“Bakso yuk, Dek!” kelakuan kolokan Mas Yusuf yang lainnya adalah kalau lihat tempat makan enak pasti matanya seperti lihat dolar. Hijau seketika. Tanpa peduli atau tepatnya tanpa survei harga dan akhirnya sakit kepala. Di sini tugasku sebagai istri untuk jadi rem pengendali keuangan keluarga. Mencegahnya menyesal setelah jajan.
“Pulang saja, makan di rumah! Aku sudah masak tadi, Mas,” bujukku halus.
“Iya kan bisa dimakan nanti. Kita makan ini dulu!” Ia pun menyelonong masuk ke rumah makan itu. Bakso di sana harganya supreme banget. Setara lima kali lipat harga bakso biasa.
“Mas, duitnya enggak cukup,” bisikku ke telinganya sambil menggamit tangannya keluar dari Rumah Makan Bakso Mercedes.
Ia menepis tanganku kesal. Ogah diajak pulang. “Pelit banget kamu, Dek. Tiap bulan gajiku ditransfer ke rekeningmu, masa mau makan bakso saja masih banyak perhitungan,” sungutnya merajuk.
“Tapi uangnya memang habis, Mas. Lihat!” kuperlihatkan tentengan belanja bulanan kami. “Itu!” giliran mataku menuju ke barang yang ia tenteng, “anak kita aja enggak beli jajan sebanyak kamu, Mas.” Sepertinya dia lupa kalau sudah menenteng tas belanjaan penuh makanan dan camilan pilihannya.
“Iya, tapi aku pingin makan bakso spesial sama kamu. Tu ...” matanya menunjuk sepasang kekasih yang sedang makan di dalam rumah makan, “kayak gitu masa kamu ga mau?” Astagfirullah, manjanya benar-benar kelewatan. Ia iri pada pasangan muda yang lagi makan berdua dengan mesra.
“Ayo masuk! Jangan banyak protes. Ini dibeli juga pakai uangku kok, biarpun yang bawa kamu! Anggap saja kamu ditraktir mantan pacar!”
Akhirnya aku tak punya pilihan. Daripada terus berdebat dan jadi tontonan orang lewat.
***
Dalam perjalanan pulang, di motor Mas Yusuf tak henti-hentinya ngomel. “Gila, harga segitu rasanya enggak mutu!” rutuknya menyesal makan bakso Mercedes. Aku diam saja, rasanya masih kesal gara-gara diungkit-ungkit bahwa uang kami itu uang dia! Seolah aku tak pernah menghasilkan rupiah selama menikah dengannya.
“Ingetin nanti ya, Dek! Jangan beli ke sana lagi. Rugi bandar!” omelnya lagi. Suaranya terbang terbawa angin. Telingaku aman karena tertutup helm. Tadi mau belanja pakai mobil saja berdebat dulu. Mobil butuh diservis, tetapi uang bulanan sedang turun drastis. Mas Yusuf karyawan swasta, gajinya tak menentu. Bisa banyak, bisa sedikit. Tergantung proyek di kantornya.
“Bawa motor saja ya, Dek! Sambil mengenang masa susah!” katanya sebelum kami pergi belanja bulanan.
“Mengenang masa susah? Perasaan sampai sekarang kita masih susah, Mas!”
Tuing! Ia menunjuk keningku dan mendorongnya dengan jari telunjuk. “Ngomong yang bener. Kalau kurang bersyukur, nikmatnya enggak bakal ditambah!” katanya. Oh iya, rasanya kurang bersyukur kalau mengucapkan hal seperti itu. Bermula dari nol, sekarang kami sudah punya rumah, biarpun sederhana. Punya mobil, biarpun mobil tua. Punya dua anak yang sehat, punya pekerjaan tetap, punya gaji, meskipun pendapatan naik turun. Tak sebanding dengan pengeluaran yang naik terus.
“Anak-anak?” tanyaku mengalihkan topik. Biasanya kami bawa mereka juga kalau berbelanja.
“Tinggal dulu sama adikku,” cengirnya menyebalkan. Terlalu gampang menitipkan anak ke saudara-saudaranya.
“Belanjaannya nanti banyak, Mas. Bawa mobil saja sih,” pintaku mempertimbangkan kerepotan saat membawa banyak barang. Kami biasa nyetok untuk satu bulan, agar tidak repot bolak-balik ke swalayan dan akhirnya malah tergoda membeli barang-barang di luar kebutuhan utama.
“Irit, Dek. Ini harga minyak dunia lagi turun, tapi di Indonesia kamu tahulah, enggak ada harga yang turun. Di sini yang pasti turun cuma kualitas pelayanan saja,” guraunya.
“Serah kamu lah, Mas...” sahutku jengkel. Masalah perhitungan yang tidak tepat sasaran itu keahliannya. Hemat bensin beberapa liter tapi boros jajan ini itu. “Biar enggak stres di rumah, Dek. Nyemil itu juga bagian dari refresing!” melontarkan alasan saat aku melotot melihat aneka cemilan yang ia borong dari rak-rak makanan. ‘Gini banget sih, imamku. Ya Allah, pingin ngomel tapi ga mau cepat tua.’ Ah, kubiarkan saja akhirnya.
“Adam Hawa, ayah pulang,” sumringah ia memeluk kedua buah hati kami. Adam usia 6 tahun, sementara Hawa 3 tahun.
“Mas, mana upahnya?” giliran adik Mas Yusuf menagih bonus karena sudah menjaga anak-anak selama kami pergi.
“Dek, kasih tuh. Cepek!” segampang itu menyuruh-nyuruh mengeluarkan uang seolah uangnya banyak berjubel di bank. Namun untuk menjadi kakak ipar yang baik, tentu saja kuturuti perintah suamiku. Jangan sampai tidak dikasih dan adiknya cerita ke saudara-saudara yang lain.
“Aha ... thank you kakak ipar sayang. Mas, aku pulang dulu ya.” Dengan wajah menang lotre mahasiswi semester enam itu melenggang bahagia.
Setelah di rumah hanya ada kami saja, kubanting barang belanjaan. Kutata dengan segenap emosi jiwa. Bruk-bruk-bruk! Glontang-glontang-glontang! Sengaja kubuat aneka suara hingar di dapur.
“Ada apa sih, Dek?” Mas Yusuf datang melihat ulahku yang unjuk rasa di dapur.
“Mas tu ya, kirain mudah apa mengatur uang seuprit untuk kebutuhan ini itu?”
“Ya Allah, Dek! Bersyukur. Di luar lho banyak wanita enggak dinafkahi suaminya.” Pintar sekali kalau membanding-bandingkan orang.
“Mas juga, dimasakin enggak bersyukur. Malah jajan ga mutu!”
“Bersyukur, kok! Sini aku habisin masakanmu,” santai ia mengambil nasi di piring beserta lauknya.
‘Duh, sama sekali tak peka!’
***
“Dek, beliin pulsa ya. Mas lagi di jalan nih, kehabisan pulsa.” Karena gajinya ditransfer ke rekeningku―rekening berdua sebenarnya―maka jika ada kebutuhan biasanya Mas Yusuf akan meminta padaku. Kecuali kalau ia mendapat bonus dari pekerjaan sampingannya, barulah ia gunakan untuk menambal kebutuhan atau memuaskan hobi pribadi.
“Boros banget, Mas. Belum sebulan sudah habis?” tentu saja aku heran. Biasanya dengan kuota segitu bisa sampai satu bulan, ini baru dua minggu sudah minta lagi.
“Enggak tahu ini, operatornya salah hitung kali.”
“Ga mungkin, Mas. Kan pakai sistem!”
“Ga ada yang enggak mungkin, Dek! Tarif listrik saja katanya tetap, tagihannya saja yang naik. Naiknya sampai tiga kali lipat pula.” Halah, berdebat dengannya malah melantur ke mana-mana. Pasrah, kukirim saja sesuai permintaannya.
Kucek, saldo kian limit saja. Bulan ini penghasilan sebagai editing video di televisi swasta tempat suamiku bekerja tak sebanyak biasanya. Aku mulai berhemat. Apalagi fee-ku sebagai penulis lepas juga belum bisa cair karena ada masalah di bagian redaksi. Ketar-ketir menanti bulan berganti.
Setelah siang tadi minta dikirim pulsa data, malamnya Mas Yusuf pulang dengan wajah riang. “Dek, lihat, mas bawa apa buat kamu?”
“Apa?” melihatnya pulang dengan wajah ceria, kukira Mas Yusuf dapat proyek baru. Minimal dapat bonus tambahan untuk melewati krisis finansial bulan ini yang masih dua minggu lagi.
“Anak-anak sudah tidur?” wajahnya celingukan seperti maling. Aku mengangguk. Sudah jam berapa ini, hampir jam 22.00 WIB. Tentu saja mereka sudah tidur sejak pukul 20.00 tadi. Aku memang mendisiplinkan anak-anak agar tidur tepat waktu. Selain demi kesehatan mereka, juga karena aku butuh waktu untuk berkarya. Menulis saat anak-anak terjaga itu suatu kemustahilan.
Mas Yusuf menarikku ke dalam kamar. Ia keluarkan plastik bungkusan dari tas kerjanya. “Tara...” ia menjereng lingerie baru yang masih ada labelnya. Wajahku bersemu merah melihat motif macan yang dipilihnya.
“Ayo, Dek. Tancap!”
***
Kadang sebal, kadang senang. Kadang mesra, kadang marah-marahan. Begitulah suasana rumah tangga. Semalam romantis, besoknya nangis. Itu sih biasa, biasa banget!
“Dek, minta uang bensin.” Pagi-pagi, Mas Yusuf sudah bersiap berangkat kerja. Ia bilang ada job iklan baru, minta dieditkan pagi-pagi sekali agar siang bisa dipakai presentasi.
“Lho, bukannya mas kemarin dapat bonus ya?”
“Kata siapa?” ia bertanya balik dengan wajah bingung.
“Terus lingerie semalam?” kulihat dari label harga yang masih terpasang, harganya lumayan mahal. Setara tiga kaleng s**u si sulung.
“Itu tips dari bos, karena bantu ngedit foto pernikahannya. Mereka romantis banget lho, Dek. Sudah 25 tahun menikah masih mesra. Itu bos kirim file-file foto dan video kebersamaan mereka buat aku editin jadi video pendek yang romantis gitu. Aku jadi inget kamu. Sudah lama kita enggak mesra-mesraan gitu, makanya tanpa pikir panjang, mas belikan saja lingerie semalam.” Dia lalu tertawa lepas, mengingat adegan dewasa kami semalam. “Ga sia-sia, pakaian memang mempengaruhi mood, ya, Dek.”
Setelah puas mengenang peristiwa semalam, ia berdiri menghampiriku yang sedang kebul-kebul ingin marah, ingin nangis, emosi tingkat tinggi.
“Waduh, bentar lagi telat ini dek. Uang bensin mana? Sekalian uang makan siang yang, Dek. Tunggu masakan kamu matang bisa kesiangan,” ucapnya tak memperhatikan aku yang tengah menumis dengan kekuatan penuh.
“Dek ...” panggilnya lagi.
Kutatap dia dengan pandangan melotot. Uang kami tinggal beberapa ratus saja di rekening. Padahal masa hidup hingga gaji selanjutnya masih dua minggu lamanya.
“Enggak ada uang!” ujarku ketus. Tahu begitu kenapa harus beli lingerie mahal-mahal. Lingerie di rumah juga sudah banyak. Dasar keterlaluan! Sudah bapak-bapak kok mikirnya cekak!
“Jangan begitu, Dek! Buruan deh, ambilin! Nanti mas telat, malah gaji disunat!” seolah tak sadar salahnya di sana, ia masih merengek manja.
“Ini ambil ATM-nya. Bawa sendiri! Atur sendiri!” sebal kuambil ATM di dompet dan kuserahkan padanya. Memang gampang mengelola uang enggak seberapa untuk kebutuhan rumah tangga yang luar biasa banyaknya?
“Lho, jangan gitu dong, Dek! Kamu sama anak-anak nanti gimana kalau enggak pegang uang?”
“Ga gimana-gimana. Serah Mas saja ngaturnya!” Habis juga stok sabar ini.
“Waduh! Aku sudah susah-susah cari, masak harus susah-susah ngatur juga?” keluhnya manja.
Grompyang! Kusenggol panji-panji di wastafel hingga jatuh berserakan.
"Dek, hati-hati. Rusak nanti panci-pancimu," cemasnya.
“MAS YUSUF!!!”
*****