Sehabis pulang dari kantornya Rhea menghabiskan waktu sorenya hanya di dalam kamarnya saja, ia hanya ingin tiduran karena seharian ini anaknya yang sedang berada di kandunganya sedang rewel. Alhasil ia harus bolak-balik ke kamar mandi hanya untuk memuntahkan yang berada di dalam perutnya.
Rissa yang heran akan sikap Rhea kali ini hanya diam tak mau menganggu mungkin Rhea hanya kecapean dan ia membutuhkan waktu istirahatnya, Rhea menuju garasi motornya yang terletak di sebelah kanan rumah kontrakkannya, sebulan kemaren Rhea dan Rissa memutuskan membeli sepeda motor untuk mempermudah akses mereka untuk menempuh jarak ke lokasi kantornya, dengan tabungan yang masih lumayan dengan hasil dari uang setengah iuran dari Rhea dan Rissa.
Rissa membawa motornya untuk keluar sebentar untuk mencari makan malamnya, sebenarnya biasanya yang memasak Rhea karena kondisi Rhea sekarang yang tidak bisa di ganggu akhirnya Rissa memilih untuk membeli makan di luar.
Rhea yang sedang berbaring terlentang di tempat tidurnya dan memandang langit-langit kamarnya. Masih dengan Memandang langit-langit kamarnya dengan diam, lelehan butiran bening mengalir di sela-sela pelipit matanya, yang Rhea rasa adalah rasa asing yang kian kali melintas rasa aneh, bahwa selama ini ia tidak pernah menghiraukan rasa itu dan selalu menekan dirinya bahwa ia tak membutuhkan Shaka berada di sampaingnya. Namun, semuanya berubah Rhea membutuhkan Shaka berada di sisinya menemani ia mengandung, memperhatikan ia, tapi semuanya sudah terlambat, Rhea malah memilih untuk pergi dari Shaka. "Gapapa ya dek ga dekatan ayah, bunda juga kangen ayah kok. Kita doain bareng-bareng ya. nanti biar ayah disana sehat terus" lirih Rhea yang sekarang tangisnya semakin menjadi sekarang ia tak menghiraukan Rissa kan dengar apa tidak yang ia inginin sekarang adalah menangis menumpahkan segala lara rindu yang ia tahan
Ampe tahun baru barongsai lagi kalo ga di hubungin juga bakal begini terus Rhe!
Tak terasa jam sudah menunjukkan waktu maghrib Rhea bangkit dari tidurannya dan bergagas ke arah kamar mandi untk mengambil air wudhunya. Ia merasa rumah tampak sepi biasanya sahabatnya itu sedang asik membaca w*****d sembari tiduran di sofa coklat depan tv itu, sembari berjalan ke arah kamar mandi Rhea berfikir mungkin sahabatnya itu sedang keluar membeli sesuatu.
Selesai Rhea bermunjat kepada sang pemilik hidup, Rhea berdoa ia mengadah ia meminta ampun, berdoa untuk hidupnya kedepan agar Tuhan berbaik padanya agar hidupnya selalu tertata baik.
○○○
Suara deruan sepeda motor masuk ke garasi munggil rumah yang sudah Rhea dan Rissa tempati selama empat mingguan lebih itu, Rhea keluar dari kamarnya setelah tadi ia beradu pada sang maha hidup, sembari mengusap matanya ia menyambut pulangnya Rissa dari pergi sorenya tanpa Rhea.
"Riss darimana lo" Tanya Rhea sambil mengambil duduk di sofa
"Abis beli ayam kremes buat makan malam kita dong" Jawab Rissa dengan langkah menuju meja makan
"Adek maunya ini kan kemaren, maaf ya thetta baru bisa beliin sekarang"
"Riss, yaampun masih inget aja ngidamnya aku"
"Buat adek bukan lo ya" Kekeh Rissa yang sedang sibuk menyiapkan makanan malamnya di dua piring
"Sama ajalah Rissalah hati, si dedek dapet makan kan lewat emaknya juga, aneh sih lo"
"Nih buat dedek dan buat emaknya yang lagi galauin bapaknya dedek" Goda Rissa
Tanpa ada jawaban dari Rhea, ia hanya diam saat ingat ia bercerita dengan anaknya saat di kamar tadi ia menyatakan bahwa ia memang rindu pada Shaka diam-diam Rhea mengusap air matanya yang terjatuh agar Rissa tidak mempergokinya bahwa ia menanggis
Selesai makan malam Rhea segera menuju kamarnya ia hanya ingin segera menidurkan badannya agar ia tidak selalu menangis dan takutnya tangisnya akan jatuh di depan sahabatnya.
Rhea masuk ke dalam selimut hangatnya dan memiringkan tubuhnya ke arah kanan agar ia bisa menyembunyian derai air matanya, sungguh itu sangat sakit untuk Rhea selalu menahan dan merasa baik-baik saja.
Rissa menyusul Rhea masuk kekamar mereka, ia sebenarnya tahu apa yang selama ini Rhea sembunyikan darinya ia tahu bahwa Rhea diam-diam menangis sambil melamun atau saat Rhea sedang izin ke kamar atau saat pagi hari sehabis ia mengalami morning sicknya di kamar mandi sembari bergumam memanggil nama Shaka.
Rissa berjalan ke arah tempat tidur dan menyusul Rhea yang sudah berbaring namun ia menutupi wajahnya dengan guling yang selama ini menjadi momok untuk bersembunyi itu.
"Rhe, lo gapapakan?" Tanya Rissa sambil duduk di tepi ranjang
"Gu—gue ng—nggak apa kok Riss." Aku Rhea
"Nggak apa-apa tapi suara lo serak, cerita deh sama gue. Gue tahu lo nyembunyiin sesuatu, sini bilang Rhe?"
"Gu—gue— bisa ngga sih kalo waktu di puter aja.” Ungkap Rhea penuh makna
“Yaelah dikira oreo kali ya?”
"Lo akhirnya nyesel gitu? Rhea—Rhea gue udah bilang dari sejak awal, lo renungin bener-bener jangan langsung lo ambil keputusan gegabah begini yang akhirnya malah jadi boomerang lo kan."
“Iya, gue nyesel kalo akhirnya gue malah milih jalan kaya gini, kayanya anak gue ini udah ngenal ayahnya deh, Riss. Masak tiap hari gue dibikin nyesek begini.” Adu Rhea lagi
"Yaiyalah, anak lo butuh ayahnya juga Rhe, lo malah milih jalan buntu begini, gue sakit juga liat lo selalu mengatakan bahwa baik-baik aja."
"Tapi gue udah ngga ada muka lagi Riss, buat hubungin dia." Rhea meracau dengan suara seraknya
"Hubungin dia Rhe, bilang lo ada disini, gengsi loe singkirin dululah kam semua demi anak kalian."
"Gue ngga mau, dan itu bakal susah Rissa." Tolak Rhea
"Lo ya katanya butuh Shaka ,lo butuh dia di samping lo, dasar emang keras beton lo" Omel Rissa yang juga sudah ikut menangis
"Keras kepala Rissalah hati" Ralat Rhea disela-sela tangisnya
"Ya bodo amat, sini ponsel lo gue yang telpon pak Shaka"
"Gausah, biar gue nanti aja yag hubungin dia nanti kalo waktunya udah pas."
"Ya ya ya terserah loe deh, yaudah sana tidur udah malam jangan diem-diem nangis lagi lo, kagak capek apa nangis mulu?" Ancam Rissa
"iya bawel."
○○○
Keadaan Shaka semakin memprihatinkan. Memaksaa sistem tubuhnya untuk terus ia ajak bekerja keras, mengurus segala masalah kliennya, ia hampir tak pernah kembali ke apartementnya maupun ke rumah orangtuanya, ia hanya butuh menyendiri di kantornya tepatnya di ruangannya.
Sembari menunggu kabar dari orang suruhannya yang mencari keberadaan Rhea, Shaka selalu menyimbukkan dirinya setelah bebrapa waktu lalu ia hampir seperti orang mati yang sedang bernafas, menghabiskan waktunya hanya untuk minum setalh asik meratapi diri ia tertidur tanpa alas, kadang terduduk di di lantai hingga sang subuh menjelang dan menjalankan ibadahnya, selalu begitu hingga ketiga sahabatnya mengunjunginya ke apartementnya dan salah satu dari mereka harus menyadarkan sahabatnya yang sedang dilanda gila rindu gila akan semuanya, hingga saat itu satu tonjokkan keras menghantam pipi Shaka dan mengakibatkan luka memar, tanpa ada perlawanan Shaka masih diam termenung di tempatnya berdiri waktu itu.
Abiyan menarik lengan Shaka dan membawanya ke kamar mandi, di dorongnya Shaka hingga tercebur di bathtub kamar mandinya, setelah itu finally Shaka tersadar dan tersentak kaget.
Menguras tenaga aja!
Namun sekarang Shaka sudah jauh lebih baik dari saat itu meski sekarang waktunya ia habiskan untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Saat ini pekerjaan Shaka sudah selesai ia hanya berdiam merenung lagi, ia mengingat lekuk wajah Rhea saat ia berada di dalam dekapannya.
Kalo kamu jauh,saya akan raih kamu lagi, Rhea
Hari ini Shaka akan pulang ke apartementnya setelah ia tinggal berhari-hari dan hanya pulang sekali selebihnya ia tidur di rumah sahabatnya itupun saat ia sedang malas tidur di kantornya.
"Rhea, aku rindu. Kamu kapan balik lagi ke saya?" cerca shaka dengan menarik nafas kasar
Telepon ponselnya berdering membuat sang empunya menoleh ke arah tempat ponselnya berada, dengqn cepatShaka meraih ponsel dan tertera nama Handi, ya ia adalah mata-mata yang Shaka sewa untuk mendapatkan keberadaan Rhea sekarang.
Dan pada intinya, dua orang sejoli itu saling merindukan satu sama lain. Namun, gengsi membuat perasaan rindu menjadsi perasaan abu-abu.