Lamaran Bejo

1426 Words
"Kamu kenal sama yang namanya Lucky?" Ari bertanya pada Emil di pagi buta, saat ia bersantai menikmati kerupuk dalam toples. Bagaimana tidak buta, listrik mati saat Emil pulang diantar Iko dini hari. Ya, pada akhirya Emil merengek minta diantar pulang sama Iko, setelah Bejo mengantarkannya kembali ke kampus. "Kenapa emangnya, Pa?" Emil mencium sesuatu yang kurang beres.Bau-baunya si Papa sedang asem, jadi... kemungkinan akan sesuatu yang tak mengenakkan akan terjadi. Ini bau asem ketek, beda kalau Papa wangi lemon, asem seger tapi bawa berita seneng. Entahlah, hidung Emil memang lihai menangkap sinyal kabar dari Ari. "Dia bilang kenal kamu, bukan sekadar tahu seperti yang kamu bilang barusan," ralat Ari yang dibalas cengiran anaknya. Kalau dibilang kenal, Emil memang kenal. Mereka bahkan satu atap sejak zaman putih abu-abu. "Iya deh iya... aku kenal. Dia temen SMA. Sekarang juga bareng di kampus. Kan, Papa juga tahu kalau dia anak BEM. Ada apa sih emangnya, Pa?" Kerupuk yang ia makan terasa seret di tenggorokan. Melihat Ari sedang minum, Emil langsung melambai. "Pa, minum," pintanya. Ari menuang air putih ke dalam gelas. Dibawanya menuju ke tempat Emil tiduran, di depan televisi yang mati. "Orang tua kok disuruh-suruh," dumel Ari, meski ia tetap saja melakukannya. Lalu, ditatapnya anak gadis kesayangannya. "Lucky, kapan hari pernah datang nemuin Papa ke sini. Urusan tugas yang belum selesai. Nggak tahu kenapa, dia nyinggung kamu. Katanya kenal baik sama kamu," katanya kemudian. Emil tertawa sumbang dengan cerita Ari soal Bejo. "Nyinggung gimana maksudnya, Pa?" "Tanya biasa aja." Tidak ada penjelasan apa pun? Menyebalkan! *** Hari ini jadwal Emil hanya siang saja. Ada sedikit waktu untuk menonton gosip pagi yang ia nikmati sambil menepuk-nepuk p****t si kembar di rumah kakak ipar. Akhirnya listrik menyala sekitar pukul tujuh pagi. Iko malah belum pulang sejak mengantar Emil ke rumah kemarin. Kalau sudah begini, biasanya Emil akan diantar kakak terkeceh sepanjang garis khatulistiwa, atau naik sepeda motor milik kakak ipar tercantik di hati Kak Rey untuk berangkat kuliah. Emil kadang-kadang membawa motor sendiri kalau tidak ada yang bersedia mengantar. Naik sendiri bikin males kalau macet, katanya. "Uh... heeh." Si kembar sedang dibaluri minyak telon oleh Sila. Tangannya ikut memainkan p****t yang gembil. Emil yang duduk menyaksikan, tak kuasa untuk menggelitiki ketiak tanpa bulu si kembar. Emil jadi membayangkan jika ia nanti memiliki anak kembar, Satu saja, sudah sangat menyenangkan. "Kak, aku juga pengen cepet-cepet punya beginian deh!" kata Emil gemas. Direbutnya paksa mainan si kecil hingga gadis manis berwajah tiruan Rey itu menangis. Kalau yang laki-laki mirip dengan Sila wajahnya. Entah mengapa jadi bertukar posisi begitu. "Ini bukan mainan, Mil. Ini amanah. Kalau cuma buat mainan, beli aja sono boneka yang dimainin Gigi di tv tu. Boneka apa gitu namanya," nasehat Sila. Emil merengut kesal. "Sayang, aku berangkat dulu ya?" Rey berjalan masuk dengan pakaian rapi. Sudah waktunya dia bekerja. Karena rumah mereka hanya sebatas tembok saja, sudah menjadi makanan sehari-hari kalau pergerakan kedua sejoli itu berputar-putar di rumah Iko dan rumah Emil. Enak kali ya kalau jodoh deket. "Eh, kamu di sini ternyata Mil? Dicariin Papa dari tadi." Rey baru sadar jika ada adiknya duduk bersama Sila. Berarti Rey tak sadar juga ada penonton saat ia mencium bibir istrinya, kemudian beralih ke p****t anaknya yang sedang tengkurap ingin merangkak. "Jangan main sosor di depanku dong, Kak. Udah tahu jones begini pakai dipamerin. Galon nih. Galon akunya, nggak ada yang cipok!" erang Emil frustrasi dengan adegan syahdu mahdu di depannya. Hatinya menjerit tak terkira karena rasa iri tak tertahankan. "Biarin." Semakin diusap-usapkan hidungnya ke p****t gembil anaknya. "Ih, p****t dedek jangan dimainin terus. Ntar ingus ikut nempel loh! Kasihan masih kecil, Kak. Banyak kuman yang nempel." "p****t juga p****t anak siapa, kenapa kamu yang repot? Lagian p****t siapa lagi yang mau diginiin? Kalau jatah Sila kan udah semalem. Ya kan, Sayang?" godanya pada sang istri. Sila membalas dengan cubitan malu-malu. Dasar! mesra-mesraan nggak tahu tempat banget, kan? Emil bisa apa kalau begini? "Dicariin Papa, tuh.Buruan pulang sono! Mau dikawinin kayaknya kamu, Dek!" "Hahaha." Emil tertawa sumbang. Mengabaikan kedua pasangan aneh yang malah main cubit-cubitan, sementara anak kembarnya merangkak ke mana-mana, Emil melesat pulang. *** "Papa tanya sekali lagi, Mil. Kamu kenal sama Lucky? Sejauh apa hubungan kalian?" Sebuah pertanyaan menyambut Emil begitu masuk ke ruang tamu, dan bertemu kedua orang tuanya. "Kenal, Pa. Cuma sekadar teman biasa aja, nggak ada hubungan apa-apa. Kenapa?" tanyanya bingung. "Barusan dia datang, meminta restu sama kami untuk dekat denganmu. Bahkan, dia juga melamarmu sebagai bukti keseriusannya." Melamar? Dilamar? Sama Bejo?Tuhan... cobaan apa yang harus Emil hadapi ini? "Tapi, Pa... aku beneran nggak ada hubungan apa-apa sama dia. Sumpah demi Allah, Pa." Emil berusaha membela diri. "Tidak mungkin kalau tidak kenal, tapi dia berani melamarmu, Mil. Sikap jantan seperti itu Papa akui sangat terkesan. Terlebih dia juga baik, sepertinya," ungkap Ari. Bukan harta, bukan pula jabatan yang Ari harapkan dalam menerima pendamping untuk anaknya. Sikap yang baik, dan bukti keseriusanlah yang menjadi dasar ia menentukan. "Papa kolot, ih. Aku masih kecil gini kok main mau dinikahin aja. Ini udah bukan zaman Siti Murjaya yang dinikahin muda. Masa Papa tega banget, nggak biarin aku raih cita-cita dulu. Kan, aku juga mau cari kerja, berkarir gitu loh, Pa." "Papa tahu kamu masih kuliah. Lucky juga bilang nggak akan buru-buru. Semua terserah kamu, Mil. Kalau memang kamu punya pilihan sendiri, Papa bisa pertimbangkan. Papa juga belun kasih jawaban ke dia. Ini bukan soal Papa ngekang kamu, Mil. Papa tahu bagaimana situasi di luar sana. Menyegerakanmu untuk berumah tangga, salah satu langkah kami agar ada seseorang yang akan bertanggung jawab untukmu. Bukan berarti pula, kami sudah tak mampu atau tak ingin memenuhi tanggung jawab atas kamu. Lagipula, daripada kamu pacaran dan salah tujuan, lebih baik segera menikah. Toh, menikah tidak berarti mimpimu untuk berkarir akan terhambat. Izin saja sama suamimu nanti. Bagaimana? Kamu pikir dulu. Lucky anak baik. Atau kamu punya pilihan lain, mungkin." Pilihan lain? Memangnya ada? Iko? Sial! Emil dan Iko kan saudara. Mana mungkin juga Emil menikah dengan sahabat brondong itu? "Ehm... iya, Pa. Aku udah punya pilihan sendiri. Kita bicarain entar aja ya, aku kebelet ke WC." Dengan alasan konyol itulah, Emil segera melesat pergi mengurung diri di kamar. Setiba di kamar, Emil malah menangis meratapi nasibnya yang dilamar Bejo. Sudah cukup ia meraung akan rasa iri karena kejombloannya. Kenapa malah disuguhi lamaran mendadak juga? Tunggu dulu. Emil mengusap kasar air matanya. Ia mendapatkan setitik cahaya. Ari belum menerima lamaran Bejo. Andaikata Emil punya pilihan sendiri, berarti ia punya alasan menolak Bejo. Tetapi siapa? Deborah? Lah, dia kan betina ya? Emil butuh Iko. *** Iko pulang. Hati Emil riang. Menjelang malam, gadis cebol itu pergi ke rumah Iko untuk berkeluh kesah. Kamar Iko yang terbuka memudahkan Emil untuk masuk. "Kenapa? Muka kucel aja dateng. Pas seneng aja kamu lupa, Mil!" kesal Iko yang ditanggai Emil dengan kekehan. "Kita kan preennn... susah senang sama-sama," bela Emil garing. "Terserah deh. Mau ngobrol apaan?" Mendapat rambu hijau dari Iko, Emil duduk mendekat ke kasurnya. Emil memang terbiasa duduk atau tiduran di kasur Iko, kadang juga berduaan. Tetapi sumpah! Mereka tidak sampai melakukan apa-apa. "Bejo lamar aku ke Papa." kata Emil memulai. "Whaaaat?" Iko aja kaget, apalagi Emil. "Tuh anak beneran serius sama kamu, Mil. Cinta mati juga. Kurang apa sih dia?" Ingin rasanya Emil mencekik jempol Iko karena malah mendukung lamaran Bejo atas dirinya. Sepanjang malam Iko malah mengoceh tentang keuntungan menerima Bejo. Kebaikan dan reputasi Bejo. Sifat Bejo yang harus Emil tahu. Bahkan sampai Iko tertidur, Emil cuma melongo sambil mengusap air mata diam-diam. Kenapa kesannya Emil adalah perawan yang tidak bisa apa-apa, kemudian diwejangi buat nikah sama tetua adat ya? Emil juga ingin menikah sama orang yang ia cinta. Biar kata orang nggak pinter, nggak cakep, atau pun gembel, yang penting hati Emil dan dia klop. Sepertinya semua orang menyudutkan Emil untuk menerima Bejo. Kalau begini, Emil bertekad untuk segera cari calon. Tetapi cari di mana? Anak Deborah kira-kira ada yang cowok nggak ya? Biar Emil ajak nikah. Dengan langkah pelan, Emil keluar dari kamar hendak menuju kandang Deborah, kucing manis berbulu halus yang barusan melahirkan. Begitu keluar kamar, ia melihat ada badan tegap meski tidak berjumlah enam kotak di perutnya, sedang berdiri sambil minum air putih. Itu kan... Bang Asdos. Ehm... kira-kira kalau minta tolong tuh orang buat cariin calon buatku, bisa nggak ya? Atau minta dia pura-pura jadi calonku aja gimana? Entar aku tawarin buat bantu selesain semua tugas rekap nilainya. Ah, pasti dia mau. Tiba-tiba Emil merasa takut. Nyalinya mendadak ciut dan ia malah menangis ketakutan saat menyelinap masuk ke dalam kamar Dika. Tetapi... lebih baik coba dulu. Daripada tidak sama sekali. ____________
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD