BAB 1-TRAGEDI DI BILIK TOILET
Sebuah pesta perayaan malam terakhir masa lanjang sedang berlangsung di salah satu ruang VVIP kelab malam. Peserta yang hadir terbilang sedikit karena calon pengantin wanita termasuk sosok introvert, pendiam dan kurang sosialisasi.
Pesta pun berlangsung atas ide saudarinya, tepatnya saudari tirinya.
Aurora Gwen yang menjadi ratu dari pesta itu terlihat menenggak minuman dalam botol yang diberikan Crystal Gwen, adik tirinya.
Gadis berusia 23 tahun itu berteriak-teriak keras sambil berdiri di atas meja. Dia menggoyang-goyangkan pinggulnya yang seksinya. Di bagian-bagian tertentu terutama b****g terlihat berisi apalagi dadanya menonjol besar di balik bajunya yang ketat.
Aurora menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kedua tangan ke atas, rambutnya yang panjang ikut bergoyang-goyang sesuai irama musik yang berputar di ruangan itu.
Aurora sudah mabuk dan Crystal tersenyum senang. Gadis itu memiliki rencana besar agar pernikahan saudari tirinya itu batal.
"Aku mau ke toilet," ucap Aurora sambil menatap Crystal dengan tangan memegang perutnya. "Pingin pipis (berakhir terkekeh)."
Aurora pun berniat turun dari meja.
Sontak Crystal hendak membantunya turun dari meja bersamaan dengan Stella yang merupakan sahabat baiknya. Aurora yang mabuk berat terlihat kesusahan bahkan dia hendak jatuh.
"Apa aku perlu mengantarmu?" tanya Crystal. Setelah kedua kaki Aurora menapak di lantai dengan bantuan Stella.
Stella mengerutkan keningnya karena tidak biasanya Crystal bersikap perhatian pada Aurora. Dia tahu Crystal selalu memusuhi Aurora karena menganggapnya saingan. Itulah alasannya dia hadir di pesta lajang karena tidak ingin terjadi sesuatu pada Aurora akibat ulah Crystal.
Kembali ke Aurora yang tak bisa berdiri tegak beruntung Stella memegang tangannya.
"Tidak perlu! aku bisa pergi ke sendiri," tolaknya sambil mengibaskan tangannya dari genggaman Stella.
"Tapi kamu mabuk berat Aurora," tepis Stella mengingatkannya.
"I'm fine, okay!" balas Aurora sambil segukan.
Dia bahkan berusaha berdiri tegak meskipun hasilnya sia-sia. Aurora tetap saja tidak mampu menyeimbangkan tubuhnya yang condong ke kiri dan kanan. Padahal Aurora berusaha keras agar teman baiknya itu tidak menganggapnya mabuk berat. "Apa kamu melihatnya? i'm okay," ucapnya lagi sambil mengacungkan ibu jarinya.
Stella tetap saja khawatir Aurora pergi ke toilet sendirian. Dia memperhatikan teman baiknya itu saat berjalan oleng ke arah pintu. Perhatiannya sangat fokus pada Aurora.
Aurora memutar tubuhnya ke arah Stella. Baginya gadis itu lebih dari sekedar teman baiknya. Stella sudah seperti saudarinya ketimbang Crystal yang jelas-jelas adik tirinya. ketiganya berteman baik sejak usia mereka remaja karena sekolah mereka pun sama.
"Bersenang-senanglah! malam ini hari terakhirku melajang. Aku ingin kamu ikut merayakannya!" ucapnya dengan mata sayup dan bibir tersenyum.
Aurora memutar lagi tubuhnya ke arah pintu.
"brugh! Aaaa!"
Aurora mengaduh sambil mengelus-ngelus keningnya karena membentur pintu. Saking mabuknya dia lupa membuka pintu.
"Ya Tuhan, Aurora!" teriak Stella berniat menghampirinya. Tapi, langkahnya terhenti karena Crystal menarik tangannya.
"Tidak perlu khawatir! toilet diujung lorong tidak jauh dari ruangan ini. Aurora akan baik-baik saja. Kamu tidak perlu mengkhawatirkannya!" ucap Crystal berusaha meyakinkan Stella. "Minumlah! aku sudah memesan mojito non alkohol kesukaaanmu."
Crystal menyodorkan minuman berasa jeruk nipis dan mint itu pada Stella. Dia tahu Stella kurang menyukai minuman beralkohol hingga cocktail jenis mojito itu yang bisa diterimanya.
"Terima kasih," ucap Stella sambil menerima gelas yang disodorkannya. Dia meminumnya sambil melirik ke arah pintu.
Aurora sudah ke luar ruangan itu.
"Aku senang Aurora lebih dulu menikah. Bahkan menikah dengan atasanku, dia gadis yang beruntung," ucapnya berusaha mengalihkan perhatian agar Stella melupakan Aurora.
"Aurora dan Matthew sudah 5 tahun berpacaran. Sejak mereka kuliah, bahkan keberhasilan perusahaan Matthew atas bantuan Aurora. Matthew harus menepati janji mereka jika sukses akan menikahi Aurora," terang Stella.
"Kamu benar," balasnya dengan senyum yang dipaksakan.
Sebenarnya tidak ada ketulusan di balik senyumannya juga sikapnya baik dan manis di depan Aurora. Crystal tidak menyukai hubungan baik yang dijalin Aurora dan Matthew. Crystal membuang wajah kesalnya ke lain arah dengan tangan mengepal sebagai ungkapan rasa bencinya atas keberuntungan Aurora.
"Kini saatnya Aurora menuai padi yang dia tanam. Dia pantas mendapatkannya," tambah Stella kemudian meneguk minuman di slokinya sampai habis.
Bibirnya menyunggingkan sedikit senyuman, sudah sejak lama Stella ingin berbicara selantang ini mengenai keberuntungan Aurora di hadapan Crystal.
Stella tahu Crystal tidak senang mendengarnya tapi ucapannya tadi merupakan tamparan keras di pipinya karena ulahnya yang sering mengusik Aurora.
"Aku ingin tahu sejauh mana niatmu menganggu Aurora dengan mengadakan pesta ini."
Crystal menatap dalam Stella yang sudah lebih dulu menatapnya.
"Tapi, aku tidak akan membiarkan pernikahan mereka terwujud. Aku akan melakukan apapun untuk menggagalkannya."
Stella menaruh gelas slokinya, dia menatap ke sekelilingnya. Beberapa karyawati sedang menari. Sebenarnya yang hadir hanya sebatas mengenal Aurora sebagai wakil pimpinan perusahaan kebanyakan lebih akrab dengan Crystal karena dia lebih sering bergaul dengan mereka.
Aurora penggila kerja dia terlalu sibuk bekerja demi kemajuan perusahaan yang dibangunnya bersama Matthew.
Aurora merasa cukup hanya memiliki Stella teman baiknya dan Crystal adik tirinya. Mereka bertiga berteman sedari remaja. Crystal yang pemalas lebih memilih bekerja di perusahaan Aurora sebagai sekertaris Matthew. Sedangkan Stella bekerja sebagai CEO salah satu perusahaan yang diwariskan dari orang tuanya.
Sementara di luar ruang VVIP,
Aurora berjalan sempoyongan menyusuri lorong ruang VVIP menuju toilet. Mulutnya tak berhenti meracau.
Aurora mengedip-ngedipkan matanya saat melihat beberapa lelaki sedang berkelahi tak jauh darinya. Gadis itu malah menyaksikan perkelahian sengit itu dengan posisi santai punggung bersandar di dinding.
"Ayo, pukul dia! eeeh awas!" teriaknya dengan tangan memperagakan gerakan meninju-ninju.
Aurora terlihat asyik dengan keseruannya seperti sedang menonton film action di depan televisi. Tanpa menyadari keberadaannya bisa membahayakannya.
"Hais! aku sudah tak tahan lagi," decaknya sambil berlari kecil memasuki area toilet, toilet pria.
"Kenapa WC-nya terbalik?" gumamnya sambil memiringkan kepalanya. Dia berdiri di depan toilet berdiri khusus pria yang berjajar. "Seharusnya kan di bawah. Apa mataku sudah melihat tidak normal karena mabuk hingga semuanya jadi terbalik?"
Aurora mengucek kedua matanya kemudian menatap lagi ke arah yang sama.
"Aaahhh ssstttthh! bagaimana ini? aku sudah tidak tahan lagi," keluhnya sambil meringis karena bagian perutnya sakit.
Aurora memutar tubuhnya dia tersenyum karena melihat dua bilik kamar toilet.
"Jlep!"
Tiba-tiba saja lampu di toilet padam tapi Aurora harus segera membuang cairan dalam kantong kemihnya. Tanpa pikir panjang lagi dia membuka salah satu pintu bilik toilet.
"braaak!"
Aurora pun mengangkat rok mininya kemudian menurunkan celana dalamnya dan duduk di toilet. Dia sempat mengerutkan kening karena toiletnya tidak seperti biasa sangat empuk sempit dan lebih tinggi.
Aurora mengacuhkannya yang terpenting dia bisa kencing sepuasnya. Selesai kencing dibarengi beberapa kali kentut dengan suara menggelegar. Jika saja tadi pagi belum buang air besar mungkin sekalian membuang hajat.
"Aaaah! leganya. Ya Tuhan, bau sekali kentutku. Perasaan aku tidak mengosumsi makan yang aneh. Mungkin akibat alkohol membuat gas di perutku berfermentasi (hehehehe)," keluhnya sambil bernapas lega dan merilekkan tubuhnya dengan tangan mengipas-ngipas di depan wajahnya.
Bau busuk dari aroma kentutnya lebih dahsyat dari aroma mulutnya yang habis minum minuman beralkohol.
"Horre, nyala lagi."
Aurora kegirangan karena lampunya menyala. Dia memutar kepala juga tubuhnya ke belakang masih dalam posisi duduk berniat menekan tombol kloset.
Telunjuknya yang sudah terlanjur tertuju ke arah tombol kloset menekan dahi seseorang di belakangnya. Aurora mengerutkan keningnya sambil berpikir keras dengan otaknya yang sudah tak stabil karena mabuk.
"Tidak mungkin di belakangku orang," gumamnya kemudian menekan-nekan lagi dahi lelaki yang memelototinya. "Apa kamu hantu penunggu toilet? tapi kenapa aku bisa menyentuhmu? horor juga, " ucapnya sambil menatap polos tak berhenti menekan-nekan dahi lelaki itu.
Bau alkohol pelebur bau busuk kentut yang dihirup lelaki itu memberi jawaban sikap konyol gadis yang mendudukinya. Gadis yang mengencinginya, tak hanya kencing tapi membomnya dengan kentut yang dahsyat dan berbau tidak sedap dalam kondisi mabuk.
"Apa kamu pikir hantu bisa disentuh dan celananya basah oleh air kencingmu?" suara baritone tercetus menakutkan dari bibir lelaki itu.
"Ja-jadi kamu (hehehehe)," balas Aurora sambil terkekeh. Aurora memutar tubuhnya ke semula.
Beberapa detik kemudian,
"Aaaaaaaa!" Aurora menjerit.
"Menyingkir dariku gadis bod*h!" usir lelaki itu.
"Dasar lelaki m***m! berani-beraninya kamu duduk di toilet bahkan duduk di bawahku!" teriak Aurora sambil memukul-mukul d**a lelaki itu bahkan memaki-makinya. Meskipun pukulannya tidak keras. Bukannya berdiri dan merasa bersalah Aurora malah menyalahkan lelaki itu.
"Dasar pemabuk! menyingkir dariku!" teriaknya lagi sambil memegang kedua tangan Aurora kemudian mendorongnya hingga Aurora berdiri dengan celana dalam yang masih melorot. Beruntung rok mininya menutupi pahanya yang mulus.
Terdengar suara beberapa sepatu memasuki area toilet. Mereka dibuat kaget karena Tuannya sedang bersama seorang gadis cantik, seksi pula di dalam toilet. Salah satu anak buahnya yang dipercaya sebagai pimpinan rekannya menatap resleting celananya yang terbelah ditambah lagi basah. Didukung pula celana dalam gadis itu yang masih melorot di bagian kedua betisnya.
Lelaki itu memalingkan wajahnya, dia tidak menyangka Tuannya yang sudah lama tak menyentuh gadis lain selain istrinya sedang bersenang-senang di toilet.
"Kami minta maaf karena sudah mengganggu kesenangan anda, Tuan!" ucap salah satu anak buahnya sembari hendak meninggalkan area toilet.
"Apa yang kau lihat tidak seperti yang kau bayangkan Marvel!" bantahnya setengah berteriak.
"Tenang saja Tuan, kami akan menutup mulut kami," jawabnya sambil memperagakan tangannya seperti menutup sleting di depan bibirnya.
"s**t! gadis pemabuk ini masuk ke sini kemudian mengencingi ku," terangnya. Tetapi, pembelaannya itu semakin membuat anak buahnya yakin jika Tuannya sedang bersenang-senang dengan Aurora. "Apa kamu mengerti yang barusan aku jelaskan!" bentaknya.
"Saya akan meminta Barbara menyiapkan pakaian ganti untuk Tuan," jawabnya dengan cepat tanpa berani melirik. "Jika Tuan ingin melanjutkannya. Kami akan menunggu di luar," balasnya sambil memberi isyarat mata pada rekan-rekannya.
"Tu-tunggu!" panggilannya karena semua anak buahnya keluar dari area toilet mengabaikan panggilannya. "Shiitt!" umpatnya.
Lelaki itu menatap gadis yang sudah berani mengencinginya. Kepala Aurora malah bersandar di dadanya, sungguh tak tahu malu.
"Wangi tubuhmu hari ini sangat berbeda sayang," gumamnya sambil menghirup dalam-dalam aroma parfum lelaki itu.
"Menjauh dariku!" lelaki itu mendorong Aurora hingga punggungnya berbenturan dengan dinding bilik kamar toilet.
Aurora hendak mendekatinya lagi, lelaki itu langsung mundur. Beruntung langkahnya tertahan oleh celana dalamnya yang masih melingkari betisnya. Dengan cueknya Aurora menarik celananya hingga terpasang pada tempatnya.
Aurora terkekeh, dia tidak menyadari sedang bersama lelaki asing. Lelaki itu hanya menggelengkan kepalanya sambil berjalan keluar.
"Kamu mau kemana sayang?" panggil Aurora sambil berjalan ke arahnya. Dengan cepat lelaki itu menutup pintunya.
"bugh! Aaaaa!"
Terdengar suara benturan keras disusul jeritan, lelaki itu sedikit mengkhawatirkannya. Sebenarnya, tidak penting baginya memperdulikannya. Tapi, entah kenapa dia mengkhawatirkannya, apalagi tidak terdengar lagi suaranya.
Dia membuka pintu toilet dengan hati-hati dan waspada mengingat gadis itu sangat berani. Gadis itu duduk di sudut bilik kamar dengan mata terpejam. Terdengar suara dengkurannya, ternyata gadis itu tidur.
"Astaga, gadis sembrono. Bisa-bisanya tidur di toilet, toilet pria lagi," gumamnya.
Lelaki itu menatap dalam wajah Aurora, tidak bisa dia pungkiri dia memuji wajah cantiknya. Lelaki itu menggelengkan kepalanya, dia tidak boleh lupa sudah memiliki istri yang sangat dicintai. Meskipun mantan lelaki b*jing*an, predator wanita tapi dia sudah menjadi suami setia.
"Shitt! apa yang sedang aku pikirkan?" gerutunya. Lelaki itu menoleh ke arah dua orang yang menghampirinya.
"Ya Tuhan, apa temanku sudah berbuat onar?" tanyanya.
"Kalian...?"
"Saya adiknya dari tadi mencarinya di toilet wanita tapi tidak menemukannya. Orang-orang di depan memberitahu ada gadis di sini. Saya minta maaf atas perilaku buruknya karena mabuk," terang Crystal.
"Jika kamu adiknya. Segera bawa dia!" perintahnya dengan nada dingin.
Crystal meminta lelaki yang bersamanya membawa Aurora.
"Dia kekasihnya," ucap Crystal berbohong karena lelaki itu memperhatikannya dengan seksama pria yang bersamanya, terkesan mencurigainya.
Crystal dan lelaki itupun meninggalkan toilet dan lelaki itu kembali dengan urusan.
Beberapa jam kemudian,
Aurora mengambil ponselnya yang tak berhenti berdering.
"Hallo," dengan nada malas.
"Aurora!" teriaknya membuat kedua mata Aurora terbuka t
lebar. "Kau di mana? apa kau sudah lupa akan menikah hari ini?"
Aurora melihat jam di dinding.
"Ya Tuhan, sudah jam 07.00," jeritnya sambil bangun tapi dia langsung memegang kepalanya yang sakit.
"Aurora!" teriakan terdengar lagi.
"Gawat! acara pernikahan ku tinggal 1 jam lagi dan aku belum apa-apa."