Jono menjinjing sebuah kantong yang berisi dua bungkus nasi goreng dan satu kotak styrofoam yang berisi martabak telur. Ia dan Tyo berjalan menelusuri bangsal kinik menuju ruangan tempat Faisal dirawat. Sebenarnya bangunan ini sudah menjadi rumah sakit, tapi karena dari dulu berawal dari klinik, orang-orang tetap menyebutnya klinik. Faisal sedari tadi merengek mengidam martabak telur karena bosan dengan makanan klinik yang serba hambar.
"Yo! Lu jangan ngomong macam-macam ya soal yang kita lihat tadi!" Jono kembali mengingatkan Tyo yang mulutnya suka ember.
"Iye! Bawel lu kek mak-mak!" sungut Tyo. Ia sebal ini sudah yang kesekian kalinya ia di peringati.
Dari dalam ruangan terdengar gelak tawa Faisal entah dengan siapa. Perasaan, tadi gak ada pasien lain selain Faisal deh.
Tyo membuka pintu, dan melihat Faisal sibuk video call-an dengan seseorang.
"Tuh, orangnya pada datang!" ucap Faisal pada seseorang di seberang sana.
"Siapa Sal?" tanya Jono sambil menaruh kantong plastiknya di nakas.
Faisal membalikkan ponselnya, dan memperlihatkan penampakan Andra di layar ponsel.
Jono tersenyum, ia merebut ponsel yang sedang dipegang Faisal. Andra dalam pose tiduran di kasur, tampaknya bersiap-siap mau tidur. Maklum kalau di Jepang sekarang sih harusnya sudah tengah malam.
"Woii, ngapain lu masih melek jam segini? Kagak kuliah besok?" tanya Jono ke Andra.
Andra tertawa sebal di seberang sana, ia menunjuk-nunjuk layar ponselnya, "Pasien rumah sakit tuh... gangguin gw!" sahutnya.
"Gw bosan ditinggal sendiri." timpal Faisal.
Tyo ikut melongokkan kepala ke layar, cengiran kuda ke Andra.
"Kemana aje kelen? Ninggalin pasien kelamaan?" tanya Andra kepada dua temannya itu.
"Tadi mampir dulu ke rumah Lu.." Jono langsung menyikut Tyo yang nyaris keceplosan. Tuh kan.. tuh anak emang ember abis. Tyo langsung sadar kelabakan.
Andra dan Faisal yang sedang tergolek menyerngit keheranan melihat gelagat kedua orang ini.
"Lu siapa?"
"Si Lukas yang di kosan jalan Jati. Gw nebeng nyontek tugas dulu, hehe..." sahut Jono ngeles. 'Untung gw punya temen yang namanya Lu.. kas..' batin Jono.
"Oooh.. kebiasaan lu Jon!"
Jono hanya mesem-mesem.
"Mo nasi goreng gak Ndra?" tawar Tyo yang sudah sibuk dengan nasi gorengnya, ia selonjoran tanpa dosa di tikar. Jono memicingkan mata kesal melihat kelakuan makhluk itu.
"Di Jepang ada nasi goreng gak sih Ndra?" tanyanya lagi sambil menyuap nasi gorengnya.
"Jangan manas-manasin gw deh... Ntar gw pulang nih..." erang Andra.
"Eh, Lulu aman kan?" tanya Andra tiba-tiba.
"Aman sentosa!" sahut Jono tegas. Ia tidak mempedulikan Faisal dan Tyo yang nyaris keselek timun yang saling berpandangan, gak mau Andra curiga dan berpikir macam-macam. Anak itu jauh-jauh ke Jepang harus kuliah yang benar!
"Dianya baik-baik aja kan? Gak kurang satu apapun?" tanya Andra lagi.
Jono terdiam, berusaha mencerna sesuatu. Ia berusaha mendalami ekspresi Andra yang berubah di seberang sana.
"Lu... nanya kek gitu seolah-olah udah lama gak kontakan sama Lulu dah." selidik Jono.
Andra meneguk ludah. Mampus! Padahal tadinya udah bela-belain gak cerita ke teman-temannya kalau udah sebulanan dia gak kontakan sama Lulu. Gara-gara penasaran sama kabarnya Lulu, naga-naganya bisa ketahuan nih!
Ketiga temannya saling berpandangan dengan gelagat Andra. Curiga jangan-jangan nih anak putus sama Lulu, makanya Lulu balikan lagi sama mantan! Mereka berusaha menyatukan puzzle yang berserakan, versi pikiran mereka masing-masing.
"Ndra..?" tekan Jono.
Tyo menghentikan suapan nasi gorengnya menunggu jawaban Andra. Faisalpun sampai berusaha duduk kepayahan dengan sebelah tangan demi menyimak penjelasan Andra.
"Gw..." Andra menghentikan ucapannya. Ia ragu apa harus bercerita atau tidak. Ini urusan pribadinya, teman-temannya tidak perlu dilibatkan. Tapi sejak awal ia sudah melibatkan teman-temannya dalam hubungan ini, dengan menitipkan Lulu kepada mereka. Dan berkelitpun gak guna di depan para makhluk kepo ini.
"Gw dan Lulu memutuskan untuk vakum dulu sementara guys.." jelas Andra akhirnya. Ia menarik napas menahan sesak di d**a.
Ketiga temannya terbelalak tak pencaya, sontak ketiganya saling berpandangan. 'Akhirnya potongan terakhir puzzlenya ketemu!' batin mereka masing-masing.
***
Andra tergolek lemas setelah menyudahi obrolannya bersama ketiga temannya. Hatinya nyeri. Ia rindu Indonesia, rindu dengan semua yang ada di sana, apalagi Lulu pujaan hatinya. Jika sama ayah bundanya ia kontakan hampir tiap hari, begitupun dengan ketiga teman kampretnya itu, bisa dibilang paling enggak, dalam seminggu ada dua kali mereka video call-an. Tapi dengan Lulu?
Ini udah rekor banget! Sebulan lebih gak kontakan!
Siapa bilang Andra tidak rindu? Sangat rindu!
Gadis cantik yang manjanya minta ampun itu, udah berhasil membuat Andra gak fokus sebulan ini. Bagaimana tidak, sejak mereka pacaran, gadis itu selalu menghiasi hari-hari Andra setiap harinya. Apalagi mereka satu fakultas, sudah pasti bertemu setiap hari, bahkan di hari libur. Itulah sebabnya Lulu sampai drama ditinggal Andra karena sejak dua tahun terakhir tiada hari tanpa Andra.
Andra berpikir ulang apakah keputusannya untuk mengajak Lulu vakum sudah benar? Ia merasa sangat pengecut karena tidak berani menelpon gadis itu sejak malam itu. Media sosial Lulu yang ia stalkingin setiap haripun tidak menampakkan aktifitas gadis itu. Maklum Lulu bukan tipe orang yang suka pamer atau share apapun di media sosial.
Beberapa bulan yang sudah ia lalui di Jepang terasa cukup berat. Pola pembelajaran di Jepang jauh berbeda dengan kampusnya di Indonesia sana. Di sini orang-orang sangat disiplin! Andra bukannya anak yang gak cerdas, dia cerdas banget! Tapi beradaptasi dengan lingkungan baru itu butuh waktu. Apalagi Andra harus kursus kilat bahasa Jepang juga demi melancarkan komunikasi dengan teman-teman barunya. Plus segudang tugas kuliah dan aktifitas non akademik lainnya benar-benar menyita waktu Andra.
Bukannya Andra mengabaikan Lulu. Ada Lulu di setiap langkah dan bisikan doanya, tapi gadis itu selalu kumat egonya setiap kali Andra telat mengangkat panggilan darinya. Dan itu melelahkan!
Memutuskan untuk vakum dengan segala perasaan cinta yang menggebu adalah keputusan yang berat. Tapi Andra harus berpikir logis. Ia tidak bisa memberi makan Lulu dengan cinta saja! Ia harus kuliah yang benar, bekerja dan sukses. Barulah ia berani menemui kedua orangtua Lulu dengan kepala tegak, mengambil alih tanggungjawab papa Lulu, hidup bahagia dan menua bersama Lulu. Sekarangpun restu sudah ia dapat dari keluarga Lulu, dan ia yakin Lulupun bukan gadis yang gampang berpaling. Ia hanya perlu membuktikan diri bahwa ia adalah laki-laki yang bisa diandalkan, itu saja!
Andra berusaha memicingkan matanya yang sudah tidak mengantuk lagi. Tadi ia sempat tertidur sebelum diganggu Faisal yang kesepian di tinggal Jono dan Tyo. Sepinya sedikit terobati berkat ketiga makhluk kampr3t itu.
Andra tersenyum sendiri membayangkan Faisal yang histeris melihat motor kesayangan yang sudah ia anggap pacar sendiri itu bonyok di sana sini karena kecelakaan. Ia yakin Faisal pasti lebih menangisi motornya ketimbang tangannya yang patah itu.
Ya, Faisal dan yang lain terpaksa berbohong kepada Andra. Tidak mungkin mereka bercerita kalau Faisal sekarat karena digebukin mantan pacar Lulu.
Andra melirik layar ponselnya, sudah lewat jam 2 dini hari. Ia tersenyum pahit sambil mengusap wajah Lulu yang sedang menyengir lucu di layar ponselnya.
"Aku sayang banget sama kamu Lu.." lirih Andra.
"Kangen banget denger rengekan kamu, kangen banget pengen peluk kamu. Tunggu aku dilibur semester ya Lu.." bisiknya sebelum menarik selimutnya. Tak lama kemudian Andra tertidur dengan sudut mata yang berair. Rindu itu berat, biar Dilan saja yang merasakannya! Hehee..
***
Sementara di rumah Lulu..
Lulu memandang mama dan abangnya dengan muka cemberut.
"Ma, aku tau mama dan kakak masih kesal sama makhluk yang bernama Devan itu. Akupun juga gitu ma, masih benci sama dia! Tapi liat sikon lah ma..." keluh Lulu. Ia melempar remot TV ke Jojo yang seolah gak peduli selonjoran di sofa sambil mainin hape.
"Ck! Apaan sih? Sakit tau!" Jojo mengusap perutnya yang menjadi tempat pendaratan remot itu.
"Mama cuma gak mau dia nyakitin kamu lagi Lu! Ntar meweknya lamaaa banget.." sahut mama Lulu yang lagi sibuk chat-an sama mantan pacarnya, papa Lulu.
"Udah tau ratu drama.." sambung Jojo. Kali ini bantal sofa yang mendarat di mukanya.
"Apaan sih?! Gw lempar balik nih!"
"Kakak rese! Diam aja! Gw ngomongnya sama mama!"
"Oo... liat aja ya.. Ntar klo tu cowok buat lu mewek lagi, gw gak bantuin ya.." ancam Jojo.
"Hehh.. bantuin apa kak? Bantuin nonjok? Ada juga lu yang di tonjok dia!" ledek Lulu.
"Eh, asal lu tau ya! Waktu masalah dulu tuh anak sampai bonyok gw tonjokin!"
"Itu karena dia gak balasin! Coba kalau dibalas, sekali jitak bocor tuh dahi lu!" ledek Lulu lagi sambil meleletkan lidah ke abangnya.
"Huss... berisik ah.." sela mama Lulu yang masih sibuk berkutat dengan hape.
"Kami cuma mau kamu baik-baik aja Lu.." sambung ibu cantik itu lagi. Jojo menanggung-angguk turut setuju.
"Ma, dia itu bukan penjahat, pembunuh atau sejenisnya.. Dia cuma anak yang lagi kesepian, rindu kasih sayang orangtua yang ia pikir bisa ia dapatkan kembali di sini ma.. Mama gak liat tuh muka tadi merah banget digampar papinya? Aku cuma gak mau dia melakukan hal yang enggak-enggak disaat sedang kalut gini ma." terang Lulu.
Mama Lulu dan Jojo hanya menyimak.
"Memang bukan urusan aku lagi sih ma. Lagian dia juga udah punya pacar dan seabrek teman buat ngilangin suntuk. Tapi malam ini yang dia butuhkan bukan itu ma, dia butuh keluarga tempat mengadu! Dan rumah kita, keluarga kita, itu impiannya ma." terang Lulu lagi dengan setengah emosi.
Mama dan Jojo barengan menarik napas panjang. Tampaknya Lulu benar, anak itu tadi memang sedang kalut.
Lulu bangkit, berjalan menuju tangga, "Udahlah, aku mau tidur!" sungutnya pelan.
Mama dan Jojo mengikuti langkah Lulu dengan pandangan sampai menghilang di ujung tangga. Keduanya sama-sama mengendikkan bahu saat Lulu sedikit membanting pintu kamarnya.
Lulu mengusap dadanya di balik pintu. Ia berpikir apa ia sudah ngomong kelewatan kepada mama dan abangnya? Bukannya membela Devan, tapi Lulu merasa Devan memang butuh teman ngobrol tadi. Hanya itu, tidak ada yang spesial.
Benarkah??
Detak jantungmu berkata lain Lu!