Pilihan yang buruk.
Harusnya tadi Emil tidak ikut Iko menginap di kampus. Kalau bukan karena melarikan diri dari cengkraman Bang Asdos bermata empat itu, Emil tidak akan pernah mau menempelkan sekujur tubuh berbagi tikar dengan sepuluh orang yang sudah seperti ikan asin sedang dijemur. Berjejer-jejer tanpa ragu.
"Ko, ini tidurnya begini?" tanya Emil pada Iko yang baru masuk ke dalam ruangan (sanggar).
"Iya. Kan udah aku bilang kalau entar tidurnya begini. Kamu maksa ikut sih." Emil mendesah pelan. Iya juga. Ia sendiri yang memaksa Iko mengajaknya ke acara kegiatan Kepanduan yang Iko ikuti. Hari ini sedang ada kegiatan ‘PENERIMAAN TAMU RACANA’ di kampus, penerimaan anggota baru di Kepramukaan.
"Aku belum bisa tidur, Ko. Acaranya udah kelar, kan? Jalan-jalan yuk!" ajak Emil. Sudah pukul sepuluh lewat setengah jam, Emil belum juga mengantuk.
Tahu kalau Iko galau menjawab, Emil mulai bergoyang GPU, gosok pijat urut. Iko akhirnya setuju, meski Emil tahu sahabatnya itu sangat terpaksa.
"Yuk!" ajak Iko.
Emil segera melompati jiwa-jiwa yang tergeletak tak berdaya di sekelilingnya dengan beberapa kali lompatan.
***
Iko mengajak Emil ke pinggir lapangan dekat kantin. Kebetulan ada anak BEM dan seni bela diri yang juga sedang mengadakan acara malam di kampus, sehingga suasana kampus menjadi lebih ramai.
"Kampus kalau malem jadi agak horor ya, Ko?" Emil menyapu pandangan melihat sisi gelap tempat ia menimba ilmu.
“perasaanmu aja kali. Emang sih, di sini dulu bekas kuburan. Tapi, udah pada dijinakkin sama Mbah Dul, tukang berburu jin buat dimasukkin botol.”
“syukur deh. Udah aman sekaran.”
"lagian, kamu ngapain sih, ngotot ikut ke sini? Om Ari nggak marah kamu keluyuran malem-malem?"
Emil tahu Iko penasaran karena keadaan langka jika Emil mendesak untuk memasukkannya di dalam tas, agar ikut terbawa ke tempat ini.
"Kabur dari abangmu. Capek aku disuruh ngerjain laporan mulu. Tangan mau main Hay Day jadi keganggu buat ngetik. Entar jariku nggak seksi lagi, gimana?" Sebenarnya tugas Emil sudah hampir selesai. Tetapi karena ada makalah yang nyelip saat angkut-angkut di kamar Dika, jadinya ia ketambahan pekerjaan. Gila! Emil jadi mirip babu sungguhan untuk mengerjakan tugas tersebut.
"Itu kan udah tanggung jawab kamu, Mil," ucap Iko.
Iya sih... tetapi kok Emil ngerasa nggak selesai-selesai ya? Apalagi tiap hari ditanyai terus sudah selesai belum. Emil jadi seperti dikejar-kejar rentenir. Kalau dikejar sama jodoh, pasti Emil langsung berhenti. Lah ini... dikejar sama laki orang.
"Kak Iko, entar lokasinya jadi di taman belakang?" Seseorang datang menghampiri Iko dan Emil.
Emil mengetahuinya sebagai salah satu teman Iko. Berhubung Iko ketua panitia, sudah jelas kalau ia akan dimintai pendapat.
"Mil, aku tinggal bentar boleh kan? Kamu jalan-jalan aja kalau bosen. Aku di deket kantor BEM sama anak-anak, kalau mau cari aku.” Iko menepuk pucuk kepala Emil saat berpamitan.
Emil hanya bisa pasrah melepas kepergian Iko. Mau merengek pada Iko untuk tetap menemaninya, jelas tidak mungkin. Teman-teman Iko yang lain pasti sudah menunggu. Ya sudahlah. Apalah Emil?Cuma remahan kue nastar sisa lebaran. Nggak penting juga buat Iko. Setidaknya untuk saat ini.
***
"Kita makan di pinggir jalan, nggak keberatan kan, Mil?" tanya Bejo.
Gara-gara Emil ditinggal sendirian oleh Iko, jadilah kuntilanak bernyawa itu melompat-lompat di sekitar lapangan, hingga ditemukan oleh makhluk paling baper bernama Bejo, yang juga sedang ada kegiatan di kampus malam ini. Kebetulan yang mengerikan. Karena begitu melihat makhluk tersebut, perut Emil langsung melilit karena kelaparan akut. Padahal, tadi gadis cebol itu sudah makan satu ember bersama anak-anak lain, teman Iko. Yah, namanya juga makan bersama, jelas porsi masing-masing akan kebagian sedikit.
Entah karena Emil terpojok akibat lapar atau memang karena takut kebosanan, ia terima saja ajakan Bejo untuk makan di luar. Satu-satunya kendaraan hanyalah motor milik Bejo. Emil pun bersedia, dengan amat terpaksa.
Hingga, di sinilah mereka. Duduk berdua menunggu pesanan nasi goreng. Makan di pinggir jalan memang sudah lumrah buat Emil. Iko maupun Rey, sudah sering mengajaknya makan di tempat yang paling dinikmati oleh kantong para kerewan-kerewati saat tanggal tua. Walau murah,makanannya enak. Emil suka. Jadi, tidak masalah juga kalau Bejo mengajaknya ke mari. Lagi pula, Emil pemakan segala.
Rasa lapar Emil sedang berada di level tinggi.Nasi goreng adalah makanan berat yang ia pilih dibanding bakso, sate, mi ayam, atau bubur kacang hijau. "Nggak masalah," jawab Emil.
Bejo senyum-senyum sejak p****t keduanya sama-sama menempel di kursi. Entah apa yang Bejo lihat di wajah Emil. Mungkin Kang Sule sedang siaran di kening Emil.
"Aku senang kamu terima ajakanku, malam ini. Mungkinkita memang jodoh ya, Mil," kata Lucky alias Bejo penuh percaya diri.
“Hem, enggak usah berharap."
Bejo masih saja tersenyum, sementara Emil yang jengah terus dipandangi seperti itu, buru-buru menoleh ke samping menatap p****t Abang nasi goreng, yang bergoyang saat menggoreng. Pantatnya tepos, dagingnya sedikit.Lebih berisi punya Dika. Kok Emil tahu kalau punya Dika lebih berisi? Kan Emil pernah pegang, walau sekali.
"Kamu kenapa selalu nolak aku sih, Mil?" tanya Bejo di saat keduanya menunggu pesanan. Bejo penasaran juga. Sekian banyak perempuan yang mengejarnya, kenapa Emil tidak terpengaruh sama sekali? Padahal ia sudah yakin bahwa dirinya punya kriteria bagus untuk menjadi pendamping.
"Aku nggak suka, ya nggak suka, Ky. Lagian namanya perasaan nggak bisa dipaksain," tutur Emil bijak memberi pengertian. Celana dalam aja kalau nggak muat tapi dipaksain masuk kan rasanya sakit, sesek, dan bikin kejepit sana sini. Apalagi ini perasaan. Lebih sensitif keadaannya.
"Tapi kan semuanya bisa dibangun pelan-pelan, Mil. Aku serius sama kamu. Kenapa nggak coba dulu?" tawar Bejo. Emil makhluk langka. Bejo sudah terlanjur jatuh hati pada gadis itu. Sejak sama-sama SMA. Apa kurang lama lagi ia harus mengejar Emil?
"Aku nggak minat buat pacaran, Ky. Udah ya, nasinya udah dateng. Kita makan aja. Aku udah laper," sela Emil cepat, tak ingin mual dengan pembahasan perasaan gagal move on Bejo saat makan malam gratisan ini.
Nasi goreng pesanan mereka sudah datang. Tanpa banyak bicara, Emil langsung melahapnya. Sedangkan Bejo, ia tampak diam sambil memegangi dadanya yang terasa sesak. Beberapa menit kemudian
Bejo pun mulai menikmati nasi gorengnya.
Nasi di piring sudah hampir habis, tetapi Emil masih ingin lagi. Dengan nasi masih dikunyah, ia berjalan menghampiri abang nasi goreng untuk menambah porsi.
"Bang, nasinya satu. Banyakin sawinya."
Suara itu... sepertinya Emil kenal. Emil yang sudah menempel di sebelah kanan abang penjual nasi goreng,langsung menoleh ke sisi kiri. Matanya terkejut, sampai-sampai Emil tersedak nasi goreng yang masih ia kunyah. Untung saja abang nasi goreng langsung menyerahkan teko air putih pada Emil dan langsung ia kucurkan ke mulutnya yang terbuka, dengan terlebih dulu mendongakkan kepala. Cara ini Emil pelajari dari Iko. Tidak sopan sebenarnya, tapi tak apalah.
"Kamu ngapain malem-malem kelayapan?" Dika heran juga dengan keberadaan Cebol di jam yang rawan untuk gadis ceroboh sepertinya.
"Abang juga ngapain malem-malem beli nasi di sini?" tanya Emil balik setelah meneguk air putih.
"Kak, udah pesennya? Kita mau duduk di mana? Kotor semua kayaknya." Seorang perempuan yang juga Emil kenal suaranya, muncul dari balik punggung Abang.
"Kamu duduk di sana saja. Aku masih pesan." Dika menunjuk ke arah kursi satu-satunya yang kosong. Ingat, satu-satunya. Apa ia akan duduk berpangkuan sama nenek songong itu?
Emil merasa tak rela melihat kedua makhluk itu di sekitarnya. Berpangkuan pula? Ingatkan Emil untuk memejamkan mata saat makan nanti, agar matanya tidak terkontaminasi.
Melihat Emil malah geleng-geleng kepala dan memejamkan mata, Dika langsung menyentil hidung Cebol. "Kamu ngapain, Mil!"
"Makan.Masak ke sini mau ngamen," jawab Emil setengah kesal. Siapa juga yang buta, datang ke mari kalau tidak makan ya buat apalagi? Ngamen? Mending nyanyi di kamar aja.
"Sama siapa?" tanya Dika lagi.
Emil menunjuk Bejo dengan gerakan dagu.
Dari jaraknya berdiri, Dika tahu bahwa laki-laki yang bersama Emil adalah orang yang sam dengan yang pernah dua kali dijumpainya dulu.
Jadi benar kan, dugaan Dika selama ini. Bahwa Cebol dan pacarnya memang 'liar'.
"Papa kamu tahu? Apa kata orang kalau tahu Pak Ari punya anak gadis pacaran sampai jam segini? Dasar! Bikin malu saja," decak Dika kesal.
Disalahkan seperti itu, Emil melirik gadis yang bersama Abang. Rupanya Dika juga lupa, kalau ia sendiri juga membawa anak gadis di jam seperti ini. Menurut Emil, sudah tentu Dika ada main dengan perempuan itu.
Emil batal buat nambah. Mengabaikan tatapan tajam Dika, ia berjalan ke arah Bejo dan memintanya buru-buru pulang. Untungnya Bejo sudah selesai makan, meski masih menyisakan piring dan sendoknya. Tanpa berpamitan, Emil ngeloyor pergi ke motor Bejo yang diparkir, sementara pemiliknya masih membayar nasi goreng yang telah dimakan.
"Lis, kita pulang sekarang!"
Samar-samar Emil mendengar suara laki-laki itu memaksa kekasihnya pulang, saat motor Bejo mulai meninggalkan saat nasi goreng.
"Mil?" suara Bejo menyadarkan Emil. Motor Bejo tiba-tiba berhenti di depan sebuah toko yang tutup. Emil tidak akan dilecehkan kan?
"Kenapa berhenti di sini?" tanya Emil bingung dan sedikit takut.
"Aku serius sama kamu. Kalau kamu nggak mau nerima aku sebagai pacar, aku akan datang langsung menemui Pak Ari dan meminta untuk melamarmu."
WHAAAAAAAATTTTTT???
______________