Tanda Tangan Diatas kertas
Ruangan itu dingin. Bukan hanya karena pendingin ruangan yang disetel terlalu rendah, tapi karena suasana yang menyelimuti setiap sudutnya. Ruang kerja seluas setengah lapangan bola itu tampak megah dengan dinding berlapis kaca yang memantulkan cahaya matahari siang, namun bagi Aurora, tempat ini terasa seperti penjara emas yang siap menelan hidupnya utuh.
Aurora duduk di ujung kursi kulit hitam yang empuk, tangannya saling menggenggam di atas paha untuk menyembunyikan getaran hebat yang terasa hingga ke ujung jari. Di seberang meja kerja raksasa yang terbuat dari kayu mahoni asli, duduklah sosok yang menjadi alasan ia berada di sini.
Arkan Dirgantara.
Pria itu duduk santai namun penuh wibawa, punggungnya tegak lurus seolah tak pernah mengenal rasa lelah. Wajahnya tampan luar biasa, dengan rahang tegas, hidung mancung, dan sepasang mata hitam pekat yang tajam seperti mata elang. Namun, tak ada seberkas pun kehangatan di sana. Wajahnya datar, kaku, seolah seluruh emosi di dalam dirinya telah mati sejak lama. Ia dikenal sebagai CEO termuda sekaligus paling ditakuti di ibu kota. Jenius bisnis yang mengubah nama Dirgantara Grup menjadi kekuatan ekonomi raksasa, namun juga dijuluki sebagai Sang Arkan Dingin—pria yang tak punya hati, tak punya belas kasih, dan tak pernah tersenyum pada siapa pun.
Arkan menatap berkas di hadapannya dengan tenang, jari-jarinya yang panjang dan ramping menyusuri baris demi baris tulisan di atas kertas itu. Ia sama sekali tak melirik ke arah Aurora, seolah keberadaan wanita muda di depannya hanyalah sepotong perabot tak bernyawa.
"Kau sudah baca semua isinya?" suaranya terdengar berat, rendah, dan dingin—persis seperti kepribadiannya.
Aurora menelan ludah, berusaha menenangkan diri agar suaranya tak bergetar saat menjawab. "Sudah, Tuan Dirgantara."
Arkan akhirnya mengangkat wajah. Tatapan matanya menembus lurus ke manik mata cokelat Aurora, membuat napas wanita itu tercekat seketika. Ada tekanan besar yang terasa menimpa d**a Aurora setiap kali pria itu menatapnya.
"Jangan panggil aku Tuan Dirgantara," ucapnya datar, nada bicaranya tak berubah sedikit pun. "Selama kontrak ini berlaku, kau adalah istriku. Panggil aku Arkan. Tapi ingat, itu hanya di depan orang lain. Di sini, di ruangan ini, atau saat hanya ada kita berdua... kau tetaplah karyawan yang kubayar mahal."
Hati Aurora terasa tercubit, namun ia memaksakan diri untuk mengangguk patuh. Ia sudah tahu persis apa risiko yang akan ia terima saat memutuskan datang ke sini. Ia tak datang untuk mencari cinta, apalagi kasih sayang. Ia datang demi satu hal: uang. Uang yang sangat dibutuhkan ayahnya untuk operasi jantung, dan uang untuk melunasi hutang penagih yang sudah hampir merampas rumah mereka.
"Aku mengerti, Arkan," jawab Aurora pelan.
Arkan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap Aurora dengan pandangan menilai, seolah sedang memeriksa barang dagangan. "Bagus. Sekarang ulangi lagi poin-poin utamanya, supaya kau tidak berpura-pura tidak tahu di kemudian hari."
Aurora menarik napas panjang, lalu mengingat kembali isi perjanjian yang sudah ia baca berulang kali hingga hafal di luar kepala.
"Pertama," Aurora mulai berbicara dengan suara jelas, "Kita akan menikah secara sah menurut hukum negara selama jangka waktu satu tahun terhitung mulai hari ini. Kedua, di depan umum aku harus bersikap sebagai istri yang patuh, penyayang, dan bahagia bersamamu. Aku harus ikut dalam setiap acara resmi, jamuan makan, atau pertemuan keluarga yang kau tentukan."
Arkan diam, mendengarkan tanpa ekspresi.
"Ketiga," lanjut Aurora, suaranya sedikit melemah meski ia berusaha tegar, "Di dalam rumah maupun di luar, tidak boleh ada sentuhan berlebih, tidak ada hubungan suami istri, dan sama sekali tidak boleh ada perasaan cinta yang tumbuh di antara kita. Pernikahan ini murni urusan bisnis. Saat satu tahun habis, kita berpisah damai, tidak ada tuntutan apa pun, dan aku tidak akan mengambil sedikit pun hak atas harta atau kekayaanmu."
"Dan imbalannya?" potong Arkan singkat.
"Aku akan menerima bayaran dalam jumlah yang telah disepakati, cukup untuk menyelesaikan semua masalah keluargaku, dan hidup tenang setelah kontrak ini selesai."
Arkan mengangguk pelan, seolah puas dengan jawaban itu. Ia kembali meraih pulpen emas di atas mejanya, lalu mendorong berkas tebal itu mendekat ke arah Aurora.
"Kau pintar. Dan aku suka orang yang tahu tempatnya," ucapnya dingin. "Ingat satu hal lagi, Aurora. Aku tidak butuh istri, aku hanya butuh sosok yang bisa menghentikan semua desakan dari orang tuaku dan para pemegang saham yang terus mengganggu hidupku dengan urusan pernikahan. Kau ada di sini hanya untuk memenuhi syarat itu. Jangan pernah bermimpi kau bisa masuk ke dalam duniaku, apalagi mengubahku. Bagiku, wanita hanyalah gangguan, dan perasaan hanyalah kelemahan."
Kalimat itu menusuk tepat ke d**a Aurora, namun ia tak punya pilihan lain. Demi ayah, batinnya berteriak. Demi keselamatan keluarga, ia rela menjual satu tahun hidupnya kepada pria sedingin es ini.
Aurora meraih pulpen yang disodorkan Arkan. Tangannya sedikit gemetar saat ujung pulpen itu menyentuh kertas putih di bagian paling bawah, di mana ada ruang kosong bertuliskan Tanda Tangan Istri.
Di sana sudah ada tanda tangan Arkan. Tulisan tangannya tegas, tajam, dan seolah tak terbantahkan.
"Kalau kau sudah siap, tandatangani sekarang," suara Arkan terdengar seperti perintah mutlak. "Begitu tinta menyentuh kertas, hidupmu selama satu tahun ke depan sepenuhnya menjadi milikku. Kau tidak boleh menolak, tidak boleh mengelak, dan tidak boleh menyesal."
Aurora mengangkat wajah, menatap Arkan untuk terakhir kalinya sebelum nasibnya berubah sepenuhnya. Di balik ketampanan yang mempesona itu, Aurora melihat kesepian yang mendalam, tapi juga tembok pertahanan yang begitu tebal dan tinggi.
Aurora menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Ia memejamkan mata sepersekian detik, membayangkan wajah ayahnya yang sedang terbaring lemah di rumah sakit, lalu membuka matanya kembali dengan tekad bulat.
Dengan satu goresan tangan, Aurora menuliskan namanya di sana.
Aurora Mahesa.
Selesai sudah. Kertas itu kini sah menjadi perjanjian yang mengikat dua kehidupan yang berbeda dunia.
Arkan mengambil kembali berkas itu, melipatnya rapi dan memasukkannya ke dalam laci meja kerjanya seolah baru saja menyelesaikan urusan paling remeh. Tak ada sedikit pun perubahan di wajahnya, tak ada rasa lega, apalagi rasa gembira.
"Bagus. Mulai hari ini, kau pindah ke kediaman utama keluarga Dirgantara sore ini. Supirku akan menjemputmu," ucapnya datar, lalu kembali menunduk ke arah layar komputernya, seolah Aurora sudah tak ada lagi di ruangan itu. "Sekarang kau boleh pergi. Aku masih ada pekerjaan."
Aurora berdiri perlahan, merapikan rok gaun sederhananya. Rasanya aneh, perih, namun entah mengapa ada rasa penasaran yang terselip di balik rasa takutnya. Ia menatap punggung Arkan yang lebar dan tegap itu sekali lagi.
Apa yang sebenarnya ada di balik dinding dingin itu? batinnya bertanya sendiri.
"Terima kasih, Arkan," ucap Aurora pelan, meski ia tak tahu harus berterima kasih untuk apa.
Ia berbalik dan melangkah keluar dari ruangan dingin itu, meninggalkan Arkan Dirgantara—sang CEO dingin yang kini secara resmi menjadi suaminya dalam sebuah ikatan palsu. Di balik pintu yang tertutup rapat itu, satu babak baru dalam hidup Aurora baru saja dimulai, dan ia sama sekali belum tahu seberapa besar badai yang sedang menantinya di dalam istana megah milik pria yang tak pernah percaya cinta itu.