Berhari-hari Jangkar selalu menemani Rhea kemanapun pergi karena sahabat Rhea sedang di utus atasan mereka untuk datang ke kantor pusat di Jakarta alhasil Rhea hanya di rumah sendiri selama dua minggu nanti, mau tak mau kemana-mana Rhea harus meminta tolong pada Jangkar dan tukang ojek online.
Namun akhir-akhir ini Rhea merasakan hal aneh pada Jangkar, dari perhatiannya kepada Rhea dan mau menuruti aksi ngidamnya Rhea, Rhea tahu dari sorot matanya bahwa Jangkar menyimpan rasa padanya. Namun Rhea tidak ingin memberi harapan pada Jangkar ia tahu sekecil harapan untuk Jangkar berantakan satu halaman cerita.
Sebisa mungkin sekarang Rhea harus bisa menghindar di saat Jangkar mulai aksinya dengan cara perubahan sikap dan bertambah alay perhatiannya.
Bapak bayinya aja diem aja, ini orok abg yang blingsatan.
Hari ini Rhea memutuskan naik gojek saja, karena keinginan bayinya, mungkin ia tahu bahwa ibunya sedang di incar sama anak bau kencur yang nekatannya ngalahin hulk kalo lagi marah. Dan mungkin anaknya tahu ibunya hanya boleh bersama ayahnya saja.
Jam tujuh lebih lima belas menit Rhea keluar dari rumahnya, ia menengokkan kepalanya ke arah luar gerbang di sana pesanan Go-Jeknya sudah menunggu, syukur datang tepat waktu ini rencana awal Rhea untuk menghindar dari Jangkar. Bukan maksud hati untuk menyakiti hati Jangkar ia hanya tahu posisinya ia hamil anak orang lain, dan ia di dekati bukan calon dari anaknya, meski Jangkar memang baik padanya dan ibunya juga baik padanya dan juga Rissa.
○○○
Rhea menghabiskan makan siangnya bersama rekannya Cyinthia, teman baru sesama devisinya, ia menghabiskan makannya dengan diam. Sembari mengunyah makan siangnya Rhea memandang lurus ke depan pandangan kosong membuat temannya yang berada di depannya merasa ada yang aneh pada Rhea.
"Rhe, diem aja lo." Tanya Cyinthia
"Ha- eng-ngga kok, cuman lagi pusing aja."
"Yaudah kamu istirahat aja deh ya abis makan siang ini, jangan di paksa kasihan anak lo."
"Iya, tenang aja adek gapapa kok."
"Oh ya lo mau cuti kapan Rhe, gue ikutan dong ke bandung?"
"Belom tahu nih cyin, kalo ngga ya nunggu kandungan gue udah jalan ke trimester dua."
"Masih lama dong ya?"
"Entar gue kabarin lagi deh ya." Seloroh Rhea
"Oke deh, yaudah abisin itu makan lo, bentar lagi waktu istirahat udah abis."
Jam sudah menunjukan pukul empat sore waktunya Rhea dan yang lainnya siap-siap untuk pulang, tapi ada juga yang masih tinggal karena harus lembur mengerjakan report yang mungkin sudah deadline, saat sudah siap-siap ponsel Rhea berdering menandakan sebuah panggilan masuk. Tertera nama Jangkar di layar ponsel Rhea, antara ingin mengakat dan tidak, akhirnya Rhea memutuskan mengangkat panggilan dari bocah cerewet itu.
"Hallo, iya kar ada apa?"
"Mbak pulang jam berapa, Jangkar jemput ya?"
"Mbak udah pesen Grab tadi, Kar. Kamu langsung pulang aja gapapa."
"Yah mbak padahal Jangkar udah siap otw nih."
"Besok deh, eh yaudah yah mas Grabnya udah datang. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam, mbak. Hati-hati ya mbak."
"Iya, kamu juga ya hati-hati!"
Selesai menerima telpon dari Jangkar Rhea bernafas lega, meski ia harus berbohong ia hanya menghindar dengan cara halus, Rhea hanya berfikir Jangkar pantas mendapat yang lebih baik dari dia, bukan apa-apa Rhea hanya tidak ingin memberi harapan terlalu dalam pada Jangkar.
Sembari menunggu Grabnya datang, Rhea bermain pada ponselnya sembari melihat-lihat akun instagramnya, berselancar ke foto ke foto lainnya, hingga ia menemukan foto Shaka yang sedang asik berfoto dengan teman-temannya, ia memandangi wajah Shaka dan tanpa sadar ia mengelus foto itu sembari bergumam kangen ayah ya dek, entah tak mau semakin larut dan menangis ditempat rame ia buru-buru menutup aplikasi media sosialnya dan segera beranjak ke depan gedung siapa tahu tukang Grabnya sudah datang.
Tak lama saat Rhea sudah berdiri dari duduknya tadi, tukang Grab yang ia nanti tadi sudah datang, kemudian Rhea menghampiri tukang Grab tadi dan segera meluncur pulang.
○○○
Di caffe sukakopi Shaka sedang melamun sendiri, dan sedang menunggu kabar dari orang kepercayaannya, ia sudah tidak sabar untuk segera bertemu dnegan Rhea, harus berapa lama lagi ia harus menunggu kabar tentang Rhea, sudah lebih dari dua minggu sejak informannya memberitahu dimana keberadaan Rhea.
Ia meneguk kopi hitamnya, sudah beberapa kali ini Shaka menikmati kopi dengan cita rasa pahit itu, ia selalu meneguk kopi hitam itu terus-menurus padahal ia tidak pernah suka dengan kopi hitam seperti itu.
Yah, namanya orang lagi galau apa aja minuman dan makanan hambar!
Shaka masih mengotak-atik ponselnya saat ia merasakan satu tepukkan kasar mendera bahunya, secepat mungkin ia mengnenggok ke arah belakang, yah seorang wanita dengan stelan kantornya yang berwarna hitam itu.
"Pak Shaka kan?" Tanya cewek
"Iya, maaf siapa?"
"Saya, Rissa. Saya temannya Rhea." To the point
"Rhe- Rhea" Kaget Shaka seketika
"Dimana Rhea sekarang Riss?"
"Ada kok." Santai Rissa dengan menegguk minumannya
"Iya dimana?"
"Dirumahlah pak Shaka."
"Rumah yang mana, saya terakhir kesana rumahnya dalam keadaan kosong?"
"Salah alamat pasti, dengerin ayu ting-ting sih jadi alurnya alamat palsu." Kekeh Rissa tertahan
Saat itu Rissa yang sedang kembali pulang ke Jakarta demi ada satu hal yang mengharuskan ia pergi ke Jakarta yang meninggalkan Rhea sendiri di Jakarta, meski ia meminta Cyintia teman baru mereka untuk menemani Rhea di rumah.
Rissa mampir sebentar ke caffe langganannya dan setelah selesai membeli ia melihat sesosok Shaka sedang duduk sendiri dengan lamunannya, yang mungkin terlihat seperti orang gila lepas dari kamarnya, penampilannya sudah jauh dari Arshaka Virendra Bagaskara yang dulu terlihat gagah dan terlihat seksi itu.
Dengan berani Rissa mendekati meja Shaka yang ia liat Shaka sedang melamum di tempatnya.
"Ck! Saya serius Rissa." Geram Shaka
"Loh saya juga serius pak, aquarius malah." Cengir Rissa
"Dia di Jogjakan, tinggal dimana?" Tembak Shaka langsung dengan plurunya
"Eh, kok pak Shaka tahu? Bapak cenayang apa dukun?"
"Jujur sama saya, Rissa dimana Rhea sekarang?" Tanya Shaka dengan raut wajah ritoris
"Laah pak, bapak tanya gitu mana saya tahu, saya nggak tinggal bareng Rhea. Meskipun saya temannya ya ngga mungkin dong saya ikutin kemana perginya Rhea." Cerocos Rissa dengan menggebu-gebu
Iya menggebu-gebu, lagi ngibulin pak pengacara
"Saya tanya sekali ini Rissa jawab jujur."
"Di.mana Rhea?"
"Ya di rumah pak, nggak mungkin saya kantongin" Balas Rissa lagi dengan tenang "Oh ya pak saya mohon pamit dulu ya, soalnya saya harus pulang takut di gondol, selamat malam pak" Pamit Rissa cepat-cepat karena tak ingin ia semakin lama di sana semakin kecil mulutnya bisa ember.
Rasain deh pak pengacara, gue siksa. Maaf-maaf ya pak pengacara saya menyiksa anda dulu.
Suara hati Rissa berdentum sembari keluar dari Caffe tadi, setelah itu ia tertawa dengan puas, memuji aksi aktingnya di depan Shaka.
"Biar tahu rasa, jadi cowok kok nggak peka cari kemana kek, dasar kalo udah tampan begitu." Runtuk Rissa lagi sembari tertawa
Kalo peka namanya bukan cowok kali ya!
○○○
saat ku tenggelam dalam sendu
Waktu pun enggan untuk berlalu
Ku berjanji tuk menutup pintu hatiku
Entah untuk siapapun itu
Semakin ku lihat masa lalu semakin hatiku tak menentu
Tetapi satu sinar terangi jiwakuSaat ku melihat senyummu
Dan kau hadir merubah segalanya
Menjadi lebih indah
Kau bawa cintaku setinggi angkasa
Membuatku merasa sempurna
Dan membuatku utuh tuk menjalani hidup
Berdua denganmu selama-lamanya
Kaulah yang terbaik untukku
(Adera - Lebih Indah)
Suara berat mengalun di ruang tamu milik rumah bu Mitha, ya siapa lagi kalo bukan suara dari Jangkar Muhammad Sadega ini, ia menyanyi dengan gitar kesayangannya kado dari bapaknya itu.
Ibu dari Jangkar tepatnya bu Mitha melihat aksinya anaknya itu hanya geleng-geleng kepala saja, sejak ia tahu Jangkar akhir-akhir ini sering menyanyikan lagu beralur tentang percintaan itu, ia menyakini bahwa anaknya sedang di landa jatuh cinta.
Dengan kekuatan emak-emak kepo, bu Mitha menghampiri anaknya yang mulutnya masih asik berkomat-kamit itu.
"Kar, kamu kenapa dari kemaren nyanyi lagu cinta-cintaan mulu?"
"Anakmu ini lagi jatuh hati bu, jatuh ke lubang yang aduhh—ini pas buat Jangkar yang udah jomblo menahun ini bu."
"Wong gendeng, kayanya kewarasanmu udah hampir punah." Caci bu Mitha
"Bu, kalo jangkar nyatain cinta sama dia gimana?" Tanya Jangar serius
" Dia sopo genah e?" (Dia siapa sebenarnya)
"Mbak Rhea, bu" Bahagia Jangkar saat menyatakan nama perempuan itu
"Heh, jangan gila kamu, mbak Rhea itu udah punya suami. Ojo seng-seng cah bagus ga boleh suka sama istri orang" (Jangan macam-macam kamu anak ganteng)
"Ngga mungkin bu, Mbak Rhea udah punya Suami wong keliatan masih sendiri gitu"
"Yowes yen ora percoyo, sana datangin kerumahnya. Awas kamu sama mbak Rhea kamu macem-macemin tak gaplok kamu" Galak ibu Mitha (Yaudah kalo tidak percaya)
Dengan suasana hati yang merandang Jangkar ingin tahu kenyataan kebenarnya pada Rhea, kalopun Rhea sudah punya suami kenapa tidak pernah cerita padanya, ada rasa kecewa menyisip di relung hatinya, kalo sudah punya suami kenapa Rhea sangat baik dan perhatian selama ini untuknya.
Ini Pedenya udah keluar jalur, dasar anak muda!
Jangkar sudah berada di depan gerbang rumah Rhea, ia mendengar suara rame dalam rumah itu, terdengar suara tertawa oleh penghuninya. Shaka menyalakan bel yang tersimpan di sebelah kanan kunci gerbang, agar orang-orang di dalam rumah itu dengar.
Setelah menunggu datang juga penghuni rumah itu, ya yang keluar adalah sesosok laki-laki tinggi dan terlihat agak tampan menghampiri gerbang itu.
"Maaf cari siapa ya?" Ucap cowok tadi
"Saya mau cari mbak Rhea, mas"
"Rhea, sebentar saya carikan dulu ya mas" Kata laki-laki tadi sembari mencari di sekitar pohon-pohon di halaman rumah Rhea dan di selokan terdekat
"Emm—mas Rheanya ngga ada yang buang? Ngga hanyut juga?" Canda laki-laki itu sambil menahan tertawanya
"Masyaallah, mas maksudnya saya bisa panggilkan mbak Rheanya saya mau bertemu?" Kata Jangkar kesal
"Oh bilang dong mas, sebentar ya tunggu, gausah pergi. Kalo masnya pergi namanya PHP."
"Iyo mas iyo, ngga pergi. Buruan dong mas keburu pagi ini" Gerutu Shaka (Iya mas iya)
Setelah itu, Rhea wanita hamil itu sedang berjalan ke arah laki-laki tadi, yah laki-laki tadi adalah Orlando Arseno sobat dan teman begajulannya Arshaka ternyata, Lando adalah pacar diam-diamnya Rissa yang selama ini Rissa sembunyikan dari sahabatnya. Dunia memang sesempit itu, ingin menghindar dari ayah dari bayinya, malah sahabatnya pacaran sama teman Shaka, sungguh luar biasa kocak bukan?.
Emang teman laknat!!
"Loh ada Jangkar, kok ngga diajak masuk mas?" Tanya Rhea sembari memeluk lengan Lando, yah ini semua hanya akting Rhea dan salah satu rencana Rhea untuk menghindar dari Jangkar sakit sih ini pasti.
"Loh tetangga kamu yang? aku kira anak yang lagi PDKT deketin istri aku?" Tajam Lando
"Apaan sih mas ini."
"Ayo masuk dulu, kar. Ada apa, tumben malam-malam kesini?" Brondong Rhea
"Mmm mba-mbak ini, ini suami mbak Rhea?"
"Lah iya, dikira aku susternya apa yak?" Canda Lando
"Mas, apaan sih."
"Maaf ya Kar, suami mbak suka becanda dia. Iya ini suami mbak yang baru pulang dari surabaya." Jelas Rhea "Kenalin mas, ini Jangkar. Jangkar ini suami mbak mas Lando." Rhea mengenalkan dua laki-laki tadi
"Orlando Arseno, suami sah Rhea Danisha Sarisha." Lando menekankan kata suami pada perkenalannya
"Jangkar, mas."
"Oh iya ada apa Kar, katanya mau ketemu mbak?"
"Ngg- ngga jadi kok mbak, Jangkar lupa mau ngasih titipan ini ke mbak Rhea. Kalo gitu jangkar pamit dulu, ada janji sama teman, saya pamit dulu ya mbak Rhea mas Lando." Pamit Jangkar dengan muka nelangsa setelah memberikan sekotak isi coklat
"Iya ati-ati ya, sampe rumah jangan lupa minum obat anti patah hati." Teriak Lando yang masih berdiri di samping Rhea
"Dasar gilaaa" Kekeh Rhea pada pacar sahabatnya itu
Ampuni Rhea ya Allah, bikin sakit hati anak orang
Rhea dan Lando masuk ke dalam rumah lagi terlihat orang berjumlah tiga orang itu sedang tertawa lepas, melihat adegan akting mendadak tadi, ya Rhea sudah bercerita tentang Jangkar yang menaruh hati padanya kepada sahabatnya yang tadi sore pulang setelah dua minggu lebih ia ditinggal dirumah sendiri, saat membuka pintu tadi tiba-tiba sahabatnya itu sudah ngejongkrok di depan pintu rumah sembari mengandeng lengan seorang laki-laki.
Yah gue yang paling ngenes!!
Masih dengan suara tawa mengkelakar di ruang tamu rumah itu, suara bahagia setelah mengerjai anak orang, memang agak jahat sih tapi ini pilihan terakhir Rhea, setelah selesai ia bercerita tadi. Dan menuruti saran dari Naya sahabat gilanya itu.
Ditempat lain, Jangkar yang pulang dengan hati hancur menahan gejolak amarah hatinya, ia membuka pintu rumah dan menutupnya dengan kasar membuat sang ibu yang sedang asik menonton dangdut di saluran TV favoritnya dengan gambar ikon ikan terbang itu.
Jangkar memasuki kamarnya dengan membanting pintu kamarnya, dengan perasaan hancur Jangkar mencoba untuk tidak menangis, ya yang katanya anak jagoan masak nangis, apalagi ia cowok yang begajulan tidak pantas untuk menangis.
Ini air mata siapa lagi, pake netes segala.
Elahh, bukannya sembuh kejombloan gue, tapi malah makin ambyar.
Ini sakit nggak berdarah.
Jangkar keluar dari kamarnya, dengan perasaan kesal. Ia mengambil gitarnya dan menyanyikan lagu yang menurutnya amat sangat mengiris hatinya.
Fix! Gue udah lebay.
Gitarnya sudah berada di tangannya lagi, Jangkar mulai memetik senar-senar gitarnya. dan mengalunkan sebuah lagu. Ibunya yang melihat anaknya hanya diam sembari menahan tawanya.
Wis tak coba ngelalikne jenengmu soko atiku
Sak tenane ra ngapusi isih tresna sliramu
Do pepuja neng ati nanging koe ra ngerti
Koe tak wanti-wanti malah jebul sakiki
Koe mbenjani janji
Jare sehidup semati nanging opo bukti
Koe medot tresnoku demi lanangan liyo
Yowes ora popo, insyaallah aku iso liloo..
Meh sambat kalih sinten
Yen sampun mekaten, merana uripku
Aku welasno ningmas, aku mesakno aku
Aku nangis nganti metu eluh getih putih
(Sayang - NDX A.K.A)
Usai menyanyi Jangkar pergi ke arah dapur dan segera meneguk air putih banyak-banyak agar rasa sakitnya lenyap. Niatnya ingin menyatakan cinta pada pujaan hatinya, malah ia terkena Zonk. Benar apa yang di kata ibunya pujaan hatinya sudah punya suami.
"Buk, anakmuu patah hatiii." Teriak Jangkar dari arah dapurr dan ibunya hanya diam di tempatnya
"Dih di bilangin, ngga punya kuping." Nyinyir ibu Mitha