Tameng

1213 Words
Siapapun... JANGAN GANGGU EMIL! Entah kenapa mood Emil buruk sekali. Lamaran Bejo bukannya larut terbawa air seperti pup, yang dikeluarkan setiap pagi setelah menekan tanda PUSH. Melainkan, semakin menari-nari di atas awan saat Ari dengan terang-terangan memberi sayap. Sepertinya Bejo akan semakin melayang karena sayap untuk burung yang diapitnya, sudah didapatkan. Semoga tidak terbang sampai ke Kali Jodo. "Mil, tumben nggak makan. Diet, Non?" celetuk Iko yang sedang ngemil pisang goreng buatan Sila, sambil tiduran seperti ikan lele kejepit kuku gajah, di dekat Emil. Iko di kamar gadis cebol itu, menjadi teman yang selalu rela dilempari bantal selama seminggu terakhir. "Aku udah langsing, Ko." Iko bangun dan menyodorkan pisang goreng bertabur keju ke hadapan Emil. Gadis itu meliriknya sekilas. Pisang goreng buatan kakak iparnya memang enak. Camilan yang gampang, sederhana tapi selalu disukai semua kalangan. Apalagi ada taburan keju dan s**u coklat di atasnya. Harusnya bisa menggugah selera makan Emil. Namun, tak menarik sedikit pun kali ini. "Ko?" "Hem." "Kamu rela nggak, kalau aku nikah nuda sama Bejo? Seenggaknya kamu tega nggak, pada akhirnya bakal kehilangan temanmu yang kece badai ini?" tanya Emil memastikan. Ari saja rela melepaskan Cebol. Padahal bapaknya sendiri. Makhluk yang memuntahkan lahar panas ke dalam gua rimbun milik Ara, hingga terbentuklah Emil. "Rela rela aja sih. Nikah muda bukan aib, Mil. Cepet nikah malah cepet halal. Mau keluyuran malem-malem juga papamu nggak khawatir, kan udah ada yang jagain dan tanggung jawab sama kamu," tanggap Iko. Bukan masalah halal apa belumnya. Tetapi Emil merasa belum siap. Belum lihai masak seperti Sila. Masih suka melompat pagar. Tidur juga masih muter-muter. Otaknya apalagi, masih polos buat mikir dunia perkasuran. Takutnya Bejo tidak puas bagaimana? Emil kan tidak pernah pacaran. Tidak pengalaman soal menjalin hubungan dengan lawan jenis. Kok kesannya dia kurang kekinian ya? Namun, memang itulah kenyataannya. Mau tahu kenapa ia betah menjomlo? Salah satunya karena larangan keras Ari dan Rey. Mereka berdua sepertinya kompak merongrong Emil untuk jones sampai halal. Nikah muda lebih utama, daripada perawan tua dengan koleksi mantan sepanjang rel kereta api. Tidak jarang juga jika Emil merasa iri dengan sandal dan truk yang punya gandengan. Deborah saja yang kayak buntelan balon gitu, ada yang suka. Punya pasangan sampai punya pasukan. Emil kok nggak punya? Tekanan yang mendera Emil, membuat gadis itu merencanakan ide gila, dengan merengek pada laki-laki sialan di rumah sebelah. Bukannya membantu Emil, Dika malah mengumpankan Emil pada buaya. Padahal Emil sudah berharap besar untuk pura-pura sebagai pasangan saja, ia ditolak dengan tak berperasaaan. Setidaknya sampai Emil mendapet pasangan yang membuatnya merem melek, membuat jantung main the remix, atau kejang-kejang sampai mimisan melihat 'laki-laki pilihan Emil'. Cukup sampai Emil menemukannya saja. Tidak susah kan? "Kenapa musti Bejo sih yang lamar aku, Ko? Kenapa nggak kamu aja. Kita juga nggak sedarah, jadi boleh dong kalau nikah... awww!" Emil melempar balik bantal yang ditimpuk Iko ke arahnya. "Setan! Mana sudi aku nikah sama kamu, Mil. Kalau dikasih pilihan nikah sama kamu apa sama Deborah, udah jelas aku bakal nikahin…" "Deborah? Iya... tahu kok aku emang nggak pantes buat dinikahin," rutuk Emil kesal. "Mending nggak nikah. Enak aja nikah sama Deboran. Lubang dia kecil, kebanyakan bulu juga." *** Bang Asdos sama ceweknya.Apa karena itu dia menolak permintaan Emil, secara mentah-mentah. "Ngintipin mulu, nggak bosen apa!" tegur Iko. "Kamu naksir ya, sama Mas Dika? Aku perhatiin kamu selalu ngintipin dia kalau lagi sama cewek itu," tebak Iko menyimpulkan dengan ilmu sok tahunya. "Enak aja! Ngapain orang songong gitu aku taksir. Kayak nggak ada yang lain aja," sanggah Emil cepat. "Waktu itu kamu tidur sama dia. Alasan Mas Dika nyuruh ngerjain tugas itu bohong kan? Orang kamu habis nangis-nangis di kamarku." Emil diem aja. Ia kesal bukan main jika mengingat kejadian waktu itu. Kalau tidak dalam keadaan lelah menangis, mungkin Emil ingin memperkaos Dika saja, agar tidak seenak kening menolak permintaannya. Padahal Emil meminta dengan tulus. Namun, ia bersyukur karena Dika bilang keberadaan Emil di sana akibat kelelahan setelah mengerjakan tugas. Setidaknya, nama baik Emil masih selamat saat digrebek anggota keluarga Iko dan disidang dadakan. "Aku mau pulang, tapi nyasar di kamar dia. Mau pulang udah kemaleman, ya udah numpang tidur di situ. Tidur di kamarmu, nggak ada tempat." Iko menggeleng-gelengkan kepala tanda tak setuju dengan alasan konyol Emil. "Alasan aja! Kenapa nggak numpang di kamar Mbak Sila? Alasanmu aja, biar deket sama Mas Dika. Jangan-jangan kamu nolak Lucky juga gara-gara ngarepin cinta Mas Dika yang nggak peka-peka?" tebak Iko asal. Emil langsung menjambak rambut laki-laki itu sampai berteriak kesakitan. Sejurus kemudian, Emil menarik keluar Iko dari kantin. *** Emil pulang menjelang malam. Ada tugas yang harus ia antarkan ke rumah dosen, yang kebetulan dekat dengan kampus. Menjelang Magrib, tugasnya baru selesai ia kumpulkan. Rey berencana menjemput Emil, karena Iko sedang tidak bisa diandalkan. Emil duduk di depan pos satpam kampus untuk menunggu. "Mil?" Seseorang berjalan cepat ke arahnya. Emil kaget tak karuan, terlebih melihat wajah panik Dika. "Mil, aku butuh bantuanmu. Ayo!" Kaki Emil menurut saja, melangkah mengikuti Dika. Entah mau dibawa ke mana, Emil masih terlihat syok dan bingung. Tiba di parkiran yang remang-remang, Emil melihat gadis kuntilanak yang selalu menempeli Dika. Gadis itu sedang berdiri memaku dirinya di dekat motor yang pernah ditempeli b****g mencret Emil. "Aku pulang dengan kekasihku, Lis. Maaf, aku tidak bisa mengantarmu ke rumah kali ini. Salam buat papamu," terang Dika yang kemudian menoleh pada Emil. Emil menganga. Terkejut sampai mau pingsan saja rasanya. Telinganya ia korek dan matanya dikerjap-kerjapkan. Khawatir kalau salah menerima informasi. Ia meletakkan telapak tangannya ke kening Dika. Takut kalau laki-laki berkacamata itu kesambet setan gerbang tempat ia berdiri tadi. Mengingat waktu menunjukkan gejala para dedemit hendak keluar. "Maksud…" Suara Emil terhenti begitu tangan Dika meraih tangannya. Dibawanya tangan Emil untuk digenggam, sambil dilemparkan seulas senyum manis. Emil hampir kejang-kejang karena Dika spontan merangkulnya. Apa??? "Sebentar lagi kami akan menikah," putus Dika yang Emil anggap sedang gila. Lisa yang melihat dan mendengar berita duka akan nasibnya, hanya mampu menganga lebar. Dadanya sesak, matanya memanas, bahkan tangannya sudah mengepal tak terima. Tanpa kata, Lisa berjalan meninggalkan Dika dan Emil yang masih 'mesra', dengan perasaan kesal bukan main. Melihat Lisa sudah pergi, tangan Dika terlepas begitu saja. Tanpa kata pula, Dika berjalan menjauhi Emil menuju motornya. Lalu, yang tadi itu apa? Kok perubahannya drastis sekali? "Bang?" tanya Emil bingung. "Apa?" "Kamu jahat!" Setelah berkata begitu, Emil langsung menimpuk tubuh Dika karena kesal, dengan tas dan map yang ia pegang. Rasakan itu! Emil baru sadar kalau dirinya barusan dijadikan pengusir pacar orang. Serendah itukah harga diri Emil di mata Dika? Ya Tuhan! "Kenapa mukul aku sih, Cebol!" pekik Dika yang pada akhirnya berhasil mencengkeram tangan Emil. Entah kenapa Emil langsung menangis menyadari kenyataan fungsinya barusan. "Kamu jahat! Kenapa aku dijadiin tameng barusan?" Dika melepaskan cengkeraman pada tangan Emil. Kumpulan rasa frustrasinya dua minggu ini, kekesalan pada Bejo yang mencari segala celah membawa ia menemui orang tua Bejo, mood buruk yang menyerang, tugas yang bikin pening, dan rasa kesal dijadikan tameng untuk hubungan Dika, semua itu bermanifestasi membentuk gumpalan air mata yang tumpah dengan deras dari kedua pelupuk mata Emil. Ia berjongkok di dekat motor Dika sambil menangis. Gadis itu meraung-raung seperti anak kecil kehilangan balon. "Sudah, jangan menangis." Rengkuhan hangat menyambut Emil. Menit berikutnya ia sudah larut dalam pelukan d**a bidang Dika yang berjaket. Sialnya, ini nyaman sekali. ________________
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD