"Mas, Shella jadi deg-deg an, nih," ucapku padanya.
"Kamu lucu." ucapnya masih tetap mendekapku.
"Shella buka pelawak, lucu dari mana?" ucapku.
Mas Gilang memegang lenganku, kami saling bertatap sekarang. Duda ini terlihat manis saat dia tersenyum seperti ini. Matanya tajam menatap ku, dadaku berdebar semakin cepat saat wajah itu mulai mendekat, Dia tak akan menciumku kan?
"Kriiit ..." terdengar suara pintu berderit, dari arah kamar Caca. Reflekku dan Mas Gilang bersamaan mundur selangkah untuk membuat jarak, kami jadi sama-sama cangung dan salah tingkah.
"Mas Ngapain?, Kak Shell barusan pulang?" Panji mencomot kue di tanganku. Kemudian duduk di meja makan. Tangannya membuka bungkusan yang kubawa barusan.
"Emm , Shella ke kamar dulu." pamitku, kemudian meletakkan piring di atas meja.
Kukulum senyumku saat melihat Mas Gilang yang masih salah tingkah. Ah, hatiku cerah ceria seketika. Jatuh cinta itu kini tak lagi menyesakkan, tapi memabukkan.
Aku segera berganti pakaian, keluar ke kamar mandi, masih ada Panji di meja makan. Mas Gilang sepertinya sudah masuk ke kamarnya. Selepas Sholat aku mulai merebahkan badanku. Lumayan capek, tapi melihat amplop coklat di atas nakas aku tersenyum bahagia.
Aku memisahkannya, walaupun Ilmu agamaku masih cetek, masih suka khilaf tapi dua koma lima persen dari rejeki yang ku dapat selalu ku sisihkan untuk yang berhak. Ku set weker di ponselku jam empat pagi.
Pagi ini kusiapkan Nasi goreng dan Ayam goreng untuk sarapan. Om dan Tante siang datangnya. Mas Gilang hanya cuti sehari. Untuk hari ini aku yang mengurus Caca.
"Kak, berangkat dulu, Mas Panji berangkat." Pamit Panji selepas sarapan. Caca dan Mas Gilang juga terlihat sudah bersiap.
"Mas minta tolong, jemput Caca ya nanti." ucap Mas Gilang saat ku membereskan meja makan, Caca sedang melihat kartun di ruang tengah.
"Iya Mas, nanti Shella yang jemput." jawabku.
"Mas tidak dapat kopi pagi ini?" tanyanya padaku.
"Mau kopi buatan Shella?" tanyaku balik, aku menghadap ke arahnya.
Dia menganggukan kepala.
"Tapi jangan manis-manis soalnya ... " Mas Gilang terdengar mengantung kalimatnya.
Aku mengernyitkan dahiku ... belum di lanjut juga setelah beberapa saat.
"Soalnya liat Shella aja udah manis, ya kan." Ucapku mengodanya ... senyum itu tertahan. Mas Gilang terlihat cangung dan salah tingkah.
"Tunggu bentar ya." ucapku
"Terimakasih." ucapnya.
"Sama-sama." Aku menganggukan kepalaku.
Ku isi cereg dengan air dan mendidihkannya di atas kompor.
Mas Gilang ke depan menemani Caca. Aku senyum-senyum sendiri. Pasti Tante Mira senang mendengar tentang kemajuan pesat ini. Apa perlu di tinggal dulu baru dia sadar kalau dia sebenarnya juga memiliki rasa padaku. Tau gitu dari dulu aja, jadi nggak perlu tiap hari berantem dengan dia
Aku mulai menikmati rasaku yang kini mulai di sambutnya. Mas Gilang terlihat manis dengan kemeja biru muda nya. Aku suguhkan kopi yang sudah selesai kubuat.
Aku berdiri di sampingnya seperti menunggu review darinya.
Mas gilang mengangkat gelas kopi buatanku. Menunggunya sebentar dan menyeruputnya, matanya membulat. Buru-buru di berlari dan menyeburkan kembali kopi di mulutnya. Ada apa lagi ini. Aku menyusulnya ke belakang. Aku ambil kopi yang di letakkan sedikit kasar tadi di meja.
"Ada apa?" tanyaku padanya.
"Asin." Jawabnya, giliranku yang melotot. Kucicip kopi di tanganku.
"Ahw ... " ku kibas mulutku dengan tangan. Asin, bagaimana bisa aku seceroboh ini. Karena melamun, aku memasukkan garam bukan gula.
"Maaf, Shella buatin lagi ya?" tawarku.
Mas Gilang mengelengkan kepala. Apa dia marah?, tapi dia malah tersenyum tidak terlihat marah.
"Nggak usah." jawabnya.
"Maaf." Pintaku.
"Nggak apa-apa" Jawabnya sambil mengusap pipiku. "Ya Udah Mas berangkat dulu, sekalian antar Caca." Pamitnya.
Aku masih terpaku, dia mengusap pipiku. Ahh manis sekali jadi pengen peluk kan ...
"Haiy, Mas berangkat dulu." Ucapnya lagi. Aku tersadar dan menganggukan kepalaku.
Aku mengikutinya, untuk memberi ciuman ke Caca. Kemudian mengantarkannya ke depan. Sudah seperti keluarga kecil kami bertiga. Kupandangi motor Mas Gilang yang sudah menghilang di tikungan. Aku masih berdiri di depan pagar. Aku juga tidak tau kenapa bisa begitu suka padanya.
Kalau soal rupa Didi lebih dari dia, lebih kaya dan jelas sudah perasaanya dapat k****a. Tapi Mas Gilang itu beda, nyebelin tapi ngangenin. Susah untuk k*****a, sekarang pun aku masih belum begitu yakin padanya. Tapi dia bersikap manis saja sudah cukup bagiku.
Om dan Tante pulang selepas Mas Gilang berangkat tadi. Jadi aku tak menjemput Caca. Metha menjemputku ke kampus hari ini. Kami kuliah jam satu sampai jam enam sore, sekalian aku bawa baju ganti karena sekalian ke Kafe.
Aku menyiapkan diri untuk perform malam ini. Metha di lantai atas kantor Omnya. Ku duduk di ruang loker, sambil mencari referensi lagu.
"Tumben sudah di sini?" suara itu, aku hanya melihat nya sepintas kemudian melanjutkan ke asyikanku.
"Shell, gimana kabar kamu?, kamu tak pernah menjawab pertanyaanku." Lanjutnya. "Aku minta maaf ya, kamu pasti masih marah padaku." ucap Mas Andra.
Aku malas sekali bicara dengannya. Aku masih bergeming mengangapnya tak ada.
"Aku menyesal, harusnya tak kulakukan kebodohan itu." ucapnya.
"Sudahlah Mas, kenapa di bahas lagi, yang sudah terjadi biarlah terjadi. Shella udah nggak menginggatnya lagi. Angap saja kita tidak pernah saling kenal, dan tak usah kembali saling mengenal."
"Tapi Shella nggak akan lupa kok yang kebaikan Mas Andra, karena Mas lah aku bisa main Gitar. Shella nggak akan lupa." ucapku. Akhirnya aku melihat ke arahnya. Wajah itu masih sama, hanya terlihat lebih dewasa. Betapa dulu aku begitu mencintainya, banyak mimpi yang kurangkai dengannya, berharap akan menjadi kisah yang berakhir indah.
Hampir empat tahun kami menjalin kasih, banyak hal pastinya yang kami lalui bersama. Mas Andra sangat baik padaku. Dia dua tahun di atasku. Tak kulupa banyak andilnya dalam hidupku. Kami sering ngamen bersama, dan uangnya selalu diberikan padaku untuk biaya sekolahku. Dia masih kuliah waktu itu.
Sampai akhirnya aku tau bahwa dia menghianatiku. Sungguh aku tak pernah menyadari karena tak ada yang berubah dari perhatiannya padaku. Mengingatnya dadaku begitu sesak. Aku coba menghapus semua tentangnya walaupun ku belum bisa sepenuhnya.
"Apakah kita tak bisa walau berteman saja." ucapnya lagi.
Aku terdiam, menatapnya tajam. Hal yang selalu aku ingin hindari. Berkontak mata dengannya. Karena aku bisa membaca masih ada rasanya padaku, dia masih menyayangiku. Dan itu membuatku semakin sakit.
"Shella nggak bisa." jawabku.
"Kenapa?"
"Karena masih ada Shella di hati Mas Andra, dan itu tak baik walau hanya berteman saja." ucapku.
"Kau selalu bisa membacaku."
"Tapi sayangnya, Shella tak bisa membaca penghianatan itu, penghianatan kekasih dan sahabatku." ucapku getir.
"Aku bersalah, aku terjebak, aku memang bodoh." ucapnya lagi.
Aku tak menyadari, Viona sahabatku menyimpan rasa pada Mas Andra, semua hal ku ceritakan padanya, rasa cintaku, kekagumanku, kebaikan Mas Andra dan segala hal. Itu pelajaran untukku kadang justru orang terdekat yang menginginkan apa yang menjadi milik kita.
"Hidup untuk berjalan kedepan, masa lalu hanya kita jadikan sebagai pengingat dan pelajaran untuk tak mengulang kesalahan. Segala hal kesalahan atau pun hal baik yang dilakukan akan ada konsekuensinya sendiri yang harus kita terima dan kita pertangung jawabkan." ucapku.
"Itu yang Mas suka dan kagumi darimu, kau selalu dewasa dan bijaksana." ucapnya kalem. Aku membuang pandanganku, binar mata itu sungguh mengangguku.
"Udah mau jam delapan, kita tidak di bayar untuk mengobrol di sini kan?" tutupku. Aku bangun dari dudukku. Kami keluar ruangan dan berjalan bersisian. Huff tak suka dengan rasa ini, walau sudah kukubur dalam tetap membekas dan itu tak nyaman.
Kami mulai bersiap, walau bukan weekend, suasana Kafe cukup ramai. Seperti biasa aku awali dengan tampil bersama, baru nanti kami saling bergantian.
"Hai Shell, pa kabar?" Sapa Om Bastian, saat ku menghampiri mejanya.
"Baik Pak, Oh ya terima kasih untuk info job yang kemarin. Kalau ada lagi kontak Shella ya Pak." ucapku mulai merasa Akrab.
"Siap, sekalian aku Promosikan ke teman-teman nanti." jawabnya.
"Mas Andra itu udah nikah kah Om?" tanya Metha tiba-tiba ke Om nya itu.
"Sepertinya sudah, kenapa suka?" goda Om Bast ke Metha.
"Nggak, cuma suka lihatnya, pembawaanya kalem, adem. Kalau Metha sih suka nya yang seumuran, kalau Shella baru sukanya yang dewasa." Metha menatapku sambil mengerakkan alisnya naik turun.
"Oh ya, kayak Om gini dong dewasa." gurau Om Bast.
"Kalau Om itu sudah tua, bukan dewasa lagi."
Celetuk Metha.
"Tua bagaimana, Om baru tiga puluh dua, tua darimana."
Aku hanya tertawa mendengar perdebatan mereka. Fokusku teralihkan ke Mas Andra, dia sedang menyanyikan sebuah lagu favoritku. Dan benar saja, tatapan kami beradu saat ku melihatnya.
Kami selesai tampil hampir jam sebelas malam, sebentar lagi Kafe akan tutup. Aku kembali ke ruang loker mengambil barangku, ada beberapa karyawan yang juga sudah bersiap pulang. Metha menguntitku dan membawakan sebagian barangku.
"Nginep tempetku aja ya." pinta Metha.
"Caca nyariin aku ntar, tadi aja udah nggak pulang."
"Caca apa Ayahnya?" Goda Metha, aku tersenyum.
"Wah ada kemajuan sepertinya, biasanya muka kamu kesel kalau ngomongin Mas Gilang."
Aku hanya mengulum senyumku. Tak perlu cerita wajah ceria ini sudah bicara.
Ponselku berbunyi, ku melihatnya. Mas Gilang, panjang umur bener. Baru di omongin.
"Assalamualaikum, Iya Mas." ucapku setelah ku geser tombol hijau ke atas.
"Sudah selsesai kan?, Mas tunggu di depan." ucapnya. Auw, hatiku kenapa berdebar. Ini kah rasanya di perhatikan oleh orang yang telah lama di harapkan. Dia menutup pangilan. Aku masih terdiam dan mengulum senyumku.
"Kamu kenapa." Metha melihatku heran. Aku tersenyum padanya.
"Dijemput Mas Gilang." ucapku girang.
"Oh ya, lumer juga akhirnya." Metha ikut tersenyum." Tapi, kasihan Didi, hiks. Padahal dah berharap bisa double date kita nanti." lanjut Metha
"Emang sudah jadian sama Saka?"
"Belum sih." Metha mengaruk kepalanya.
Kami berjalan bersisian ke depan, papasan dengan Om Bast, yang juga keluar.
"Shella ke Metha lagi?"
"Nggak Om, sudah di jemput sama yayangnya." Metha yang menjawab.
"Sudah punya pacar?"
Metha mengangkat bahunya. "Mungkin."
Om Bast memanggutkan kepalanya. Aku tak menjawab apapun hanya tersenyum.
Sampai di parkiran kami berpisah, aku mencari Mas Gilang. Oh bawa mobil ternyata, di parkir di pinggir jalan. Semangat ku ayunkankan kaki ke arah mobil Mas Gilang.
Mas Gilang terlihat keluar berdiri di samping mobilnya. Kenapa senang sekali rasanya hatiku, dengan perhatian sederhananya.
"Makasih." ucapku manis saat sampai di depannya. Mas Gilang hanya tersenyum dan membukakan pintu untukku.
Beneran rasanya hati ini berbunga-bunga, berasa lebay banget. Ku toleh Mas Gilang yang sudah berada di belakang kemudi. Aku kembali tersenyum sendiri.
"Kamu kenapa senyum-senyum gitu?" tanya Mas Gilang menoleh ke arahku.
"Lagi bahagia." jawabku.
"Honor naik?"
"Kok honor naik, Shella bahagia, Mas Gilang jemput Shella." jawabku.
Ada senyum terlihat samar di wajah itu. Manis sekali.
"Yang sama kamu tadi siapa? Om Metha?" tanya Mas Gilang tiba-tiba.
"Iya Om Bast."
"Keren ya." Pujinya.
Apakah pancingan saja. Ternyata sama saja ya pria dan wanita, puji orang lain padahal biasanya cuma pancingan saja.
"Iya." jawabku singkat. Pasti pria itu tak puas dengan jawaban singkatku.
"Kamu suka?"
"Suka."
Terdiam tak ada pembicaraan.
"Tapi suka dan Cinta kan beda, Shella suka Om Bast, suka Metha, suka Panji dan suka semua, tapi Shella cuma Cinta Mas Gilang." ucapku kemudian. Sengaja ku melihat nya lekat untuk melihat ekspresinya. Terlihat senyum terkulum seketika di wajah manis itu. Tangan itu menutup bibirnya. Kemudian menoleh sebentar ke arahku.
Aku ikut mengulum senyumku, Nah jadi malu-malu juga kan aku. Malu-maluin. Tapi aku suka mengodanya.