MCMD Bab 3 Genggaman Pertama

2120 Words
Apa iya efek dari benturan barusan, tiba-tiba dia sedikit perhatian. Tangan kami masih berpegangan untuk sepersekian detik setelah ku berdiri. Kami lepas hampir bersamaan. "Kepalamu keras sekali, sama dengan sifatmu." ucapnya. Ya Tuhan, dia kembali lagi seperti biasanya. Apa harus kubenturkan lagi kepalaku agar dia bersikap manis padaku. Sampai di rumahpun dia bersikap cuek seperti biasanya. Tak ku ambil pusing. Kulihat Om dan Tante sedang di ruang tengah. Aku menghampiri mereka, mengutarakan niatku untuk bekerja. Lebih alot dari Mama ternyata. Tapi akhirnya mereka mengijinkan juga. ~~ "Temeni gue seminggu aja, gue takut sendirian kalau malam." pinta Metha. Mitha tinggal di Apartemen berdua dengan sepupunya, Diandra. Dan sekarang Diandra sedang liburan keluar kota. "Aku ijin dulu sama Tante Mira ya, lagian kan ntar malam dah mulai kerja di kafe Om kamu." Ucapku. Kami sedang di kantin, menunggu jam kuliah selanjutnya. "Ssttt, ada Didi tuh." Metha menunjuk dengan dagunya. Aku melihat sesuai arahnya. "Cie cie, sama Saka juga itu." godaku. Metha hanya tersenyum malu-malu. "Ngakunya playgirl, masak bisa klepek-klepek cuma di tatap Saka." godaku. "Saka beda Shell." ucap Metha dengan tersenyum matanya tak lepas dari Saka yang sedang berjalan ke arah kami. Saka Langit Ramadhan, cowok keren nan ganteng itulah yang telah meluluhkan si cantik Metha. "Hai Shell, Hai Meth." Sapa Saka yang langsung duduk di depan ku dan Metha. Didi mengikuti di sampingnya, senyum manis menghias cowok berambut gondrong itu. "Berapa hari nggak liat kamu, kemana aja?" tanyaku ke Saka yang menghilang beberapa hari ini. "Gue? Mama gue abis kecelakaan. Pas lagi joging di tumbur dari belakang." Ceritanya. "Terus, gimana sekarang?." tanyaku lagi. "Udah baikan kok, lecet-lecet tangan kepala sama kakinya." jawab Saka lagi. "Oh, syukurlah kalau gitu. Nggak nenggokin Mamah mertua kamu?" Godaku ke Metha, ku senggol bahunya dengan bahuku. "Apa-an sih." Metha mencubit lenganku. "Auwwhh." teriakku. "sakit." "Eh, ntar malam hari pertama Shella manggung di Kafe Teras, pada datang ya." Pinta Metha pada dua cowok yang duduk di depan kami itu. Obrolan kami berlanjut. "Ya udah, dah mau masuk. Kita duluan." pamitku, menarik Metha yang sepertinya enggan beranjak. Tiga SKS kami kelar jam empat kurang seperempat. Aku dan Metha menyempatkan sholat Ashar di masjid kampus. "Nanti kamu bantuin bilang ke Tante Mira ya." ucapku ke Metha yang sibuk dengan ponselnya. "Iya , gue yang bilang nanti ke Tante Mira. Eh, mampir isi bensin dulu Say." Di depan ada POM Bensin, ku mulai menepikan laju mobil Metha ke sebelah kiri. Antri, ada empat mobil di depan kami. "Meth, itu bukannya Om kamu." tunjukku pada seorang Pria yang berdiri di samping sebuah mobil yang sedang mengisi angin. "Mana." Metha sedikit meninggikan tubuhnya dan mengikuti jariku." Iya, Om Bastian." ucapnya dengan senyuman. "Keren ya Om gue, hehehehe." Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Keren sih, keren banget malah. "Om Bast, adik Papa paling bungsu, Papaku kan 5 bersaudara. Papa gue nomor dua. Kakaknya perempuan, adiknya dua perempuan satu laki ya Om Bast ini." Metha menceritakan silsilah keluarganya. Aku memanggutkan kepalaku mendengarkanya. "Anaknya berapa Om kamu?" tanyaku. Kutanyakan karena mataku sedang melihat perempuan mengendong bayi di atas sebuah motor. "Belum ada anak, pernah mau punya tapi meminggal." cerita Metha. Aku menoleh ke arahnya, kuangkat kedua alisku. "Keguguran?" tanyaku "Meninggal, istrinya juga. Keduanya tak bisa di selamatkan." Raut muka Metha berubah mendung. Aku melajukan mobil pelan. Kubuka kaca mobil. Seorang petugas menghampiri kami. "Dua ratus lima puluh ribu ya Mba." ucap Metha sambil menyodorkan uang pecahan seratus ribu dua dan lima pulu ribu satu. Sepanjang perjalanan Metha mulai menceritakan kisah Om nya, yang tak bisa Move On dari Istrinya. Jadi seperti Mas Gilang, bedanya Mas Gilang di tinggal Istrinya mencari yang lebih kaya. Bedanya Omnya Metha bersikap baik, sedang Mas Gilang sangat menyebalkan. Aku menepikan mobil Metha di depan Pagar. Jalannya cukup lebar jadi aman. "Liat tuh fans gue udah senyum-senyum." tunjuk Metha pada Panji yang sedang duduk di teras. Aku tertawa, Panji memang sangat mengagumi Metha. Kami berjalan bersisian setelah turun dan memasuki pagar. Benar saja senyum Panji langsung terkembang. Tak ayal ledekan temannya menghujaninya, tapi dia serasa tak perduli. Sebuah pantun dia sambutkan untuk Metha. Terang aja semua tertawa. "Haduh, lama-lama gue bisa jatuh cinta sama Panji, hahaha. Manis banget anaknya." ucap Metha."Beda banget sama Abangnya." bisik Metha. "Jauh." timpalku. Metha menungguku mandi dan berkemas. Tante mengijinkanku menemani Metha, hanya minta selepas kuliah pulang dulu menemani Cantika. Akupun tak bisa sehari saja tak melihatnya. Walaupun nanti ternyata Mas Gilang tetap menolak dijodohkan denganku. Rasaku pada gadis kecil itu tak akan berubah. ~~ Metha menarikku ke ruangan Om nya. Aku yang masih grogi mau tampil pertama kali, harus rela di Make Over oleh Metha. Walaupun dia sudah menurutiku yang meminta riasan natural tetap saja aku tak biasa. Untuk pakaian aku punya gaya sendiri, jelas aku menolak kalau harus tampil manis sepertinya dengan rok selutut. Aku tak biasa memakai rok. "Om." Seru Metha setelah pintu terbuka. Seperti biasa Metha langsung mendekati Pria tersebut. Aku terperanjat melihat cowok yang duduk di sofa bersama Om Bast. Diapun sama saat melihatku. "Eh Meth." sapa Om Bast padaku, aku kemudian menyalaminya. " Ini Andra, akan jadi patner kamu." kenal Om Bast padaku. Pria itu berdiri dan mengulurkan tanganya. Aku paksakan senyumku menyambutnya. "Andra." kenalnya. "Shella." balasku. Sesaat kami terpaku. Sebelum suara Metha memecah suasana. "Mas Andra, lama banget salamannya." goda Metha. Buru-buru kutarik tanganku. Kenapa dunia begitu sempitnya. Bagaimana mengkin dia di sini. Dan sekarang jadi partner kerjaku. Semoga moodku tak memburuk, ini sesak sekali. Kami kemudian turun untuk latihan dan menyetel alat. Tak sulit menyelaraskan gayaku dengan Mas Andra, aku cukup lama mengenalnya. Suasana Kafe cukup ramai, demam pangung rasanya. "Anggap kamu lagi sendirian, tak ada orang lain, hanya kamu." ucap Mas Andra melihat ku kehilangan kosentrasi. Aku memgangguk pelan. Padahal sejatinya perusak suasana hatiku adalah dia. ~~ "Nod Bad, Grogi ya." tanya Om Bastian padaku setelah menyelesaikan tiga jam pertamaku. "Lama-lama biasa, oh ya kamu bisa belajar ke Andra untuk referensi lagunya." lanjutnya lagi. "Baik Pak." jawabku. Pria itupun kemudian pamit karena ada temannya datang. Metha asyik di sebuah meja bersama Dani dan Saka. "Kamu apa kabar?" tanya Mas Andra padaku. "Baik mas." jawabku tampa melihatnya. Ingin ku tau kenapa dia ada di sini, bagaimana kabarnya tapi sudah malas rasanya. Aku pamit dan bergabung dengan Metha. Karena besok harus kuliah pagi aku mengajak Metha pulang. ~~ Semingguan sudah ku memulai pekerjaan ini, dan aku belum bertemu dengan Mas Gilang. Setiap aku pulang dia tak pernah ada di rumah. Malam ini aku off tak ada jadwal. Tapi setelah menemani Cantika belajar aku juga sudah cukup lelah. Dia belum pulang juga. Kenapa jadi kangen diketusin, aneh. Diketusin kok kangen ... Pagi setelah sholat aku membantu Tante Mira di dapur menyiapkan sarapan. "Kopinya gilang, kangen kayaknya, tumben-tumbenan nanyain kamu." ucap Tante Mira. Senyum menghias bibirnya. Aku mengulum senyumku, sambil tanganku meraih cangkir dan tatakan. Seperti biasa Mas Gilang sudah di ruang tengah. "Mas Kopinya." ucapku tanpa melihatnya. Meletakkan secangkir kopi di depannya. Tak ada jawaban, ah aku sudah cukup biasa. Aku pun beranjak. "Makasih." ucapnya singkat. Tapi cukup untuk menghentikan langkahku. "Sama-sama." ucapku. Kemudian melanjutkan langkahku. Hanya kata makasi saja sudah membuatku terbang receh banget memang aku. ~~ "Kamu jadi cuti kan?, Mama sama Papa ada acara sampai besok keluar kota." tanya Tante Mira ke Mas Gilang. Pria itu hanya mengangguk. "Shella kan kuliah siang, minta temenin saja, Cantika pasti seneng diantar kalian berdua." lanjut Tante Mira. Aku hanya terduduk menikmati sarapanku. Seketika sepi, semua sudah pergi dengan agenda masing-masing. Aku juga baru selesai menyiapkan Cantika untuk sekolah. Dia terlihat begitu manisnya. "Kakak antar Caca?" tanyanya "Iyap, Kakak sama Ayah yang anterin sekolah Caca." ucapku. "Holee ... ." Gadis kecil itu meloncat-loncat dengan riangnya. "Ca, ayok sayang." pangil Mas Gilang yang sudah bersiap di depan. Aku mengambil tas slempang dan memasukkan ponsel serta dompetku. Mengandeng Caca yang menungguku di ruang tamu. Aku mengunci pintu ketika Caca sudah naik dan berdiri di depan Mas Gilang. Hanya berjarak sepuluh menit perjalanan sekolah Caca dengan Rumah. Dia di sambut manis oleh gurunya. Aku beberapa kali mengantarnya, jadi cukup hafal mereka denganku. Menungguinya sebentar di luar pagar, sampai dia masuk ke kelas. Jam sepuluh nanti dia pulang. Aku naik saat Mas Gilang sudah menyalakan kembali motornya. Seperti biasa tak ada pembicaraan apapun. Begitupun saat dia menghentikan motornya di depan taman. Aku mengintilnya saja, aku juga tak ingin bertanya ngapain kesini. Kurasakan getaran di tasku. Pangilan dari Om Bastian. "Iya Pak." ucapku setelah mengeser tombol hijau ke atas. "Shella nanti malam Off kan." tanyanya padaku. "Iya Pak, Shella off nanti malam." jawabku. "Em ... gini ada temenku mendadak butuh penyanyi yang sekaligus bisa main gitar buat nanti malam. Untuk acara ulang tahun anaknya. Mungkin kamu bisa?" tanyanya kemudian. "lumayan loh bayarannya, nggak lama kok nggak sampai dua jam mau kasih satu juta." Aku terdiam sesaat lumayan. Itu hampir sama dengan honorku seminggu di Kafe. "Iya Pak, Bisa nanti tolong share lokasinya dan saya harus siap jam berapa." ucapku kemudian. Sayang di lewatkan rejeki jangan ditolak. "Ok kalau begitu, aku infokan ke temenku dulu." "Baik Pak, terima kasih." ucapku. Om Bastian menutup telponnya. Kumasukkan kembali ponselku. Fokus telepon membuatku kehilangan Mas Gilang. Mataku menyapu berkeliling taman, tak nampak sosoknya. Tapi syukurlah motornya masih ada, kepikiran aja dia meninggalkan aku. Aku duduk di sebuah bangku, menunggunya tak jauh dari tempat parkir. Terasa dingin di pipiku, Mas Gilang memberiku sebotol minuman dingin dia menempelkan dipipiku. "Makasih." ucapku. Dia duduk di sampingku. "Sedang enak hati sepertinya." ucapku tampa melihatnya. Tak ada balasan. Aku melihat ke arahnya, walau dingin wajahnya tak seketus biasanya. "Makasih ya, sudah sayang ke Caca." ucap Mas Gilang. Tatapanku belum beralih darinya sedari tadi. "He hem." jawabku. Tampa membuka mulutku. Dia menoleh ke arahku yang melihatnya dengan tatapan terpesona. Haduhh tak dapat ku sembunyikan rasa ini. "Ada apa?" tanyanya. Aku hanya mengelengkan kepalaku dan mengalihkan pandanganku. "Tak biasa aja, Mas terdengar manis."ucapku. "Biasanya seperti apa?" Aku menoleh ke arahnya. Wajah nya tetap terlihat datar. "Biasanya menyebalkan, sangat menyebalkan. Ketus banget." ucapku apa adanya. Lah malah tersenyum, walau segaris tapi wajah itu terlihat begitu manis. "Sesayang apa kamu ke Caca?" tanyanya lagi. "Caca itu sangat manis, yang jelas walaupun akhirnya Mas tak menerima perjodohan kita , Shella tetap sayang ke Caca." ucapku. senyum menghias bibirku. "Kenapa kamu menerima perjodohan ini, aku Duda punya anak dan selalu kasar padamu. Kenapa kamu masih bertahan?" Aku hanya tersenyum, sedikit menertawakan diriku sendiri. Kenapa jadi Bucin pada Pria yang jelas-jepas menolakku. "Bertahan?, Shella tak sekuat itu untuk memperjuangkan Mas Gilang. Shella hanya terlanjur sayang pada Caca itu saja. Memang Shella jatuh cinta pada Mas, entah mulai kapan Shella sendiri tak tau. Tapi Shella tak setangguh itu untuk terus menyemai cinta yang bertepuk sebelah tangan ini." Senyum getir terbit di bibir ini. Lebih baik dia tau apa yang ku rasakan. Tak terlalu memikirkan juga diriku tentang percintaan. Masih banyak hal yang ingin aku kerjakan. Sesaat tak ada pembicaraan. Kami hanya menatapi beberapa orang yang sedang berlalu lalang, ada juga yang bercengkrama di sudut lainnya. Di tempat lainnya tampak orang yang sedang berolah raga. "Apa setiap malam kamu akan bekerja?" tanya memecah kebisuan. " Tak bertengkar denganmu seminggu rasanya beda." Aku menoleh ke arahnya. Setengah tertawa, apa bertengkar denganku sudah menjadi candu baginya. "Terus kenapa sekarang tak bertengkar dengan Shella?" tanyaku kemudian. Dia hanya mengelengkan kepala, menarik kembali senyumnya yang sempat terbias. "Entahlah, sedang tak ingin saja. Kamu begitu baik, apa lagi alasanku bertengkar denganmu." "Bukankan Mas paling pintar mencari masalah denganku, sampai hal terkecilpun bisa jadi pemicu." "Apa kau ingin benar-benar bertengkar denganku?" tanyanya. Dia menoleh ke arahku. Aku mengelengkan kepalaku. "Jangan terus-terusan memarahi Shella, Shella tak sekuat itu, rasa ini bisa terkikis. Biarlah Shella menikmati dulu, walaupun tak berbalas melihat senyum Mas Gilang, itu cukup menjadi penawar jiwa yang luka karena cinta tak berbalas ini." "Maafkan aku, aku sudah lupa caranya mencinta, dan tak ingin merasakannya lagi." "Tak masalah Mas, Nikmati saja keterpurukan Mas Gilang. Aku tak akan memaksakan diri juga, nanti saat aku lelah aku pasti pergi." Aku tak suka Pria egois yang hanya memikirkan perasaannya sendiri. "Tak harus dengan Shella, cobalah Mas buka pintu hati dan menjadi manusia normal lagi. Caca tetap membutuhkan sosok seorang Ibu. Carilah yang bisa membuat Mas jatuh cinta lagi, tapi wanita itu harus yang bisa menyayangi Caca, aku tak akan rela kalau ada yang menyakiti Caca." Aku hanya berfikir Realistis di sisi jiwaku yang lain. Tak melulu memakai hati. Pengalaman dan tempaan hidup mengajariku harus mengunakan keduanya untuk menghadapi suatu masalah. Begitupun saat ku menghadapi Mas Gilang, walau kadang kesabaranku hilang tapi selama aku masih mampu aku akan bertahan. Sekiranya aku tak sangup lagi pasti akan aku lepaskan. Waktu begitu cepat beranjak. Saatnya menjemput Caca. Kami berdiri bersamaan, dan berjalan bersisian. Degub jantungku mulai berdetak kencang. Saat jemari itu mengisi celah jemariku, dan mengengamnya. Ini baru pegangan tangan rasanya sudah luar biasa ... Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD