Setelah Emil menangis sampai jaketnya basah, dengan berat hati ia menipiskan isi dompet untuk biaya nafsu makan bakso Emil yang menggila. Seperti tak pernah mendapatkan asupan berbulan-bulan. Apa ada dedemit yang nyasar di tubuh Emil saat Magrib tadi? Bukankah saat seperti itu, adalah waktu yang tepat kawanan dedemit memanjakan diri berkelana pada tubuh-tubuh labil?
Usai salat Magrib di masjid dekat kampus dan mengajak makan, Dika kemudian membawa Cebol ke salah satu pom bensin. Sementara Dika mengantri, Emil duduk manis di depan mini market. Dika masih menyisakan dua lembar uang berwarna ungu dan dua koin bergambar angklung untuk jatah bensin. Hanya tinggal itu. Tak lebih
"Pulang?" tanya Dika untuk keempat kali kepada Cebol yang tengah melamun. Pertanyaan kesekian kali Dika ajukan. Jawaban tetap sama. Cebol menolak.
"Mau tidur sini?"
Emil menggeleng.
Dika bingung tak karuan. Ia menggaruk kepala untuk melampiaskannya. Dika kan butuh mandi, ganti baju, dan istirahat nyaman di rumah.
Keduanya saling diam. Sampai suara panggilan dari ponsel Emil, membuat gadis itu menghentikan lamunan. Emil menatap agak lama ponselnya sebelum diangkat.
Dika memilih tidak mendengar obrolannya. Ia masuk ke dalam mini market untuk membeli dua gelas air mineral. Karena hanya itulah yang bisa ia beli.
"Bang, ayo pulang!"
Dika bergegas menghabiskan minumannya, dan mengangguk dari dalam mini market. Akhirnya... Cebol dapat hidayah mengajak pulang. Dika bersorak senang bukan kepalang.
***
"Tumben bawa belanjaan banyak, Sil?" tanya Dika melihat Sila masuk ke rumah, kemudian sibuk mengeluarkan bahan-bahan membuat kue, dari kantong plastik besar.
"Jaga-jaga aja, Mas. Lusa, Papa bilang keluarga Lucky mau datang. Lucky serius sama niatnya. Denger-denger nih, Lucky itu udah dipegangi toko bangunan punya ayahnya buat dia kelola. Kan banyak tuh cabang tokonya. Buat modal hidupin Emil pas udah nikah," jelas Sila antusias dan bangga dengan calon adik iparnya.
Saking kagetnya sampai tas yang Dika jinjing jatuh ke lantai. Untung tidak ada laptop pemberitahuan Ari. Bisa tak enak hati kalau rusak. Bisa susah juga ia tak bisa kerja.
"Emil setuju?" Dika penasaran, mengingat beberapa hari lalu saat ia melihat Emil jalan berdua dengan Lucky, tak terlihat bahagia sama sekali. Secepat itu keduanya akan menikah? Dika tak habis pikir.
"Nggak tahu juga. Mama cuma minta aku belanja buat lamaran. Kalau masalah Emil, nggak berani tanya. Dia nutup diri terus di kamar. Rey aja nggak berani deket-deket."
Dika memilih pamit ke kamar. Sepertinya jantung Dika agak kaget dengan kabar barusan. Apa benar Emil mau nikah? Seolah-olah Dika masih tak yakin. Atau... tidak terima? Seketika Dika ingat sesuatu. Kalau Emil menikah, lantas yang ia jadikan tameng menolak Lisa nanti siapa? Kan aneh sudah koar-koar bilang ada hubungan, tapi Emil malah menikahnya dengan orang lain. Rasanya sedikit tak rela juga.
"Mas?" Suara Iko membuat Dika menoleh ke arah pintu. Kaus dalam sudah terlepas, menampakkan tubuh bagian atas Dika yang telanjang.
Iko mendekat dan duduk di ranjang.
"Ada apa, Ko?"
"Mau tanya aja, memastikan." Iko tampak berpikir sebelum melanjutkan ucapannya. Dika menoleh memperhatikan adik bungsunya tersebut.
"Ehm... Mas Dika ada hubungan apa sama cewek yang sering berduaan di kantin? Maaf... kalau aku lancang. Cuma mastiin aja." Dika mengerutkan kening, kemudian bergabung duduk di sebelah Iko.
"Lisa maksudnya? Dia dulu tetanggaku. Hubungan kami sekadar teman saja, dia sudah seperti adik buatku. Memangnya ada apa, Ko?"
"Tadi pagi, dia nyamperin Emil pas di parkiran. Aku juga lagi sama Emil. Dia dateng, marahin Emil dan... nampar juga."
***
Dika hanya bertanya ini itu pada Sila dan Iko tentang keadaan Emil yang ternyata sedang sakit. Sejak semalam badan gadis itu demam. Pagi tadi dia diantar Rey dan Sila ke rumah sakit. Sampai jam istirahat siang, Dika tak lepas memantau keadaan Emil melalui Sila. Kabar terakhir yang ia peroleh, Emil sudah baik-baik saja. Panasnya juga sudah turun, sekarang gadis korban tamparan Lisa itu sedang istirahat di kamarnya.
Pulang dari kampus, Dika mampir membeli buah-buahan. Uangnya sudah terkumpul kembali, karena dua hari lalu gajinya sudah turun. Sebagian uang ia tabung untuk biaya S2. Setelah Magrib, Dika datang ke rumah Emil. Di sana hanya ada Sila beserta anak kembarnya, dan mama Emil. Rey dan Ari belum sampai rumah sepertinya.
Sedikit basa-basi, Dika dipersilakan masuk ke kamar Emil, tentunya dengan Sila yang mengikuti di belakang. Anak laki-lakinya juga dibawa, sedang yang perempuan digendong neneknya.
"Dia baru aja minum obat. Susah banget nyuruh dia minum obat, Mas," ucap Sila. Dika melihat wajah pucat Cebol dengan hati terenyuh. Mata gadis yang pernah mencret di motornya itu tampak terpejam. Kasihan juga Dika melihat wajah semi mayat tersebut.
"Kenapa bisa sakit? Main hujan?" tanyanya.
Sila berdecak dengan pertanyaan Dika. "Nggak tahu juga. Pulang kuliah kemarin dia nangis, Iko yang bilang. Habis itu, malam dia ngigau, Rey yang denger. Pas dilihat, badannya udah panas banget. Aku cuma kompres aja. Rey siang tadi ke Bandung sama Papa, karena ada masalah sama restoran yang di sana. Jadinya, aku sama Mama gantian jagain."
Sila buru-buru keluar dari kamar karena teriakan Ara. Anaknya yang di bawah sedang rewel. Tinggallah Dika di kamar Emil sendirian.Tadinya ia berdiri di dekat pintu. Sekarang, ia beranikan diri melangkah mendekati ranjang Cebol. Menarik kursi, Dika pun duduk di dekat ranjang.
Wajah Emil pucat. Dika menyentuh keningnya perlahan. Rasa hangat menyalur di telapak tangan Dika. Tampak lemah dan tak berdaya. Bukan Cebol sekali.
"Kak...."
Dika menghentikan gerakan mengusap kepala Emil, saat suara rintihan terdengar. Sepertinya Emil mengigau. Kepalanya tampak bergerak-gerak.
"Mil?" Dika tidak tahu harus berbuat apa pada Emil yang gusar. Pengetahuannya dalam hal seperti ini amat minim. Dika hanya bisa mengusap-usap kepala Emil sambil menggenggam tangan gadis itu,
"Bang?" panggil Emil lirih.
Dika mendekat begitu mata Emil mengerjap lemah dan menoleh ke arahnya. "Ya, ini aku. Kamu mau apa? Minum? Aku ambilkan."
Belum sampai tangan Dika menyentuh gelas di meja, tangan Emil mengerat di tangan Dika.
"Bang, dingin... dingin...," rintih Emil.
Dika batal mengambilkan minum. Sedikit membenarkan selimut yang tersingkap, berharap Emil tidak kedinginan lagi.
"Bang, peluk."
PELUK?
Apa?
Otak Dika miring sepertinya. Ia malah menundukkan kepala, dan merengkuh Emil dengan tubuh condong, serta p****t masih menempel di kursi. Cebol tak terima sepertinya. Dia malah merangkul Dika dengan mengaitkan kedua tangannya di punggung laki-laki itu. Dika sendiri sangsi jika pinggangnya tidal encok setelah ini. Dua kali Dika memeluknya. Semoga ini yang terakhir. Tidak sehat untuk jantung Dika sepertinya.
________________