19 | Di belakang Layar

2470 Words

Tidak ada manusia yang benar-benar punya ketegaran luar biasa dalam hidup, ada sebuah titik lemah bermain di belakang layar, terbelenggu dalam kilasan masa lalu - Hembusan napas keras terdengar dari mulut Agam, ia kemudian memutar bola matanya bosan saat sebuah rangkulan di bahunya ia rasakan. Ramai terdengar dari segala sudut. Di sini, kantin yang semula berisi para siswa, kini berganti menjadi tempat umum dengan keramaian setingkat rumah makan di pinggir jalan. Atau mungkin mirip warung soto Pak Mamat yang sering menjadi tongkrongan anak-anak futsal. Letaknya di belakang sekolah, hanya dibatasi dinding beton setebal satu jengkal dengan ketinggian dua meter. Sangat mudah dilewati untuk anak yang suka membolos. Dan jika diperhatikan secara seksama lagi begitu melewati parkiran sekolah,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD