Iona terlihat masih berada di atas ranjang, dengan berkutat pada ponsel di tangannya. Tidak peduli dengan pesan dari Haru, Iona benar-benar mengacuhkan pria itu hari ini. Sampai siang pun datang dengan cepat. Ion merasa perutnya sangat lapar. Ia berjalan menuju ke dapur untuk membuat sesuatu yang bisa mengisi perutnya yang kosong.
Iona menyiapkan beberapa bahan makanan, dan mulai memotong bahan itu seperti yang diinginkan. Sebuah hidangan sederhana dan cepat untuk dirinya di dalam apartemen itu. Setelah selesai, Iona membawa hidangan itu menuju meja makan.
“Aku merindukan ramen buatan Nenek. Sebaiknya aku berkunjung ke sana setelah ini,” ujar Iona.
Baru saja ia akan memulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya, seseorang sedang mengetuk pintu di depan apartemennya. Iona terlihat kesal hingga ia terpaksa meninggalkan makanan itu untuk membuka pintu.
Ceklek
“Haru.”
“Kenapa kau tidak datang? Apa hanya sebatas ini saja kemampuanmu? Kau sungguh sangat mengecewakan, aku pikir kau bisa bertahan di sana. Ternyata kau tidak lebih dari seorang wanita yang hanya terobsesi untuk menjadi terkenal tanpa berusaha lebih dari yang sudah kau lakukan sebelumnnya,” omel Haru.
Tidak ada jeda saat Haru berbicara, sehingga membuat Iona tidak bisa membalas perkataannya itu. Sampai akhirnya Iona kesal dan mendorong tubuh Haru untuk keluar dari apartemennya. Sayang, karena tubuh Haru jauh lebih besar dari Iona, bukannya keluar … Haru justru melangkah masuk dan menutup pintu apartemen Iona.
“Apa yang kau lakukan? Apa yang kau inginkan?” tanya Iona mamastikan.
Haru memojokkan tubuh Iona hingga tidak bisa bergerak dengan bebas. Pandangan mata ke duanya bertemu, dan semakin dekat. Iona memejamkan matanya rapat-rapat.
“Kembali ke restoran esok, aku menunggumu.” Haru melangkah keluar dari apartemen Iona.
Iona membuka kembali ke dua matanya dan tidak percaya dengan apa yang dilihat beberapa detik lalu. Haru sudah tidak ada lagi di sana, dan Iona masih tidak mau kembali ke dalam restoran itu. Ia tidak suka jika ada seseorang yang berkata kasar padanya. apalagi orang itu tidak begitu mengenal Iona.
Iona menutup pintu apartemen dan menguncinya dari dalam. Ia kembali ke meja makan dan melihat makanannya sudah dingin. Iona sangat emosi hingga akhirnya memilih memakannya meski sudah dingin. Tidak peduli jika nantinya akan membuat perutnya sakit.
Setelah kegiatan itu mengenyangkan perut Iona, ia kembali ke dalam kamar untuk bersiap pergi. Iona meraih tas dan mengisinya dengan dompet juga ponsel. Tidak lupa, Iona juga membawa beberapa semprotan merica agar jika mengalami hal yang tidak diinginkan seperti sebelumnya, dia sudah siap.
Iona sudah berada di lobby untuk keluar dari gedung itu. Di sana ia bertemu dengan Heiji yang sedang menunggu seseorang.
“Iona,” panggil Heiji.
“Tuan –“
“Heiji, kau masih ingat aku bukan?” tanya Iona.
“Ya, tentu saja.”
“Kau akan pergi ke restoran?”
“Tidak, aku hanya ingin berkunjung ke suatu tempat.”
“Ah, begitu rupanya. Apa kau akan ke sana menggunakan mobil?”
“Tidak, aku akan menggunakan kereta saja.”
“Hmm, bagaimana jika aku memberikan tumpangan?” tawar Heiji.
“Apa? Tidak perlu, aku bisa ke sana sendiri.”
“Siapa yang akan kau kunjungi?”
“Seorang Nenek pemilik kedai ramen.”
Heiji mengeryitkan dahinya.
“Sebelum mengikuti pertandingan memasak, aku mengenalnya karena aku bekerja di sana.”
“Ah, aku tahu. Baiklah … aku akan mengantarkan dirimu ke sana, sebagai gantinya … kau harus mentraktir aku makan ramen di sana.”
“Tu – kau yakin?”
“Ya.”
“Baiklah, kita pergi ke sana.”
Akhirnya Iona pergi bersama Heiji menuju ke kedai milik Nenek. Dengan menggunakan mobil milik Heiji, tentu waktu yang dibutuhkan tidak akan lama. Karena kedai itu berada di dalam jalan kecil, Heiji terpaksa meletakkan mobilnya di tepi jalan. Dan mereka berdua berjalan kaki menuju ke ujung jalan itu.
Sampai di sana, beruntung sekali kedai itu masih buka. Dan pastinya sudah ada banyak sekali pembeli yang datang dan mengantre.
“Wah … ternyata sangat ramai sekali.” Heiji nampak terkejut karena kedai itu tidak terlihat dari jalan utama.
“Aku akan membantu Nenek di dapur, kau bisa duduk di sana menunggu hingga makanan untukmu selesai aku buat.” Iona nampak sangat antusias.
Iona menyapa nenek itu, dan meraih mangkuk yang sudah siap untuk di antarkan pada pemesannya.
“Nenek, apa kau senang aku kembali kemari?” tanya Iona.
“Tentu saja. Kau kenapa ada di sini? Bukankah kau sudah memenangkan perlombaan itu? seharusnya kau bekerja di restoran besar.”
“Tidak, Nenek. Pekerjaan yang sangat aku inginkan adalah kembali bekerja di kedai ini. Terima aku kembali, Nenek!”
“Kau ini, aku tidak akan sanggup membayar seorang chef handal seperti dirimu,” ujar Nenek memuji.
“Nenek, aku mohon! Bayar aku seperti sebelumnya, aku akan bekerja dengan sangat giat di sini.”
“Hmm, baiklah jika itu maumu. Akan tetapi, jangan pernah mengeluh jika bekerja di sini!”
“Hahaha, tentu saja tidak akan. Karena Nenek adalah orang yang baik.”
Iona melanjutkan kegiatannya dan mengantarkan ramen itu pada pemesannya. Hingga sampai giliran Heiji, dan Iona sendiri yang mengantarkannya ke sana.
“Ini untukmu, nikmatilah! Aku harus membantu Nenek.”
Iona kembali ke dalam dapur, dan ia memulai meracik bumbu untuk ramen selanjutnya. Sedangkan di bagian depan kedai, Heiji menikmati sekali ramen itu. Ia bahkan memesan sekali lagi untuk dimakan, dan tentu saja tidak jarang jika orang yang pertama kali ke kedai itu akan menambah porsi.
“Kau sangat menikmatinya, ini minumlah,” ujar Iona memberikan segelas ocha untuk Heiji.
“Terima kasih.”
Iona sangat menikmati suasana di sana, ia seperti kembali lagi pada sebelum memenangkan lomba memasak itu. Setelah ramen di kedai Nenek habis terjual, Iona menemui Heiji lagi di tempat duduk sebelumnya.
“Kau tidak pergi? Aku kira kau akan pergi setelah selesai memakan ramen itu,” ujar Iona.
“Aku menunggu,” jawab Heiji.
“Kau tidak perlu menunggu, aku bisa kembali ke apartemen seorang diri,” ujar Iona lagi.
“Tidak, aku menunggu keputusanmu. Kau tahu … Haru menunggu kedatanganmu di restoran, dan sekarang … kau ada di sini. Apa kau tidak keterlaluan dalam hal ini?” tanya Heiji.
Suasana hati Iona yang sudah membaik, kini kembali penuh dengan emosi. Ia tidak ingin menjawab, akan tetapi … Heiji adalah orang yang baik, dan juga selalu ramah pada Iona.
“Aku tidak akan pergi ke sana lagi. Aku merasa, disinilah tempatku seharusnya, aku tidak ingin bekerja di tempat yang tidak membuat aku nyaman, Heiji.”
“Begitu rupanya, aku kecewa mendengar jawabanmu. Akan tetapi, kau berhak memilih.”
“Terima kasih atas pengertianmu.”
“Baiklah, aku harus pergi.”
Setelah itu, Heiji tidak lagi nampak di sana. Lalu Iona melanjutkan kegiatannya untuk membersihkan kedai. Setelah selesai, Iona duduk bersama Nenek untuk menikmati teh hangat.
“Kau benar-benar ingin kembali kemari?” tanya Nenek.
“Ya. Aku akan kembali bekerja di sini.”