Didi tersenyum. Tak ada yang kurang dengan cowok ini. Dia baik, perhatian, kaya dan tampan, wajahnya baby face banget. Dia juga jago basket, hanya saja kembali ke masalah hati. Hatiku terlanjur nyangkut pada Ayah Caca. Si duda dingin dan galak itu, eh sekarang sudah nggak galak lagi sih. Tapi nggak tau juga, kalau berubah lagi.
Didi mengikuti laju motorku dari belakang, sampai aku tiba dirumah. Dia berhenti sebentar saat aku turun membuka pagar. Dan kembali melaju setelah ku masukkan motorku.
Mas Gilang terlihat keluar, sepertinya dia juga melihat Didi tadi.
"Mau jemput Caca?" tanyaku padanya. Dia menganggukan kepalanya."Ya udah hati-hati." lanjutku.
"Kamu nggak ikut jemput?" tanyanya padaku
"Mas mengajakku?"
"Kenapa aneh gitu lihatnya?" tanya nya tak nyaman. Aku hanya tersenyum sedikit takjub.
"Shella sholat dulu tapi ya." ucapku. Kemudian masuk ke rumah denagn berjalan cepat.
Sepi, tak ada orang tua Mas Gilang. Panji juga ada tambahan sampe jam lima. Selepas sholat aku langsung kedepan. Mas Gilang menungguku di teras.
"Masih mau ke dalam lagi nggak?" tanyaku. Mas Gilang mengeleng. "Shella kunci ya."
Aku langsung menutup pintu dan menguncinya.
Aku berjalan ke pagar, kembali menutup dan menguncinya setelah motor Mas Gilang keluar. Selalu seperti ini, setiap kali di dekatnya ada rasa yang berbeda. Ada yang bergetar pelan di d**a ini, tapi mampu membuat detaknya semakin kencang. Jatuh cinta sunguh menyesakkan, apalagi yang di cinta sudah memproklamirkan diri tak ingin merasakan mencinta lagi.
Walau kurasa dia sekarang sedang berusaha menata hatinya, sikap manis dan hangatnya memberiku harapan dan semangat kembali.
Tak sampai sepuluh menit, kami sudah sampai. Gadis kecil itu sudah selesai rupanya. Dan seperti biasa dia akan berhambur padaku lebih dulu.
"Ca, Ayah di sini." Pangil Mas Gilang pada putri kecilnya. Tapi gadis itu hanya meringis. Menampakkan giginya yang bolong, karena tanggal kemarin.
Mas Gilang pura-pura kesal, gadis kecil itu akhirnya memeluknya.
"Baiklah, Ayah belikan Es Krim karena dah peluk Ayah." ucap Mas Gilang.
"Caca, tadi sudah Es krim, kemarin sudah. Lusa lagi." ucapku. Gadis itu giliran yang kesal padaku. "Jangan banyak-banyak nanti batuk sayang." ucapku memberi pengertian padanya, kucubit gemas hidung mungil itu kemudian menciumnya.
"Oh iya, lusa aja ya, Ayah belikan yang besar segini." timpal Mas Gilang, mengambarkan besar dengan kedua tangannya. Caca kembali tersenyum.
"Ayuk pulang, Om Panji nggak bawa kunci tadi." Diraihnya tangan munggil itu.
Mas Gilang melajukan motornya pelan, mampir sebentar ke penjual gorengan. Dan membeli martabak manis untuk Panji.
Sampai dirumah Panji belum datang, aku membuatkan kopi dan memindahkan gorengan yang dibeli ke dalam piring.
Aku membawanya ke ruang tengah, Ayah dan anak itu sedang asyik melihat Tivi.
"Kamu nggak mau?" tanya padaku.
Aku mengeleng, bukan tak doyan. Tapi sekarang aku mulai menjaga suaraku. Sebelum bekerja, aku tak berpantang apa-apa ku sikat semua.
"Bukan tak doyan, ini sangat mengoda, tapi takut aja. Ini asset soalnya." aku menenjuk ke leherku.
Sudah lebih jam lima, ku lihat bahan di dapur. Tante Mira sudah menyiapkan ayam yang sudah diungkep dan tinggal digoreng. Sayur juga tinggal dihangatkan. Aku hanya membuatkan sop ayam dan wortel untuk Caca. Menambahkan sambal terasi untuk Mas Gilang.
Kusiapkan di meja dan menutupnya dengan tudung saji, kemudian pergi mandi. Baru selesai mandi terdengar Adzan Magrib, terdengar juga Panji baru pulang.
Aku bersiap selepas sholat, Om Bast mengingatkanku kembali. Aku jawab sedang bersiap.
"Berangkat sekarang?" Mas Gilang muncul di ambang pintu kamarku yang memang terbuka. Aku sedang memasukkan gitar ke dalam sarungnya.
"Iya Mas, dah hampir setengah tuju. Acaranya jam tuju soalnya." jawabku.
"Bawa motor sendiri?" tanyanya.
"Enggak, Shella sudah pedan Ojol barusan, dari pada kesasar hehehe, Shella kan nggak hafal jalan." ucapku.
"Kenapa nggak bilang, kan bisa diantar Panji." ucapnya.
"Maunya diantar Mas aja." godaku padanya.
Telponku berdering, pangilan dari Mas Ojol, tak kulanjutkan mengodanya. Aku beranjak, pamit pada Caca dan langsung keluar.
Benar saja, seandainya aku berangkat sendiri pasti kesasar. Motor memasuki komplek perumahan besar. Semua rumah yang kulihat berlantai dua atau lebih, besar dan megah. Perumahan orang kaya.
Aku berhenti di depan sebuah rumah yang juga besar dan mewah. Banyak mobil berjajar sepanjang jalan sampai halaman.
Aku turun, dan langsung disambut seorang wanita berumur kira-kira tiga puluh tahunan. Acara ulang tahun seorang gadis remaja, kelas tiga SMP. Pestanya cukup megah, orang kaya mah bebas. Setidaknya aku juga kebagian rejeki.
Sebuah pangung kecil disiapkan, Aku menyiapkan peralatan tempurku, ternyata mereka sudah menyiapkan gitar sendiri. Tapi aku sudah jadi satu dengan gitarku.
Suasana tampak ramai, gadis dan remaja pria bersendau dengan hebohnya. Mereka terlihat tampan dan cantik. Memang berbeda kelas mereka terlihat tanpa perlu penjelasan.
Sepasang MC membuka acara, mereka sudah memberitahuku tadi susunan acaranya.
Ah rasanya ikut jadi abg lagi. Aku senyum-senyum sendiri memperhatikan mereka. Zizi gadis yang sedang berulang tahun tampak malu-malu saat di goda teman-temannya. Ada cowok spesial rupanya. Dugaanku benar, pandanganku terarah pada remaja pria dengan tinggi di atas teman lainnya, wajahnya memang paling tampan.
"Armand ... armand." seru beberapa gadis. Kedua remaja itu tampak malu-malu. Ini pesta mereka tak tampak orang tua setelah acara tiup lilin tadi.
Pria muda itu datang padaku saat jeda. Dia ingin mempersembahkan sebuah lagu untuk yang sedang berulang tahun. Dia menyebutkkan sebuah judul, aku bisa jawabku. Dia ingin bermain gitar juga. Jadilah kami kolaborasi untuk lagu ini. Aku hanya main gitar saja dia yang menyanyi.
Keren, tepuk tangan riuh terdengar. Kemampuannya lumayan. Suara ramaja pria ini juga bagus. Aku tersenyum sedari tadi melihat gadis bernama Zizi, yang begitu terpesona melihat pemuda di sampingku ini. Pesona remaja yang memperkenalkan diri padaku dengan nama Armand ini memang keren.
Suasana ceria membuatku ikut bersemangat. Tak terasa sudah jam sembilan malam, aku ikut larut dalam kehebohan pesta anak umur belasan. Tak terpaut jauh juga denganku yang baru mau ke angka dua puluh satu.
Amplop berwarna coklat diberikan padaku sebagai honor malam ini. Mengakhirinya dengan sedikit obrolan ringan bersama orang tua Zizi yang juga teman Om Bastian. Mereka juga memberikan sebuah bungkusan besar entah apa isinya sepertinya makanan. Akupun mengucapkan terima kasih dan berpamitan.
Kutarik ponsel yang aku masukkan ke dalam tasku. Beberapa pesan masuk. Semuanya sama menawarkan diri menjemputku. Sore tadi memang Metha dan Didi bertanya padaku, aku bilang naik ojol karena takut nyasar.
Baru akan membalas pesan, seseorang menepuk tanganku.
"Hai, ganteng." ucapku pada Armand yang berdiri di sampingku.
"Kakak keren." pujinya padaku.
"Makasih, kamu juga keren loh, lihat tadi gadis-gadis pada histeris."
"Kakak bisa aja." , "Kakak boleh minta nomor telponnya nggak." pintanya.
"Nomor kakak?, buat apa? jangan bilang kamu jatuh cinta hahahaha." godaku.
Armand ikut tertawa. Dia bilang ingin aku nyanyi di acara ulang tahunnya juga. Dia ingin merekomendasikan pada Ayahnya. Aku memberikannya.
"Ar ... "
Armand menoleh ke arah seseorang yang memanggilnya.
" Iya Om ." balasnya. Armand kemudian berpamitan padaku. Pria muda yang disebut Om itu tersenyum padaku. Akupun membalasnya.
Aku kembali melihat ponselku. Pangilan langsung masuk, Nomor Panji.
"Iya sayang." jawabku.
"Share lokasi aku jemput." itu bukan suara Panji. Itu Mas Gilang. Lah kenapa malah jadi deg deg an.
Pangilan langsung di tutup. Aku masih bengong, sampai pesan kembali masuk.
[Mana?]
Akupun membalasnya dengan menshare lokasiku lewat pesan.
Beberapa anak menyapaku, bukan hanya Armand yang meminta nomor telponku, beberapa gadis remaja memintanya juga. Mereka memujiku, cantik, pinter main gitar katanya.
"Haduh Kepala kakak kok jadi besar ya." candaku. Mereka tertawa mendengarku.
"Kak Shell, Vani duluan sudah di jemput Kakak." pamit salah satu gadis. "Itu Kakak Vani, namanya Brian masih Jomblo loh." ucapnya cengengesan.
"Promosi nih." ucapku yang disambut dengan tawa kedua gadis di sampingku. Terlihat gadis bernama Vani itu menunjuk ke arahku saat berbicara dengan Kakanya. Sang Kakak kemudian tersenyum padaku. Aku pun membalasnya.
Lucu-lucu tingkah mereka. Beruntung mereka memiliki masa remaja yang bahagia dan serba ada. Tak berapa lama kedua gadis remaja di sampingku dijemput juga.
Motor Mas Gilang berhenti tepat di depanku. Dia mengambil bawaanku dan mencantolkannya di depan. Helm diambilnya dari bawah jok. Dia memakaiankannya padaku. Aku yang mendapat perlakuan manis seperti ini untuk yang pertama kali darinya hanya bisa terpaku.
"Mau di sini sampai kapan?" tanyanya. Aku bangung dari lamunanku. Kemudian duduk di belakangnya.
Tanganya meraih tanganku yang menumpang di atas pahaku. Di lingkarkannya di perutnya. Wow, pesat sekali kemajuannya, pikirku. Sayangkan, tangan kanan juga kulingkarkan di perutnya. Dia mengengamnya, debaran d**a ini semakin kentara. Dinginya angin tetap kurasa hangat seketika. Rasa ini sudah tak terlalu menyesakkan. Aku tersenyum sendiri. Apakah dia mulai ada rasa padaku. Sepertinya iya ...
Sesampainya di rumah semua sudah tidur. Kuletakkan bungkusan di meja. Benar berisi makanan saat ku buka. Aku mengambil kue dan memindahkan ke piring. Mas Gilang baru saja masuk setelah menungunci pagar dan garasi serta pintu.
"Mas, Shella bawa kue, Mas mau?" tanyaku saat dia mengikutiku ke meja makan.
Dia melihat kearah piring di tanganku, kuambil sendok dan menyuapkan padanya. Dia kaget menerima perlakuanku, ngapain juga kaget barusan kan dia yang memegang tanganku sepanjang perjalan pulang. Dia akhirnya membuka mulutnya juga. Kami berdiri saling berhadapan, dia menatapku, kenapa jadi gemeteran gini.
"Mas jangan gitu lihatnya, Shella jadi takut." ucapku.
"Takut kenapa?" tanyanya heran. Matanya menyipit.
"Takut perasaan Shella semakin dalam, sedang Mas Gilang bilang sendiri tak ingin merasakan cinta lagi." jawabku. Dia mengusap wajahnya.
"Semua hal bisa berubahkan?" ucapnya.
"Perasaan Mas juga?"
"Seharusnya begitu, Mas sudah berusaha. Beri Mas waktu dan tetaplah sabar menghadapiku."
Aku mengangguk dan tersenyum, ingin berhambur dipelukanya. Tapi malu, eh tangan itu meraihku dan mendekapku di dadanya. Apa dia bisa membaca hatiku?