bc

Harusnya Bukan Kamu (Squel novel Awan-Selly)

book_age18+
838
FOLLOW
2.6K
READ
HE
kickass heroine
heir/heiress
blue collar
tragedy
bxg
campus
secrets
cruel
substitute
like
intro-logo
Blurb

Pernikahan adalah impian setiap orang setelah bertemu dengan orang yang tepat dan cocok. Namun, bagaimana jika pernikahan yng ada di depan mata itu telah di hapus oleh takdir?

Angkasa Kalaga Efendi

Kaella Nerana Husia

Lava Asharin Paxon

chap-preview
Free preview
Eps 1
“Assalamu’alaikum,” sapaan salam dengan suara yang lembut dari seberang telpon sana. Senyum tipis yang terlihat begitu manis terukir di bibir seorang lelaki yang tengah menatap gelas kopi di tangan kanannya. Angkasa Kalaga Efendi, lelaki tampan berkulit putih dengan hidung mancung dan wajah yang sejak kecil sudah terkesan jutek. “Wa’alaikumsalam, Asa,” balas Angkasa. Dia makin tersenyum membayangkan gadis idamannya di sana yang sepertinya sedang tersipu. “Kak Angkasa jadi ke sini nanti malam?” tanya si gadis. Angkasa memerhatikan foto yang ada di layar laptopnya. Foto seorang gadis cantik yang kepalanya tertutup jilbab warna kuning, lengkap dengan gamis panjang yang menutupi tubuh, sangat manis. Dia lah, Lava Asharin Paxon; gadis cantik sholeha yang berhasil membuat Angkasa luluh dan ingin memulai hubungan yang serius. “Hhmm. Kamu nanti pulang kuliah jam berapa?” tanya Angkasa. “Uumm, jam tiga, kak.” “Nanti aku jemput.” ** Angkasa menuruni anak tangga, tertegun melihat mamanya yang sudah sibuk menyiapkan beberapa barang di ruang tengah. Dia melanjutkan langkah dan ikut melihat barang-barang berupa buah-buahan dan camilan lainnya. “Ini mau dibawa ke rumah Vasha semua, Ma?” tanyanya. Mama Selly tersenyum dengan anggukan. “Nggak kebanyakan, Ma?”. Mama berdecak kecil. “Ya masa’ mau berkunjung ke rumah calon mantu nggak bawa apa-apa, Sa. Ini kan Cuma buah sama makanan ringan aja.” Mama Selly tersenyum bahagia melihat tatanan buah yang memang cantik banget. “Eh, jangan lupa ke EU, katanya pesanan cincin kalian sudah jadi.” Angkasa menjatuhkan p****t di sofa depan mama Selly. “Iya, iya, Ma. Aku udah atur janji sama Vasha.” Mama Selly tersenyum lebar, dia menegakkan duduk. menatap wajah Angkasa dengan penuh kebanggaan. “Mama tuh seneng banget. Nggak nyangka aja kalau bakalan dapat mantu gadis cantik seperti Vasha. Liat Vasha udah bikin hati mama adem banget, Sa. Pilihan kamu yang ini, enggak mengecewakan mama sama papa.” Angkasa hanya menggaruk pelipis. “Yaudah, aku mau pergi dulu.” pamitnya, beranjak dari duduk dan melangkah meninggalkan mamanya. ** Mobil warna abu-abu milik Angkasa pribadi memasuki halaman luas gedung fakultas desain. Angkasa mematikan mesin mobil saat sudah ada di parkiran yang tak jauh dari gedung. Beberapa menit lagi sudah akan menunjuk di angka tiga, jadi dia tidak menunggu gadisnya itu terlalu lama. Angkasa mengambil ponsel, mengusap layarnya dan mulai menekan beberapa huruf. [Aku udah di parkiran, Va] send Asa. Menunggu beberapa menit, tapi chatnya tetap centang dua abu-abu. Angkasa memilih menyimpan ponsel ke saku jaketnya. Dia membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Kedua mata sedikit menyipit menatap ke arah undakan dengan pintu kaca yang terbuka separuh. Ada beberapa anak yang keluar dari pintu itu. Ada seorang cewek dengan rambut yang sengaja diwarnai melangkah keluar dari sana. Dia sepertinya sangat buru-buru, berlari ke arah Angkasa. Cuek banget, mengambil kunci mobil dari dalam tasnya dan langsung masuk ke mobil warna hitam yang terparkir tepat di samping mobil milik Angkasa. “Kak,” Suara panggilan yang terdengar begitu lembut membuat Angkasa sedikit terkesiap. Dia langsung menoleh, dan menemukan Vasha yang entah sejak kapan sudah berdiri di sebelahnya. Tatapan Vasha jadi mengikuti ke arah mobil yang sekarang sudah melaju sampai di gerbang kampus. “Kenapa?” tanya Vasha, tentu saja menanyakan perihal Angkasa yang terlalu fokus menatap mobil yang menghilang itu. Angkasa menggelengkan kepala. “Ayok,” ajaknya, lalu membuka pintu mobil dan masuk ke kursi kemudi. Vasha pun memilih mengikuti, membuka pintu dan duduk di samping Angkasa. Tanpa menunggu lagi, Angkasa langsung melajukan mobilnya keluar dari gerbang kampus. Begitu sudah sampai di jalan raya, dia menoleh, melirik gadis cantik yang sebentar lagi akan halal untuknya. “Va, besok mau ambil cincinnya jam berapa?” tanyanya. Vasha terdiam, terlihat sedang berfikir. “Jam 10 aja, kak.” Mungkin sekitar 15 menit, mobil yang Angkasa bawa memasuki sebuah resto yang sudah menjadi tempat biasa mereka makan. Keduanya melangkah masuk dan langsung duduk di meja yang masih kosong. Vasha memesan beberapa menu untuk dirinya dan Angkasa. Duduk berhadapan dengan tatapan yang saling bertemu, lalu saling tersenyum penuh ketertarikan. Tatapan yang tetap sama seperti beberapa tahun lalu ketika Angkasa dan Vasha masih saling mengenal satu sama lainnya. “Rasanya masih kek mimpi.” Vasha berucap sembari menunduk menyembunyikan senyum bahagianya. Satu alis Angkasa terangkat. “Mimpi apa?” “Enggak nyangka kalau satu bulan lagi aku akan berganti status menjadi istri kak Angkasa.” Lalu senyum malu, senyum bahagia terbit di bibir manis itu. “Nikah muda nggak masalah kan, Va?” tanya Angkasa, menatap serius. Vasha menggelengkan kepala pelan. “Udah aku niati juga, kak. Asal yang jadi suamiku itu kak Angkasa, aku mau nikah di usia muda.” Angkasa menunduk mendengar kalimat itu. Dia terlalu bahagia. “Uumm, gimana kalau kamu besok langsung hamil, Va?” Kedua mata Vasha melebar. “Kak, aku masih semester 4 lho. Kuliahku masih dua tahun lagi.” Bibir Vasha mengerucut. “Katanya … mau tahan karna tujuan nikahin aku cepat itu demi status yang pasti. Cckk, kak Angkasa bohong, iiih.” Keduanya saling diam saat si bapak pemilik warung mengantarkan makanan pesanan mereka. Vasha menyodorkan semangkuk bakso kuah milik Angkasa dan minuman dingin yang tadi dipesan. “Kantor kakak gimana?” tanya Vasha disela menuang kecap. “Alhamdulilah, jatuh bangun enam bulan kemarin udah terbayar sama dua bulan ini.” Angkasa menerima botol kecap yang diulurkan Vasha. “Va, boleh gabung? Mejanya penuh semua.” Suara seseorang membuat Angkasa dan Vasha jadi mengangkat kepala. Seorang cewek yang tadi sempat dilihat Angkasa di kampusnya Vasha. Cewek berkulit putih dengan rambut panjang yang sengaja dicat pirang. Cewek ini nggak sendirian, Ada cowok yang datang bersamanya. Vasha mengangguk. “Duduk sini, Ze.” Dengan senyum ramah Vasha menggeser duduk, menyuruh cewek itu untuk duduk di sana. “Mas,” sapa cowok yang tadi datang bareng Zea. Angkasa juga menggeser duduk, memberi tempat untuk si cowok itu. Vasha memerhatikan calon suami yang tetap anteng dan mulai memasukkan makanan ke mulut. “Pacar lo, Va?” tanya Zea. Angkasa meliriknya, terlihat cuek saja dan melanjutkan makannya. Pada dasarnya dia memang bukan lelaki yang ramah. Vasha tersenyum manis. “Rencananya sih … calon suami, Ze.” Kedua mata Zea melebar mendengar kalimat yang diucapkan Vasha. “Calon suami? Lo udah mau nikah?” Vasha melirik Angkasa. “Udah ditetapkan, rencananya sih satu bulan lagi.” Zea menepuk punggung Vasha pelan dengan senyum bahagia. “Semoga acara lancar, Va. Ikut bahagia dengarnya.” “Aamiin,” sahut Vasha. “Kamu sama Dimas kapan ketahap yang seriusnya?” Vasha melirik cowok yang duduk di sebelah Angkasa. Zea ikut menatap kekasihnya. “Sebenernya kita udah lamaran, Va. Nih,” ucap Zea, menunjukkan cincin yang melingkar di jari manis ke Vasha. Kedua mata Vasha terlihat takjub, dia sampai memegang tangan Zea untuk melihat cincin emas di jari Zea. “Masyaallah … udah tunangan ternyata.” Lalu obrolan-obrolan kecil antara Vasha dan Zea tetap berlanjut. Sedangkan Angkasa dan Dimas hanya saling diam, karna Dimas dan Angkasa memiliki sifat yang sama. Bukan cowok yang banyak omong. ** Mobil Angkasa memasuki halaman rumah orang tua Vasha. Keduanya turun, lalu melangkah bareng menuju ke teras rumah. belum sampai di pintu, tapi pintu di depan mereka sudah dibuka dari dalam. Senyum hangat dari wanita yang sudah berumur terlihat di ambang pintu sana. “Assalamu’alaikum, bunda,” sapa’an salam yang begitu lembut disertai uluran tangan Vasha menyambut. Bunda Bella menyambut tangan anak gadisnya. “Wa’alaikumsalam.” “Bunda,” sapa Angkasa, mengulurkan tangannya juga. “Udah lama balik ke Indonesianya?” tanya Bunda Bella basa-basi. Karna sebenarnya dia juga sudah tau dari Vasha. “Belum, bund. Baru tiga hari yang lalu.” “Duduk dulu. Bunda buatin minum ya.” “Biarin aku aja yang bikin minum. Bunda ngobrol aja sama kak Angkasa.” Vasha menyelanya. Angkasa duduk di kursi rotan yang ada di teras rumah. Bunda Bella pun melakukan hal yang sama. “Lewis nggak pulang, bund?” tanya Angkasa, mencari obrolan setelah beberapa menit berlalu. “Lewis ada praktek, dia bisa pulangnya pas acara aja. Udah pilihannya sih mau jadi dokter. Waktunya buat keluarga benar-benar tidak banyak.” Tutur Bunda Bella. “Nanti malam mama sama papamu jadi ke sini, kan?” Angkasa mengangguk. “Jadi, bund.” ** Acara pernikahan tentu saja bukan acara kecil yang tidak akan melibatkan banyak orang. Angkasa diam menatap cincin yang sudah ada ditangannya. Cincin berwarna perak dengan ukiran nama Vasha di dalamnya. Lalu yang milik Vasha ada permata dengan kilau berwarna kuning kemerahan dengan ukiran nama Angkasa di lingkaran dalamnya. Bibir Angkasa tersenyum merasakan kepuasan dengan semua yang sudah berjalan sampai di titik sekarang ini. Ceklek! Cowok ganteng ini menoleh saat pintu kamarnya dibuka dari luar. Di sana, di ambang pintu sana, Galaksi muncul. “Udah gue ambil kartu undangannya. Tuh, di bawah,” ngomongnya. Angkasa mengangguk. “Bantu nempel namanya.” “Cckk, ngerepotin!” keluh cowok dengan rambut dicat itu. Angkasa mendesah. “Lo adek gue, anjir!” “Malam pertamanya aja nggak bakalan ngerepotin gue, kan? Acaranya bikin repot orang sejagad!” “Cckk, kebanyakan bacot!” balas Angkasa, sudah menggenggam bantal akan melemparnya ke muka Galaksi, tapi cowok itu sudah berlari pergi. Angkasa kembali menatap dua cincin yang sekarang sudah ia masukkan lagi ke dalam kotak beludru. Dia mengambil ponsel, mengusapnya dan menekan nomor seseorang. Santai Anngkasa menempelkan ponsel itu ke kuping. “Hallo,” sapa seorang lelaki di seberang sana. “Tumben bisa angkat telpon?” tanya Angkasa dengan senyum tipis di bibir. Di sana Lewis terkekeh. “Belum lama pulang, ini baru selesai mandi.” “Bangsad, sekarang sibuknya udah ngalahin presiden.” Umpat Angkasa yang kembali mendapat kekehan dari Lewis. “Besok gue udah terbang ke Jakarta. Ambil cuti satu minggu.” Angkasa menghela nafasnya. “Nggak pernah kepikiran bakalan panggil elo kakak, tapi gue beneran mau bilang makasih. Makasih karna elo udah ngijinin gue tetep deket sama Vasha. Dia … dia benar-benar wanita sempurna yang akan aku perjuangkan.” “Jagain dia ya, njing. Jangan sakiti hatinya, dan … jika ada sesuatu yang mengharuskan elo meninggalkannya, pliiss … selesaikan dengan baik.” Angkasa meneguk ludahnya. “Gue selalu ingat apa yang lo bilang, nyet. Gue akan berusaha untuk tidak menyakiti dan tidak akan meninggalkannya.” “Semoga.” Balas Lewis. “Kak, mama kecelakaan!” teriakan di luar kamar membuat Angkasa melebarkan mata dengan menatap ke arah pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Angkasa langsung mematikan telpon dan berlari keluar. Dia menuruni anak tangga dengan rasa yang sudah tak bisa dijelaskan lagi. “Pa,” sapa Angkasa saat melihat papanya yang melangkah keluar dengan tergesa. “Mamamu nabrak orang, Sa.” Tutur Awan yang tadi sudah mendapatkan kabar. “Keadaannya mama gimana?” Galaksi yang bertanya. Papa Awan menggelengkan kepala. Menekan remote mobil dan langsung membuka pintu kemudi. Kedua anak lelakinya ikut, Angkasa membuka pintu depan dan Galaksi masuk di kursi belakang.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Kala Terang Dinanti

read
11.0K
bc

My Secret Little Wife

read
52.6K
bc

Turun Ranjang, Dinikahi Kakak Ipar

read
26.9K
bc

Suami Cacatku Ternyata Sultan

read
6.9K
bc

Dilema Hati Istri Bayaran Sang Bos

read
46.0K
bc

Tuan Bara (Hasrat Terpendam Sang Majikan)

read
108.1K
bc

Nasib Istri Tersakiti

read
6.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook