Pewaris Blackwood
“Kalau istrimu tidak mau memberimu anak, apa gunanya mempertahankan pernikahan itu?”
Adrian Blackwood mengangkat wajahnya dari dokumen yang baru saja diletakkan di atas meja makan.
“Apa Ayah baru saja mengatakan bahwa aku harus menceraikan istriku hanya karena dia belum hamil?”
Richard Blackwood tidak bergeming. Pria itu duduk di ujung meja panjang, mengenakan setelan abu-abu dengan ekspresi dingin yang sama seperti ketika memimpin rapat direksi.
“Ayah mengatakan bahwa pernikahanmu sudah berlangsung lima tahun. Keluarga ini membutuhkan penerus, Adrian. Bukan alasan.”
“Kalau Ayah membutuhkan penerus, seharusnya Ayah menanyakannya kepada putra Ayah, bukan menghina istriku.”
“Jaga nada bicaramu.”
Adrian tertawa sinis. Ia meletakkan dokumen itu, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi.
Di seberang meja, Margaret Blackwood menghela napas. Ibunya sudah berusaha mengalihkan pembicaraan sejak sarapan dimulai, tetapi Richard selalu berhasil membawanya kembali pada persoalan yang sama.
“Kalian berdua berhenti bertengkar,” kata Margaret. “Ibu hanya ingin tahu apakah kamu dan Vivian sudah menemukan jalan keluar.”
Adrian menoleh kepadanya. “Jalan keluar dari apa, Bu? Dari pernikahan kami sendiri?”
“Jangan memutarbalikkan ucapan Ibu.”
“Lalu apa maksudnya? Setiap kali aku datang ke sini, kalian membicarakan rahim istriku seolah-olah itu aset keluarga yang belum menghasilkan keuntungan.”
Wajah Richard mengeras. “Jangan samakan urusan keluarga dengan urusan perusahaan.”
“Justru Ayah yang terus memperlakukannya seperti perusahaan.”
Keheningan jatuh di antara mereka.
Richard meletakkan pisau dan garpunya. “Vivian terlalu sibuk dengan kariernya. Dia menghadiri acara, bepergian ke luar negeri, dan menghabiskan waktunya di depan kamera. Kapan dia akan punya waktu menjadi seorang ibu?”
Adrian berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser. “Cukup.”
Margaret ikut berdiri. “Adrian!”
“Tidak, Bu. Aku sudah cukup mendengar ini.” Tatapannya beralih kepada ayahnya. “Vivian tidak pernah berjanji akan mengorbankan kariernya setelah menikah denganku. Ayah tahu siapa dia sejak awal. Kalau sekarang Ayah merasa keberadaannya tidak sesuai dengan harapan keluarga, itu bukan masalah yang harus dia tanggung sendirian.”
“Lalu kau sendiri tidak menginginkan anak?”
Pertanyaan Richard membuat Adrian terdiam. Ia tidak pernah mengatakan tidak menginginkan anak. Ia hanya tidak ingin memaksakan kehamilan kepada istrinya, terutama ketika Vivian sudah berulang kali menjelaskan ketakutannya kehilangan kendali atas tubuh dan karier yang dibangunnya selama bertahun-tahun.
“Aku menginginkan anak,” jawab Adrian akhirnya. “Tapi aku tidak akan menceraikan istriku hanya karena kami belum memilikinya.”
“Kalau begitu, cari solusi.”
“Aku sedang mencari solusi.”
“Sejak kapan? Setahun lalu Ayah mendengar jawaban yang sama. Enam bulan lalu juga begitu. Sampai sekarang tidak ada perubahan.”
Adrian meraih jasnya dari sandaran kursi. “Kalau Ayah ingin membicarakan bisnis, hubungi kantorku. Kalau Ayah ingin membicarakan pernikahanku, pastikan Vivian ada di ruangan ini sebelum mulai menghakiminya.” Ia meninggalkan ruang makan tanpa menunggu jawaban.
Di belakangnya, Richard masih sempat berseru, “Jangan sampai keputusan pribadimu menghancurkan masa depan keluarga ini!”
Adrian tidak menoleh. Ia sudah menghabiskan terlalu banyak waktu untuk menjelaskan bahwa pernikahannya bukan milik siapa pun selain dirinya dan Vivian. Namun, pagi itu, ia mulai menyadari bahwa mempertahankan pernikahan mereka tanpa mencari jalan keluar juga tidak akan menyelesaikan apa pun. Dan ia tidak berniat membiarkan masalah itu terus menggantung.
***
Pintu lift penthouse terbuka pukul sembilan lewat dua puluh menit.
Adrian masuk dengan wajah muram. Ia melepaskan jas, melemparkannya ke sofa, lalu membuka dua kancing teratas kemejanya.
Vivian sedang berdiri di dekat meja rias ruang tengah. Seorang penata rias baru saja menyelesaikan sentuhan terakhir sebelum ia berangkat ke pemotretan untuk kampanye parfum internasional.
“Pukul sebelas kita harus sudah berada di lokasi,” kata Olivia, manajernya, sambil memeriksa jadwal pada tablet. “Setelah itu ada wawancara singkat, lalu fitting untuk acara malam ini.”
“Baik. Kirimkan naskah wawancaranya ke ponselku,” jawab Vivian.
Olivia mengangguk, lalu pamit setelah memastikan semua perlengkapan sudah siap.
Vivian mengambil anting dari meja. Baru ketika hendak memasangnya, ia melihat Adrian berdiri di belakangnya melalui pantulan cermin.
“Kamu seharusnya berada di kantor.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa kamu di sini?”
“Karena aku ingin bicara.”
Vivian memasang antingnya, kemudian berbalik. “Sekarang?”
“Ya, sekarang.”
Ia mengamati wajah suaminya beberapa detik. “Ayahmu membicarakan soal anak lagi?”
“Lebih dari sekadar membicarakannya.”
“Apa katanya?”
“Menurutnya, pernikahan kita tidak ada gunanya kalau kamu tidak bisa memberiku anak.”
Vivian terdiam. Jemarinya yang sedang merapikan rambut berhenti bergerak.
“Begitu.”
“Hanya itu jawabanmu?”
“Apa yang kamu harapkan? Aku sudah menduga pembicaraan itu akan terjadi.”
Adrian mendekat.
“Aku muak mendengar mereka membicarakanmu seperti itu.”
“Kalau begitu, berhentilah membawa perkataan mereka ke dalam rumah ini.”
Rahang Adrian mengeras. “Kamu pikir aku menikmati semua ini?”
“Aku tidak tahu, Adrian. Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan karena setiap kali masalah ini muncul, kamu datang membawa kemarahan keluargamu dan mengharapkanku memberikan jawaban yang bisa memuaskan semua orang.”
“Aku tidak meminta kamu memuaskan mereka.”
“Tapi kamu menginginkan anak.”
“Aku memang menginginkannya!” Suara Adrian menggema di ruangan itu.
Vivian menatapnya tanpa mundur. “Dan aku sudah mengatakan kepadamu sejak awal bahwa aku tidak ingin mengandungnya.”
“Aku tidak pernah memaksamu hamil.”
“Belum,” balas Vivian cepat. “Tapi sekarang keluargamu mulai mempertanyakan pernikahan kita, dan kamu berdiri di hadapanku dengan wajah seolah-olah aku yang harus memperbaiki semuanya.”
Adrian mengusap wajahnya, berusaha mengendalikan emosinya. “Aku datang karena ingin membicarakan pilihan lain.”
Vivian menyipitkan mata. “Pilihan apa?”
“Surrogacy.”
Untuk pertama kalinya sejak Adrian tiba, Vivian benar-benar kehilangan kata-kata. Ia menatap suaminya, mencari tanda bahwa laki-laki itu sedang melontarkan gagasan tanpa memikirkannya matang-matang. Namun, Adrian tidak terlihat sedang bercanda.
“Kamu serius?”
“Sangat serius. Kita bisa menggunakan embrio dari sel telurmu dan spermaku, lalu meminta perempuan lain mengandungnya. Aku ingin berkonsultasi dengan dokter tentang prosedurnya.”
Vivian meletakkan tas tangannya di meja. “Dan kamu baru memikirkan ini sekarang?”
“Aku sudah memikirkannya cukup lama.”
“Tanpa membicarakannya denganku?”
“Aku sedang membicarakannya sekarang.”
Vivian tertawa pendek, tetapi tidak ada kegembiraan di wajahnya. “Kamu benar-benar luar biasa. Kamu datang membawa masalah keluargamu, lalu menawarkan solusi seolah-olah kita sedang menyusun strategi bisnis.”
“Aku ingin punya anak tanpa memaksamu menjalani kehamilan. Bukankah itu yang selama ini kamu inginkan?”
“Bukan berarti aku otomatis siap melibatkan perempuan asing dalam pernikahan kita!”
“Aku juga tidak mengatakan kita harus langsung melakukannya.”
“Lalu apa yang kamu inginkan dariku?”
Adrian menatapnya lekat-lekat. “Aku ingin kamu berhenti menolak setiap kemungkinan sebelum kita bahkan mempelajarinya.”
Vivian terdiam sesaat, kemudian mengambil ponselnya dari meja. “Aku punya pemotretan dalam satu jam. Kalau kamu ingin membicarakan ini, kita lanjutkan malam nanti.”
Adrian menangkap pergelangan tangannya sebelum ia sempat berbalik. “Jangan selalu mengakhiri percakapan kita dengan alasan pekerjaan.”
Vivian langsung menatap tangan Adrian yang melingkari pergelangannya. “Lepaskan.”
Adrian menahan tatapannya selama beberapa detik sebelum akhirnya melepaskan tangan itu.
Vivian merapikan lengan bajunya dengan gerakan terkendali. “Aku akan mempertimbangkan usulmu. Tapi jangan pernah berpikir kamu bisa mengambil keputusan tentang tubuhku hanya karena keluargamu menuntut seorang pewaris.”
“Aku tidak pernah menganggapmu milikku untuk kuatur sesuka hati.”
“Bagus. Pastikan tindakanmu sesuai dengan ucapanmu.”
Vivian mengambil tasnya, lalu berjalan menuju lift tanpa menoleh lagi.
Adrian berdiri sendirian di tengah penthouse. Ia mendapatkan jawaban yang dibutuhkan. Vivian bersedia mempertimbangkan surrogacy. Namun, ia juga menyadari bahwa keputusan tersebut tidak akan menyelamatkan pernikahan mereka dari persoalan yang lebih dalam.
Ponselnya bergetar. Nama Daniel Reed muncul di layar. Adrian langsung menjawab panggilan itu.
“Daniel, aku ingin bertemu denganmu hari ini. Ada sesuatu yang perlu kubicarakan.”
“Ini soal yang pernah kamu singgung tentang kehamilan pengganti?”
“Ya. Aku ingin mengetahui semua pilihan yang tersedia.”
Daniel terdiam sejenak sebelum menjawab, “Baik. Datanglah ke klinik sore ini. Kita bicarakan secara profesional, termasuk prosedur, risiko, dan persetujuan semua pihak.”
Adrian menutup panggilan. Ia belum tahu siapa perempuan yang nantinya akan terlibat dalam perjanjian tersebut. Ia juga belum tahu bahwa keputusan yang sekarang dianggapnya sebagai solusi akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih sulit dikendalikan.
Untuk saat ini, ia hanya memiliki satu tujuan. Mendapatkan pewaris tanpa kehilangan pernikahannya. Dan ia belum menyadari bahwa keduanya mungkin tidak bisa dipertahankan dengan cara yang sama.