar Rosalina. Alice memasuki kamar dengan langkah gontai, setelah menutup pintu dia segera mengempaskan diri ke atas kasur yang berada di samping ranjang Rosalina. ″Ini merupakan hari yang berat bagiku.″ ″Aku tidak tertarik untuk mendengarkan,″ sahut Rosalina.  ″Sudahlah,″ desah Alice. ″Pura-puralah menjadi putri baik hati selama semalam.″ Rosalina hanya merengut. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD