Ciuman Pertama

1202 Words
"Apa kau juga seperti ini pada kekasihmu dulu?" tanyanya tiba-tiba. Pertanyaanya langsung merusak moodku. Jadi teringgat binar mata Mas Andra tadi, itu menyesakkan. Kalau cinta kenapa mendua, kalau cinta mengapa berkhianat, kalau cinta padaku kenapa bisa menghamili sahabatku. Pertanyaan itu tak sempat kutanyakan dulu, dan sudah tak ingin kutanyakan lagi sekarang. Tapi aku masih merasakan cintanya yang begitu besar padaku, baik dulu ataupun sekarang. Aku tak menjawab pertanyaan Mas Gilang. Pandangan kualihkan lurus kedepan. Mungkin aku tak seperti sekarang bila tak kembali di pertemukan. Tapi kembali berdekatan itu rasanya sungguh menyesakkan. Harus menghadapinya empat kali seminggu, butuh kekuatan hati yang lebih. Karena rasa itu masih ada. "Maaf." ucap Mas Gilang melihatku tak nyaman. "Shella tak pernah bertanya akan Masa lalu Mas Gilang ataupun perasaan Mas pada Ibunya Caca, karena Shella tau itu hanya akan mengorek sebuah luka. Kita berangkat dari kisah yang hampir sama, sebuah penghianatan, dan itu menyakitkan bukan?" "Mas minta maaf, Mas tak ada maksud mengingatkanmu pada sakitmu." ucapnya. Aku menarik nafasku, sepertinya aku yang berlebihan menangapinya. Mungkin karena kehadiran kembali Mas Andra, itu sebenarnya yang membuka luka. "Nggak, maafin Shella. Nggak tau kenapa tiba-tiba sensitif." ucapku padanya. Mobil sampai depan pagar, aku turun untuk membukakanya. Mobil masuk kembali ku kunci pagar itu. Mas Gilang turun dan membuka garasi. Aku ikut masuk kedalam garasi, menunggunya di pintu samping penghubung garasi dengan tempat jemuran. "Mas minta maaf untuk yang tadi." ucapnya lagi. Kami masih berhenti di ambang pintu. "Shella juga minta maaf." pintaku. Aku dan Mas Gilang masih bergeming. Hanya saling menatap. Dadaku kembali berdegub kencang. Bergetar halus sampai ke sendi-sendiku. Bibir itu terlihat akan membuka, seperti ingin mengatakan sesuatu. Tapi kembali tertutup. Mas Gilang terlihat salah tingkah sendiri. Dia mengusap tengkuknya. "Mas mau nembak Shella?" tanyaku padanya. Dia kaget mendengarku. Wajahnya terlihat bersemu di bawah terangnya cahaya lampu. Kenapa aku juga ikut malu-malu, belum tentu itu yang akan di katakannya. Shella percaya dirimu luar biasa ... Aku mengangkat daguku, menaikkan alisku. "Kamu mau?" Tanyanya ragu. Kembali mengusap tengkuknya grogi. Lucu sekali. "Mau apa?" sengaja ku mengodanya. Dia mengalihkan pandanganya dari tatapanku. Tanganya mengusap wajahnya, berhenti di bibirnya. Hai dia sudah pernah menikah bagaimana dia bersikap seperti anak sekolah seperti ini. "Shella mau." tutupku, aku lelah menunggu. Matanya menatapku walau bibirnya masih tertutup tangan tapi senyum terlihat di matanya. Mas Gilang mengulum senyumnya, mengemaskan sekali duda ini. Tangannya meraihku dan mengecupnya. "Mulai malam ini, kita buka lembaran baru." ucapnya. "Tapi Mas belum menembak Shella tadi." ucapku manja. Pria itu meraihku, mendekapku di dadanya. Membisikan sebuah kalimat yang membuatku merinding, bukan hanya kalimatnya tapi hembusan dan desah nafasnya yang terasa hangat menyapa telingaku. Dia membisikkan padaku, apa aku mau mengobati segala lukanya, dan dia akan menyebuhkan segala lukaku. Aku menganggukan kepalaku. Debaran di dadaku semakin kencang, aku juga dapat merasakan degub d**a Mas Gilang yang tak beraturan. "Shella tak akan lupa malam ini, Mas nembak Shella di bawah lambaian jemuran." ucapku. Senyum itu tak lagi dia tahan. Manis sekali. Kami berdiri berhadapan dan tak berjarak, saling menatap dengan tatapan sama-sama berbinar. Hampir setahunku membuahkan hasil juga, gunung tinggi itu kini berhasil kutaklukan, duda dingin itu kini sudah mencair, lebih dari itu. Dia terasa hangat. Lembut dan hangat ... dadaku bergetar hebat. Ini pengalaman pertamaku. "Baru pertama?" Tanyanya ragu, aku menganguk kaku. "Aku minta maaf." ucapnya lagi. Sekarang aku yang di buat tak bisa berkata-kata. Aku masih memandanginya. Mencerna yang baru saja terjadi "Aku minta maaf." terlihat Mas Gilang merasa tak nyaman padaku atas yang baru saja terjadi. Aku mengelengkan kepalaku. Aku tersenyum kaku. "Sudah malam" ucapku. Mas Gilang memgangguk. Kami beranjak tangannya mengengam jemariku. Aku mengengamnya erat. Pelan kami membuka pintu yang terhubung dengan ruang makan. Kulihat jam di atas kulkas, bukan malam lagi, sudah jam setengah satu. Mas Gilang mengecup tanganku sebelum ku masuk ke kamarku. Di usapnya pipiku lembut. "Dah met bobo ya." ucapnya. Aku mengangguk pelan. Kemudian masuk ke kamarku. Debaran dan getaran itu masih terasa. Masih sama-sama nyesek, cuma beda ini nyeseknya membuat bibir tersenyum sendiri. Kugigit pelan bibirku, Ah, jatuh cinta itu rasanya nano nano. Segera ku ganti bajuku, setelah mencuci mukaku di kamar mandi. Semoga dalam Mimpi Mas Gilang menyapaku lagi. Perasaan aku baru saja tidur, tapi alarmku sudah berdering menandakan jam empat pagi. Setengah hati aku membangunkan badanku sendiri. Masih ngantuk sekali. Tapi bantal itu seolah memangilku kembali. Tak sadar kembali merebahkan diri. "Shell, bangun sholat dulu sayang." entah itu pangilan yang keberapa, tapi aku baru dengan jelas mendengarnya. Aku segera meloncat dari tempat tidur. Sudah jam setengah lima lebih. "Sholat dulu, kalau masih ngantuk tidur lagi." ucap Tante Mira saat melihatku keluar kamar. "Iya te." Aku segera mengambil wudhu dan kembali ke kamarku. Walaupun di suruh tidur lagi, apa iya mertua sibuk di dapur mantunya malah molor. Eh masih calon ya, tapi berasa sudah jadi mantu setelah semalam. Ih jadi berdesir sendiri bila mengingatnya. Wajahku terasa menghangat. Tuh kan cinta juga bisa membuat bersemangat, kantukku seketika hilang. Membayangkan wajah manis yang akan segera kulihat. Mukena dan sajadah segera kulipat. Menyisir rambut panjangku dan kuikat. "Tante masak apa?" tanyaku menghampiri Tante Mira di dapur. "Katanya ngantuk? Tidur sana nggak apa-apa, Cuma bikin buat sarapan." ucap Tante Mira. "Masak Mertuanya sibuk masak , mantunya malah molor." ucapku dengan tersenyum. "Wahh, ada berita bagus sepertinya?" Tante Mira melihat ke arahku dengan menaikkan alisnya. "Nanti Shella cerita, kalau semua sudah berangkat." Bisikku padanya. Tante Wati terlihat mengukir senyumnya. Aku merebus air untuk Kopi, teh dan juga s**u Caca. Aku membuat kopi hanya untuk Mas Gilang karena yang lainnya terbiasa dengan teh hangat. Aku membawanya ke teras depan, dia sendang asyik dengan vapenya. "Tenang saja, nggak pakai garam lagi kok sekarang, hanya sedikit gula." ucapku tersenyum malu, mengingat kejadian kemarin. Mas Gilang tersenyum melihatku. "Kalaupun ini ternyata pakai garam , aku tetap akan meminumnya." ucapnya. Demi apa coba pagi-pagi sudah di gombalin Mas Duda Manis. Hem, posisiku di ambil alih olehnya, sekarang dia yang membuatku tersipu-sipu. Aku mengulum senyumku. Ih gemes jadinya dengan gaya sok romantisnya. Beneran aku sampai di buat tak bisa berkata-kata, selain memasang wajah yang sok malu-malu tapi mau. Pagiku indah sekali, senyum manis Mas Gilang bagai mood booster untukku memulai segala aktivitasku hari ini. "Tante Mas Gilang udah nembak Shella." Ceritaku girang kepada calon mertuaku itu. Tawa bahagia terdengar memenuhi se isi ruangan. Tante Mira begitu bersemangat mendengar ceritaku, tapi tetap saja ada hal yang kusimpan sendiri dan tak kuceritakan. "Berarti mulai sekarang, jangan pangil tante, tapi Mama, gimana?" tanyanya. "Terdengar lebih manis Tant, eh Mam." jawabku. "Terus kapan diresmikan?" "Wuik, Tant eh Mam, baru juga jadian. Masak mau langsung Nikah." jawabku kaget. "Biar Shella lulus kuliah dulu Mam, kerja baru nikah." lanjutku. "Kelamaan, Caca sudah waktunya punya Adik itu, dia pasti seneng ada temennya main." Goda Tante eh Mama Mira. "Ih Mama, lagian Mas Gilangnya juga belum tentu siap. Masih pedekate Mam, pendalaman, pengenalan. Biar tau kelebihan dan kekurangan kita masing-masing. Begitu Mamah sayang." ucapku. "Kalau Gilang mau cepet, keburu ngebet hayo, gimana coba?" Aku mengangkat bahu. Mama Mira terlihat begitu puas. Melihatku tak bisa menjawab, dia tau aku pasti akan pasrah menerima dengan iklas dan senang hati. Iya juga sih, tapi seriusan aku ingin bekerja lebih dulu untuk membantu Mamah menyekolahkan adikku. Karena selama ini mama yang bekerja untuk memenuhi segala kebutuhan keluarga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD