Aurora terlihat enggan membuka matanya yang terasa berat. Tangannya meraba-raba ke sampingnya mencari ponselnya yang berdering keras karena mendapatkan panggilan.
"Hmmmm, " Jawabnya dengan mata terpejam.
"Aurora! kau di mana?!"
Teriakan khas suara ibunya melengking di telinganya membuat Aurora membuka lebar-lebar kedua matanya. Dia menatap ke sekelilingnya. Aurora baru menyadari tidak berada di kamarnya.
"Ya Tuhan!" teriaknya. "Aaaa! sakit!" keluhnya karena merasa kepalanya nyut-nyutan.
"Aurora!" teriaknya lagi. "Jangan main-main gadis nakal! kamu di mana?"
"Aku tidak tahu, sepertinya di salah satu kamar hotel," jawabnya dengan polos.
"Apa! kamu di hotel? apa kamu sudah gila, gadis nakal!" balas ibunya masih dengan nada tinggi.
"Semalam Crystal mengadakan pesta lajang. Aku mabuk tapi tahu-tahu ada di sini," terangnya dengan jujur.
"Apa kamu bersama seorang lelaki?" tanyanya.
"Aku mabuk, bukan tidur dengan pria," bantahnya.
Aurora memeriksa tubuhnya dan membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Tidak ada bercak darah di sepre. Netranya melirik ke kamar mandi tapi tidak terdengar suara apapun. Aurora yakin dia sendirian di kamar itu.
"Apa kamu masih di sana?"
"Hmmmm," balas Aurora sambil menggaruk-garuk rambutnya yang berantakan.
"Apa kamu tidak ingat hari ini pernikahanmu dengan Matthew?" teriaknya lagi.
"Ya Tuhan!" teriak Aurora saat melirik ke arah jarum jam menunjukan pukul 07.00 pagi. Padahal acara pernikahannya dimulai pukul 08.00.
Aurora loncat dari kasur mengenakan sepatu high heel juga mengambil tasnya dan berlari cepat ke luar kamar. Dia tidak merapikan rambutnya yang berantakan langsung masuk ke dalam lift.
Terang saja Aurora menjadi pusat perhatian, pintu lift pun tertutup. Aurora pun menatap dirinya ke dinding lift. Dia merapikan rambutnya.
"Ya Tuhan cepatlah!"
Aurora menyandarkan punggungnya di dinding lift dengan kaki tak diam. Gadis yang berada di sampingnya menatapnya yang berusaha acuh tak acuh.
"tring"
Pintu lift terbuka, secepat kilat Aurora berlari ke luar lift mendahului seluruh penumpang lift. Aurora harus segera sampai di rumahnya karena merias wajahnya dengan waktu yang sedikit.
Aurora berlari kencang dengan wajah memucat, terang saja kepalanya masih terasa pusing efek samping terlalu banyak minum.
"brugh!"
"Aaaa!" keluhnya
Tanpa sengaja Aurora menabrak seorang lelaki berjas lengkap yang diikuti beberapa lelaki berjas lengkap pula.
"Maafkan saya karena sedang terburu-buru!" ucapnya sambil menatap lelaki itu.
"Ya Tuhan, tampan sekali."
Seketika angin kencang berhembus ke tubuhnya, netra tajam juga wajah tampan lelaki itu bak pangeran di negeri dongeng. Sepanjang hidupnya baru kali ini dia melihat lelaki setampan itu.
Aurora menghirup wangi parfumnya, wangi seolah familiar tapi dia yakin belum pernah berpelukan dengannya. Jangankan berpelukan bertemu pun baru kali ini, saat dia sadar.
Aurora langsung menggelengkan kepalanya menyadarkan tujuan utamanya segera sampai ke rumahnya.
"Maafkan saya Tuan! saya sedang terburu-buru," ucap Aurora sambil berlari ke arah pintu ke luar masuk hotel.
Lelaki yang berdiri di belakangnya hendak menyusulnya. Tapi, lelaki itu memberi isyarat mata agar mengabaikannya. Lelaki itu menatap punggung Aurora yang mulai lenyap dari pandangannya.
"Bukannya dia gadis pemabuk yang semalam di toilet? kenapa ada di sini? apa yang sedang kamu pikirkan. Dia hanya gadis nakal tak jauh berbeda dengan gadis-gadis nakal lainnya."
Lelaki itu melanjutkan perjalanannya.
***
Sesampainya di rumah,
Aurora berlari cepat ke dalam rumahnya. Dia melihat Matthew sedang berbicara dengan ayah dan ibunya.
"Bukannya seharusnya kamu bersiap di gedung pernikahan kita? kenapa ada di sini?" tanya Aurora sambil menghampirinya.
"Akhirnya kamu datang juga," balas Matthew dengan nada dingin. Dari raut wajahnya juga kedua rahangnya yang mengeras Matthew terlihat marah.
Marah yang tidak diketahui sebabnya oleh Aurora.
"Ada apa sayang? ah, maafkan aku! semalam aku..." balas Aurora hendak memberitahu kejadian semalam hingga baru pulang dengan memasang wajah polos.
Aurora tahu Matthew pasti marah karena di tidak menemukannya saat datang ke rumah.
"Dengarkan baik-baik, Aurora! dengan tegas aku nyatakan membatalkan pernikahan kita," ucap Matthew.
Aurora merasakan tubuhnya di sambar petir. Bagaimana bisa tiba-tiba saja Matthew memutuskan membatalkan pernikahan mereka di hari acara akan berlangsung satu jam lagi.
"Apa?! ta-tapi, apa alasannya?" tanya Aurora.
"Ini alasannya," ucap Matthew sambil melempar lembaran-lembaran foto dengan kasar ke wajah Aurora. Sakit di wajahnya tak seberapa tapi perlakuan Matthew lebih menyakitinya.
Aurora melihat satu lembaran foto tersebut. Dia melihat dirinya sedang berfoto tanpa busana dengan seorang lelaki yang dibuat blur bagian wajahnya. Hanya wajahnya saja yang tidak di blur. Aurora berjongkok memungut foto-foto lainnya.
"Aku tidak berfoto dengan lelaki ini. Aku bahkan tidak mengenalnya," belanya sambil menatap Matthew.
"plak!"
Tamparan keras mendarat di pipi Aurora dari tangan calon ibu mertuanya.
"Dasar pel*c*r!" umpatnya.
Matthew terlihat murka tapi dia malas mencaci maki Aurora, dia memilih keluar rumah. Aurora tidak terima dengan tuduhan hanya karena foto-foto panasnya dengan lelaki yang tak di kenalnya. Dia mengejar Matthew menarik tangannya, menahannya pergi.
"Tunggu sayang! kamu harus mendengarkan penjelasanku!" pinta Aurora.
"Apa lagi yang akan kamu jelaskan hah?! bukankah foto-foto itu sudah jelas sebagai bukti? aku tidak menyangka ternyata yang dikatakan Crystal benar. Kamu selingkuh, " bantah Matthew.
"A-apa?! Ma-maksudmu Crystal memberitahumu jika aku...? "
"Apa kamu merasa terkhianati? Crystal tidak seperti Stella yang menutupi perselingkuhanmu," bantah Matthew. "Mulai hari ini kita tidak memiliki hubungan apapun. Apa kamu mengerti?" bentaknya.
"Tidak sayang, kamu tidak boleh percaya begitu saja hanya melihat foto-foto itu!" belanya.
"Lepaskan tangan putraku, pel*c*r! tanganmu tidak pantas memegangnya!" ucap ibu Matthew sambil menarik kasar tangan Aurora agar lepas dari tangan putranya kemudian mendorong d**a Aurora hingga jatuh ke lantai. "Ayo sayang kita tinggalkan rumah pel*c*r ini!"
"Kamu harus mempercayaiku sayang! aku tidak pernah selingkuh," teriak Aurora sambil menangis. Dia tidak menyangka akan terjadi hal yang buruk di hari pernikahannya.
"Papi!" terdengar jeritan di dalam rumah.
Aurora langsung berdiri dan berlari ke dalam rumah terlihat ayahnya tergeletak di lantai.
"Papi!" panggil Aurora sambil berlari ke arah ayahnya.
Apa yang sebenarnya terjadi? kenapa kesialan tiba di hari yang seharusnya merupakan hari bahagiaku bersama Matthew. Pernikahanku batal dan hubungan kami berakhir hanya dari sebuah foto yang tak pernah Aurora ambil bersama pria itu.
Aurora menatap Crystal yang berdiri di anak tangga.
"Jelaskan padaku, apa semua ini perbuatanmu?" tanya Aurora.
"Kenapa kau menuduhku? bukannya kau sendiri yang bermain gila dibelakang Matthew," tepis Crystal.
"Jangan penyalahkan Crystal, anak nakal!" bentak ibunya, tepatnya ibu tirinya.
"Aku tidak menyalahkannya tapi dia sudah mengatakan sesuatu yang tidak aku lakukan pada Matthee. Crystal mengatakan aku berselingkuh. Ah, aku faham sekarang, kenapa kau mengadakan pesta lajang untukku. Jadi, ini rencanamu agar pernikahanku gagal!" bantah Aurora sambil melempar foto-fotonya ke arah Crystal.
Tak hanya itu Aurora berjalan cepat ke arah Crystal, menyerangnya. Adegan saling menjambak dan memakipun terjadi.
Kepanikan menyelimuti rumah itu, saat Jordan Gwen jatuh pingsan. Kedua putrinya bertengkar saking jambak menjambak pula.
"Berhenti gadis nakal! bukannya merasa bersalah sudah melakukan kesalahan malah melemparkan kesalahanmu pada orang lain," terikat Miami Gwen, ibu tiri Aurora.
Wanita itu menarik tangan Aurora menjauhkannya dari Crystal.
"Aku tidak akan menuduhnya jika dia tidak menjembakku," bela Aurora sambil menatap penuh amarah adik tirinya itu.
Aurora bahkan hendak menyerang Crystal lagi.
"plak!"
Tamparan keras menghantam lagi pipinya dengan keras.
"Aku peringatkan satu kali lagi, jika kau menyentuh putriku. Aku tidak akan segan-segan memukulimu," ancamnya. "Apa kau tidak melihat kondisi ayahmu hah!"
Aurora mengepalkan kedua tangannya tanpa melepaskan tatapan tajamnya seolah ingin melumat habis seluruh tubuhnya.
"Jadi ini tujuan utamamu mengadakan pesta lajang? kau berencana membatalkan pernikahanku dengan Matthew. Aku kira kau berubah tapi nyatanya kau saudari terkutuk."
BERSAMBUNG