"Kenapa Abah nggak jualan hewan ternak lagi? itu kan untungnya sangat besar Mbah!" terdengar suara Ranti yang bertanya kepada bapaknya.
"Iya memang! jualan hewan ternak untungnya sangat menggiurkan, namun bahayanya juga sangat mengerikan." jawab Ambu Yayah mewakili suaminya.
"Iya juga sih! kalau Ranti laki-laki, Rantilah yang akan berjualan berkeliling, menggantikan Abah yang sudah tua. kadang Ranti merasa sedih, ketika Abah yang sudah tua harus bersusah payah menafkahi kita." ujar Ranti mengungkapkan isi hatinya.
"Jangan seperti itu! bagi Abah, anak laki-laki atau perempuan, itu tidak jadi masalah. yang terpenting kamu sabar dengan apa yang menimpa keluarga kita, jangan sampai menambah beban kepada orang tua, yang sedang berada di bawah." nasehat Mbah Abun malam itu.
"Iya Abah! Maafkan Ranti kalau Ranti belum bisa menjadi yang terbaik buat Abah dan Ambu, belum bisa membahagiakan kalian berdua." ujar Ranti sambil menundukkan pandangan, dia merasa sedih dengan apa yang menimpa keluarganya.
"Sudah! mendingan kita sekarang tidur, mengumpulkan tenaga kembali untuk membuat anyaman besok." ajak Mbah abun.
"Iya abah. Ranti juga sudah ngantuk," jawab Ranti sambil menutup mulutnya yang menguap.
Akhirnya mereka pun pergi ke kamar masing-masing, untuk menyambut mimpi indah. karena hanya dengan itulah mereka mendapat kebahagiaan.
Sejam berlalu, Bah Abun yang hendak mengungkapkan niatnya mengikuti jejak Mang sarpu. dia belum bisa memejamkan mata, dia mulai bangkit lalu keluar dari kamarnya, menuju kamar Ranti. setelah berada di depan pintu kamar perlahan dia menyikap gorden penutup kamar itu. Terlihat Ranti yang remang-remang ,dia sudah tidur dengan lelap. terdengar dengkuran halus yang keluar dari bibirnya. melihat anaknya yang seperti itu, rasa sedih menyeruak dalam hati Bah Abun. karena anaknya sudah sedewasa ini, tapi dia belum bisa menjadi yang terbaik untuk Putri semata wayangnya itu.
Setelah merasa anaknya sudah tidur, dia pun kembali ke kamarnya. dengan perlahan dia membangunkan Ambu Yayah yang sudah tertidur.
"Ada apa Abah? sudah tua juga masih mau gituan?" Dengus ambu yayah sedikit kesal karena baru saja ngeleyep dia sudah di ganggu.
"Yeeeey!" jawab Bah Abun yang merasa geli ketika mendengar istrinya berucap seperti itu.
"Terus mau apa malam-malam seperti ini! Abah mencolek-colek ambu?" tanya Abu Yayah dengan pelan.
"Abah mau ngobrol serius dengan ambu."
"Dari tadi juga sudah ngobrol kan, besok sajaa! Ambu ngantuk nih!" tolak Ambu Yayah yang memang benar dia sudah sangat merasa ngantuk.
"Sebentar saja, ambu! ini penting buat masa depan kita." paksa Mbah Abun sambil menarik tangan istrinya, agar dia duduk.
"Iiiiiiiiihhh Abah apaan sih!" Gerutu Ambu Yayah, namun dia tetap duduk mengikuti kemauan suaminya.
"Abah mau ngobrol Serius! kalau besok, Abah rasa waktunya tidak tepat, karena ada anak kita." jelas Bah Abun
"Mau ngomong apa? Ambu dengerin!" jawab Ambu Yayah sambil mata tetap terpejam, meski dalam keadaan Duduk.
"Cuci muka dulu sebentar, biar kita bisa ngobrol dengan serius."
"Nggak perlu, Abah! Ambu dengar kok!" jawab Ambu Yayah sambil membuka matanya, kemudian menatap ke arah suami yang terlihat remang-remang. karena kamar mereka tidak memakai lampu, hanya mengandalkan sinar lampu yang mereka simpan di tengah rumahnya.
"Serius abah mau ngobrol!" ungkap Mbah Abun mengulang kembali ucapannya.
Mendengar keseriusan yang diucapkan oleh suaminya, Abu Yayah pun bangkit dari tempat duduk. kemudian dia pergi ke dapur, lalu mengambil air dengan gayung yang terbuat dari batok kelapa, untuk mencuci muka terlebih dahulu, agar dia kembali segar. Meski rasanya sangat malas namun Ambu Yayah tidak mau mengecewakan suaminya, yang terlihat serius ingin berbicara dengannya. setelah selesai mencuci muka, dia kembali ke kamar, disambut oleh senyum Mbah Abun yang terlihat bahagia.
"Mau ngobrol apa Abah?" tanya Abu Yayah dengan suara pelan, takut mengganggu tidur anaknya.
"Abah belum menceritakan semua kejadian yang Abah alami, ketika Abah pergi dari rumah untuk berjualan penanak nasi."
"Terus?"
Mbah Abun pun mulai menceritakan kembali, cerita yang dialami ketika dia berjualan ke kampung Sukaraja. Yang berbeda sekarang dia menceritakan sedetail detailnya, tanpa ada yang terlewat sedikitpun, agar orang yang mendengar kisahnya bisa mengerti dan paham dengan cerita yang ia sampaikan.
"Jadi begitu, Ambu. ceritanya!" pungkas Bah Abun mengakhiri pengalamannya.
"Jadi abah mau mengikuti jejak Mang sarpu? yang jauh dari sang pencipta. Sudahlah, Abaaah! hidup kita sudah susah, jangan dibuat susah lagi." nasehat Abu Yayah yang tidak setuju dengan apa yang diniatkan oleh suaminya.
"Apa Ambu nggak sedih, melihat anak kita yang hanya memakai baju itu-itu saja. dia hanya memiliki baju beberapa setel. apa Ambu tega membiarkan Abah terlunta-lunta berjualan, hanya untuk mengumpulkan uang recehan. abah mau mencoba peruntungan dengan jalan pintas. karena dengan jalan yang biasa, hidup kita begini-gini saja. tidak ada kemajuan. yang ada, hanya kemunduran dan kemerosotan." tegas Bah Abun yang sudah membulatkan tekad, dari awal ketika mengobrol dengan Mang sarpu.
Ditanya seperti itu, Ambu Yayah hanya menarik nafas. kemudian dia berpikir mengulang kembali memori memori buruk yang menimpanya. ketika dia hendak berhutang di warung tetangga. banyak orang yang mencibirnya, Bahkan tak sedikit yang menghinanya. namun pikiran Jernih ambu yayah masih tersirat, sehingga dia tidak buru-buru mengambil keputusan.
"Apa Abah tega mengorbankan keluarga kita, hanya untuk demi kebahagiaan sementara?" Ambu Yayah balik bertanya.
"Mengorbankan apa, ambu? justru kita akan mendapatkan kekayaan yang sangat melimpah. menurut mang Sarpu, ketika kita pandai mensiasati perjanjian itu, maka kita akan hidup lama, dengan penuh kemewahan. lagian yang mengadakan perjanjian, Abah sendiri. bukan Ambu, bukan Ranti anak kita. Abah lah! yang akan bertanggung jawab dengan semua risiko. itu semua demi siapa? demi kalian berdua! wanita yang Abah selalu sayangi! wanita yang selalu Abah ingin bahagiakan." Mbah Abun dengan semangat meyakinkan istrinya
"Jangan seperti itu Abah! Ambu nggak mungkin bisa hidup tanpa Abah."
"Pahitnya! seperti itu. namun ingat yang Abah tadi bilang, ketika kita bisa mensiasati perjanjian itu, maka tidak ada korban di antara keluarga kita." jelas Bah Abun terus meyakinkan istrinya. Hingga kata-kata yang dikeluarkan hanya itu-itu saja, walaupun sudah diulang beberapa kali.
"Apa Abah nggak apa-apa! kalau suatu saat Abah pulang ke alam siluman, bukan ke alam yang sebenarnya?"
"Alam yang sebenarnya belum tentu Pasti, karena belum ada orang yang kembali dari sana, terus menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, setelah kita dikubur." jelas Bah Abun yang sudah gelap mata, sehingga pelajaran ilmu agama yang dia pelajari sejak kecil, hilang begitu saja. Bahkan berani mengungkapkan hal demikian.
"Ya Allah, Abah! jangan seperti itu. Istighfar bah!" ucap Abu Yayah yang tak setuju
"SUdah Ambu jangan berbelit! setuju apa enggak." tegas Bah Abun yang tak mau berbasa-basi lagi.
Abu Yayah kembali terdiam, dia berpikir untuk mengambil keputusan terbaik. karena walau bagaimanapun lambat laun jalan yang mereka akan pilih, pasti akan menjadi bumerang dalam kehidupannya. namun dia juga tidak bisa menjamin kehidupan suaminya, hidup dengan penuh kesenangan duniawi.
"Bagaimana, kalau ambu setuju! besok pagi-pagi abah mau bertemu Mang sarpu kembali."
"Bingung Abah! Ambu bingung!" desis Ambu Yayah yang berlinang air mata.
"Ambu nggak usah bingung, tugas Ambu hanya menjaga api, ketika Abah bekerja. yang terpenting ambu Jangan tidur. menurut Mang sarpu, kita bekerja hanya satu jam setiap malam, masak menahan kantuk satu jam saja, Ambu nggak kuat." Desak Mbah Abun
"Jangan mbah! Mendingan jangan! nggak apa-apa ambu hidup seperti ini, Ambu sudah senang, ketika Ambu bisa hidup bersama pria yang begitu tanggung jawab, seperti Abah!" tolak Ambu Yayah mengungkapkan isi hati terdalamnya, dia merasa takut ketika kejadian yang menimpa mang sarpu, yang tersesat tidak bisa kembali ke wujud aslinya. alangkah malunya dia, alangkah hinanya dia, di mata tetangga yang sering menggunjingkannya, sering menyebutnya orang bangkrut. Ketika kejadian Mang sarpu menimpa suaminya.
"Ambu! Ambu percaya sama abah! abah nggak mungkin menyusahkan istri Abah. selama hidup Abah tidak pernah meminta apapun dari Ambu, Baru kali ini Abah meminta! itu pun bukan meminta harta, namun meminta persetujuan dan kerjasama.
Sebelum menjawab ucapan suaminya, terlihat Ambu Yayah menarik nafas dalam .seperti dia hendak mengeluarkan sesuatu yang berat baginya.
"Abah! Abah yakin! Abah tidak akan apa-apa ketika suatu saat, jalan yang kita ambil itu menjadi bumerang terhadap Abah sendiri?" tanya Abu Yayah meyakinkan dirinya. memang benar suaminya selama ini begitu baik. Semenjak menikah Mbah Abun tidak pernah menuntut apa-apa. kadang dia juga merasa malu, karena tidak bisa memberikan yang sesuai, dengan apa yang diberikan oleh suaminya.