Iona mempersilakan Haru untuk masuk ke dalam apartemen baru miliknya. Mereka duduk di ruang tamu yang masih berantakan dengan barang-barang. Iona bertanya pada Haru, mengapa ia sangat repot datang ke sana.
“Aku datang karena ada yang sedang merayakan kemenangan dengan memiliki apartemen baru, kebetulan juga … temanku ada di sini, aku membawa ini untukmu,” ujar Haru sembari memberikan sebotol sake dan tempura.
“Terima kasih, Tuan.”
“Berhenti memanggil dengan sebutan Tuan, kau bisa saja memanggil namaku jika kau mau.”
“Ha-haru-sama?”
“Iona, apa kau akan mengambil kesempatan yang aku berikan? Karena restoran itu masih belum memiliki kepala chef. Aku harap kau mau mengambil kesempatan bekerja di restoran itu,” jelas Haru.
“Ehm, aku masih memikirkannya. Tapi … aku memang akan ke sana esok,” ujar Iona.
Haru mengangguk mengerti, dan kini mereka menikmati hidangan yang Haru bawakan. Dengan obrolan santai, mereka terlihat semakin dekat. Apalagi Iona juga menceritakan kisah hidupnya sebelum ini pada Haru.
“Jadi … kau seorang yatim piatu?” tanya Haru.
“Entahlah … pria yang sudah meninggalkan ibuku, entah di mana ia berada. Meski aku masih mengingat wajahnya, tetapi aku tidak pernah berniat untuk mencari pria itu,” ujar Iona dengan wajah yang terlihat kesal.
“Sepertinya kesalahan ayahmu sangat besar sehingga kau terlihat kesal saat ini, baiklah! Sebaiknya kita tidak membicarakan orang tuamu. Bagaimana dengan Kudo? Bukankah kalian sangat dekat? Apa kau tidak merasa jika Kudo memiliki perasaan padamu?”
“Haru … Kudo adalah sahabat sejak aku kecil. Dia tahu jika aku tidak akan menaruh hati padanya. sebenarnya aku tahu jika Kudo sangat menyayangi aku dan selalu melindungiku. Tapi sayangnya … hatiku tidak bisa berbohong, dan aku tidak pernah menerima perasaan Kudo lebih dari seorang kakak,” jelas Iona.
“Kasihan sekali dia, apa kau tidak ingin membalas kebaikannya selama ini? aku dengar dari beberapa teman kerjanya … dia selalu menceritakan tentang dirimu.”
“Benarkah? Aku tidak tahu. Aku bukan orang yang tidak tahu terima kasih. Suatu saat aku akan membalas semua yang Kudo berikan dan lakukan padaku. Entah dengan cara apa?”
“Aku suka dengan semangat yang keluar dari dalam dirimu.”
“Haru … kenapa kau memberikan perhatian padaku?” tanya Iona.
“Kau menarik, jarang sekali aku menemukan wanita berbakat dan tersembunyi seperti dirimu. Meski awalnya aku tidak percaya jika ada wanita yang bisa melakukannya. Tapi, kini aku percaya jika ada satu dari sekian wanita itu.”
Malam semakin larut, mereka tanpa sadar sudah menghabiskan sake yang dibawa oleh Haru. Dan Iona bukanlah wanita yang bisa minum lebih dari satu gelas kecil. Iona terlihat terlelap di ruang tamu, dan Haru sendiri merasa jika kepalanya sangat pusing karena minuman itu.
“Wajahmu sangat tidak asing, sepertinya aku tahu siapa ayahmu.”
***
Pagi ini, Iona terbangun di dalam kamar. Ya … dia sudah berada di sana entah sejak kapan. Dan saat tersadar, Iona mencari keberadaan Haru di dalam apartemennya.
“Haru?” panggil Iona.
Tidak ada siapapun di sana, dan Iona hanya menemukan seporsi makanan untuk dirinya di atas meja makan dengan catatan kecil.
‘Selamat makan, jangan lupa untuk datang hari ini.’
Dari : Haru
Iona tersenyum, ia melihat catatan itu dan meletakkannya kembali. Tangannya menarik kursi dan ia duduk di sana untuk menikmati makan pagi seorang diri. Saat selesai dengan kegiatan makan pagi itu, Iona baru saja tersadar jika ia tidak memiliki ponsel untuk menghubungi Kudo. Iona memutuskan untuk membeli benda kecil itu terlebih dahulu sebelum pergi ke restoran.
Iona berjalan kaki menuju ke sebuah toko yang menjual ponsel genggam. Ia memilih ponsel yang terbaru dengan layar sentuh berukuran enam inci. Iona tentu mengingat nomor ponsel milik Kudo sehingga ia memilih untuk menghubungi Kudo terlebih dahulu.
“Siapa ini?” tanya seorang pria dari seberang telepon.
“Kudo, ini aku … aku baru saja membeli ponsel.”
“Iona? Pasti sangat keren. Dimana kau sekarang?” tanya Kudo.
“Aku akan menuju ke restoran, Haru sedang menunggu di sana untuk merekrut aku,” jelas Iona.
“Selamat, apa kau akan menemui aku terlebih dahulu?”
“Tidak, Kudo. Restoran yang diberikan Haru bukan yang ada di hotel itu. ada tempat lain, dan letaknya tidak jauh dari apartemen milikku,” ujar Iona.
“Baiklah, sepertinya hanya aku yang tidak tahu jika Chef Haru memiliki banyak restoran,” ujar Kudo kecewa.
“Hei! Kenapa kau ini! Jangan seperti itu!”
“Tidak masalah, kau harus berhati-hati! Jangan sampai bertemu dengan penjahat lagi.”
“Baiklah, aku akan berhati-hati.”
Setelah sambungan telepon itu berakhir, Iona melanjutkan langkah kakinya menuju ke restoran. Alamat yang Iona datangi sangat membuatnya terkejut. Sebuah restoran besar dan juga ramai akan menjadi tempat untuk dirinya bekerja.
“Bodoh! Kenapa aku mengenakan pakaian ini jika tahu restoran yang akan aku datangi sebesar dan semewah ini?” gumam Iona.
Saat Iona melangkah masuk ke dalam restoran itu, seorang karyawan mendatangi dirinya dan bertanya.
“Apa yang sedang kau lakukan di sini, Nona? Apa kau sudah melakukan reservasi?”
“Maaf, apa aku bisa bertemu dengan Chef Haru?”
“Apa? Tidak semudah itu untuk bertemu dengan Chef di sini! Lagipula untuk apa kau datang kemari?”
“Maaf, apa kau selalu seperti ini pada orang yang berpenampilan sederhana seperti aku?” tanya Iona.
“Cih! Kau bermain agar aku terlihat sedang menjatuhkan dirimu. Untuk apa wanita yang mengenakan pakaian biasa datang dan mencari kepala chef di sini? Asal kau tahu, chef Haru selalu menerima tamu dengan pakaian yang rapid an juga terlihat mewah.”
“Hmm.”
Iona tidak menggubris, ia memilih untuk lanjut melangkah, tapi sayang tubuhnya di dorong hingga terjatuh. Iona pun menjadi bahan tontonan di depan restoran oleh banyak orang yang melewati area itu.
“Kenapa kau sangat tidak sopan?” tanya Iona yang jatuh dengan posisi duduk.
“Kau tidak apa-apa, Nona?” tanya seorang pria dengan membantu Iona bangun.
“Tidak, Tuan. Terima ka –“
“Hallo, Iona.”
“Tuan Heiji?”
“Ya, aku ada di sini.”
“Ada apa ini?” tanya Haru yang baru saja keluar dari dalam restoran.
“Haru, apa pekerja ini kau yang memilih?” tanya Heiji.
“Tidak, dia melalui bagian manager.”
“Baiklah, aku akan mengurusnya,” ujar Heiji.
“Tu-tuan … maafkan aku.”
“Tidak perlu, kau sudah menunjukkan siapa dirimu di depanku secara langsung. Dan kau bahkan tidak tahu siapa wanita yang kau katakan sebagai wanita biasa ini.”
“Heiji, sudahlah. Aku yakin dia tidak sengaja dan tidak ingin melakukannya,” ujar Iona mencoba membela.
“Iona, kenapa kau sangat baik?” tanya Heiji.
“Heiji, penampilanku saja yang memang seperti ini.”
“Cukup! Iona, ikut aku masuk ke dalam!”
“Baik.”