48 | Kekacauan

2155 Words

Udara malam semakin dingin. Mungkin, itu hanya perasaan Aletha. Ia mengusap lengannya beberapa kali lalu duduk di atas kursi besi. Mengikuti kata hati. Awalnya begitu yang ia pikir, hingga kaki ingin melangkah tetap terpaku pada tempat yang sama. Ia tidak bisa berandai-andai terlalu lama. Terbuai bisik merdu dari sebutan kata 'Mama'. Memilih bergeming, menolak tawaran Annita untuk duduk di sampingnya. Aletha menatap datar wanita itu. "Apa yang ngebuat anda berbaik hati menjenguk saya?" Aletha mendengus, menunduk menendang pelan kerikil. "Apa itu khawatir?" Annita menyandar, menyilangkan kedua kakinya begitu anggun. Ia tersenyum manis sembari mendongak menatap langit malam. Mendung dan terasa dingin. "Lukamu kurang parah untuk kata semacam itu." Mendengarnya, Aletha memutar bola mata

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD