Menyebalkan
“Dek, kok kopinya pahit sih!” teriak suamiku dari ruang depan. Sementara aku masih di ruang tengah mengetik lincah. Ada satu set meja komputer dan printer yang jadi tempatku bekerja. Rumah kami tak besar, jadi tanpa perlu berteriak sebenarnya suara Mas Yusuf sudah bisa terdengar.
“Masa sih, Mas. Itu sudah sesuai takaran, kok!” perasaan tak salah mencampurkan gula dan kopi. Sudah sesuai takaran biasanya. Mas Yusuf sendiri yang mengajariku meracik komposisi kopi kesukaannya.
“Memang kamu kurang duit ya, sampai gulaku saja kamu korupsi,” keluhnya kelewatan. Kali ini bikin sakit hati. Sebagai ibu rumah tangga yang punya pekerjaan sampingan menulis novel di rumah saja, kebutuhan belanja kami memang sepenuhnya di-cover olehnya. Ya, kan tugas suami memang memberi nafkah lahir maupun batin. Jadi kalau itu dibahas, bisa membuat istri tersinggung.
“Mas, kalau ngomong enak dikit, dong!” kali ini aku mendekatinya sambil bersungut-sungut. “Mana! Tinggal bilang tambah gula saja. Enggak perlu nyinggung uang belanja. Kayak enggak ikhlas saja ngasih nafkah keluarga!” Kuambil kopi dari tangannya.
“Kamu juga yang ikhlas, dong, kalau bikinin kopi suami. Enggak tiap hari aku bisa ngopi santai di rumah kayak gini, kan?” gerutunya lagi. “Coba kamu cicipi, gimana rasanya!” perintahnya kuturuti.
Sruput! Hem ... “Pas gini kok, biasanya juga begini ‘kan?” Jengkel, tidak ada yang salah dengan kopi ini.
“Lidahmu yang salah atau lidahku yang bermasalah?” Ia mengambil kopi itu dari tanganku dan meminumnya ala iklan di televisi. “Wah, iya! Kok jadi lain begini setelah kamu minum ya. Beneran, Dek. Jadi mantap gini kopinya!” Sekarang gayanya mulai tengil. Seperti p****************g yang coba merayu mangsa.
Nah kan, baru sadar, aku dikerjai!
“Apalagi kamu mau duduk di sini, nemenin Mas ngopi,” ujarnya sambil menarik tanganku, duduk di sisinya, “bisa tambah sedep kopinya.” Lalu tangannya menjawil daguku. Menyebalkan sekali! Padahal aku baru ngetik dapat satu part. Target ada 30 part. Kapan selesainya?
Begitulah Mas Yusuf, suamiku. Kelakuannya seperti ABG tua. Lupa usia. Pernikahan kami bahkan bukan usia muda. Sudah hampir tujuh tahun, anak juga sudah dua. Namun masih saja suamiku ini ingin dimanja. Seolah tak ada bosannya!
***
“Dek, kapan pulang?” telepon Mas Yusuf begitu tiba di rumah kami. Padahal aku baru saja diantarnya ke rumah ibuku di desa. Tiga jam perjalanan kalau dari rumah kami yang beda kota.
“Mas, bagaimana sih? Barusan ngantar. Belum juga sempat ngapa-apain aku di sini Mas. Kok sudah tanya kapan pulang?” ujarku kesal. Dia sendiri yang menyuruhku meluangkan waktu bagi ibu di desa. Menyuruhku pulang kampung barang seminggu saat anak-anak liburan, biar terbangun bonding yang baik antara nenek dan cucu, serta saudara-saudara di kampung halaman. Terlebih ibuku sudah tua, sehingga tak memungkinkan untuk bepergian jauh. Anak-anak ibu yang berkewajiban untuk mengunjunginya bergiliran.
“Iya, heran deh, Dek! Kalau kamu di rumah, Mas pusing oleh ocehanmu. Tapi kalau kamu enggak di rumah, Mas pusing enggak ada yang diajak ngoceh! Coba bujuk ibu biar mau ikut kita barang seminggu. Hitung-hitung liburan bagi beliau.”
“Mas ... Mas. Mana ibu mau. Di sini ibu tinggal sama adik, kanan kiri saudara semua. Mana mau tinggal di rumah kota yang bising lalu lalang kendaraan. Enggak ada yang dikenal. Ditambah rumah kita sempit dan penuh perabotan. Beda sama rumah ibu yang longgar dan adem.” Masalah ini sebenarnya Mas Yusuf sudah tahu, tapi masih saja dia suka menjadikan alasan untuk berbasa-basi saat mengobrol masalah orang tua. Dia sendiri orangtuanya tinggal di kota yang sama dengan kami.
“Sering-sering kasih kabar ya, Dek. Biar Mas enggak rindu. Kamu tahu ‘kan rindu itu berat. Biar Dilan saja. Mas jangan!” begitu katanya, otomatis aku ngakak digombalin seperti itu.
Di saat orang lain mulai kehilangan kemesraan dan kehangatan setelah menikah, maka suamiku berbeda. Makin tua makin jadi saja gombalannya. Makin piawai dia membuat perasaan istrinya kebat-kebit, kadang juga kalang-kabut.
Gara-gara dia, aku enggak bisa ke mana-mana. Pergi sebentar pasti dicari, meskipun sudah ijin. Seperti punya anak balita yang mengekor ke mana ibunya pergi. Begitu pun Mas Yusuf, punya kecenderungan yang sama. Jika tidak bersamanya, jarang sekali dia mengizinkan aku bepergian.
Awalnya tentu saja itu membebani. Rasanya kesal dan merasa terkekang. Bahkan karena dia juga, aku banting setir jadi novelis dan memupus impian jadi wanita karier, padahal dulu susah-susah berjuang demi mengantongi ijazah sarjana.
Kata orang, menikahlah dengan pria yang usianya lebih tua agar bisa momong kita. Namun lihatlah ... usia suamiku lebih tua–setahun–tapi kelakuannya kayak lebih muda belasan tahun. Tiap hari, aku yang momong dia. Meladeni ini itu.
Baiklah katakan aku beruntung punya suami yang perhatian, tapi percayalah dibalik kelebihan pasti terdapat kekurangan. Jadi, kalau gombalan suami bisa bikin hatiku kebat-kebit, maka penampilan suami bisa bikin aku kalang kabut. Misalnya saat mau menghadiri reuni alumni kampus. Tempat temanku dan temannya dulu jadi satu.
“Mas, kenapa pakai celana sepertiga? Mana celana panjangnya? Terus jangan pakai kaos dong, pakai kemeja rapi begitu lho, Mas. Menghargai diri sendiri. Umur sudah 30 juga penampilan kenapa masih kayak umur 20 begitu sih.” Ini yang bikin aku terkadang was-was. Ia suka punya kebiasaan belanja baju sendiri sejak awal nikah. Akan tetapi, makin ke sini gaya busananya semakin membuat kami seolah beda dunia.
Gayanya sudah seperti anak remaja, mengenakan kaos polo dan celana jeans sepertiga. Parfumnya juga sampai tujuh semprotan. Jika tidak kutegur, bisa ludes baru berhenti menyemprotkannya.
“Sudah wangi belum?” tanyanya genit.
“Banget! Memang Mas mau reuni ketemu sama mantan? Sampai mandi parfum begitu?”
“Lha, mantannya kan kamu, Dek!” Oya iya, lupa. Kami teman sekampus. Dulu, Mas Yusuf adalah pria pemalu. Jangankan pacaran dengan wanita, dekat-dekat saja tak pernah. Ia cenderung kutu buku dan suka menenggelamkan diri di perpustakan. Makanya, aku sangat terkejut ketika kami wisuda ia memberikan aku surat cinta. Cemburu? Belum pernah ada di kamusku!
“Terus kenapa itu pakai parfum begitu banyak. Terus, penampilan macam apa ini? Sudah ganti kemeja biasa saja, pakai celana panjang,” tegurku gemas sambil menyodorkan baju yang lebih layak untuk datang ke acara reuni almamater kami berdua.
“Umur boleh tambah tua, Dek. Tapi penampilan jangan. Pernah dengar iklan itu enggak?”
Tepuk jidat. Itu iklan kosmetik wanita biar awet muda. Tapi bukan begini juga kan jadinya? “Ganti, atau aku enggak mau ikut Mas ke acara itu. Mas berangkat saja sendiri!”
Akan aneh bagi wanita bergamis sepertiku, berjalan beriringan dengan pria yang berpenampilan pecicilan sepertinya, bukan?
“Lho kenapa? Kalau kamu enggak ikut, nanti Mas bisa digodain fans Mas lho. Kamu enggak takut Mas selingkuh?”
Aku berdiri berkacak pinggang di depannya yang sedang duduk di kursi memakai sepatu sneakers. “Coba saja kalau Mas berani, kita pisah kamar!” Aku pergi ke kamar menutup pintu keras-keras.
Biasanya dia bakal langsung membujukku jika kami bertengkar. Dog, dog, dog ... benarkan?
“Kenapa lagi?” tanyaku ketus dari balik pintu.
“Iya, ini Mas ganti baju. Tapi buka dulu. Masak Mas ganti baju di ruang tamu,” hibanya memelas.
Begitulah Mas Yusuf-ku, suamiku yang lebih tua setahun. Pria usia 30 tahun yang sudah punya anak dua, tapi kelakuannya kayak ABG tua. Manjanya luar biasa. Meski begitu satu kelebihan dia yang selalu kusyukuri setiap hari, dia penyayang dan bertanggung jawab. Meski sering kali aku dibuatnya kesal setengah mati karena manjanya berlebihan.
***
“Lho, Mas, ini kenapa komputerku enggak mau hidup?” Pagi ini panik mendapati komputer tak bisa hidup sama sekali.
“Berarti mati, Dek,,” jawabnya santai seperti di pantai.
“Enggak usah bercanda, Mas!” kesalku melihatnya memindahkan channel televisi sambil ngemil singkong keju bikinanku. Anak-anak sedang main ke rumah mertua. Rencananya aku mau mengisi libur ini untuk mengejar deadline penyelesaian naskah novel untuk diikutkan kompetisi.
“Ya sudah kali, ambil hikmahnya. Mungkin komputernya ngambek kamu ajak kerja terus,” sahutnya dengan nada menjengkelkan.
“Pasti Mas yang ngapa-apain komputerku ‘kan!” tuduhku, siapa lagi? Tinggal kami berdua di rumah ini. Anak-anak tak berani menyentuh komputer karena aku bilang pada mereka itu bisa berbahaya.
“Eh, apa dek!” ia langsung duduk bersila di sofa, melihatku dengan tampang serius. “Kamu minta aku apa-apain?”
Buk! Kulempar bantal yang selalu menemaniku mengetik hingga larut malam.
“Gapapa deh, kamu lempar bantal. Asal jangan lempar sandal,” katanya lagi dengan tampang tak bersalah. Malah tersenyum cengesan. Detik berikutnya, ia melempar bantal itu balik padaku. Buk! Kena wajahku yang masih merah padam karena panik dan kesal!
“MAS YUSUF!!!!!”
___