"Bang, nikahin aku mau nggak?"
Kata-kata itu membuat Dika mimpi buruk semalaman. Gara-gara omongan aneh dari bocah cebol yang tidak dipikir sama sekali. Semalaman ia tidak bisa tidur karena tangisan yang menyayat hati. Bukan saja telinganya yang sakit, Emil malah mencakar-cakar Dika dengan kuku macan sambil berteriak, "Bang... halalin aku, Bang!"
Bagaimana kalau ada yang dengar? Untung saja Dika sudah menutup rapat pintu kamar. Juga sudah membekap mulut beserta tubuh Emil di dalam selimut agar suaranya teredam. Gila saja kalau semua orang dengar. Dikira Dika yang menganiaya? Lebih parahnya, Dika bisa dituduh menodai Cebol yang kusam dan lecek itu.
Selesai aksi cakar mencakar yang berakhir dengan Emil frustrasi sendiri, Dika melanjutkan tidur. Masa bodoh dengan gadis itu yang hendak jungkir balik atau salto di kamar.
Paginya, hari sial datang lagi. Dika lupa kalau Cebol ketiduran di ranjangnya. Bahkan mereka satu selimut. Eits, sabar... Dika belum menyentuh bagian terlarang gadis mencret itu. Dia masih suci. Iko mengetuk pintu kamar, membangunkan Dika agar bisa salat subuh berjamaah. Dika bangun dalam keadaan bertelanjang d**a, memilih baju koko yang mau ia pakai. Konsentrasinya buyar gara-gara dengan seenak jidatnya Emil menimpuk punggung Dika dengan bantal.
"Abang m***m!"
Teriakan mengerikan Emil membuat seisi rumah yang hendak salat Subuh, langsung berlari ke kamar Dika. Sialnya dalam keadaan Dika yang telanjang d**a dan membekap mulut ember Emil. Ini seperti dikira mereka sedang ‘iya-iya’.
Rangga marah besar. Iko membelalak tak percaya dan mungkin jijik pada kedua insan tak berdaya tersebut. Dinda, wanita yang mengajar TK itu sampai menangis melihat kelakuan anak angkatnya dengan tetangga sebelah rumah. Akhirnya, Dika diinterogasi Rangga setelah Emil yang menangis, diantar pulang ke rumah oleh Iko.
***
"Kak, kok diem aja sih? Lagi banyak kerjaan ya? Lisa bantuin deh!" tawar Lisa yang duduk di depan Dika. Kantin menjadi tempat pelarian Dika. Kopi siang ini lumayan membuatnya sedikit meredakan keruwetan.
"Nggak usah." "Papa pengen ketemu sama Kakak. Kapan bisanya?"
Dika langsung meletakkan kembali cangkir kopi yang hendak ia minum.
"Buat apa?" tanyanya sambil menoleh pada Lisa yang menyatukan jari-jarinya di atas meja. Ia lalu melanjutkan mengangkat gelas dan mulai menghirup aromanya. Benar-benar membuat Dika tenang.
"Buat ketemu calon menantunya lah."
UHUKKKK!
Sialan! Dika tersedak kopi yang harusnya amat nikmat disesap perlahan. Didongakkan wajahnya untuk mengambil napas. "Apa maksudmu, Lis?" tanya laki-laki yang pernah menjadi tetangga keluarga Lisa beberapa tahun lamanya itu, agak bingung.
"Ih, Kakak kok mendadak lemot sih. Papa mau ketemu calon menantunya. Masa ngak boleh? Sekalian Kakak lamar aku ke Papa juga boleh banget," kekeh Lisa kemudian.
Dika hanya melongo.
Kenapa akhir-akhir ini Dika diminta menikahi para gadis? Tidak Emil, tidak pula Lisa. Memangnya sebegitu menganggurnya ya, Dika sebagai jomlo. Sampai-sampai tidak ada kandidat lain untuk melakoni pilihan ini?
"Ehm... maksudnya melamarmu? Aku udah mau nikah. Lagipula, sejak dulu kan kita memang hanya teman." Tepat selesai mengucapkannya, Dika langsung bediri dan pergi dari hadapan Lisa yang gondok.
"Loh, kok gitu. Kemarin aja bilang nggak mau pacaran, mau fokus dulu. Ini malah tiba-tiba Kakak bikin pengumuman mau nikah!"
Dika berdeham sejenak. Ia tak cukup pandai untuk berbohong. "Iya. Aku memang nggak berniat pacaran. Karena selain mengejar beasiswa, aku juga mau fokus siapin pernikahan. Lebih cepat lebih bagus.
" Lisa menggeleng tak percaya. Namun, ia tak menyerah begitu saja.
***
Seminggu setelah insiden Dika dan Emil tertangkap basah dalam satu kamar, Emil seolah-olah menjaga jarak dengan Dika. Di kampus memang keduanya saling bertemu, tetapi tidak ada obrolan atau sesi pertengkaran seperti biasa. Bahkan saat Dika meminta Emil menyerahkan tugasnya di teras rumah, Emil sekadar memberikan dan langsung berbalik badan. Dika jadi heran, penasaran, dan... khawatir. Atau karena Dika kangen dengan kebisingan Cebol yang menemani hari-harinya? Entahlah. Dika juga bingung sendiri.
"Mil!" Dika berteriak begitu melihat Emil baru turun dari boncengan motor Iko. Gadis itu turun di depan rumah, sementara Iko masuk ke gerbang rumah. Sepertinya Dika butuh bertanya kenapa Cebol akhir-akhir ini terlihat kucel. Apa sejak ketiduran di kamar Dika kemarin, Emil kesambet setan buruh pabrik lem? Sampai-sampai mulutnya jadi mengatup rapat.
"Hem." Emil berdeham dan tetap bergeming di tempat, tanpa mau repot menoleh pada Dika. Benar-benar tidak menghargai. Padahal Dika sudah susah payah berjalan dan menghampiri.
"Tumben jinak. Kamu sakit?" Aneh saja, setiap hari melihat Emil yang pecicilan, sekarang diam mengheningkan cipta. Dika sungguh tak percaya. Walau ia tak begitu dekat dengan Emil, setidaknya Dika sedikit mengerti sifat Emil. Tentu setelah beberapa minggu terakhir berinteraksi.
Selama ini, meski Dika telah dianggap keluarga oleh Rangga, namun tak lantas membuat Dika menetap terus-menerus di rumah milik orangtua Iko. Dika masih tinggal di rumah kontrakan miliknya. Sesekali saja ia akan berkunjung dan menginap. Jelas saja Emil dan Dika jarang berinteraksi. Kadang malah sekadar menyapa Emil yang berusaha menyapa, sementara Dika hanya akan balas menatap.
"Nggak." Emil langsung ngeloyor saja, tak jelas. Dika hanya bengong mematung.
"Mas?"
Dika berbalik badan dan melihat ada Sila berjalan sambil menggendong anak perempuannya. Sepertinya habis mandi, bau harumnya ke mana-mana. Melihat keponakan yang cantik, wangi, dan gemesin, Dika jadi berpikir kalau ia ingin punya juga. Satu dulu juga boleh.
"Ngapain berdiri di sini?" tanya Silabingung. Dika menoleh sejenak pada Emil yang entah sudah menyulap dirinya hilang ke mana.
Dika menoleh sejenak ke arah Emil yang entah sudah menyulap dirinya hilang ke mana. Lalu jawabnya, "Ngobrol bentar sama Emil, soal tugas kuliahnya." Ia terpaksa bohong.
"Oh, kirain mau apa. Emil lagi mode nggak bisa diajak becanda. Gampang marah juga sekarang. Anakku kemarin kena korban amukan dia. Yah... anak kecil nyobekin buku dia kan nggak sengaja juga. Tantenya ngamuk parah," tutur Sila.
Lah, dari dulu kan memang si Cebol ganas. Tapi nggak biasanya juga dia marah kalau soal ponakannya. Ada apakah gerangan?
"Ehm, emangnya dia lagi ada masalah ya?"
"Itu loh. Temen kampusnya seminggu lalu dateng nemuin Papa. Minta restu mau lamar Emil. Jarang kan, ada cowok masih kuliah udah berani lamar anak cewek. Mana si Lucky kelihatan serius banget, ampek mau bawa orang taunya segala ke mari. Papa malah seneng ada cowok yang serius ama Emil. Nggak sekadar pacaran, main sono main sini, tapi malah nggak ada masa depan."
Dika seperti diserang guntur. Kaget tak karuan. Syok sampai lupa menutup mulut. Si Cebol mau dilamar orang? Si Lucky yang di tukang nasi goreng waktu itu kan? Yang malem-malem boncengan sama Emil?
Jangan-jangan Lucky mau lamar cebol karena anak itu udah halim perdana kusuma duluan sama si laki-laki itu?
Tidak!
Itu nggak boleh terjadi. Nggak boleh ada lamaran. Ya ampun, Cebol... kenapa nasibmu miris amat sih?
_______________