“Gazain tak mau memberitahuku. Jadi, jawablah. Kalian ... apa rencana kalian kepada perempuan itu dan bayinya setelah lahir?” Medina mengerjap, bingung. Tiba-tiba muncul Reda dan aura murkanya. Tada melepas alat seperti senter dengan wajah masam kepada ibunya. “Ibu tidak lihat kalau kami sedang operasi?” Reda mendelik kepada putrinya, “Ibu perlu bicara dengan Bibi Medina. Berdua saja. Ambil hadiahmu yang tadi dibawakan Paman Gazain lalu bermain dengan mereka saja.” Tada merengut. “Lima menit lagi saja. Boleh, Bu?” tawarnya masam. “Tidak. Sekarang!” Anak gadis itu menjauh dan tertunduk. “Padahal Bibi jarang-jarang datang ke sini,” gerutunya pelan. “Maaf, ya, Tada,” Medina meringis. “Nanti kita bisa main lagi.” Namun, Reda tak peduli. Serius sekali ekspresinya menginterogasi M

