Di ruang kerja milik Haru, Iona duduk bersama seorang wanita bernama Hikari. Wanita itu sebelumnya adalah seorang asisten chef di restoran lain bersama Haru. Dan sekarang, Hikari masih menjadi seorang asisten untuk Haru di tempat baru itu.
Iona yang masih harus banyak belajar, kini harus melakukan percobaan bersama Hikari di restoran itu. Iona akan memasak di sana dengan masa percobaan selama tiga bulan. Hingga Iona mengerti mengenai dapur restoran, Haru akan menindak lanjut posisi yang tepat untuk Iona. Tidak keberatan, karena selama masa percobaan itu, Iona mendapatkan pemasukan.
Iona sedang berdiri di samping Hikari, melihat apa yang sedang dijelaskan di sana. Tidak hanya itu, Iona juga berkenalan dengan tim yang ada di dalam dapur itu.
Hikari adalah seorang wanita yang memiliki seorang anak, suaminya telah lama meninggalkan dirinya dan anak itu. Sehingga Hikari harus berjuang untuk kehidupannya sendiri bersama sang anak.
“Apa kau tahu masakan ini?” tanya Hikari.
“Ya, aku tahu. Bukankah masakan ini berasal dari Eropa?”
“Ya, hari ini menu restoran kita adalah masakan dari Eropa. Apa kau ingin mencoba membuatnya?” tanya Hikari.
“Boleh kah?”
Hikari memberikan kesempatan pada Iona untuk memasak makanan itu. HIngga akhirnya Haru melihat semua itu, Haru menghentikan kegiatan memasak Iona. Lalu membawanya pergi dari sana. Sementara Hikari melanjutkan masakan yang seharusnya sudah selesai itu.
Mereka sampai di ruang kerja Haru lagi. Dan kini ke dua tangan Haru berada di pinggang dengan wajahnya yang terlihat emosi.
“Apa yang kau lakukan? Bukankah aku menyuruhmu untuk melihat saja?” tanya Haru.
“Hikari-san mengizinkan aku un –“
“Apapun alasannya! Aku tidak mengizinkan dirimu untuk memegang dapur!”
“Ba-baik, Chef.”
Iona terlihat sedih dan ingin sekali menutup wajahnya karena malu. Sedangkan Haru sendiri merasa jika Iona masih terlalu lemah dalam hal mental. Haru menyuruh Iona pergi untuk melihat Hikari dan kru dapur lainnya saat sedang memasak.
Setelah kegiatan di dalam dapur selesai, Iona kini duduk di depan loker. Ia memeriksa ponsel yang berisi banyak sekali pesan penyemangat dari Kudo. Hati Iona belum siap untuk menerima amukan dari seorang atasan. Ia ingin menyerah dan memilih jalan lainnya. Akan tetapi, Iona ingat … Kudo bekerja selama ini hanya menjadi seorang helper. Dan saat Iona melihat kinerja helper di sana, ia merasa jika orang itu adalah Kudo, sahabatnya. Tiba-tiba saja seorang pria berdiri di hadapan Iona dengan memberikan tissue.
“Ada apa?” tanya pria itu.
“Tidak. Maaf karena sudah membuat kalian tidak nyaman.”
“Tidak masalah. Kami sudah tahu bagaimana sikap Chef. Jadi … aku harap kau tidak bersedih atau sakit hati atas ucapannya.”
“Begitu rupanya.”
Setelah itu, perasaan Iona menjadi lebih baik. Beberapa menit kemudian, Iona kembali ke dalam dapur untuk melanjutkan kegiatannya di sana. Hikari nampak sedang menyiapkan hidangan untuk meja VIP, dan di sana ada pemilik restoran bersama dengan klien.
“Iona, bisakah kau berdiri di sebelah sana? aku sedang terburu-buru,” ujar HIkari.
“Baik.”
Iona hanya bisa menurut hari ini, ia tidak diperbolehkan untuk menyentuh apapun di sana hingga ada izin dari Haru. Namun, ada seorang kru dapur yang tidak begitu menyukai keberadaan Iona, sehingga beberapa kali mencoba mencelakai Iona, tetapi gagal.
“Iona, kurang satu jam lagi restoran tutup, bisakah kau membantu aku untuk menyiapkan beberapa bumbu untuk esok?” tanya Hikari.
“Maaf, aku tidak ingin disalahkan lagi. Sebaiknya aku meminta izin terlebih dahulu pada Chef Haru,” ujar Iona.
“Baiklah, tidak masalah. Semua sudah selesai. Kau bisa menemui Haru dan bertanya apa yang bisa kau lakukan lagi sekarang.”
“Baik.”
Iona berjalan menuju ke kantor Haru. Ia masuk di saat Haru terlihat sedang memejamkan mata. Tidak ingin mengganggu, Iona memutar tubuhnya dan akan melangkah ke luar dari sana.
“Mau kemana kau?” sahut Haru.
“Chef, kau sudah bangun rupanya. Aku hanya ingin bertanya mengenai tugas selanjutnya.”
“Kau bisa pulang.”
“Apa? Tidak ada yang bisa aku lakukan di dapur, untuk apa aku ada di sini?” protes Iona.
“Pergi.”
Entah kenapa langkah kaki Iona menurut pada perkataan Haru. Iona berjalan keluar dengan melepaskan apron yang dikenakannya. Ia meraih tas dan memeriksa isi di dalamnya, lalu pergi dari sana.
Hari sudah gelap, Iona berjalan kaki menuju ke apartemen miliknya. Dan meski letaknya cukup melelahkan kaki, Iona tidak merasakannya. Sampai di depan minimarket, Iona berhenti dan masuk ke dalam sana.
Iona membeli beberapa makanan instant untuk dirinya di apartemen. Ia juga membeli minuman kaleng dan beberapa camilan.
“Kenapa kau pulang sendiri? Kenapa tidak menunggu aku?” ujar seorang pria dari samping Iona.
Iona tersentak dan hampir saja memukul pria itu.
“Ke-kenapa kau ada di sini?” tanya Iona.
“Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?”
“Karena aku rasa … kita tidak memiliki kedekatan.”
“Baiklah, selamat malam.”
Pria yang tidak lain adalah Haru itu pergi dengan mengambil camilan dan roti. Setelah membayar, Haru tidak lagi nampak di sana.
Sementara itu, Iona segera menyelesaikan kegiatan berbelanjanya. Ia pun meletakkan barang-barang yang sudah diambil untuk di bayar.
“Nona, ini dari temanmu.”
Iona mengeryitkan dahinya, lagi dan lagi … Haru bersikap baik padanya. Iona menerima pemberian Haru, dan ia melanjutkan perjalanannya hingga sampai di apartemen.
Iona meletakkan tas di atas meja, dan merapikan belanjaan di dapur. Ia juga membuat makanan instant untuk mengisi perutnya yang terasa lapar. Setelah itu, Iona meninggalkan makanan itu sejenak untuk mengganti pakaian.
Saat kembali ke dapur, Iona siap untuk memakan makanan itu.
“Ahh … akhirnya, perutku terisi oleh makanan.”
Semua kegiatan di kamar sudah ia lakukan. Dan kini, Iona ingin berbaring lalu memejamkan mata. Hingga ia lupa untuk membalas pesan dari kudo.
Pagi ini …
Iona mendengar suara pintu apartemennya seperti ada yang mengetuk. Ia pun bangkit dan berjalan menuju pintu masuk.
Ceklek
“Kudo,” sapa Iona.
“Apa kau baik-baik saja? Kenapa kau tidak membalas pesanku? Apa terjadi sesuatu?”
Iona tidak menjawab dan hanya berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air. Kudo masih saja bertanya padanya, hingga membuat kesabaran Iona menghilang.
“Cukup! Aku lelah, dan aku tidak harus membalas pesanmu bukan? Kudo, aku benar-benar sangat lelah.”
“Baiklah, maaf jika mengganggu.”
Kudo berbalik badan dan keluar dari apartemen itu. Iona merasa Kudo seperti anak kecil yang sedang marah. Iona menghela napas berkali-kali, hingga ia merasa tenang.
Iona berjalan menuju kamar dan kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Iona tidak ingin pergi ke restoran, pikirannya terasa sangat kacau hingga ia enggan untuk beranjak dari sana.
“Lebih baik aku kembali ke kedai Nenek.”