Rissa memutuskan kembali kerumah Rhea lagi setelah ia mengemasi barangnya yang berada di kostnya yang selama ini ia tempati dan sekalian ia ingin berpamitan kepada ibu kost yang sudah berbaik hati padanya selama ini.
Tiket kereta sudah di pesan dan sudah siap di gunakan lusa nanti. Semua hal dari yang termasuk surat resign sudah di siapkan, koper-koper sudah tertata rapi tinggal menunggu waktu keberangkatan nanti.
Namun, di saat Rhea sedang asik membuat suratnya tiba-tiba perutnya bergejolak lagi secepat mungkin ia berlari ke arah dapurnya dan di ikuti Rissa dari belakang untuk membantu Rhea yang sedang memuntahkan isi perutnya.
"Rhe, udah mendingan belum?" Tanya Rissa yang hanya di beri anggukan oleh Rhea
"Lo istirahat deh biar gue aja yang buatin suratnya"
Rhea mengangguk "Iya, makasih ya Riss gue ngerepotin lo lagi."
"Nggak ada kata ngerepotin Rhe, sini gue bantu lo."
Selesai membuat surat resign Rhea dan Rissa naik ke lantai atas untuk istirahat dan mendengar cerita penjelasan Rhea. Rhea dan Rissa menjatuhkan tubuhnya di kasur empuknya meluruhkan rasa pegal di badannya
"Sini buruan jelasin napa sih, Rhe. Gue udah kepo berat tahu, padahal yang biasanya nanggung berat kan dilan kenapa gue." Cerca Rissa
"Alay lo." Balas Rhea sembari menjintak kepala sahabatnya itu
"Yee biarin dong, yaa."
"Jadi cerita nggak nih?"
"Iya iya buruann."
"Waktu itu.."
Rhe nekat datang ke Club malam yang biasanya ia datang bersama sahabatnya ia nekat datang sendiri, Rhea hanya tidak ingin sahabatnya tahu betapa dia sedang sangat hancur saat ini. Ia hanya bersenang senang sebentar melupakan rasa sakit yang ini sedang asik bergeleyut manja di hatinya.
Rhea menghampiri meja bar yang kosong dan duduk menyendiri sembari memanggil tukang bar untuk menyiapkan minuman untuk Rhea memesan Cider untuk minumnya kali ini, setelah bartender sudah menyiapkan pesanan Rhea secepat mungkin Rhea langsung meminum minuman yang ia pesan tadi dengan sekali tegukan, Rhea sudah menghasilkan 5 gelas sekaligus. Layaknya seperti orang kesetanan Rhea masih ingin memesan minuman sekali lagi sebelum ia turun ke dance floor ia ingin menghentak-hentakkan tubuhnya di bawah sana.
Selesai dengan acaranya memuaskan dirinya dengan minuman yang sudah membuatnya melayang-layang tadi Rhea turun dari kursi barnya dan berjalan ke arah dance floor, dengan gerakan s*****l Rhea meliuk-liukkan badannya dengan gerakan tanpa arah.
○○○
Disisi lain di ruangan yang lebih gelap, dan terduduk di kursi sofa berwarna hitam terdapat tiga sosok laki-laki dewasa yang juga sedang menikmati malam mereka dengan sebotol Whisky di meja yang berada di hadapan mereka, Shaka yang memang sedang dalam masalah hati karena gagal memperjuangkan pacarnya yang lebih memilih pilihan orang tuanya membuatnya ia harus juga terlena akan pesona minuman yang banyak memikat orang karena bisa membuatnya melayang dan melupakan masalah mereka.
Shaka mulai bosan hanya duduk saja dan mendengar ocehan temannya yang sudah tidak karuan lagi, dengan gerak tubuh yang sempoyongan Shaka beranjak dari duduknya dan mengabaikan temannya yang masih bercanda itu.
Lengan kemeja Shaka sudah ia gulung hingga siku dan dasi yang sudah terlepas dari gulungan kemejanya membuat penampilan Shaka membuat melotot wanita yang sedang asik mencari mangsa, dengan tubuh kekar dan tegap membuat para wanita yang berada di sekitarnya menatapnya lapar namun tak di hiraukan oleh Shaka, ia hanya ingin berjoget mengikuti aliran yang menghentak dan enggan untuk tersadar bahwa sudah ada wanita asing yang mendekat kearah Shaka, memang masih setengah sadar Shaka perlahan mundur dari tempatnya tadi hingga ia berada di samping wanita yang sedang asik berjoget dengan di ampit dua pria tapi Shaka melihat tangan pria satunya lagi sudah bertengger di pinggang ramping milik wanita tadi.
Jiwa Shaka tertarik untuk juga bisa berjoget dengan wanita tadi, dengan gerakkan halus Shaka menarik tangan wanita tadi dan syukurnya wanita tadi tidak berontak dengan aksi Shaka menarik tangannya. Namun, pria yang asik memegang pinggang Rhea tadi mendelik kesal dan kemudian menghilang dari hadapan Shaka.
Tubuh mereka semakin tak karuan gerakan, dan tanpa sadar tangan Rhea sudah bertengger manis di leher jenjang Shaka, sepertinya wanita yang sedang di hadapannya ini mabuk berat.
Shaka membawa minggir wanita tadi, hingga berada di pojok dengan minimnya lampu tapi masih sesekali tersorot oleh lampu light disco. Disana kelakuan nakal mereka mulai beraksi entah kenekatan Shaka membuatnya ingin mencium bibir mungil wanita itu begitupun wanita itu yang juga menerima lumatan bibir Shaka, semakin dalam Shaka tidak bisa menahan reaksi dalam tubuh masing-masing hingga Shaka membisikan sesuatu pada wanita di hadapannya itu yang masih meraup udara banyak-banyak.
"Kita pindah tempat saja?"
"Oke." setuju wanita tadi yang masih terlihat teler
○○○
Di ruangan yang terasa dingin ini masih tercium sisa-sisa bekas kegiatan mereka yang beberapa menit lalu sangat mengasikkan itu, Rhea yang masih dalam keadaan lelah dan teler dengan nyaman menyimpan kepalanya di d**a kekar Shaka, selimut yang sudah terlihat hanya menuntupi sebagaian tubuh mereka.
Shaka mengeliat dan berreaksi lagi, ia membalikkan tubuhnya dan berada di atas tubuh wanita itu dan mencium bibir wanita itu dengan rakus di bawah remang-remangnya lampu hotel saat itu.
Hingga pagi menjelang, tirai berwarna coklat itu tersingkap sedikit membuat sorotan matahari masuk di cela-cela tirai itu, wanita itu mengeliat dari tidurnya dan merasa ada yang aneh di tubuhnya dan beban berat menimpa pinggang rampingnya itu.
Semuanya sudah sadar dengan apa yang sudah terjadi, kejadian yang dengan yang sudah siap menanti melanda mereka. Seperti sepasang cepat terjadi membawa mereka dalam suatu masalah besar anak manusia yang masih saling mengeratkan pelukkannya itu, tangan kekar itu masih setia melingkar erat di punggung mulus kepemilikan seorang wanita cantik yang sedang memunggunginya itu. Di antara mereka masih dalam keadaan setengah sadar dan tidak sadar. Sejujurnya keadaan ini nyata salah, ya salah rencana dua orang ini salah sasaran. "Uuhhhmm..." Suara lenguhan terendam tertahan si wanita dengan masih berselimut itu dan membuka matanya
"Oh my gods, s**t tangan siapa ini, sekekar ini?" Batin Rhea berucap perlahan ia menyingkirkan tangan kekar itu di area punggungnya itu, namun ia nihil hasilnya pelukkannya semakin erat bagaimana ini
" Tetap tinggal di tempatmu, aku masih merasa dingin." Rancau sang pria
"Si..siapa kamu."
"Aku laki-laki yang tadi malam menemanimu bergoyang di bawah kelap-kelip lampu club dan berakhir di ranjang ini." Jelas si laki-laki itu dengan santai
"s**t,lepaskan aku. Aku mau pergi dan terima kasih sudah membawaku kesini dan meniduriku, awas saja bila aku hamil aku akan menemukanmu dan harus bertanggung jawab,b******k !!" Jawab Rhea dengan nada emosi
"Hei, kita hanya melakukan sekali tidak mungkin kamu hamil dasar wanita." Teriak Sakha sembari memperhatikan Rhea memakai bajunya dengan cepat
"Terserah kamu, dasar b******k!!" Teriak kasar Rhea kemudian lari keluar kamar hotel itu dan segera berlari dari hotel itu, masalah apalagi sehabis ini pikir Rhea seraya masih berjalan cepat.
Setelah selesai bercerita Rhea hanya bisa menahan luapan emosi dan tangisan saat ini, bagaimanapun itu juga kesalahannya, dia sekarang sedang mengandung, ia tidak ingin banyak pikiran ia harus memperhatikan kandungannya juga, yang ia ingini sekarang adalah merawat kandungannya dan segera pergi dari Jakarta secepatnya.
"Ya Tuhan Rhea lo mah kalo b**o kadang suka fatal ya, lo bisa telepon gue apa Naya, dan sekarang. See, kamu dapet masalah segede gaban gini." Cerocos Rissa
"Ya mana gue kepikiran sih Riss, gue mikirnya cuman pengen tenang aja eh malah salah alamat gitu." Sesal Rhea
"Yaudah percuma lo sesali juga, nasi udah jadi bubur . Sekarang kita awali semua hidup baru kita, lo—gue dan si calondedek bayi, Yang dulu buat pelajaran lo aja, jangan sampai ada shaka-shaka yang lain." Ujar Rissa otimis "Buat itu sebagai sebuah kisah hidupmu bukan malah buat lo semakin terpuruk Rhe, lo bisa hadapin dan lewatin ini, gue yakin."
"Iya Riss, thanks ya, gue repotin elo banget."
"Alah udah deh kek ke sapa aja sih lo, lebih baik sekarang istirahat aja, dedek pasti juga capek,dan lo gausah mikir si Shaka lagi." Ajak Rissa “Lagian besok kita masih banyak yang harus kita urus.”
"Eh tap ya Rhe, dimana-mana cewek itu kalo dikasih tanggung jawaban yang ada senang lah ini lo malah kabur, nggak baik juga kalo lo selalu lari dari kenyataan Rh, lambat laun anak lo nanti juga harus tahu bapaknya, ya enakkan bapaknya cuman nandur benih aja, lonya yang susah." Cerewat Rissa
"Udah deh nggak usah bahas dia,mual gue." Alibi Rhea namun di sisi lain dia tiba-tiba rindu sentuhan Shaka namun secepatnya Rhea menepis "Udah gue mau tidur, capek."
Setelah mereka berdebat ringan mereka tidur dengan lelah meluruhkan segala rasa yang mendera di tubuh masing-masing.
○○○
Masalah memang harus di hadapi bukan untuk dihindari, semakin menghindar si masalah akan selalu datang, seperti halnya Rhea dia pergi meninggalkan masalahnya dan menghadapinya nanti.
Tapi di sisi lain hati Rhea tak sejahat apa yang sudah ia rencanakan, lusa Rhea dan Rissa sudah akan meninggalkan kota ini dan memulai hidup yang baru dan awal yang baru. Rhea sudah berjanji bahwa saat anaknya sudah lahir di dunia ia akan mengenalkan siapa ayahnya, Rhea tak sejahat itu ingin memisahkan anak dari ayahnya.
Semuanya akan berubah dengan jalan hidup Rhea nanti, bersama anaknya nanti dan menemukan kebahagian bersama nanti.