"Bang Kenan nyebelin banget! Katanya mau jemput, tapi malah nyuruh Rena ke sini. Rena udah ke sini, tapi malah enggak jadi," ucapku sambil menahan air mata. Bukannya sedih, aku menangis karena menahan kesal.
Kalau enggak bisa ya bilang aja ga bisa kenapa harus janji-janji. Aku paling sebal kalau diberi harapan palsu. Nyebelin banget. Kaya gini nih yang bikin aku enggak punya pacar. Aku terlalu takut yang namanya dikecewakan.
"Pak Rektor manggil Abang ke ruangannya," ucap Bang Kenan dengan nada merasa bersalah, dia mengelus puncak kepalaku, "maaf ya. Tunggu dulu deh ya, kalau keburu nanti kita ke sana," ucapnya lagi.
Aku cemberut lalu membuang pandanganku. "Yaudah, sana."
"Kamu tunggu di sini ya, di dalam masih ada Faresta. Kamu tenang aja."
Tanpa ada dia aku juga berani nungguin di sini sendirian.
"Yaudah, sana." Bang Kenan berlalu dari hadapanku. Aku menyandarkan tubuhku lalu memainkan ponsel. Tidak ada notifikasi. Memang tidak ada orang yang menghubungiku selain Mama, Bang Kenan, dan juga Gina, sahabatku.
Aku mematikan kembali ponselku lalu menatap lurus ke depan. Suasana universitas ini sangat sepi, hanya tersisa beberapa orang yang berlalu lalang. Langit juga sudah menggelap.
"Kenan, mana?" suara yang seharian ini beberapa kali aku dengar, siapa lagi kalau bukan Mas Faresta.
Aku melirik ke arah datangnya suara, dia duduk di sebelahku. "Ketemu Pak Rektor," jawabku malas.
"Saya mau ke toko buku. Mau beli referensi bahan ajar. Tadi saya sempat mendengar kamu ingin ke sana dengan Kenan. Kamu kalau mau ikut, boleh."
"Enggak, Mas," jawabku tanpa mempertimbangkan.
Dia terdiam sebentar lalu memasukan ponselnya ke dalam tas. "Kamu nunggu di sini?" tanyanya penasaran. Ini orang kepo banget, heran.
"Iya."
"Sendirian?"
"Iya. Sama siapa lagi."
"Yasudah," dia bangun dari duduknya, "saya duluan," ucapnya lalu bergegas menjauhiku.
Aku menoleh ke kiri dan ke kanan. Suasananya semakin sepi, apalagi ruangan tempat tadi mereka rapat sudah ditutup yang berarti sudah tidak ada orang. Langit semakin gelap ada terdengar suara jangkrik. Aku merasakan suasana semakin mencekam.
"Mas Res!" panggiku kencang. Faresta yang sudah sampai diujung sana menoleh ke arahku, "mau ikut," ucapku dengan nada memelas.
Dia tersenyum kecil. Pertama kalinya aku lihat dia tersenyum, manis banget, tambah ganteng. Kalau senyum begini kan tidak terlalu seram. Aku jadi tidak takut. Masih takut sih, dikit.
"Ayo," ucapnya lalu aku berlari kecil menghampirinya. Kami berjalan menuju parkiran.
"Kita pisah di sini aja, Mas. Mas nyari buku yang Mas cari, aku nyari novel," ucapku saat kami sudah sampai di toko buku.
Mas Faresta menggeleng kecil. "Bareng aja," ucapnya datar.
"Ya terus gimana? Nanti kelamaan dong."
"Kamu dulu dari buku yang ingin kamu beli." Tidak ingin berbincang terlalu lama akhirnya aku menurutinya. Aku mencari novel-novel terbaru, cukup banyak. Aku sampai kebingungan membeli yang mana dan jadilah aku membeli sepuluh novel.
Membawa sepuluh novel cukup membuat tanganku keberatannya. Untung saja Mas Faresta peka, dia yang akhirnya membawakan. "Sudah?" tanyanya. Aku mengangguk cepat.
"Enggak ada yang lagi yang ingin dibeli?" Aku menggeleng. Sepuluh buku sudah membuat tabunganku hampir habis.
"Yaudah, kita ke kasir," ucapnya.
"Mas Faresta enggak jadi beli buku?" Dia tetap melangkah seperti tidak mendengar ucapanku.
"Kamu udah belum beli bukunya?"
"Udah."
"Yaudah, berarti udah."
"Mas katanya mau beli buku."
"Enggak jadi."
Kami mengantre di kasir dan dia mengeluarkan kartu debitnya. Aku buru-buru mengeluarkan kartu debitku. "Saya yang bayar," ucapnya saat aku memberikan kartu debitku ke Mbak kasir.
"Itu kan buku aku. Banyak lagi. Aku aja yang bayar." Mas Faresta tidak menggubris ucapanku. Dia tetap memberikan kartu debitnya. Dia yang membayar semua bukuku.
Di satu sisi aku merasa tidak enak.
Tapi di sisi lain aku merasa beruntung.
Kalau tahu bakal dibayarin kan aku bisa ambil lebih banyak.
Tapi enggak enak juga, aku kan enggak terlalu dekat.
Bodo amatlah! Bersyukur aja.
Bersambung ....