TERJEBAK

1922 Words
Sabtu sore adalah jadwal rutin Rhea bersama teman-teman wanitanya untuk sekedar melepas penat setelah enam hari kerja, seperti biasa Rhea dan teman-temannya memilih caffe Lunar tempatnya yang memang cozy untuk taraf seperti mereka yang sering suka bergosip ria, berteriak saat menceritakan entah gebetan mereka, atau aktor kekar kebanggaan mereka. Sesekali Rhea mengikuti arah pembicaraan mereka hingga detik berikutnya menyertakan otaknya yang tak selalu larut akan pembicaraan kedua sahabatnya. Rhea melamun lagi tanpa ia sadari temannya yang duduk disebelah kanannya selalu memperhatikannya, Rhea tanpa sadar masih terus tenggelam dalam pikirannya. Entah berkelana kemana yang ia fikirkan adalah kehamilan, Sakha, kehidupannya kedepan, orangtuanya. "Rhe, kenapa sih lo dari kemarin gue liat, lo ngelamun nggak jelas kaya gini. Ada masalah apa?" Tanya Rissa yang membuarkan lamunan milik Rhea "Gu..gue nggak kenapa kok, Sa, cuman capek aja kepikiran sama kerjaan, bukannya cepet selesai makin segudang aja." Rhea beralibi "Alibi lo sulit buat gue cerna, gue tahu, akhir akhir ini lo sering melamun kaya orang linglung, udah kaya mayat berjalan aja." Seloroh Rissa lagi "Rhea kalo lo ada masalah apa-apa cerita ke kita. jangan lo pendem sendiri, lo punya kita yang selalu bisa bantu lo, kita selalu ada buat lo, kapanpun." Imbuh Naya "Gue cuman belum bisa cerita ini ke elo semua, gue belom bisa Nay, Ssa" Jelas Rhea "Oke deh, kita berdua maklumin lo, tapi kalo lo butuh kita dan emang udah siap cerita hubungi gue sama Naya oke" Pinta Rissa yang kali ini memandang khawatir dengan teman semasa SMAnya ini "Kita nginep di rumah lo deh malam ini sampe besok minggu gimana Rhe?" "Gue setuju sama lo Nay, kita Quality time bertiga deh kita cerita-cerita gimana, Rhe?" "Oke, gue seneng lo mau nginep di rumah gue seengaknya gue nggak jadi kambing congek saat liat cicak yang lagi aik-asik pacaran." Kelakar Rhea "Hahahahaha gila lo Rhe, kayanya Rhea bakal jadi penghuni RSJ dadakan nih, baru juga di tinggal indehoy mantan lu Rhe segitunya lo gila." "Udah deh gausah lo pada bahas dia lagi, udah ahh gue mau ke toilet dulu" Pamit Rhea yang di balas dengan deheman dari dua temannya ○○○ Terlihat dari sisi pojok diluar area caffe Lunar terdapat empat cowok yang sedang asik berkelakar dengan berbagai topik yang mereka bicarakan, termasuk jarangnya ia dan teman-temannya menginjakkan kakinya di Club malam Authenthic yang biasanya menjadi tempat mereka berburu, apa lagi kalo tidak berburu mangsa untuk menuntaskan hasrat mereka, namun terkecuali dengan pria yang mengunakan T-shirt abu-abu tuanya dengan celana jins dan sepatu ketsnya yang sedang asik meniupkan sekumpulan asap dari alat vapornya itu. Sakha masih asik dengan dunianya seakan melupakan ketiga temannya yang sedang asik membicarakan teman kencannya dan sungguh itu adalah hal yang paling Sakha hindari. Ia hanya ingin segera bertemu dengan Rhea lagi, ia ingin beradu argument lagi dengan wanitanya. Entah dampak apalagi yang di bawa Rhea hingga pikirannya hanya selalu tertuju pada Rhea. Dari arah depan tangan jahil temannya beraksi melepar kentang goreng ke arah Sakha "heh! apaan sih lo?" Gelak marah Sakha pada Arjuna "Lo kenapa sih Sakh dari tadi muka cuman kusut aja udah kaya baju nggak pernah disetrika aja. Kurang belaian apa gimana lo" Gurau Abyan "Gue biasa aja lo aja kali yang liat gue begitu, eh urusan lo udah kelar yan. Udah ngejonggrok aja lo disini" "Eh masalah gua udah hampir selesai ya, lo kira gue kaya lo yang abis asik tidur enak abis itu di tinggal sama cewek yang lo tidurin tapi nyatanya malah bikin lo jatuh hati, gue turut berduka akan nasib lo, Man." Sindir abyan talak "Eh k*****t, lagak lo sok iya, kagak inget lo udah kaya mayat hidup. Iya ini lo udah kelar coba balik kebeberapa hari yang lalu, udah kaya orang sinting." Kata Arjuna yang kali ini berbicara benar "Udahlahh" "Gue mau ketoilet dulu deh, sekalian mau pulang. Gue duluan" Pamit Sakha yang sudah beranjak dari duduknya ○○○ Rhea berjalan kearah toilet sembari membenahkan tatakan roknya agar terlihat rapi dan ia ingin memasukan ponselnya ke dalam tasnya, namun diarah berlawanan seorang pria yang juga sedang sibuk memainkan jari-jari besarnya dilayar ponselnya hingga tanpa sadar sebentar lagi adegan tabrakan-menabrak ala-ala akan segera berlangsung. Dan suasana berikutnyaa terdengar suara gaduh, tunggu beberapa menit setelah bunyi "Bruukk..!" ditempat. "Mbak kalo jalan itu liat jalan dong jangan pake mata kaki." Runtuk Sakha setelah terduduk di lantai caffe Semua orang di dalam Caffe semuanya tertuju kearah mereka yang sedang asik menikmati sentuhan sakit dipantat masing-masing. Dengan perasaan dongkol enggan disalahkan Rhea membalas pada dirinya. "Loh masnya juga dong, jalan liat kedepan malah liat hp. Emang hp situ ada matanya hah!?" Jawab Rhea tak kalah galak "Loh mbaknya juga sal.." "Rheaa?"Panggil Sakha "Kamu!!" "Ya Tuhan ketemu dia lagi ,ya lain kenapa sih, ini mah ceritanya terjebak yang kebetulan, kampret." Runtuk batin Rhea "Iya kenapa, anda kalo ngga bisa jalan gausah pake sok keluar rumah pake nabrak-nabrak saya!" Bengis Rhea Namun, disisi lain ada satu perasaan aneh yang tiba-tiba datang menderap melewati rongga jantung Rhea, jantungnya berdetak kencang setelah ia kembali dengan mata elang itu, namun,cepat-cepat Rhea menggelengkan kepalanya segera ia menepis perasaan aneh dan namun hangat itu, entahlah. "Minggir saya mau lewat!" Rhea berdiri sambil berkata galak, Sakha pun ingin menahan namun ia tahan ○○○ Akhirnya Sakha memutuskan untuk menunggu Rhea di luar toilet wanita, berharap Rhea mau berbicara padanya tanpa harus tarik-menarik uratnya. Ia hanya butuh waktu berdua duduk bersama, membahas masalah mereka sebelum menjamur. Rhea keluar dari Toilet wanita dan saat menarik tasnya agar tersampir ke bahunya, netranya menatap sesosok pria yang sedang bersandar pada dinding toilet dengan mata terpejamnya, tangan yang berlipat ke d**a. Rhea melewati sesosok itu dengan tenang berharap laki-laki itu tak menyadari saat ia lewat. "Jangan sampai ketahuan, please." Batin Rhea "Rhea, tunggu. Tetap diam di situ" "Buat urusan apalagi?  Dengar Pak Shaka untuk kedua kalinya saya sudah bilang ngga ada lagi yang harus kita selesaikan diantara kita. Semua sudah selsesai Pak tepat malam itu berakhir dan saya tidak ham.." Seketika Rhea terdiam dan merasakan gejolak di perutnya "Rhea, kamu kenapa?" Sakha mengikuti Rhea kembali ke arah toilet tanpa berfikir panjang Sakha ikut masuk ke dalam dan membantu Rhea mengeluarkan gejolak anehnya. "Sudah? Tolong, kali ini mewnurut dengan saya." Ajak Sakha pada Rhea dan hanya di angguki lemah oleh Rhea Terpaksa, ya, hanya terpaksa "Tapi pak teman saya masih ada diluar dan mereka akan kerumah saya." Ujar Rhea di tengah Shaka mengandeng tangan rhea "kamu bisa hubungi mereka, setelah kamu di mobil saya." Pinta Shaka Keadaan lemas Rhea membuatnya harus terpaksa menuruti kata-kata Sakha. ○○○ Rhea sudah memberitahu Rissa dan Naya bahwa ia ada urusan mendadak yang harus ia selesaikan, dan untungnya teman-temannya mengertinya dan tidak bertindak ingin sok tahu, Rhea berjanji suatu saat ia akan menceritakan masalahnya kepada kedua sahabatnya itu. Mobil Sakha sudah melaju kearah jalan raya, mungkin ini jalan Tuhan agar mereka bisa saling membicarakan masalah mereka yang nyatanya memang belum benar-benar tuntas. Rhea sesekali melirik wajah Sakha dari samping dimulai dari mata pria itu yang bila di lihat dari arah depan terlihat seperti mata elang yang menatapnya tajam seolah ia adalah mangsanya yang siap diterkamnya.  "Kalo di lihat-lihat Shaka tipe cowok yang tidak mengecewakan. " Bisik batin Rhea Setelah melirik mata elang milik Sakha, Rhea beralih ke hidung mancung milik Sakha lagi terlihat kokoh namun kecil, kemudian Rhea turun ke area bibir tipis Sakha yang terlihat berwarna coklat Rhea menikmati pemandangan bibir Sakha dari tempatnya ia duduk. Sakha yang merasa diperhatikan ia hanya cukup untuk diam, ia membiarkan wanitanya itu menikmati setiap inchi wajahnya. Hingga ia mengeluarkan dehaman untuk mencairkan suasana sunyi di mobil "Ehem.., sudah puas menikmati setiap inchi wajah saya. Rhe?" Kata Sakha mengagetkan Rhea "Mak..maksud pak Sakha?" "Jangan panggil saya pak Sakha, Sakha saja kita bukan partner kerja Rhea tapi calon partner hidup." Ujar Sakha yang hanya dibalas dengan dengusan oleh Rhea "Kamu masih lemas?" Tanya Sakha "Lumayan, sudah agak baikan pak." "Sakha, Rhea bukan pake Pak, Ya Tuhan." "Terserah kamu." Masa bodoh Rhea ○○○ Sakha memarkirkan mobilnya, dan mereka berdua turun dari mobil Sakha berjalan kearah lift yang sudah tersedia untuk membawa mereka ke unit apartement Sakha. Sakha membuka pintu apartement menyilahkan Rhea untuk masuk duluan hingga ia juga masuk kedalam apartementnya, Sakha menyilahkan Rhea duduk disofanya hingga ia pamit berlalu kearah kamarnya untuk menganti pakaiannya. Rhea melihat sekeliling apartement Shaka, ya aparteemnt seorang pria dengan suasana cat manly hanya ada sentuhan hitam dan putih entah akan ada warna apalagi di luar ruangan ini. Terlihat warna yang tidak begitu terang untuk pengelihatannya yang ia yakini disana terdapat warna abu-abu. Rhea masih duduk tenang di tempatnya ia masih merasa pusing, dan perutnya masih mual namun semua ia tahan, Rhea belum sadar dengsn reaksi tubuhnya yang tahu tubuhnya merasa sangat sakit dan kepalanya terasa berat, Rhea meyandarkan kepalanya di headsofa sembari menutup matanya sedikit rilex. Sakha keluar dari kamarnya menuju dapur untuk membuatkan minuman hangat untuk Rhea ia berjalan tanpa mengganggu aktivitas tidur ayam-ayamnya Rhea. Sampai di dapur Sakha membuatkan satu coklat untuk Rhea dan satu gelas kopi untuknya, setelah semua jadi ia bawa kearah ruang tamu dimana keberadaan Rhea. Shaka meletakan dua gelas berisi aneka rasa itu dan kemudian memperhatikan wajah Rhea yang sedang tertidur itu, hingga tangan bergerak kearah pipi halus milik Rhea. Shaka mengelus pelan agar sang empunya pipi tidak terganggu dalam tidurnya, tapi gerakan halus Shaka membuat Rhea terbangun dari tidurnya tadi seketika Rhea membuka matanya dan melihat senyum yang ia tahu itu tulus dan perasaan hangat itu datang lagi. "Mau aku buatin kamu coklat panas?” Tanya Shaka yang hanya diangguki oleh Rhea setelah itu gelas berisi coklat itu sudah berpindah ke tangan Rhea Rhea menghirup aroma coklat hangat yang masih mengebul itu, sesekali ia meminum coklat hangat itu dan merasakan perutnya terasa sedikit enak dan mual yang mendera tadi hilang. "Terima kasih, Sakha buat coklatnya." "Santai aja Rhe, kalo ada apa-apa jangan sungkan untuk minta." Shaka menawarinya "Gimana kamu masih mual?" Tanya Sakha "Sudah lebih baik, cuman pusing aja kok." Jujur Rhea "Rhea?" Panggil Sakha dan Rhea pun menghadap kearah Sakha "Ada apa?" "Maaf untuk kejadian kita waktu itu, mungkin itu membuatmu harus membenci saya Rhea tapi jujur dari saya, sekalipun saya tidak pernah tenang lagi setelah—pertemuan kita malam itu, saya ingin masalah kita sagera selesai, dengan salah satu cara kamu mau menerima pertanggung jawaban saya." Rasa mual yang tadi sempat hilang kini mendera Rhea lagi dan pusing yang semakin bertambah frekuensinya membuatnya segera berdiri dan memberi kode pada Sakha untuk memberitahu letak kamar mandi milik Sakha. Seakan tahu kode dari Rhea, Sakha segera mendekat kearah Rhea dan menuntun kearah kamar Sakha yang didalamnya sudah tersedia kamar mandinya. Tubuh Rhea semakin melemah dan lemas, Rhea mencuci mukanya agar terlihat lebih segar, setelah menegakkan badannya dengan sigap Sakha membantu Rhea untuk berjalan mengarahkan ke tempat tidur milik Sakha. "Kamu istirahat disini saja Rhea, besok saya antar balik." Bujuk Sakha "Iya." Jawab Rhea yang sudah menutup matanya lagi karena pusing yang mendera semakin menjadi "Kamu mau aku panggilin dokter kesini Rhe?" Tawar Shaka "Nggak usah, gapapa aku baik-baik aja. Besok pasti udah baikan" Tolak Rhea "Oke, kamu istirahat aja dulu disini. Saya keluar dulu" Pamit Sakha namun disaat ia ingin beranjak tangan kecil Rhea menahan pergelangan tangan Sakha dan membuat Sakha kembali duduk di kasurnya lagi "Ada apa Rhe?" "Jangan pergi disini aja." Rhea berkeinginan Setelah itu Shaka duduk bersandar diheadbad sebelah kanan Rhea, entah perasaan senang atau apa, yang pasti keberadaannya tak di tolak lagi oleh Rhea. Detik berikutnya Sakha juga memejamkan matanya dan ikut merangkai mimpi indahnya. "Dan kita terjebak dalam satu ruangan lagi Rhea." Batin Shaka sebelum benar-benar terlelap
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD