Hari yang di tunggu akhirnya sudah di depan mata, langkah kaki Rhea dan Rissa menampak sampai di stasiun Tugu Jogja, di Jogja lah akan menjadi perjalanan hidup mereka berdua akan berubah. Menata hidup baru di Jogja tepatnya.
Setelah mengajukan surat pengunduran dirinya di alihkan dengan mutasi karena cabang perusahaan dari tempat Rhea dan Rissa sedang kekurangan karyawan dan beruntunglah mereka masih bisa tetap berkerja di perusahaan Sejaya Hati, tanpa harus susah-susah mencari perkerjaan baru.
Rhea dan Rissa akhirnya memesan Go-Car untuk mengantar ke rumah kontrakkan yang saat itu sudah mereka pesan lewat pemiliknya, dan semuanya, bila di pikir lagi, seperti rejeki yang mengalir. Setelah Go-car pesanannya datang dengan di bantu si pak sopir mengangkat koper-koper besar milik mereka berdua, hanya Rissa dan pak sopir saja yang mengangkat karena Rhea tidak di perbolehkan untuk mengangkat kopernya.
Kita bilang apa dek, Alhamdulillah.
Selesai mengangkat koper-koper berat tadi, mereka meluncur ke arah tempat yang mereka tuju ya mana lagi kalo rumah baru mereka, meski hanya kontrakan mereka tetap bersyukur.
Rhea menikmati pemandangan jalan yang terlihat dari apapun, dan Rissa pun sudah terlelap karena sedari malam Rissa sahabatnya itu membantunya untuk bolak-balik ke kamar mandi karena anaknya yang di dalam kandungannya sedang rewel, ada perasaan aneh yang hinggap di relung perasaannya Rhea saat a melamun tadi, ia merasa ada yang ganjal dan ada perasaan yang bisa dikatakan ia ingin dekat dengan Shaka, namun secepat mungkin Rhea menepis perasaan itu tapi air bening mengalir di pipinya, apa ini hanya bawaan bayinya entahlah.
○○○
Setelah melalui perjalanan kira-kira satu setengah jam lebih mereka sampai di rumah kontrakkan mereka, rumahnya terlihat sederhana namun terlihat seperti rumah modern, terletak di sekitar perumahan meskipun kecil cukup untuk mereka berdua, setelah menurunkan koper dan membayar ongkos Go-car di depan teras rumah kontrakannya sudah di tunggu sesosok ibu-ibu yang terlihat masih segar, terlihat ibu-ibu tadi berjalan menuju gerbang rumahnya dan membukanya untuk Rhea dan Rissa sembari mamerkan senyum sopannya menyambut Rhea dan Rissa.
"Selamat pagi mbak Rhea, mbak Rissa." Sapa ibu tadi
"pagi bu Mitha." Sapa sopan Rhea dan Rissa berbarengan
"Ini kuncinya mbak semoga betah ya, kalo ada apa-apa bisa datang ke saya." Ucap ramah bu Mitha
"Terima kasih bu, betah kok kita bu."
"Oh ya mbak ini saya kasih tahu, kunci yang bertanda merah ini kunci gerbang, kunci bertanda biru ini kunci rumah, kunci bertanda hijau ini kunci kamar utama, dan kunci bertanda kuning ini untuk kamar kedua." Jelas bu Mitha
"Oh iya baik bu, terima kasih lagi dari kita ya bu." Ucap Rhea
"Iya mbak Rhea mbak Rissa sama-sama, kalo ada apa-apa jangan sungkan buat datang ya, rumah saya bersebelahan dari dua rumah ini." Ujar bu Mitha lagi
"Siap, bu." Rhea dan Rissa memberi senyum dan tanda hormat pada bu Mitha
Setelah bercakap-cakap dengan ibu Mitha tadi Rhea dan Rissa kemudian masuk ke dalam rumah kontrakan mereka yang terlihat memang lumayan untuk tempat tinggal mereka, terasa pas seperti harapan mereka. Dua orang tadi sedang menjatuhkan tubuhnya di kursi sofa yang syukurnya sudah tersedia, memang harganya agak sedikit tinggi tapi buat kenyamanan dan keamanan mereka tidak apalah.
Rhea memejamkan matanya sejenak meredam rasa pusing yang menyerang lagi dan perut yang minta untuk di isi padahal tadi saat di kereta ia sudah memakan bubur dan roti senang-senangnya sekarang perutnya ingin di isi lagi.
Rissa menegak minumannya sembari mengelap keringatnya saat mengetahui sahabatnya bergerak gelisah. "Woi Rhe ngapa sih dari tadi gelisah gitu, kangen Shaka lo?" Tanya Rissa mengoda sahabatnya itu yang ia tahu saat pergi meninggalkan Jakarta kemarin raut muka Rhea sudah membendung, rasa kesedihan karena ia hapal dengan tabiat sahabatnya yang keras kepala itu ia hanya bisa diam dan menahan u*****n di hatinya.
"Enak aja, engga ya asal lo, gue cuman laper lagi Riss." Cengir Rhea
"Etdahhh, yaudah bentar gue pesenin Go-Food dulu, mau apa lo pilih sendiri deh."
"Oke Riss." Bahagia Rhe
"Yaudah gue liat-liat dulu deh rumahnya, kayaknya samping rumah kaya ada kolam ikannya deh kedengeran ada air berisik." Pamit Rissa
"Iye, yaudah sana." Usir Rhea
Setelah memesan makanan dengan layanan Go-Foodnya, Rhea hanya menyandarkan kepalanya dan memandang langit-langit rumahnya, ada rasa haru, rasa bahagia, rasa sedih yang bercampur jadi satu kosakata, ia teringat Shaka lagi seharusnya kehamilannya ini di lewati bersama sang ayah dari bayinya namun semuanya tidak akan mungkin terjadi sekarang atau entah nanti.
○○○
Selesai berberes baju-baju yang di bawa oleh Rhea dan Rissa, kini keduanya hanya sedang tidur-tiduran di kasur empuk, satu kamar untuk dua orang karena Rhea tidak mau tidur sendiri di kala hatinya sedang gundah alias galau mengundang, ia tidak mau tidur sendiri terus merenung sendiri kemudian menangis tersedu, bila ia berdua kecil kemungkinan untuk tidak melamun dan menangis.
Hati kecilnya merasakan kerinduan yang sedari tadi mengusiknya saat di perjalanan ke rumah ini, namun Rhea selalu menepis rasa rindu itu, Rhea melirik sebelah kirinya Rissa sedang asik membaca cerita di novelnya, ia menyenggol lengan tangan Rissa dan hanya di jawab oleh dehaman oleh Rissa.
"Keluar yuk, gue pengen hirup udara segar ini." Ajak Rhea
"Yaudah deh yuk, di luar hawanya enak kali, ya." Balas Rissa yang sudah mengalihkan pandangan dari buku novelnya
"Yaudah deh yuk."
"Eh, ayo deh sekalian jalan-jalan yuk cari cemilan gitu." Ajak Rissa
Rhea dan Rissa menyusuri jalan jalan di komplek untuk mencari cemilannya nanti malam selagi belum terlalu malam, dan masih sore meski langit-langit cerah mulai berganti warna sang senja yang akan sebentar lagi datang.
Disisi kiri tempatnya Rhea dan Rissa sedang berjalan, terlihat lapangan basket yang lumayan besar, terlihat sang pemain sedang istirahat setelah mungkin sehabis tanding basket, dan Rhea melihat ke arah tempat lapangan basket tadi dan melihat seseorang sedang senyum ramah padanya dan Rhea pun membalas dengan anggukan kepalanya.
○○○
Di lain tempat di apartementnya seseorang sedang terlihat menyedihkan ya siapa lagi kalo bukan Shaka, pengacara yang sedang kacau ia kehilangan Rhea lagi membuatnya selalu mengerang kesal dan berakhir seperti orang gila yang habis kehabisan obat warasnya, ya siapa lagi kalo bukan Rhea obat warasnya namun ia sudah pergi tanpa meninggalkan sebuah jejak, bahkan Rhea membawa anaknya pergi—terlebih ia belum menyapa sang calon jabang bayi.
Tepat di dalam kamarnya, Shaka sudah menghabiskan berbotol minuman berakohol, ia ingin bila ia menghabiskan minuman ini, masalahnya mungkin bisa menjadi lebih ringan. Tapi tidak. Kantung mata yang menghitam, rambut yang sudah tidak teratur, tanpa baju, dan hanya menggunakan celana jins pendek, fix! Shaka terlihat orang yang kehilangan pacarnya dan hampir gila.
"Arrgghhhh!!" Teriak Shaka sembari menjambak rambutnya
Shaka sudah mangkir dari kantornya setelah tahu Rhea pergi dari kota ini, kebodohannya kali ini adalah tidak berusaha untuk menahan Rhea agar ia tidak pergi namun semuanya sudah terlambat. Bahkan bila di telaah kebodohannya lagi juga tidak segera bertindak.
○○○
Kamar yang sudah berganti lampu itu membuat dua orang yang belum juga terlelap Rissa masih setia dengan bacaannya tadi, sebenarnya Rhea bisa juga mengikuti apa yang Rissa lakukan namun Rhea terlihat resah, sudah 4 kali tadi Rhea bolak-balik ke kamar mandi hanya untuk menuntaskan aksi mualnya karena bayinya seperti ingin membuat bundanya berolahraga itu. Namun setelah ia mengelus-elus perutnya sembari meminum s**u hamilnya mualnya sudah lumayan membaik.
Kegelisahan Rhea semakin menjadi setelah tanpa sadar matanya mengalirkan air bening, sebenarnya ada apa dengan dirinya, sejak tadi Rhea memeriksa ponselnya yang hanya diam tanpa notif ada rasa menyelinap kenapa Shaka tidak menghubunginya lagi, semakin galau saja ibu hamil ini. Kemudian Rhea membawa dirinya untuk segera terlelap dan menciptakan mimpi indahnya.
○○○
Tanpa terasa Rhea dan Rissa sudah tinggal di Jogja selama 3 minggu disini, dan kehidupannya lebih tertata apik, anaknya yang sudah mau di ajak beradaptasi di tempat barunya semakin membuatnya bisa sedikit ringan berkerja, mualnya sudah lumayan tidak mengganggu aktivitasnya. Saat sore begini Rhea lebih sering duduk di kursi teras depan sembari mengelus perutnya yang sudah mulai menonjol itu, ia memperhatikan jalanan lenggang hingga ia melihat deru motor ya ia hapal dengan deru motor yang berat milik Jangkar putra dari bu Mitha yang selama ini mau menolongnya saat ia merasakan nyidam-nyidam anehnya, pernah satu malam Rhea ingin nasi goreng seafood bngung harus minta tolong pada siapa ia tahu bahwa sudah malam tidak mungkin masih ada layanan Go-Food dan mau tak mau Rhea meminta Jangkar untuk membantunya menuntaskan keinginan bayinya dan bersyukurnya lagi Jangkar mau menolongnya.
Dari itu Rhea dan Jangkar menjadi akrab, umur yang selesih satu tahun membuatnya bisa cepat akrab, Rissa pun juga akrab dengan Jangkar walau kadang sering terjadi cekcok alay ala Rissa dan Jangkar.
Jangkar yang melintas di depan rumah Rhea berhenti sebentar dan menyapa ibu hamil yang sedang asik meminum s**u ibu hamilnya.
"Rhea, nyore ya?" Teriak Jangkar yang masih nongkrong di sepada motor sportnya
"Iya ni, Kar. Mau basket yaa?" Sapa balik Rhea
"Yoi, gimana kabarnya si Adek Rhe. Baik-baik aja kan?" Tanya Shaka lagi
"Adek baik-baik kok om di peyut bunda." Jawab Rhea dengan menirukan suara anak kecil
"Adek pinter deh, om Jangkar basket dulu ya dedek." pamit Jangkar sembari berteriak
"Oke, Kar"
Setelah berlalunya Jangkar, Rissa keluar dari dalam rumah dengan membawa s**u kotaknya akhir-akhir ini Rhea liat Rissa meminum s**u Kotak berasa coklat itu, dan Rissa pun mengambil duduk di sebelah Rhea.
"Kaya denger suara penggaris Jangkar ya Rhe?" Tanya Rissa
"Iya, tadi cuman nyapa dia mau basket, mau tanding kali. Lo nggak liat temennya, si Jerry itu." Canda Rhea
"Ya ogah amat ya, makanya tadi gue ogah keluar kalo ketemu dia,suka berantem."
"Awas lo, benci bisa jadi cinta."
"Kayak lo dong Rhe, benci jadi cinta sama si pak pengacara ganteng itu." sindir Rissa “Kalo lo lupa, biar gue ingetin lagi, ada hati yang gue jaga.” Jelas Rissa lagi
"Rissalah hati lo kalo ngomong ya Allah suka ngaco" Tolak halus Rhea “Kaya iya, dia beneran nikahin lo aja.”
"Berani dong! Eh tahu nggak sih Rhe, sadar ga sadar nih ya gue kaya ngerasa Jangkar kaya ada rasa gitu sama lo."
"Nih kalo sukanya baca novel yang genre romence suka ngaco lo rissalah hati." Sebal rhea
"Bener tahu Rhe, lo perhatiin matanya dong Rhe. Nggak salah lagi, pasti tuh cowok ada feel sama lo."
"Apaan sih nggak jelas, jangan-jangan lo ntar yang jatuh cinta lagi." Kelakar Rhea
"Oh iya ya, kan kamu lagi nyangkal soalnya, hati lo udah terisi sama pak pengacara yang ganteng itu tapi godanya ke gue hahahaha.." Teriak Rissa dan kemudian lari ke dalam rumah dan Rhea menyusul masuk kedalam sembari teriak-teriak heboh.
Begitulah setiap hari menjelang sore Rhea dan Rissa menyiptakan keseruan selaing mengejek satu sama lain, membuat Rhea sedikit terhibur akan hidup barunya ya di kota Jogja penuh kemekaran hidup barunya.