1. Pesan Yang Tertunda
Halaman belakang rumah keluarga Archer jauh lebih tenang dibandingkan ruang makan di dalam. Suara tawa dan denting peralatan makan hanya terdengar samar dari balik jendela kaca. Noella berdiri di dekat pagar kayu tua, memandangi kebun mawar yang kehilangan warna di paruh sore yang mulai menggelap.
“Jadi, ini memang pekerjaanmu?”
Suara Theo membuatnya menoleh. Pria itu berdiri beberapa langkah di belakangnya dengan kedua tangan terbenam di saku mantel. Rahangnya mengeras, menyiratkan kecurigaan yang tertahan.
Noella hanya tersenyum tipis. “Kau harus lebih spesifik. Aku melakukan banyak hal.”
“Aku sedang tidak bercanda.”
“Aku juga tidak.” Noella mengalihkan pandangan, menatap langit mendung di atas mereka.
Theo melangkah mendekat. “Aku tidak tahu bagaimana cara kau melakukannya.”
Noella menatap mata pria itu dengan lekat. Dia sengaja diam, membiarkan setiap detik berlalu dengan sunyi, menunggu sampai Theo menyuarakan sendiri tuduhannya.
“Kau tahu nama buyutku.”
Noella mengangguk tenang.
“Kau tahu nama anjing yang mati lima puluh tahun lalu.”
“Aku juga tahu dia suka menggali kebun mawar milik nenekmu,” potong Noella lembut.
Theo membeku sejenak. Noella menangkap reaksi itu, dan sudut mimik bibirnya hampir terangkat.
“Dan sekarang, kau sedang bertanya-tanya bagaimana aku bisa tahu hal itu.”
“Aku bertanya-tanya kenapa kau ada di sini.”
“Itu pertanyaan yang lebih bagus.”
Theo menatapnya tajam, mencoba mengintimidasi. “Aku tidak percaya omong kosong tentang roh.”
“Baguslah.”
Jawaban itu membuat Theo berkedip heran. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Noella terlihat benar-benar terhibur.
“Karena aku juga tidak percaya.”
“Apa?”
“Menurutmu aku dirasuki roh leluhurmu?” tanya Noella santai.
“Bukankah itu yang kau biarkan keluargaku percayai?”
“Aku tidak pernah mengatakan begitu.”
“Kau juga tidak menyangkalnya.”
“Itu dua hal yang berbeda.” Noella tersenyum kecil, mengetukkan ujung sepatunya ringan ke tanah.
Theo mengembuskan napas kasar. Wanita ini membuatnya ingin membenturkan kepala ke tembok. Sikapnya terlalu tenang. Terlalu nyaman. Seolah dia sedang menikmati semua ini.
“Kau menginginkan uang.”
Noella tidak langsung menjawab. Matanya beralih ke jendela ruang makan. Dari balik kaca, ia bisa melihat nenek Theo yang sedang tertawa lepas. Tawa yang sudah tidak pernah ia dengar selama puluhan tahun. Aneh sekali rasanya. Dulu, wanita tua itu adalah gadis kecil yang berlari-lari di halaman ini dengan pita biru di rambutnya. Sekarang, rambut itu sudah memutih seluruhnya.
“Ya.”
Theo terdiam. Dia tidak menyangka pengakuan itu akan keluar begitu cepat.
“Jadi, kau mengakuinya?”
“Aku butuh uang,” jawab Noella, sama sekali tidak merasa bersalah.
“Itu bukan jawaban!” Theo semakin kesal, kerutan dalam muncul di antara kedua alisnya.
“Itu satu-satunya jawaban yang penting bagi orang hidup, Tuan Archer.”
“Kau menipu keluargaku.”
Noella kembali menatapnya. Kali ini, senyum jenaka di wajahnya lenyap. “Aku tidak pernah mengaku sebagai siapa pun.”
Theo hampir tertawa saking jengkelnya. “Kau benar-benar tidak punya rasa malu?”
Untuk sepersekian detik, sesuatu berubah di mata Noella. Kilatannya begitu cepat hingga Theo tidak yakin apakah dia benar-benar melihatnya atau hanya salah lihat. Ada kelelahan yang teramat sangat di sana. Tatapan yang tua—sangat tua. Namun, sedetik kemudian, topeng ketenangan Noella kembali terpasang sempurna.
“Aku sudah hidup terlalu lama untuk percaya bahwa dunia hanya dibagi menjadi orang baik dan orang jahat, Tuan Archer. Bukankah semua orang punya alasan mereka sendiri?”
Gabriella Archer menggenggam kedua tangan Noella erat-erat di depan pintu utama. Matanya basah oleh air mata haru. Menantunya—ibu Theo—ikut menggenggam tangan Noella, sementara putranya—Paman Theo—menatap wanita muda itu dengan rasa terima kasih yang tak kalah besar.
“Aku tidak tahu harus berterima kasih bagaimana lagi,” bisik Gabriella parau.
Noella tersenyum kecil, tampak begitu anggun. “Itu hanya sebuah surat, Madam.”
“Bukan.” Wanita tua itu menggeleng cepat. “Kau tidak mengerti.”
Theo berdiri beberapa langkah di belakang mereka. Dia hanya diam, mengamati dengan mata menyipit.
Neneknya menunduk, menatap amplop tua yang bergetar di jemarinya. “Ayahku meninggal sebelum sempat berpamitan. Selama lima puluh tahun, aku mengira tidak ada apa pun yang tersisa dari dirinya.”
Noella tidak menjawab. Tentu saja dia tahu isi surat itu. Dia bahkan masih mengingat malam saat surat itu ditulis. Dia ingat bau tinta yang digunakan, suara jam dinding yang berdetak konstan di ruangan itu, dan wajah pria yang menyembunyikannya. Karena malam itu, dia ada di sana. Namun, rahasia itu harus tetap terkubur bersamanya.
“Kau telah memberiku sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang.”
Noella menundukkan kepala sedikit, memberikan gestur hormat yang sangat klasik. “Saya mengerti.”
Theo memperhatikan ekspresi wanita itu. Aneh. Tidak ada binar kemenangan di sana. Tidak ada keserakahan ataupun kepuasan seorang penipu yang berhasil melancarkan aksinya. Wajah Noella justru terlihat seperti seseorang yang sedang mengenang luka lama yang menyakitkan.
Saat Noella melangkah menuju gerbang, sebuah amplop tebal sudah aman di dalam tasnya. Bayaran. Tujuan awalnya datang ke rumah ini. Namun, entah kenapa, langkah kakinya terasa jauh lebih berat daripada saat dia tiba tadi.
“Nona Scott,” panggil Theo.
Noella menghentikan langkah. Dia menoleh, membiarkan angin sore mengibaskan beberapa helai rambutnya.
Theo memasukkan kedua tangan ke saku mantel, wajahnya kembali datar. “Aku masih tidak percaya padamu.”
Senyum tipis muncul di wajah Noella. “Kau memang tidak harus percaya padaku.”
Sekali lagi, kilat kebingungan melintas di wajah Theo.
“Orang pintar memang seharusnya tidak mudah percaya,” tambah Noella tenang.
Theo mengabaikan pujian terselubung itu. “Siapa kau sebenarnya?”
Noella terdiam cukup lama. Bukan karena dia bingung mencari kebohongan, melainkan karena ada terlalu banyak jawaban di kepalanya. Siapa dirinya? Noella? Margaret? Eliza? Claire? Puluhan nama melintas begitu saja dalam benaknya.
“Aku hanya seseorang yang sedang berusaha bertahan hidup.”
Jawaban itu justru membuat Theo makin terusik. Kalimat itu terdengar terlalu jujur untuk keluar dari mulut seorang penipu. Dan ketulusan yang ganjil itulah yang paling mengganggunya.
Noella mendorong pintu gerbang di hadapannya.
“Aku akan mencari tahu tentangmu,” ucap Theo. Tanpa nada ancaman, tanpa emosi berlebih. Hanya sebuah janji yang tegas.
“Aku tahu.”
“Kau tidak khawatir?”
Noella tersenyum, dan kali ini senyumnya terasa jauh lebih tulus. “Mungkin kau justru akan kecewa dengan apa yang kau temukan nanti.”
Tanpa menunggu balasan, Noella berbalik dan pergi.
Theo memperhatikannya berjalan menyusuri jalanan yang mulai sepi. Angin dingin menusuk sweter tipis yang ia kenakan, membuatnya sedikit menggigil. Ia terus menatap punggung itu sampai sosok Noella menghilang di tikungan jalan.
Barulah Theo kembali melayangkan pandangan ke balik jendela rumah. Di sana, neneknya sekali lagi membaca surat di tangannya dengan wajah penuh haru.
Pikiran Theo kembali berputar pada satu pertanyaan besar. Bagaimana mungkin? Ini bukan lagi soal bagaimana Noella bisa menemukan lokasi surat itu, melainkan satu detail kecil yang tidak pernah diceritakan neneknya kepada siapa pun.
Saat membaca surat tadi, sebelum amplopnya bahkan dibuka, Noella dengan spontan mengoreksi tanggal yang tertulis di pojok halaman. Padahal, tinta di bagian luar itu sudah memudar total hingga tak terbaca.
Bagaimana mungkin dia tahu, jika dia tidak berada di sana saat surat itu ditulis?