Kenikmatan tiada tara. Itu yang bisa Gia akui dari nafkah yang pagi ini ia terima dari suaminya. Saking rindunya Gia akan keintiman itu, marka ciuman ia tinggalkan di d**a Gazain. Tadi ia sungguh terbuai, hingga akhirnya kini timbul penyesalan. Gia terpaku di atas ranjang saksi kenikmatan mereka. Medina pasti akan menemukan jejak itu dan bagi Gia itu rasanya ... tidak tahu diri. Bagaimana ia bersenang-senang dengan suami perempuan sebaik itu?! Bagaimana ia begitu menikmatinya, mereguk kepuasan dari milik Medina?! “Apa yang akan kamu masak?” Gia tersentak dari lamunan rasa bersalahnya. Gazain masuk berselubung handuk dengan tubuh segar. Sulit Gia reguk liur yang ada di dalam mulutnya. Padahal hanya harus menelan, cairan yang rasanya seperti bongkahan. “Semua bahannya ada?” tanya Gazai

