Waktu begitu cepat beranjak. Saatnya menjemput Caca. Kami berdiri bersamaan, dan berjalan bersisian. Degub jantungku mulai berdetak kencang. Saat jemari itu mengisi celah jemariku, dan mengengamnya. Ini baru pegangan tangan rasanya sudah luar biasa.
Aku sedikit melirik ke arahnya, wajahnya datar seperti biasa. Berbeda dengan diriku, ada desiran halus yang menelusur pelan di relung hati ini.
Caca sudah keluar, ketika kami sampai di sekolahnya. Setelah salim dengan gurunya dia berhambur memelukku. Ceria sekali gadis kecil ini. Dia minta di cium berkali-kali.
"Ayah, mandi bola," rengeknya. Mas Gilang melihat ke arahku.
"Shella berangkat setengah satuan nanti," ucapku.
"Sebentar saja tapi ya, Kak Shella mau kuliah nanti," jelasnya ke gadis kecilnya.
"Siap Bos Ayah," jawabnya dengan gaya hormat yang membuatku ikut gemas.
Mas Gilang membawa kami ke sebuah Pusat perbelanjaan. Di sini ada area bermain anak yang cukup luas. Kami melepas Caca sendiri karena memang pendamping tidak boleh masuk.
Mas Gilang sedang membelikan kami minuman, ketika pesan dari Om Bastian kuterima. Memintaku bersiap setelah magrib, karena acara jam tujuh sampai jam sembilanan. Dia share lokasi tempat acara. Ah tak terlalu jauh setauku ini perumahan Elite di kota ini.
"Minum."
Mas Gilang menyodorkan minuman dingin padaku. Seperti ada bobanya. Aku tak suka.
"Shella boleh tukar?" tanyaku padanya.
"Ini cuma Teh, sudah kuminum juga," katanya.
"Nggak apa-apa, Shella nggak suka ada bobanya," terangku.
"Aku belikan lagi ya," ucapnya hendak berdiri.
"Nggak usah, nggak rabies kan? Cuma galak aja," ucapku sambil mengambil minuman di tangannya. Dan kuberikan punyaku padanya.
"Eh maaf, hanya bercanda," lanjutku. Mas gilang melihatku, sekilas kulihat dia tersenyum.
"Nanti pulang kuliah jam berapa?" tanyanya kemudian.
"Sampai jam empatan. Oh ya maaf nanti nggak bisa temeni Caca belajar, Shella ada Job dadakan. Lumayan honornya sayang kalau nggak diambil."
"Sampai malam?"
"Nggak, sampai jam sembilanan paling Mas, kalau pas di Kafe sih sampai jam sebelas." terangku
"Kamu nggak capek? paginya harus kuliah malamnya kerja."
"Ya dinikmati saja, ini kan juga kesukaan Shella. Malah masih mau cari job lagi, Shella harus bisa mandiri. Nggak mau ngrepotin Mama lagi. Mas kan tau Mama single parent, dan Shella masih ada adik juga," ucapku.
Pengalaman hidup mengajarkanku untuk tak mudah menyerah. Dilahirkan di tengah keluarga yang sederhana cenderung miskin membuatku sudah biasa bekerja keras. Papaku meningal saat adikku Lingga baru berumur tiga bulan. Waktu itu aku seumuran Cita sekarang.
Tak banyak yang kuingat dari sosok Papaku. Yang jelas terekam adalah Dia begitu memanjakanku, dia sosok yang tampan dan penyayang. Ketika ku mulai besar aku sering mendengar pujian untuk papaku dari orang-orang. Mungkin karena cinta mama yang begitu besarlah dia memutuskan untuk tetap sendiri sampai sekarang.
Mamaku yang cantik tentu saja dengan mudah menarik perhatian laki-laki. Tapi di hatinya hanya ada Papa. Dan dia tak mengantikan Papa dengan yang lainnya. Pernah mendengar juga kalau Papa sebenarnya anak orang kaya, tapi karena memilih Mama yang dari kalangan biasa dia dibuang keluarganya.
"Melamun?"
Mas Gilang menyengolkan lenganya padaku.
"Kangen Mama," ucapku, entah mataku tiba-tiba berkaca-kaca saat mengingat Wanita dan Pria hebat itu. Kuusap air hangat yang mulai melewati sudut mataku.
"Kamu bisa nangis?" tanyanya. Pertanyaan macam apa itu dikiranya aku ini apa coba.
"Ya bisalah Mas, cuma kalau masalah Cinta jangan harap melihat air mata di sini." tunjukku ke mataku sendiri. Aku tak bisa menangis untuk masalah laki-laki, dan itu tak nikmat sama sekali. Karena sesaknya semakin terasa tanpa bisa kuekspresikan lewat air mata.
Pun ketika diriku di tinggal Mas Andra dua tahun yang lalu, setelah pacaran dengannya mulai aku kelas dua SMA. Mas Andra menghianatiku dengan sahabatku sendiri. Dia menghamili Viona sahabatku dari SMP. Syok pastilah, ketika kami berpacaran paling pol hanya cium pipi atau kening itu sudah luar biasa gemeteran. Terus menghadapi kenyataan dia menghamili sahabatku siapa yang tidak kaget.
Tapi tak ada air mata sama sekali. Hanya sesaknya luar biasa. Sampai sekarangpun masih ada. Dan ketika kami harus di pertemukan dalam satu pekerjaan yang sama, sunguh menyesakkan rasanya.
Aku menoleh ke arah Mas Gilang yang ternyata masih menatap ke arahku.
"Awas jangan lama-lama liatnya, nanti jatuh cinta," godaku padanya. Senyum kecil terbit di sudut bibirnya.
"Gadis sepertimu pasti banyak yang suka, heran saja kenapa memilih bertahan dengan perjodohan ini."
Aku tertawa sedikit sumbang. Banyak yang suka? Bahkan Mas Andra menghianatiku, dan Mas Gilang sendiri membiarkan cintaku bertepuk dengan angin.
"Awalnya karena keinginan Mama, Shella tak mampu menolaknya. Kemudian Shella jatuh cinta pada Dia." tunjukku pada Caca yang sedang d**a-d**a pada kami.
"Terakhir Shella jatuh cinta pada Ayah gadis kecil itu, Mas tau Pria itu sangat menyebalkan, Tak pernah bicara padaku, sekali bicara sukanya marah-marah semua yang Shella lakukan untuknya salah."
"Lalu apa yang membuatmu jatuh cinta?, sedikitpun tak ada baiknya dia matamu."
Wajah Mas Gilang sedikit berubah, tak menerima sepenuhnya dengan yang ku katakan.
"Kadang cinta tak memerlukan alasan bukan? Seperti yang Shella rasakan sekarang. Walau menyesakkan, Shella masih bisa bertahan dengan rasa ini. Tapi ... hidup juga harus realistis. Tak akan selamanya Shella akan bertahan dengan cinta yang tak berbalas."
"Ibarat ketika kita ingin bertepuk tangan, harus ada kedua tangan yang di satukan. Kalau hanya satu ... capek Mas ... percuma, tak akan terdengar suaranya."
Mas Gilang mengulum senyumnya, ini luar biasa, padahal aku sedang tak berkisah tentang hal yang lucu.
"Mas rasa senang itu jangan ditahan, begitupun kalau Mas mulai jatuh cinta, mumpung cintaku masih hangat-hangatnya."
godaku padanya.
Mas Gilang mengelengkan kepala, mendengar ucapan percaya diriku. Aku hanya tertawa melihatnya.
Tak terasa obrolan panjang lebarku dengannya membawa kami kewaktu satu jam setelahnya. Sudah hampir jam setengah dua belas. Kamipun pulang karena aku harus kuliah siang.
Caca terlihat lelah, dia kupangku di tengah. Semilir angin membuatnya tertidur. Sampai di rumah Caca masih pulas. Aku mengendongnya turun dari motor.
"Mas kuncinya di tasku. Kantong luar." tunjukku padanya. Dia meraba tasku dan menarik kunci dari dalamnya. Aku menudurkan Caca dan melepas sepatunya.
Aku langsung membersihkan diri, Sholat setelahnya. Dan bersiap berangkat kuliah.
"Mas ... " pangilku sambil mengetuk pintu kamarnya. Dia keluar masih dengan memakai sarungnya. Sepertinya selesai sholat juga.
"Shella berangkat dulu, oh ya jangan lupa Caca ada les Piano nanti jam dua." Pamit dan ingatku padanya.
Mas Gilang hanya menganggukan kepalanya.
"Ya udah Assallamualaikum." Pamitku kemudian beranjak dari hadapannya.
"Waalaikumsalam." balas Mas Gilang, tapi dia menahan tanganku juga."hati-hati."
Aku mengulum senyumku.
"Mas apa kepalaku begitu kerasnya saat berbenturan waktu itu. Sampai bisa merubahmu menjadi semanis ini?" tanyaku padanya.
Terlihat sekali dia ingin tertawa, tapi ditahannya. Aku yang justru tertawa melihat ekspresi yang terlihat lucu itu.
"Sudah berangkat sana, nanti telat." Mas Gilang mengalihkan pembicaraan.
"Siap Ndan." ucapku menirukan gaya Caca. Dan lagi dia mengan senyumnya. Aku hanya mengelengkan kepala. Apa coba susahnya tertawa. Bukankan tertawa itu sehat.
Aku berangkat selepas mengucap salam, dan melihat Caca sebentar sekaligus menciumnya.
Motorku melaju sedang setelah keluar dari dari pagar. Sampai di kampus jam satu kurang seperempat. Aku menuju ruang kelas, bersisian dengan Anggita. Kami bertemu di tempat parkir tadi.
"Shell ... "
Ada yang memanggilku itu suara Metha. Aku membalikkan badanku, dia terlihat berjalan cepat kearahku.
"Haiy." sapanya dengan nafas sedikit ngos-ngosan. Tanganya langsung bergelayut di lenganku.
"Habis marathon ya?" tanyaku.
Shella hanya tertawa. Dia mulai mengatur nafasnya.
Seperti biasa kami duduk bersebelahan, Di baris terdepan. Aku termasuk tipe yang suka belajar, serta suka tantangan. Biaya kuliah mahal, tak mungkin aku menyiakan semua pengorbanan Mama. Mata kuliah hari ini diampu Pak Danau Tiga, nama yang cukup unik, usianya juga terbilang masih muda. Kelas selalu penuh tiap mata kuliahnya. Terutama mahasiswi, apalagi kalau bukan karena wajah tampannya.
"Shella, bagikan untuk yang lainnya." Suruhnya menjelang kuliah selesai. Aku memang duduk paling dekat dengannya. Aku berdiri mengambil setumpuk kertas dari tanganya.
"Ini tugas, kerjakan di rumah. Kumpulkan lusa, kalian jadikan satu kalau sudah selesai. Devan kamu yang koordinir, setelah terkumpul antar ke ruangan saya." Perintah Pak Danau yang dijawab serempak. Dosen itu segera melangkah keluar
Metha terlihat membolak-balikkan kertas tugasnya.
"Heran sama Dosen itu, nggak pernah membiarkan kita santai barang sebentar." Keluh Metha.
Aku tertawa mendengarnya. Padahal dia akan mencontek punyaku juga akhirnya. Kalau ada sengang waktu aku sempatkan mengajarinya tapi seringnya dia sengaja minta bantuan pas sudah mepet waktunya.
"Kayak beneran ngerjain aja." Sindirku, Metha tertawa kemudian bergelayut manja.
"Hai Meth, Shell, langsung pulang nih?" sapa Devan, Mahasiswa yang ter, di kelas, terajin, terpintar, tertampan dan ter lainnya.
Aku menganggukkan kepala.
"Iya sayang, hai tumben nyapa kita biasanya langsung nyelonong aja, semenjak pacaran sama Zahra, lupa deh ama kita-kita." ucap Metha dengan bibir manyun.
Iya, Metha memang sejak semester awal dekat dengan Devan. Pikirku dulu mereka pacaran. Tapi mereka mengaku hanya berteman.
"Kamunya yang banyak alasan kalau diajak jalan." Alasan Devan.
Dan, terjadilah perdebatan. Aku hanya mengelengkan kepala. Melihat tingkah mereka berdua, berjauhan rindu, deket berantem. Aku beranjak, Devan menyusulku dia merangkulkan tanganya di pundakku.
Metha menarik tangan Devan dan berganti bergelayut pada tanganku.
Kubiarkan mereka ribut sendiri sepanjang jalan menuju ke parkiran.
"Kata Om Bast, ada Job ntar malem?" tanya Metha.
"Iya, lumayan banget honornya." jawabku.
"Itu dah ditungguin Sarah tuh." tunjuk Metha pada seorang gadis berjilbab merah muda. Devan terlihat tak seperti biasa. Mungkin sedang ada masalah juga dengan pacarnya itu.
"Udah sana." Metha mendorong Devan yang tampak malas, walau akhirnya meninggalkan kami juga.
"Sejuta ya?." tanya Metha melanjutkan pembahasan Job ku nanti malam. Aku tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Asyik ditraktir." goda sahabatku itu.
"Boleh aja, di Kafe Teras ya." ucapku.
"Ye, sama aja boong, gue makan disana ampe bengkak juga nggak bayar." ucapnya. Aku hanya tertawa mendengarnya.
"Sstt ... Didi." Metha menunjuk cowok berambut gondrong itu itu dengan dagunya.
"Tumben nggak sama Saka." lanjutnya.
Didi berjalan ke arah kami. Kami pun berjalan dan akhirnya berhenti.
"Saka mana?" tanya Metha ketika Didi baru saja akan membuka mulutnya.
"Ada tadi, langsung pulang tapi. Ada acara keluarga katanya." jawab Didi.
"Mau pulang bareng Metha?" tanyanya padaku.
Aku mengelengkan kepalaku.
"Aku bawa motor sendiri." jawabku.
"Ya udah deh, aku duluan. Ntar kalau mau gue antar call gue ajah." ucap Metha. Dia langsung beranjak setelah mencium pip kiri dan kananku. Parkir mobil dan motor memang tempatnya berbeda.
"Yuks." ucapku menarik tangan Didi.
"Kan off ntar malam?" tanya Didi melihat ke arahku. Aku harus sedikit mendongak untuk melihat wajah cowok jangkung ini.
"Iya di Kafenya off, cuma ada Job di acara ultah. Lumayan honornya jadi aku ambil aja." jelasku padanya.
"Mau aku antar?" tanyanya kemudian.
"Nggak usah, bisa sendiri kok." tolakku. "Lagian jam sembilanan juga udah kelar acaranya." lanjutku.
"Malam loh, kamu kan jarang keluar malam, minggu kemaren kan sama Metha." ucapnya. "Aku temenin besok-besok ya, nggak tega tau kalau kamu bawa motor sendiri malam-malam."
"Nanti lama-lama kan juga biasa." ucapku.
"Kamu cewek Shell, rawan pulang sendiri tengah malam." ucapnya. Dia benar tapi aku tak mau merepotkannya.
"Gampanglah, nanti aku hubungi kalau butuh bantuan. Ada Panji juga kok, bisa jemput aku."
"Panji apa kakaknya?, Oh ya, kabari aku kalau kamu sudah menyerah. Aku masih ada di sini." ucapnya.
"Siapa cerita? Pasti Metha yah."
Siapa lagi kalau bukan Gadis itu, hanya dia yang tau tentang perasaanku pada Mas Gilang.