Bagian 18. Civil War

1425 Words
Devan menguap kebosanan sambil membolak-balikkan sebuah majalah mode yang di covernya ada gambar Kyle Jenner yang sedang berpose seksi pake baju bermotif macam tutul. Sudah hampir 2 jam Devan menunggui Beverly yang sedang perawatan di salon langganannya sampe baterai hapenya lowbat. Ia merutuk dalam hati karena lupa membawa charger dan powerbank. "Ckk.. dasar cewek!" umpatnya pelan sambil melempar majalah tersebut ke atas meja. Devan memicingkan matanya sambil bersandar ke sofa tunggu yang empuk, berusaha tertidur! Gak jauh dari Devan duduk, ada dua cowok bucin lainnya yang bernasib sama dengan Devan. Nungguin pacar masing-masing perawatan! Bedanya, mereka gak kebosanan karena sibuk dengan gadget masing-masing. Sejak Beverly jatuh pingsan beberapa waktu yang lalu, Devan selalu menuruti apa kemauan gadis itu. Baru seminggu ini Beverly keluar dari rumah sakit setelah dirawat hampir dua minggu. Devan tidak paham Beverly sakit apa. Tapi mama dan papanya sambil menangis meminta ke Devan untuk lebih memperhatikan Beverly dan menjaga perasaannya. Perasaan Devan mengatakan ada sesuatu yang cukup serius terjadi pada Beverly, tapi ia juga menghargai keputusan kedua orangtua Beverly yang tidak mau bercerita banyak. Sejak dulu Beverly memang gampang sakit dan kelelahan. Devan hanya bisa mengangguk menyanggupi permintaan orangtua Beverly. Ada rasa kasihan yang tersirat kepada kedua orangtua itu. Sekarang mereka hanya punya Beverly. Beryl kakaknya Beverly, sudah meninggal dua tahun yang lalu. Beryl adalah salah satu besti-nya Devan. Suatu malam Beryl dan teman-teman segank mereka terlibat pertempuran hebat dengan anak-anak motor gank sebelah. Devan absen karena dipaksa maminya ikut acara ulang tahun perusahaan mereka. Berawal dari balapan dengan taruhan motor masing-masing, dan berakhir dengan tragedi. Merasa dicurangi karena ban motornya tiba-tiba gembos menjelang finish, Beryl yang kalah langsung menonjok Alex lawannya. Dan pertempuran hebat antar gank gak dapat dihindari. Aksi bar-bar mereka baru berhenti bukan karena sirine polisi, tapi karena tiba-tiba Beryl sudah tergolek bersimbah darah di aspal. Di perutnya sudah tertancap sebilah pisau! Alex, pelaku penusukan itu langsung kabur menggeber motornya, diikuti teman-temannya. Beryl dilarikan teman-temannya ke rumah sakit, ia sempat koma karena kehabisan banyak darah, dan akhirnya menghembuskan napas terakhirnya setelah 5 hari di ICU. Beryl menitipkan suatu amanat yang cukup berat bagi Devan tak lama setelah ia bangun dari koma, yaitu menjaga adik satu-satunya, Beverly! Sulit bagi Devan meng-iyakan mengingat hidupnya sendiri yang amburadul, tapi ia lebih tak kuasa menolak permintaan Beryl itu. Devan hanya bisa mengangguk disaksikan Beverly dan mama papa Beryl yang sudah berlinang air mata. Malam itu setelah acara pemakaman Beryl, Devan mengobrak-abrik basecamp-nya Alex cs seorang diri. Hampir seminggu ia menahan diri untuk membalas perbuatan Alex, tapi hari itu rasa sakit ia yang rasakan ditinggal Beryl selama-lamanya membuatnya kalap. Dengan kesetanan ia menghajar satu per satu anggota Alex cs, bukan tanpa perlawanan, Devan pun babak belur. Sekujur badannya sakit, tapi tidak lebih sakit dari hatinya. Ia dan Beryl sudah bersahabat sejak lama, semenjak mereka masih duduk di bangku SMP! Polisi akhirnya datang atas laporan warga sekitar. Semuanya digiring, termasuk Devan! Alex akhirnya masuk penjara atas kasus pembunuhan, sementara teman-temannya dan Devan sendiri dibebaskan setelah mendapatkan pejaminanan dari orangtua dan wali masing-masing. Itulah terakhir kalinya Devan dan teman-temannya trek-trekan dijalanan. Setelah itu mereka semua berusaha hidup dengan benar, apalagi mereka sudah mahasiswa. Bukan berarti Devan gak pernah berantem lagi, tapi ia menjadi orang lebih bisa menahan diri, tidak seperti dulu yang dikit-dikit main tonjok. Sejak saat itu, Beverly mulai mendekat kepada Devan. Devan tak kuasa menolak, walaupun ia sebenarnya risih. Ia tidak akrab dengan Beverly, walaupun ia sempat mendengar gosip kalau adiknya Beryl itu ada hati padanya. Dibenak Devan hanya ada Lulu seorang! Tapi berkat kegigihan Beverly, akhirnya Devan luluh juga. Devan merasa tidak bisa berharap banyak untuk baikan dengan Lulu. Jangankan melihat wajahnya, gadisnya itu bahkan tidak sudi melihat ujung sepatunya! Apalagi setelah mengetahui Lulu sudah memiliki tambatan hati yang baru. Devan menyerah, dan membuka ruang untuk Beverly yang selama ini begitu gigih menaklukkannya. Beverly cantik, gak kalah dari Lulu. Tapi ia tipe cewek metropolitan yang modis dan feminim abis. Beverly akan bergidik ngeri jika diajak main lumpur dan berpanas-panasan, gadis itu musuhan dengan matahari. Sementara Devan adalah penyuka kegiatan outdoor. Beda banget sama Lulu yang kegirangan ketika diajak hiking menjelajah hutan atau touring naik motor. Pacaran dengan cewek yang sefrekuensi seperti Lulu itu menyenangkan, apalagi berada di tengah keluarganya yang hangat itu. Devan menggeliat penat dengan pose duduknya yang gak nyaman. Ia memutuskan mencari angin keluar. Dihisapnya dalam-dalam vape yang sedari tadi ia pegang dan menyeburkan asap yang gak kalah tebalnya dengan asap kebakaran hutan di Riau sana. Devan celingukan kanan-kini melihat suasana, bibirnya mengulas senyum ketika melihat penampakan tiga orang gadis si seberang jalan yang baru aja keluar dari gerai mekdi sambil memgang cup es krim di tangan masing-masing. Setengah berlari ia mengejar para gadis itu. Devan berjingkat-jingkat mengikuti mereka. Lulu terkaget ketika seseorang menutup matanya dari belakang. Hampir saja ia menjatuhkan cup se krimnya. Dinda dan Kanya juga tak kalah kagetnya. Mata keduanya terbelalak ketika mengetahui siapa orang yang sudah sok akrab mengerjai sohib mereka. "LU..?!' u*****n Dinda yang nyaris keluar tertahan ketika Devan sibuk mengerjap-ngerjapkan mata kepadanya. Ia mendelik sebal melihat penampakan cowok itu. "Tebak! Siapa coba?" bisik ke telinga Lulu yang sedang berjibaku melepaskan tangan yang menutupi kedua matanya. "Van! Lu lepasin atau gw tendang nih s**********n lu?!" geram Lulu. Devan merenggut pasrah melepaskan tangannya, "Yah.. kok lu tau sih Lu?" "Ya tau lah! Manusia yang baunya model gini cuma lu doang di dunia ini!" sembur Lulu sambil mengucek-ngucek matanya yang silau. Untung ia gak pake bulu mata palsu, kalau enggak udah lepas tuh bulu mata dari tadi. "Bau wangi maskulin gitu ya?" balas Devan kepedean. "Bau ketek lu khas! Bau bawangnya mama gw di dapur!" semprot Lulu lagi. Dinda dan Kanya sontak tertawa mendengar omelan sohibnya. Devan cemberut sambil menciumi keteknya, "Wangi gini kok!" gumamnya. "Lagian lu ngapain ngintilin gw?" "Idih, siapa yang ngintilin? Gw kebetulan liat kalian lewat." bela Devan. "Pake acara sok akrab lagi! Tau diri lu Van!" sewot Kanya. "Apa sih Nya? Marah-marah aja dari dulu, ntar keriputan lu." goda Devan sambil menjawil dagu Kanya. Kanya menepisnya dengan geram. Kesal banget melihat penampakan makhluk ini. "Lagian gw emang akrab gitu sama Lulu. Iyakan kan Lu?" tanya Devan sumringah meminta dukungan. Lulu memicingkan mata sebal. 'Cowok ini kalau dibaik-baikin ngelunjak!' batinnya. Seseorang menepuk pundak Devan dari belakang, " Siapa yang?" tanyanya. "E-eh Bee... Udah siap?" tanya Devan gelagapan. Melihat ekspresi pacarnya, ia khawatir sebentar lagi bakal terjadi kerusuhan. Beverly tidak menjawab, ia menatap Lulu dan kedua sohibnya dengan tatapan dingin. Tampak pemandangan yang kontras diantara keduanya. Beverly yang cantik paripurna hasil perawatan di salon dan Lulu cs yang cantik juga.. dengan muka minyakan hasil kelayapan seharian. Devan menelan ludah ngeri, membayangkan Beverly bakalan ngamuk dan mengacak-acak Lulu. Tak terbayang kalau ada Kanya di kubu sana. Perang ala emak-emak pasar bisa terjadi. "Dah lah. Gw gak mau ada keributan, capek banget habis ngider!" ujar Lulu sambil menarik tangan Dinda. Sesaat Devan menarik napas lega. "Jinakin tuh macan lu!" sambung Kanya sambil berlalu. Tiba-tiba saja Beverly menarik rambut Kanya yang diikat ekor kuda. Sontak gadis itu langsung tertarik ke belakang. "Siapa yang lu bilang macan?" desisnya. "Aauu! Sakit Bit*h!" Kanya berusaha melepaskan cengkraman tangan Beverly. Perang ala emak-emak gak dapat dihindari. Kanya menyiram muka Beverly dengan es krim yang sudah lumer. Gadis itu menjerit histeris. Ia baru saja selesai facial!. Dalam hitungan detik aksi jerit-jeritan dan jambak-jambakan langsung terjadi. Lulu dan Dinda yang sudah jalan duluan langsung melotot melihat pemandangan di belakang mereka. Gimana ceritanya Kanya bisa jambak-jambakan gitu sama ceweknya Devan? Dan si gelo itu cuma bengong nontonin kerusuhan yang terjadi di depan matanya. Lulu dan Dinda langsung berlari melerai mereka, bahkan mbak-mbak yang punya toko juga ikutan melerai. Takut kerusuhan itu menghancurkan kaca tokonya. "VAN! Lu ngapain sih?" sembur Lulu ke cowok yang masih bengong itu, ia bingung harus gimana menengahi perang ala emak-emak ini. "Bantuin pegangin cewek lu nih! Aduh.." Lulu mengusap jidatnya yang ikutan kena gontok. Devan langsung menarik Beverly yang sudah kesetanan. Nih cewek bar-bar juga kalau mode perang! "Bee.. udah! Udah! Malu ditontonin orang Bee.." mohon Devan kepada kekasihnya itu. "Nya! Udah Nya! Bikin malu ah!" Dinda berhasil melepaskan jambakan Kanya di rambut Beverly pada akhirnya. Perang bar-bar bin norak itu berhasil dihentikan setelah Devan dan Dinda berhasil memisahkan keduanya. Lulu menghaturkan maaf ke mbak-mbak toko dan segenap penonton yang kecewa karena atraksi menarik itu sudah berakhir. "DASAR CEWEK GILA LU!" Kanya masih sempat-sempatnya mengumpati Beverly dari kejauhan. Dinda langsung membekap mulut gadis itu dan menyeretnya pergi. "LU YANG GILA!" balas Beverly yang sedang sibuk berontak ditarik Devan menjauh. Cowok itu tertunduk menahan malu. Gak lagi-lagi deh ketemuin Beverly dengan Lulu cs.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD