Bagian 16. Keluarga Impian

1783 Words
"Yuk masuk!" ajak Lulu sambil membukakan pintu. Devan menggeleng, ia memilih duduk di ayunan kayu di pojokan teras, " Di sini ajalah Lu! Adem." "Ini sih bukan adem, tapi dingin!" balas Lulu sambil duduk di kursi teras. Ia mengelus lengannya yang meremang karena ia hanya mengenakan piyama pendek saja. "Nah, sekarang ceritain ada apaan lu tumben ke rumah gw sambil mewek gini?" Devan tidak menjawab. Ia hanya terdiam menatap Lulu sambil mengulas senyum termanis. "Jangan tepe-tepe!" lengos Lulu. Hampir ia terbuai dengan senyuman maut itu. "Lagian siapa yang mewek sih Lu? Gw cuma terharu sampai berkaca-kaca karena ketemu elu lagi!" dalih Devan. "Dih! Ngeles lu gak mutu. Baru tadi siang ketemu gw! Kek udah belasan taon gak ketemu sohib lu.." balas Lulu sambil mencibir. "Udahlah.. ngaku aja! Kalau gak gw suruh pulang nih!" ancam Lulu. "Ckk.. senjata lu ye.." balas Devan. Pintu rumah tiba-tiba terbuka, mama Lulu keluar melihat tamu yang datang. Ia mendengar ada suara orang yang ngobrol di teras. "Ada tamu kok gak di suruh masuk Lu?" Devan tersenyum gugup ke mama Lulu. Ia cemas bakalan di usirin mama Lulu. Terakhir Devan ke rumah ini tiga tahun yang lalu, papa dan mama Lulu marah besar ke dia karena udah buat Lulu depresi sampai gak mau masuk sekolah seminggu. Mama Lulu mengamati Devan sambil berusaha mengingat sesuatu. "Ini Devan bukan?" tanya Mama Lulu tegas. "I-iya Tante.." jawab Devan setengah takut. Menghadapi preman 10 orang mah kecil buat Devan, tapi menghadapi emak-emak yang anaknya dulu pernah ia sakiti Devan menjadi keder. "Ada urusan apa Lu? Gak berantem lagi kan?" tanya Mama Lulu dingin ke anaknya. Senyum yang tadi terulas di bibirnya mendadak memudar setelah mengetahui siapa yang datang. Masih ada sisa rasa kesal di hatinya terhadap pemuda ini. Gara-gara dia Lulu sempat depresi sampai gak mau sekolah. Gak mau melihat tampang Devan dan Tantri, alasannya. Hampir saja ia memindahkan anaknya ke sekolah lain kalau tidak mengingat UN yang menunggu hitungan bulan saja. "Ma.." jawab Lulu sambil menggeleng memohon. Mamanya sebenarnya bukan orang yang judes. Tapi mungkin saja mamanya masih kesal sama makhluk yang bernama Devan ini. Bagaimanapun, seorang ibu pasti akan marah kalau anaknya dikecewakan. Lulupun sampai detik ini masih kecewa dan membenci Devan. Walaupun beberapa hari ini sikapnya ke Devan mulai melunak. Tapi jika seseorang datang kepadanya dengan perasaan yang berantakan, bagaimana ia bisa mengusirnya? Bisa-bisa nih orang besok pagi jadi mayat karena gak ada tempat mengadu. Lulu hanya berusaha berpikir positif. Jika Devan punya Beverly dan teman-teman se ganknya seabrek itu tapi pelariannya malah ke Lulu, mungkin bukan mereka solusinya, tapi dirinya. Lagian beberapa waktu belakang ini, sikap Devan juga lumayan baik. Begitulah dipikiran Lulu. Nyali Devan menciut melihat sikap mama Lulu yang dingin. Sudut hatinya terasa perih, lebih perih daripada efek tamparan papinya tadi. Rumah yang dulu terasa hangat ini tiba-tiba menjadi asing baginya. Dulu, bahkan mungkin sampai sekarang, ia punya cita-cita untuk menjadi bagian dari keluarga ini. Di keluarga Lulu, ia menemukan kehangatan yang tidak pernah dapatkan di keluarganya. Setidaknya, itulah yang ia rasakan sepanjang ia bisa mengingat. Pertama kali Devan menangis di depan Lulu, bukan hanya Lulu, tapi seluruh anggota keluarga Lulu adalah waktu ia diundang makan malam bersama keluarga ini. Beberapa hari setelah ia jadian sama Lulu. Malam itu Devan merasa sangat bahagia dan terharu karena diterima dengan baik oleh keluarga ini. Bahkan papa Lulu yang kaku saja bisa memperlakukannya dengan santai layaknya anak sendiri. Devan bahkan sampai menangis terharu, saat ia keselek tulang ikan dan mama Lulu yang duduk bersebrangan dengannya tampak sangat khawatir. Ibu cantik itu bahkan tergesa-gesa memberinya minum dan mengusap-usap punggungnya dengan sayang. Saat itu Devan langsung menangis tanpa malu. Semua yang duduk di meja makan ikutan khawatir kalau-kalau ia kesakitan tulang itu melukai kerongkongannya. Semakin menjadilah tangis Devan. Ia sesugukan sambil berdoa dalam hati. Cukup menjadi bagian dari keluarga ini, itu saja sudah cukup baginya. Ia tidak akan meminta yang lain kepada Tuhan. Kehangatan yang ia dapatkan di meja makan malam itu bagai harta karun baginya. Sepanjang ingatan Devan, meja makan marmer yang super mahal di rumahnya itu nyaris tidak berguna. Tidak pernah ada anggota keluarga yang lengkap yang di duduk di sana. Papi maminya sibuk wara wiri ngurusin bisnis mereka ke berbagai kota bahkan ke luar negeri. Dalam sebulan, mungkin cuma 2 sampai 3 hari mereka di rumah. Kakaknya yang memilih dunia fotografi sudah memiliki studio sendiri merangkap tempat tinggalnya bersama timnya, dan pulang hanya sesekali di akhir pekan. Devan kesepian, dan rasa sepi itu ia lampiaskan pada pergaulan yang awur-awuran. Tawuran, berantem, clubing, ia membuat masalah di luar untuk menarik perhatian orangtuanya. Tapi apa yang ia dapat? Pak Dodi, asisten papinya lah yang menjadi wali jika ada panggilan untuk orangtua ke sekolah. Bahkan menjadi penjaminnya waktu tertangkap polisi karena berantem di club. Makan bersama dengan anggota lengkap seperti keluarga Lulu, bersenda gurau di ruang keluarga sambil membahas banyak hal, di khawatirkan ketika sakit seperti perhatian mama Lulu waktu itu hanyalah angan-angan bagi Devan. Bahkan memimpikannya saja ia tidak berani. Ia ingat betul, dulu waktu masuk rumah sakit gara-gara dikeroyok, mami papinya bukan menangisinya yang bentukannya sudah tidak karuan karena bonyok di sana sini, tapi malah mengomelinya karena sudah membuang-buang waktu mereka. Hari itu harusnya mereka ada pertemuan bisnis dengan rekan kerja papi Devan dari Australia, tapi karena mendapat berita Devan masuk rumah sakit terpaksa pertemuan itu dibatalkan. "Gara-gara ulah kamu, kerjasama ratusan M bisa melayang tau gak!" begitu omel papinya waktu itu. Kalau saja waktu itu keadaan Devan gak babak belur abis-abisan, mungkin ia sudah mencabut slang infus dan pergi dari ruang rawat itu meninggalkan kedua orangtua yang tidak berperasaan itu. "Ini sudah malam, sudah jam 9 lewat. Jangan lama-lama Lu, gak enak sama tetangga!" ujar Mama Lulu. Devan menyadari ucapan itu ditujukan kepadanya, bukan kepada Lulu. Ia merasa sungguh tak enak hati. Jojo, abang Lulu ikut nongol dari balik pintu. Ia menatap Devan dengan dingin. Dulu, sebelum tragedi Devan dan Tantri terjadi, bisa dibilang Jojo sangat dekat dengan Devan. Devan pernah menyelamatkan nyawanya dari begal. Bisa dibilang, berkat dukungan penuh dari Jojolah Devan bisa jadian sama Lulu. Tapi ketika Lulu disakiti, Jojo jugalah yang paling kecewa. Gimanapun usilnya Jojo ke Lulu, tapi Lulu adalah adik yang sangat ia sayangi. Ia tak rela siapapun menyakiti adiknya, hanya dirinyalah yang boleh membuat Lulu mewek. Melihat dirinya yang tidak disambut dengan baik, Devan tahu diri. Ia bangkit dari ayunan dan berusaha tersenyum semanis mungkin kepada Mama Lulu dan Jojo. "Maaf kalau kedatangan saya membuat risau tante dan bang Jojo. Saya tidak bermaksud mengganggu Lulu. Saya hanya kebetulan lewat, dan tanpa sadar langsung berhenti di depan rumah. Mungkin karena dulu sering main kesini, jadi latah pengen singgah." ucap Devan. "Saya gak lama-lama kok tante, ini juga mau pamit." sambungnya lagi. Jojo menyerngit setengah tak percaya. Orang tadi dia lihat cowok gelo ini main peluk-peluk adiknya. Mama Lulu menghela napas panjang, " Tante harap kamu gak bikin masalah lagi sama Lulu. Cukup sekali dulu. Tante gak rela anak gadis tante disakiti!" tegasnya. Devan tersenyum kecut, "Saya janji tante, gak akan nyakitin Lulu lagi!" "Lu, gw pulang ya.. " ujar Devan ke Lulu. Lulu mengangguk, ia ikut bangkit mengekori Devan yang berjalan ke arah. pagar. "Mama sama kakak apa-apaan sih..?" sungutnya kepada dua orang yang sedang bersidekap di pintu rumah. "Van.. " panggil Lulu setengah berlari menyamperi Devan yang sudah sampai di pagar. Devan menoleh, berusaha menggagahi dirinya yang terluka. Ia berusaha tersenyum kepada gadis cantik yang sudah berdiri di belakangnya itu. Diliriknya Jojo dan mama Lulu masih betah berdiri di pintu rumah. Padahal saat ini, Devan sangat ingin memeluk gadis itu sekali lagi. Menyandarkan kepalanya kepucuk kepala gadis yang sejak dulu tidak pernah hilang dari ingatannya itu. Ingin mengadu, ingin bercerita kalau hatinya terluka, dan hanya Lulu dan rumah inilah tempat ternyamannya untuk pulang. "Maaf ya, kayanya mama sama abang gw masih belum bisa maafin elu." pinta Lulu. "Gw yang harusnya minta maaf Lu, udah ganggu kalian malam-malam gini." balas Devan. Tak tahan, ia mengacak pucuk kepala gadis itu dengan sayang. Hati Lulu berdesir aneh. Ada rasa sesak yang ia rasakan saat melihat tampang Devan yang menyedihkan. Dia yakin masih membenci cowok itu, tapi di saat yang sama juga tersirat rasa sayang yang dulu pernah ada, entahlah mungkin hanya rasa kasihan! Lulu tau Devan adalah anak yang kesepian! "Tapi lu ok kan?" tanya Lulu berusaha meyakinkan dirinya. Devan mengangguk yakin. Ia berusaha tertawa lebar, sehingga senyum kotaknya yang mempesona terlihat. "Gw ok! Heran deh, dari tadi lu nanyain ok mulu." "Soalnya itu... Tadi siang gak ada!" Lulu menunjuk pipi Devan yang kemerahan. Devan mengusap pipinya, "Oh! Ini cuma digampar bokap kok. Dia marah liat gw memar-memar, trus ya gitu deh.." "Aman kok Lu! Udah, masuk gih! Jojo udah pelototin kita tuh." tunjuk Devan dengan dagunya. Lulu menoleh acuh kepada mama dan abangnya yang masih menunggu di pintu. 'Apaan sih? Berasa masih anak-anak gw!" batinnya. "Sebelum pergi lu mau janji gak sama gw?" timpal Lulu ke Devan. "Apa?" "Gw gak tau gimana perasaan lu sekarang. Entah kalut, marah, atau apalah karena berselisih sama bokap yang jarang lu temui. Tanpa lu ceritain pun gw sadar, elu bukan hanya sekedar lewat di depan rumah gw. Tapi lu sengaja kesini, karena hati lu menganggap keluarga seperti keluarga gw inilah yang bisa disebut 'sebenarnya kelurga', rumah untuk tempat pulang. Tapi keadaannya gak kaya dulu lagi Van! Dan gw harap lu bisa mengerti itu." terang Lulu. Devan mengangguk, ia berusaha menunduk menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca. Semua omongan Lulu benar. "Lu pasti kecewa dengan sambutan keluarga gw. Tapi gw harap, ini gak membuat lu tambah down. Berjanjilah kalau malam ini lu gak macam-macam!" pinta Lulu. Devan tersenyum iseng, "Lu khawatirin gw ya?" godanya. "Cih! Gw udah feeling lu bakal ngomong kek gitu." "Gw cuma gak mau jadi saksi kalau-kalau besok pagi lu mengambang di sungai jadi mayat. Trus karena gw orang terakhir yang lu temui sebelum mati ntar gw ditanya-tanyain tuh sama polisi! Ngerepotin tau gak!" omel Lulu sambil bersungut. Devan tergelak pelan, "Ya ampun pikiran lu Lu! Gw gak sebodoh itu! Palingan ntar cuma nge-club dikit ngilangin suntuk." Lulu mempelototkan matanya tak suka. "Yah, kalau gak nonjokin orang buat ngilangin kesal.. gitu-gitu lah.." racau Devan iseng. Ia melirik Lulu, yakin, gadis ini pasti tambah sebal. "Au ah! Bodo amat!" balas Lulu sambil melengos meninggalkan Devan. Ia berjalan menghentakkan kaki, kesal menghadapi cowok bebal itu. "Gw janji Lu!" sorak Devan. "Bodo!" balas Lulu setengah teriak tanpa menoleh. Ia berjalan sambil cemberut memasuki rumah melewati mama dan abangnya yang terbengong-bengong gak ngerti. Devan tersenyum-senyum sambil memutar-mutar kunci, berjalan menuju motornya. Hatinya senang dikhawatirkan Lulu. Kecewa yang tadi ia rasakan sedikit terobati. Niatnya yang tadi memang ingin ke club ngilangin suntuk ia urungkan. Ia gak mau gadisnya khawatir. Ia bersiul-siul melajukan motornya meninggal rumah Lulu, pulang ke rumah, tidur, besok pagi ada kuliah!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD