♡ Living Flawless 2

1557 Words
“WOY LION! Minggir gue mau lewat!” Teriak laki-laki berseragam putih biru pada gadis berkepang dua di depan pintu kelas yang tengah menutupi jalan masuk. Sementara yang di panggil hanya menatap laki-laki itu sebentar sebelum melanjutkan kegiatan membacanya. Merasa diabaikan laki-laki itu menggeram marah, “punya nyawa berapa lo berani ngalangin jalan gue?” Gadis berkacamata itu menoleh sebentar menatap mata lelaki di hadapannya. “Ngomong sama gue? Hm? Nama gue Liona bukan Lion. Lo lupa ya kalo pintu kelas itu bukan ini aja?” Tanya Liona dengan tenang membuat seluruh temannya menganga tak percaya, "Gue punya nyawa banyak." Bisik Liona tepat di telinga lelaki itu kemudian membuka pintu satu lagi yang berada di sebelahnya. “What? Gue gak salah denger kan? Itu beneran si Liona yang ngelawan Axel?” “Guys cubit pipi gue kalo gue mimpi...” “Aww, kok di cubis sih bego.” “Lo tadi minta dicubit,” “Ya yang lembut aja dong.” “Gue yakin abis ini si Liona bakalan makin parah dibully sama gengnya Axel.” “Kasian banget sih Liona, panggil guru gih! Mau gimana juga dia yang paling pinter di kelas, kalo dia mati siapa yang bakal ngerjain tugas kita coba?” “Lo bego? Kalo kita panggil guru, bisa kena juga kita semua.” “Itu kalimat terpanjang yang pernah gue denger dari mulut si Liona deh.” ‘PROK’ ‘PROK’ ‘PROK’ Axel mendekati Liona seraya berbisik, “lo tahu hukumannya kan? Gue tunggu lo di kantin belakang sekolah!” Liona terdiam akan perlakuan Axel padanya, selesai berbisik ternyata lelaki itu meniup telinga miliknya. Axel pergi melenggang meninggalkan kelas, “LO MASIH INGET KAN PASSWORD APARTEMENNYA?” Teriak Axel langsung di ikuti temannya, hal itu membuat semua murid yang menyaksikan mendadak rame membicarakan Liona. “AXELIOR DINOOOOOOOOOO SIALAN LO!” Teriak Liona seraya menyusul kepergian Axel.  Axelior Dino. Pemilik mata hitam pekat yang mempunyai pesona yang  sangat berbahaya. Dia termasuk cowok yang hobinya bikin anak orang nangis, bisa itu menyakiti beberapa hati cewek yang dia ajak jadian langsung putus besoknya, ataupun hobinya yang sudah menyatu dengan dirinya yaitu membuli kaum yang tak berdaya. “Loh, ada apa ini? Kenapa Axel nyuruh Liona ke apart nya?” “Tadi Axel bisikin apa woy?” “Axel mau ngapain ya sama Liona?" Tepat di belokan kelas Axel dapat mendengar Liona yang dengan lantangnya meneriaki namanya. “Haha si Lion lucu banget sih Xel.” Tawa Rio menggelegar memenuhi seluruh koridor. Axel mendengus menatap temannya tak suka, “namanya Liona bukan Lion!” “Ga papa lah, lo aja kan manggil dia Lion masa gue kagak boleh.” “Itu panggilan sayang dari gue oon.” “Ya gue juga mau ngikutin lo kalo gitu, lagian gue udah terlanjur sayang sama si Lion.” Axel menatap temannya jengah, “gak boleh, gue gak ngerestuin kalian.” “Lo siapa emang?” Sinis Rio menatap Axel. “Gue abangnya bodoh.” Geram axel seraya melotot tajam. “WHAT? JADI LIONA ADIK LO?” Tanya Rio seraya berteriak. Axel yang mendengar teriakan Rio langsung menendang p****t temannya itu, “jangan teriak bego!” Hal itu membuat Rio cengengesan seraya mengelus pelan pantatnya. "Udah cepet naik keburu ada yang liat." Ajak Delva sambil mendorong Rio tepat di depan tembok tinggi. "Lo aja dulu Va, ngeri gue liat temboknya tinggi bener." Cengir Rio melangkahkan kakinya mundur. Mereka bertiga mempunyai rencana untuk bolos pelajaran hari ini, kini mereka berdiri menghadap tembok yang jadi jalur satu-satunya menuju tempat bolosnya. "Enggak lah, lo dulu baru gue. Soalnya gue mau liat cara naiknya gimana, udah lama gue ga bolos. Hahaha" Tawa Delva.   "Lah tadinya gue mau liat lo bego, gue juga kan udah lama ga bolos ke sini."   "Lo aja dulu Xel, biar gue mastiin kalian aman apa enggak." Ucap Rio dengan ragu. "Ya udah gue dulu aja, tapi awas ya kalian jangan nengok ke atas." Ucap Axel, "jangan ngintip!" Ketus Axel seraya mulai menapakkan kakinya pada tumpukan bangku yang sudah tak terpakai. "Kayak lo pake rok aja, duh temen gue gini amat jiwanya." Ringis Rio langsung kena tendangan tepat di hidungnya. 'HAP' Axel berhasil melewati tembok pembatas sekolah, kini tinggal Rio dan Delva. "Sh*t!" Umpat Rio mengusap hidungnya. "Cepetan Del, giliran lo." Teriak Axel di sebrang tembok. Merasa tak ada yang menyahut, kali ini Axel berteriak lebih kencang. "Kalian liat kan tadi caranya gue naik?" Teriakan Axel di balas dengan gelengan dari kedua temannya. “SH*T!” Umpat Axel kesal, sepertinya Axel menyadari kebodohan kedua temannya itu. “DELVA CEPET NAIK, RIO PERHATIIN CARA NAIK SI DELVA!” Titah Axel di balik tembok. ‘HAP’ Kali ini Delva berhasil melewati tembok yang tinggi itu. Sekarang giliran Rio, membuat Axel dan Delva menghela nafas lelah. Di balik tembok ada Rio yang tengah berpikir keras, “Axel naik pake kaki kiri dulu, si Delva kaki kanan dulu. Masa iya gue langsung loncat sih.” Gerutu Rio bingung. “Si Rio lama amat jirr!” Omel Axel. “Yo, buruan naik udah gue siapin kasur nih.” Ucap Delva sedikit berteriak.  “Kasurnya gede ga?” “Gede Yo, segede kasur di kamar gue. Cepet dah.” Balas Axel. Axel dan Delva menatap Rio jengah, temannya yang satu itu sangat banyak tingkah. Dia berdiri dengan gagah di atas tembok tinggi, mereka berdua sampai bingung kemana ketakutan Rio yang tadi muncul pergi. “Xel, Va gue berasa paling tinggi nih.” Bangga Rio merentangkan kedua tangannya, membuat kedua temannya menggeleng tak percaya. “RIO PAMUNGKAS! TURUN KAMU!” Teriak salah satu guru. ‘BRUKK’ Axel dan Delva bersiap untuk kabur, tapi sebelum itu mereka dikejutkan dengan jatuhnya Rio tepat di hadapan mereka. “Ahh anj*r sakit. Mana ada kasur gede ha?” Protes Rio pada Axel dan Delva. "Hahahaha." Tawa Axel dan Delva pecah seketika saat melihat bagaimana keadaan Rio terjatuh. "Sialan lo pada." Umpat Rio seraya meringis. 'HAP' Tiba - tiba tak jauh dari sana, mereka bertiga melihat seorang gadis tengah membersihkan seragamnya. Delva menatap gadis itu takjub, "Lo manjat dinding sana?" Gadis itu mengabaikan pertanyaan Delva, dia malah memilih mendekati Rio yang tengah meringis kesakitan. "Lo bisa bangun?" Tanya nya, yang langsung membuat Axel dan Delva menatapnya heran. Rio gelagapan saat matanya tak sengaja menatap mata gadis di depannya, "eh - engh gue gak papa kok." Ucapnya seraya bangkit lalu membersihkan seragamnya yang kotor. "Lo ngapain kesini dek?" Tanya Axel pada gadis di depannya. "Tadi lo nyuruh gue buat ke sini, gimana sih bang." "Yeu, bener sih. Salut gue sama lo nih." Ucap Axel senang seraya memeluk tubuh adiknya itu. "Aduh, lepasin bego." Protes Liona. "Eh Xel, lepasin si Liona bego kasian dia." Titah Rio. Axel pun melepaskan pelukannya, "hehe, lo hebat banget sih bisa manjat dinding yang itu." "Ck, segitu doang mah gampang." Acuh Liona seraya beranjak meninggalkan ketiga lelaki itu. "Tungguin gue Liona!" Teriak Rio sembari berjalan tertatih berusaha menggapai Liona. "Ck, kalo lagi gini panggil gue Lexia aja. Sini ah, lo lama jalannya." Cibir Liona seraya memapah Rio. Hal itu membuat Axel dan Delva menggeleng - gelengkan kepalanya saat melihat Rio yang tengah salah tingkah. # Kegelapan menyelimuti keramaian di salah satu club terkenal di kota Bandung. “Berat banget sih si Axel!” Maki Delva yang tengah membopong Axel dibantu dengan Rio. “Lo yakin mau bawa dia ke rumahnya? Bisa kena amuk kita sama bokapnya.” “Terus kita bawa kemana si Axel?” Gerutu Delva. “Kali ini gue gak bisa bawa dia ke kosan, ada sodara gue.” “Apalagi ke rumah gue yang isinya bapak sama emak gue.” Di usianya yang baru menginjak enam belas, Axel dan teman ~temannya sudah bis memasuki Club karena memiliki koneksi supaya bisa masuk ke club itu. Axel dekat dengan pemilik club itu, jadi tak heran jika dia dan temannya memiliki akses untuk masuk. “Kamu dimana sih Pou, Ior mau ketemu.” Racau Axel, "maaf aku pergi tanpa pamit, aku hanya takut tak mampu pergi." “AXEEEEL.” Seorang gadis beteriak sangat kencang dari arah pintu club. Dengan serentak Delva dan Rio menoleh ke arah sumber suara, mereka terkejut melihat gadis yang masih memakai seragam sekolah itu. “Lexia?” Liona berjalan menghampiri mereka, tatapan tajamnya di tujukan untuk lelaki di hadapannya yang sangat menyusahkan dirinya. Axel yang masih belum sadar menyipitkan matanya saat seorang gadis menghampirinya. “Pou, kemana aja? Lior nyariin kamu udah lama.” Rengek axel seraya meraih pergelangan tangan Liona. Liona menepis kasar tangan Axel, membuat lelaki itu memanyunkan bibirnya cemberut. “Najis banget bang, gue Liona adek lo bukan si Pou.” Sinis Liona seraya menarik kerah baju Axel, guna menyadarkannya. “Lo tau dari mana kalo abang lo disini?” Tanya Rio. “Temen gue yang ngasih tau.” “Liona? Lo belum pulang ke rumah kan?” Selidik Delva. “Bukan urusan lo. Bawa dia ke mobil gue !” Titah Liona pada Rio. “Lo yakin mau bawa abang lo ke apart?” Tanya Delva sedikit cemas. “Iyalah mau dibawa kemana lagi emangnya kalo bukan ke apart gue? Lo mau bawa Yo? Bawa aja deh, mau dibuang pun gak peduli juga.” “Janganlah kamar kost gue sempit.” “Dari dulu lo selalu nyusahin gue bang,” gumam Liona. Mereka berempat sedang dalam perjalanan menuju apartemen Liona. Delva dan Rio memutuskan untuk mengantarkan Axel dengan selamat. Kini Axeel tengah tertidur di pangkuan adiknya, lelaki itu selalu bergerak tidak nyaman. Liona yang menyaksikan hal itu meringis sedih melihat abangnya, perlahan dia menjulurkan tangannya untuk mengusap rambut Axel. “Lo gak selalu sendiri bang, ada gue juga di samping lo.” Batin Liona. “Eh Va, lo inget ga tadi si Axel gumamin lagi si Pou itu, emang siapa sih tu cewek?” Tanya Rio langsung mendapat gelengan dari Delva, “gak tau, coba tanya sama adeknya aja.” “Lexa?” Panggil Rio. “Hmm?” “Siapa sih ceweknya?” Tanya Rio seraya menatap mata Lexia dari balik spion. "Pou ya?" "Iya." Angguk Rio. “Setau gue itu cewek cinta pertamanya si Axel sih.” Balas Lexa a.k.a Liona dengan wajah datar. “Ternyata lo Lexa yang selalu Axel ceritain, persis banget sama apa yang dia omongin.” “Emangnya bocah satu ini suka ngomong apa?” “Lo cantik, tapi sayang...” ada jeda sebentar membuat Liona menoleh menatapnya, “lo terlalu cuek.” "Ck dasar Axel bajingan." Umpat Lexa seraya tersenyum malu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD