Bagian 15. Tempat Pelarian

1683 Words
Devan sedang bermain game online saat suara mobil terdengar memasuki pekarangan rumah nya. "Huh, ingat pulang juga ternyata!" dengusnya sinis. Ia tetap dalam posisi tengkurap di sofa, tanpa mempedulikan siapa yang datang. Malah bi Inah yang sibuk beberes di dapur tampak tergopoh-gopoh menuju pintu. "Adeen..." langkah kaki wanita tua terhenti ketika dilihatnya tuan mudanya malah tetap sibuk dengan ponselnya, tanpa mencari tahu siapa yang datang. "Yaa.." jawab Devan tanpa menoleh. "Itu tuan dan nyonya pulang." " Biarin aja bi! Bisa masuk rumah sendiri kan? Gak harus digendong!" sahut Devan acuh. "Ih, si aden mah..!" bi Inah merenggut dan buru-buru membukakan pintu, takut tuan besarnya murka karena kelamaan menunggu di depan pintu. Suara langkah kaki, hentakan high heels dan seretan koper terdengar memasuki ruang keluarga tempat Devan sedang berbaring. "Devan gak di rumah Bi?" suara seorang wanita terdengar bertanya kepada bi Inah. Belum bi Inah menjawab, wanita itu sudah melengking memanggil seseorang yang dicarinya. "DEVAAN!!" Devan yang sedang asik nge-game sontak terlonjak. Setengah melirik sebal Devan bangkit duduk. "Apa sih Mi? Berisik!" sahutnya malas-malasan kepada wanita yang ternyata maminya ini. Mami Devan berkacak pinggang melihat kelakuan putra yang seolah tak peduli dengan kedatangannya. Wanita itu mendekati putranya dengan perasaan kesal. " Ini kenapa lagi nih muka? Sesekali mami pulang ke rumah gak pernah kamu yang baik-baik aja Van! Adaaa aja masalahnya!" cerocos maminya. Devan tak menjawab omelan maminya. Malas! Maminya tipe orang yang gak bisa dibantah. Dijawab satu nanti balasnya sepuluh. "Orang tua itu pulang disambut dong Van! Bukannya sibuk sama gadget aja! Kamu kok gak perhatian-perhatiannya sama orangtua!" "Hah? Perhatian? Mami gak malu ngucapin kata itu? Mami minta aku perhatian ke mami, semantara mami perhatian gak sama aku?!" Devan menantang wajah maminya dengan muka memerah. "Ada apa sih ini? Baru pulang udah ribut-ribut?" suara seorang pria menyahut dari arah ruang tamu. Seorang pria dewasa berumur 50an datang mendekat. Setelan jas lengkap dan sepatu pantofel dengan bahan kulit terbaik menghiasi tubuh pria dengan perawakan yang masih gagah diusia setengah abad itu. Dia adalah papinya Devan. Seorang pengusaha sukses yang rupawan. Tak heran Devan bisa setampan itu. Bisa dibilang nyaris semua yang ada di tubuh Devan adalah warisan dari papinya. Dengan tinggi yang nyaris sama, papinya tampak mengintimidasi saat mendekati istri dan anaknya yang sedang bersitegang. Sosok pria yang berwibawa tampak melekat di dirinya. Papi Devan menatap istri dan anaknya bergantian. Kedua alisnya berkerut pertanda kurang senang dengan keributan yang terjadi. Ia agak terperangah ketika melihat muka anak laki-lakinya memar di sana sini. "INI KENAPA LAGI VAN?!" bentaknya dengan tiba-tiba. "Kamu itu kok bikin masalah terus? Dari jaman SMP sampai sudah kuliah gini gak lepas dari yang namanya tawuran, berantem! Kalau gitu gak usah kuliah lah Van! Jadi pegulat aja!" corocos papinya sambil memegangi muka anaknya. "Ck!" Devan melengos sambil menampik tangan papinya. "Pola pikir itu harus dirubah Van! Kamu udah dewasa! Ini pasti perkara cewek lagi nih!" "Lagian sekarang kuliah dulu yang benar Van. Terusin bisnis papi. Nanti kalau kamu sudah sukses, cewek bakal datang sendiri. Lagian anak-anak teman bisnis papi banyak yang bisa dijodohin sama kamu!" kali ini maminya yang nerocos. "Papi sama mami susah-susah membangun bisnis, mencari uang yang banyak untuk masa depan kamu dan kakak kamu! Ini sesekali orangtuanya pulang malah dicuekin!" Devan yang sedari tadi hanya melengos tak peduli kini berbalik menatap kedua orangtuanya dengan remeh. "Mi, Pi.. kadang kebahagiaan itu bukan sekedar uang semata! Aku juga butuh perhatian Mi! Papi bikin ruang keluarga sebesar ini untuk apa? Kalau isinya cuma aku! Coba papi ingat, kapan terakhir kali kita kumpul bersama di ruangan ini? Gak pernah kan Pi? Mi?" Devan menghela napas sejenak. "Sesekalinya pulang papi dan mami bukannya nanyain kabar aku, gimana kuliah aku, gimana kakak, bercerita sambil bergelak tawa, tapi malah sibuk ngomelin dan nyalahin aku tanpa mami dan papi introspeksi diri ada juga gak salah mami papi dalam sikap ku yang buruk ini!" Dada Devan naik turun menahan emosi. Ia sibuk mengigit bibir untuk menahan tangisannya. Papi dan maminya hanya bisa terdiam mendengar keluhan anaknya. "Kalau sikapku buruk Pi, itu berarti biangnya, Papi juga buruk!" PLAAKK!! Sebuah tamparan yang cukup keras menggema di seantero ruang keluarga itu. Devan terperangah dengan tamparan yang tiba-tiba ia dapatkan. Ia mengusap pipinya yang kebas. Perihnya gak seberapa jika dibandingkan dengan gontokan Faisal dan teman-temannya tempo hari, tapi sakit hatinya yang luar biasa. Papinya sendirinya tampaknya juga kaget karena telah menampar anaknya tiba-tiba, ia menatap telapak tangannya dengan nanar. "Makasih oleh-olehnya Pi!" lirih Devan dengan senyuman sinis. Ia berlalu, masuk ke kamarnya. Kurang dari semenit Devan sudah keluar dengan sebuah jaket dan kunci di tangannya. Tanpa pamit kepada kedua orangtuanya yang dari tadi masih bergeming di tempat, Devan pergi sambil membanting pintu. "Devaaan..!!" maminya menyusul anak bujangnya dengan perasaan khawatir. Tapi belum sampai di pintu, suara deru motor Devan sudah terdengar meninggalkan pekarangan rumah. *** Setelah sejam lebih menggeber motornya tanpa arah, akhirnya Devan berhenti di depan sebuah rumah. Ia memarkirkan motornya persis di seberang jalan rumah itu, duduk bersidekap tangan sambil terus memperhatikan seantero rumah itu dengan tatapan rindu. Ia mengerjapkan matanya yang setengah berair. Ini adalah rumah impiannya sejak beberapa tahun yang lalu. Rumah bertingkat itu tidak lebih mewah dibandingkan rumahnya. Halamannya pun tidak seluas halaman rumahnya yang bisa menampung 20 buah mobil. Rumah ini minimalis dengan halaman yang ditumbuhi banyak bunga. Sebuah gazebo kecil menghiasi sudut halaman itu. Dari luar saja sudah tampak kehangatan dari penghuni rumahnya. Kehangatan yang pernah Devan rasakan beberapa tahun lalu, tapi terenggut karena suatu kesalahpahaman. Lamunan Devan terpecah oleh keributan yang tiba-tiba terjadi dari tingkat atas rumah itu. Gelak tawa seorang pemuda dan omelan seorang gadis terdengar memecah malam. Tak lama kemudian kedua orang yang sedang ribut itu muncul dari balkon. Si gadis menimpuk pemuda dengan guling secara membabi buta. Pemuda itu terus tertawa sambil sibuk menghindari timpukan si gadis. Cukup lama kedua orang ini bersitegang, akhirnya mereka menyadari kalau ada seseorang yang memperhatikan mereka dari jalan. Keduanya sama-sama terdiam. "Devaan?!" seru si gadis setengah berteriak tak percaya. Devan yang dipanggil membalas dengan lambaian dan senyum tipis. Gadis itu berlari meninggalkan balkon, turun ke lantai bawah dan sesaat kemudian sudah sampai di pagar. "Van, ngapain lu malam-malam gini di depan rumah gw?" tanya sang gadis setelah berhasil membuka pagar rumah. Devan buru-buru berdiri dari motor sebelum sang gadis menyeberangi jalanan, setengah berlari dan tanpa berpikir panjang langsung memeluk gadis itu. "Van..." "5 menit.. bukan 2 menit aja. Biarin gw meluk lu Lu... Please.." lirih Devan sambil menopangkan dagunya di pucuk kepala Lulu, si gadis itu. Lulu yang tadinya ingin marah dan berontak karena dipeluk tiba-tiba jadi tak kuasa menampik. Ia merasakan tubuh Devan bergetar, sepertinya cowok ini menangis. Seorang Devan menangis? Lulu hanya bisa mematung, bingung antara harus membalas pelukan itu atau menampiknya. Akhirnya Lulu hanya bisa menarik napas panjang. '2 menit gak lama kok! Lagian kalau lagi butuh bahu buat bersandar ngapain ke gw sih? Lu kan punya cewek..' Lulu bermonolog sendiri dalam hati. "Nggg.. Van... Udah lebih dari 2 menit deh kayanya." ucap Lulu setelah merasa cukup risih dengan pelukan itu. " EHEEMM.." Jojo yang sedari tadi tak beranjak dari balkon berdehem memecah suasana. Ia berkacak pinggang menonton adegan di depan pagar itu. Devan gelagapan dan segera melepaskan pelukan itu. Ia melengos ke samping berusaha menghindari tatapan Lulu, gak mau terlihat lemah karena sudah mewek di depan cewek "Hehe.. Maaf Lu. Gw keterusan.." sahutnya garing. Suara Devan yang bindeng membuat Lulu semakin yakin kalau tuh cowok baru aja nangis. " Are you ok Van?" tanya Lulu. Devan mengangguk sambil mengusap mukanya. Ia berusaha tersenyum semanis mungkin ke Lulu. Lulu menatap wajah Devan setiap inci-nya, lalu menggeleng, "Lu lagi gak ok!" Lulu menunjuk pipi Devan yang kemerahan, "Itu! Kenapa? Berantem lagi?" Devan hanya menjawab dengan gelengan. "Eheeeemm.. Woii ada orang di sini woii..." racau Jojo dari balkon. "Ingaaat yang lagi di Jepang sono!" sahutnya lagi. Lulu langsung mendelik ke abangnya yang rese itu, "Kakak apaan sih? Norak!" "Cih!" Jojo langsung merenggut meninggalkan balkon. "Gw cuma ngingatin..." sambungnya lirih yang sudah pasti tidak bisa di dengar Lulu dan Devan. Setelah biang rese menghilang dari balkon, Lulu kembali memandang Devan yang sedari tadi hanya tertunduk memandangi ujung sepatunya. "Ini kali kedua lu mewek di depan gw Van. Cowok sebadung elu gak mungkin bakalan mewek kalau pipinya kena gontok kan? Lah lu pernah bonyok hampir mati ketawa aja tuh.. Elu gak ke Beverly malah ke gw. Pasti ada sesuatu kan?" "Jujur, gw kaget dan kurang nyaman lu peluk tiba-tiba tadi. Gw harap lu gak lupa kalau gw bukan cewek lu lagi. Tolong hargai Beverly kalau lu masih nganggap dia cewek lu. Orang lain bisa salah paham dengan pelukan tadi. Tapi kalau rasanya lu ada masalah berat dan butuh teman buat sharing, kuy masuklah dulu." ajak Lu setelah berorasi panjang. "Gw gak mau besok pagi ada berita 'Seorang pemuda stress ditemukan mati setelah loncat dari gedung.'" Devan tersenyum mendengar gurauan Lulu. "Maaf kalau gw udah lancang Lu." pinta Devan lirih. "Gw gak enak sama bokap Lu. Terakhir gw ketemu beliau, gw nyaris kena gorok." kenang Devan sambil tersenyum kecut. "Papa gw gak dendaman orangnya. Lagian papa sama bang Didi gak di rumah, lagi keluar kota!" "Masuk gih!" tawar Lulu sambil membukakan pagar. Devan mengekor di belakang Lulu. . . . "Tuh kan, si Lulu emang gak bener nih! CLBK tuh sama si gelo!" bisik Tyo greget. Jono yang lagi boncengin Tyo hanya bisa geleng-geleng tak percaya dengan apa yang sudah dia lihat. Niatnya tadi mau nyuruh Tyo minta maaf malam-malam gini ke rumah Lulu terhenti karena dari kejauhan melihat Lulu dipeluk Devan tanpa penolakan. Jono terpaksa menghentikan motornya agak jauh dari rumah Lulu sambil menonton setiap adegan yang terjadi. Walaupun tampangnya pas-pasan, tapi pola pikir Jono jauh lebih waras dibanding Faisal dan Tyo. Ia gak bisa mengambil kesimpulan begitu aja, karena gak bisa mendengar apa yang dibicarakan kedua orang itu. Lagian, walaupun tidak menolak, yang ia lihat Lulu tidak membalas pelukan itu. "Udah lah, kita cao dulu. Jangan nyimpulin yang enggak-enggak kalau belum jelas gini." balas Jono ke Tyo. "Lu jangan ngebacot ke Faisal dulu Yo. Apalagi ke Andra!" Jono mengingatkan Tyo yang gampang ngebacot itu. Tyo yang sedang nangkring di belakang Jono hanya merenggut menanggapi Jono.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD