Tidak!
Kenapa Dika harus peduli pada Ratu Mencret itu? Kenapa pula ia harus khawatir pada keselamatan Cebol c***l itu? Dan kenapa juga Dika sekarang mengikuti motor yang membawa Emil?
Sialan! Demi langit dan bumi, ini tidak penting sekali sebenarnya. Tetapi kenapa Dika malah melakukannya? Apa ada setan nasi goreng yang tiba-tiba merasuki jiwa raganya?
"Kak, kok belok ke sini? Nggak anterin aku pulang?" Elah .... Dika lupa kalau ada makhluk menyebalkan berkali lipat dari si Cebol, sedang duduk di boncengan motornya. Lisa juga bikin runyam saja seharian ini. Sejak dari kampus, Lisa memaksa ikut Dika ke rumah singgah. Di sana gadis itu malah mengeluh sana-sini dan menempeli Dika terus menerus. Rencana untuk menginap di sana pun gagal.
Motor yang dikendarai Bejo berhenti di tepi semak-semak. Keadaan sekitar sepi, jelas saja karena jalan menuju komplek perumahan. Lagipula hari memang sudah larut. Motor Dika juga ikut berhenti, dengan mengambil posisi sedikit agak jauh di belakang agar tidak ketahuan.
"Kamu pulang naik taxi saja. Aku buru-buru mau pulang ke rumah," kata Dika beralasan. Sebelum Lisa memprotes, ia sudah lebih dulu menjauh dari motor untuk menengok jalanan, apakah mungkin masih ada taxi. Sayangnya, karena hari sudah hampir tengah malam, kemungkinan taxi lewat pun juga sedikit. Baiklah, Dika mengalah saja mengantar Lisa.
Tetapi ... Dika malah berasumsi sendiri. Bagaimana kalau Cebol dan pacarnya berbuat yang ‘iya-iya’? Jangan-jangan mereka akan mampir ke semak-semak dekat sini, mengingat motor yang memboncengnya juga lewat jalan ini. Apa badannya tidak apa-apa kalau dia tiduran di semak belukar?
Berbagai spekulasi melayang-layang di pikiran Dika. Salah makan apa sih di rumah singgah tadi? Ah, Dika kan memang belum makan.Makanya kelaparan dan beli nasi goreng di pinggir jalan tadi. Nah, kalau begitu apa yang salah sama otaknya? Jangan-jangan jiwanya tertukar dengan roh cewek baper saat melewati terowongan Casablanca. Ya, mungkin itu sebabnya perasaan Dika jadi sensitif.
***
"Makasih, Kak. Nggak mau mampir dulu?" tawar Lisa yang sudah turun dan berdiri di depan pintu gerbang rumahnya. Memang, pada akhirnya Dika mengantar Lisa pulang.
"Tidak. Aku langsung pulang saja." Tanpa melihat lebih lama pada gerakan tangan Lisa yang melambai-lambai, Dika segera pergi. Pikirannya sudah tidak fokus pada jalanan. Terlebih saat melewati semak-semak yang malah mengingatkannya pada... astaga!
"Ko, kamu di mana?"
Dika mendadak menghentikan motornya, agak jauh dari rumah Lisa. Ia menelepon Iko. Biasanya Iko tahu sekali apa yang dilakukan Emil.
"Aku di kampus, Mas. Nginep, besok pagi baru pulang. Kenapa?"
"Nggak ada apa-apa. Eh, kamu tahu Emil di mana? Aku perlu memastikan nilai yang direkap sudah selesai apa belum."
Dasar pembohong! Bilang saja kalau khawatir sama Cebol, pakai alasan tanya rekapan nilai segala.
"Dia ikut aku ke kampus. Perlu aku sampein nggak ke Emil?" Dika diam sejenak. Perlu. Tanyakan apa punggungnya kesakitan setelah 'bermain' di semak-semak? Tanyakan juga dia tidak lupa bawa balon rasa buah-buahan yang tempo hari kan? Apa suaranya masih bisa berteriak kencang lagi?
"Nggak usah. Besok saja biar aku temui dia," jawab Dika setelah cukup erlama terdiam.
Di kampus sama Iko? Dika yakin jika gadis licik itu sudah memanipulasi izin ke orangtuanya, untuk ikut Iko ke kampus. Dengan wajah sok lugunya, mungkin dia sudah menipu Iko agar tidak berada di sampingnya, sementara Iko sibuk dengan kegiatan. Bagus! Dika perlu bertepuk tangan dengan analisa yang ia asumsikan.
Ya sudahlah, kalau tahu ada Iko yang nanti bertanggung jawab karena membawa bocah Cebol itu, bukankah sebaiknya Dika tidak khawatir berlebihan? Lebih baik pulang dan tidur di rumah saja. Kenapa malah bingung sendiri dengan yang dilakukan oleh Cebol? Apa Dika merasa... tidak rela. Makanya ia marah dan kesal?
***
Pukul empat sore. Jam tugas Dika sudah berakhir. Pak Ari absen hari ini, entah karena apa. Jadilah Dika menggantikan tiga kelas yang diampu Ari. Selama Dika mengajar di kelas Emil, sama sekali tidak terliha panampakkan gadis Cebol itu.
Tunggu.
Apakah mungkin Emil ketahuan telah bermain di semak-semak semalam oleh Om Ari, sehingga hari ini ia disidang habis-habisan? Atau sedang kelelahan akibat insiden di semak-semak smalam? Mengingat badannya yang kecil, mana sanggup dia mengimbangi daya tahan laki-laki itu. Ah, memangnya mereka benar-benar melakukannya di semak-semak? Kenapa Dika jadi memikirkannya sih? Apa karena Emil adik dari adik iparnya, sehingga menjadi bagian keluarga yang harus dilindungi? Ya, benar seperti itu.
***
Pagi-pagi sekali, Dika bertemu Ari—yang terlihat biasa saja—menyapanya sebelum berangkat ke kampus. Bahkan tidak tampak ada raut kecewa, marah atau menyesal. Padahal Dika sudah memprediksi bahwa Ari akan meletupkan amarah pada anak gadisnya.
"Bagaimana kemarin, Dik?" tanya Ari saat keduanya sampai di parkiran kampus. Sengaja Dika mengikuti mobil Ari saat perjalanan tadi.
Dika mengikuti mobil Ari selama perjalanan ke kampus, sehingga tiba bersamaan. Ia mengulas senyum ramah, dan menjawab, "Lancar, Pak."
Setelah itu, Ari berlalu pergi, bersimpangan arah dengan Dika. Jika Ari pergi ke ruangannya, Dika menuju tangga Fakultas Ekonomi, hendak melihat pengumuman pendaftaran beasiswa S2.
"Eh!" seru Dika terkejut.
Seseorang menarik Dika ke bawah tangga begitu ia melewati tangga yang menghubungkan ke lantai dua gedung yang ia tuju.
"Kenapa?"
Yang ditanya malah cengengesan. "Kok kenapa sih, Kak? Masak aku nyapa nggak boleh?"
Ah, gadis ini. Dika malas sekali berhubungan dengannya.
"Gimana sama pertanyaanku kemarin? Papa nanyain keseriusan kamu loh?"
Dika menghela napas berat. Pertanyaan itu lagi. Padahal Dika tidak pernah menjanjikan apa pun pada orangtua Lisa.
"Lis, dengar, aku tidak pernah menganggapmu lebih dari seorang adik. Sejak dulu, kamu hanya teman yang aku anggap seperti adikku sendiri. Jadi, jangan mengasumsikan hal yang tidak-tidak," sanggah Dika setengah membentak.
"Tapi kenapa? Karena kamu ada hubungan sama cewek yang bawa kondom kemarin? Cewek itu hamil dan minta kamu tnggung jawab, makanya kamu nolak aku.Iya?"
Buset, Dika sampai mengerjap dengan tuduhan Lisa yang tak berakal dan beradab sama sekali.
"Bukan seperi itu, Lis. Tolong... mengertilah. Aku hanya ingin fokus pada masa depanku. Sejak awal sudah aku katakan kalau kita tidak ada hubungan apa-apa."
Entah dorongan dari setan mana, tiba-tiba saja Lisa menarik kerah baju Dika dan mendekatkan bibirnya ke bibir laki-laki itu. Dika yang kaget, langsung mendorong tubuh Lisa hingga punggungnya menabrak tembok. Hampir saja bibir Dika kehilangan keperjakaan. Hanya tinggal satu centimeter saja, untung sinyal dari otaknya langsung bertindak.
"Jangan merendahkan dirimu sendiri seperti ini, Lis." Setelah berkata begitu, Dika meninggalkan Lisa yang menangis sesenggukan.
***
Dika mimpi buruk. Entah bagaimana ia bisa bermimpi kejatuhan semangka yang menggelinding dari tebing, tepat di atas kepala. Rasanya sakit dan membuatnya kaget, hingga terbangun di tengah malam ini. Napas Dika memburu. Buru-buru ia turun dari ranjang dan mengambil air minum ke dapur. Setelah berhasil meneguk air dingin dan menenangkan diri, Dika memutuskan segera kembali ke kamar. Begitu melewati kamar Iko, terlihat pintunya terbuka. Padahal seingat Dika, tadi tertutup rapat. Mengabaikannya, Dika masuk ke dalam kamarnya sendiri.
Tubuh Dika sudah terbaring di atas kasur. Selimut yang mengumpul di sisi samping ia tarik untuk menutupi tubuhnya. AC malam ini bekerja sangat maksimal. Tapi ada sesuatu yang mengganjal. Selimut Dika terasa berat saat ditarik. Begitu menoleh, muncul wajah sembab milik Cebol. Kalau bukan karena Dika hafal kaus bertuliskan ‘LOVE BANANA’ di bagian depannya, mungkin Dika kira wajah itu titisan setan. Lihat saja penampilannya, ditambah suara tangisnya yang menyayat hati.
"Turun! Ngapain kamu di sini?!"
"Bang ..." rintih Emil.
Dika segera meminta Emil pergi. Tetapi Emil malah mencekal lengan Dika.
"Bang, nikahin aku mau nggak?"
WHAAAAATTTT???
_______________