BAB 06

1424 Words
Veronica sudah tidak menunjukkan sisi mesranya pada Will sejak masuk ke dalam mobil. Dia kembali dingin dan acuh. Meskipun sudah berusaha untuk tetap biasa saja, tapi tidak bisa- bayangan kematian tragis sang ibu terus muncul. Dendam yang sudah memupuk selama bertahun-tahun tak bisa musnah hanya karena Will baik padanya. Will berulang kali menengok ke arah Veronica. Malahan, dia lebih sering memandangnya ketimbang jalan raya. Kerutan di keningnya makin berlipat, seolah-olah dia memikirkan sesuatu yang amat berat. Cintanya kepada wanita ini sungguh tulus, tapi kenyataan yang baru dia ketahui ini sedikit meresahkan. Jika diminta memilih, dia akan lebih bahagia jika Veronica mendekatinya demi harta ketimbang demi balas dendam. Dia ingin dicintai buka dibenci oleh wanita itu. Mobil berbelok ke jalanan yang cukup sempit dan jauh dari pusat kota. Setelah melewati gereja katolik, Dairy Queen, dan pepohonan Akas nan lebat, mereka tiba di sebuah rumah kecil yang jauh dari pemukiman ataupun bangunan apapun. Ya, rumah ini berdiri di antara lahan luas yang dipenuhi pepohonan Ek. Veronica keluar dari mobil itu sebelum Will sempat mengatakan sesuatu. Dia benar-benar menunjukkan keengganannya melihat pria itu. Sebelum bukti kematian ibunya tak terarah pada empat orang ini, dia takkan berhenti membenci mereka. "Tempat apa ini? Apa kau berniat menyekapku dan membunuhku di rumah kecil ini?" tanyanya. Will menjawab, "ini dahulu menjadi rumah mendiang ibuku, dahulu waktu kecil aku sempat tinggal disini." "Oh iya? Bualan macam itu? Bukankah kalian keluarga kaya? Kau seorang Pearson 'kan? Kenapa tinggal di sini? Sangat meragukan." "Hentikan ucapan sinismu itu, aku tak mau berdebat," ucap Will menghela napas panjang, lalu berjalan menaiki undakan teras sembari mengeluarkan kunci rumah dari dalam saku. "Aku tak punya niatan buruk, jadi berhentilah curiga padaku." Tak ada balasan dari Veronica. Wanita ini mengikut di belakang Will, tapi sikapnya masih waspada. Will membuka pintunya, lalu menoleh sambil menjelaskan, "kalau aku berniat membunuhmu, kau sudah tidak ada disini sekarang, Veronica, aku benar-benar mencintaimu, dan tolong biarkan aku menunjukkan bukti kalau kami berempat bukan pelakunya." "Ya, aku ingin melihatnya." "Ayo masuk." Mereka masuk berdua ke dalam rumah yang sudah sepi perabotan ini. Kondisi ruang tamunya sangat berdebu, sebagian plafon sudah hampir ambruk. Sudah jelas tempat ini ditinggalkan tanpa perbaikan selama bertahun-tahun. "Rumah ibumu, tapi kau tak merawatnya, aneh," sindir Veronica memperhatikan banyak sekali peti tumpukan kursi kayudi pojok ruangan. Pandangannya menyeluruh hingga ke kusen jendela yang telah rapuh. "Orang kaya dari Pearson tinggal di rumah kecil ini, lucu ya?" Will tidak menanggapi sindiran itu serius. Dia berjalan masuk lebih dalam, menuju ke ruang tengah yang dipenuhi meja, kursi, dan peti kayu. "Sebentar, aku akan mencarinya," katanya sembari berlutut di depan salah satu petu kayu, kemudian membukanya. "Kau duduk saja di kursi yang ada disini." Ruangan ini amat suram dan gelap karena semua jendela masih tertutup kelambu hitam. Pencahayaan pun hanya berasal dari cahaya matahari yang menerobos melalui lubang ventilasi di tembok. Veronica bersikap arogan dengan menyeret sebuah kursi kayu, lalu menaruhnya di samping peti. Dia mendudukinya dengan posisi menghadap ke Will sehingga terkesan bahwa pria itu berlutut padanya. Dia sengaja menyilangkan kakinya di atas paha, membuat rok gaun yang dia kenakan tertarik ke atas sehingga betisnya tampak. Untuk sesaat Will mengamatinya, tapi kemudian dia kembali mengacak beberapa berkas yang menumpuk di dalam peti. "Aku tak tahu kalau orang kaya menyimpan berkas penting di peti kayu usang di rumah kecil pinggiran kota," sindir Veronica masih memandangi seisi rumah ini dengan sinis. "Iya, aku ralat ... berkas tak penting, mungkin kau berencana membakar semua barang bukti kejahatan kalian beserta rumah aneh ini pula." Will mendadak jengkel. "Veronica, jika kau menganggap aku berbohong kalau dahulu aku pernah tinggal disini dengan ibuku, kau salah, aku memang menghabiskan masa kecil disini dengan ibuku, sebelum akhirnya tinggal di Pearson Manor. Dan, jika kau berpikir aku tak menyimpan apapun disini, salah besar-" Dia mengambil sebuah map coklat yang tampaknya telah sobek pada sebagian sisimya, lalu disodorkan kepada Veronica. "Ini salinan penyelidikan dari polisi. Kau bisa baca sendiri- atau kau ingin aku membacakannya? Itupun jika kau masih percaya padaku. Aku takut kau akan menuduhku mengarangnya." Veronica merampas map itu dengan kasar. Dia hanya mengintip isinya, dan setelah yakin ada stempel asli dari kepolisian, dia menutupnya lagi. Setelah itu, dia berdiri dan berjalan keluar tanpa mengatakan apapun. "Veronica!" Will berlari mengejar, lalu meraih tangannya sampai wanita itu berhenti. "Kau mau kemana lagi? Aku sudah memberikannya padamu, setidaknya kita bisa menyelesaikannya bersama. Aku sudah bilang 'kan, aku akan membantumu. Jika kau risih denganku, anggap saja aku hanya temanmu, aku bersumpah akan membantumu mencari pelakunya, jadi tolonglah jangan dingin padaku." Veronica menepis tangan Will. "Aku mungkin mempercayaimu sedikit, tapi aku ingin mempelajari berkasnya tanpamu. Kau adalah William Pearson, salah satu terduga pelaku, kenapa aku harus membahas kematian korban dengan pelaku?" "Kau bilang mempercayaiku, tapi tuduhanmu tetap saja begitu." "Aku percaya ucapanmu, tapi sudah kubilang ... kalian berempat masih berstatus terduga. Setelah aku yakin bukan kalian pelakuanya melainkan orang lain, maka aku akan menghubungimu lagi." "Kau sangat kekanak-kanakan, Veronica," kata Will sedih dengan sifat Veronica yang berubah drasti kepadanya. Padahal sebelumnya mereka masih menghabiskan malam panas berdua, namun dalam sekejab ... semuanya berubah dingin. Belum sempat Veronica menjawab, mendadak terdengar bunyi klakson mobil. Mereka bergegas lari ke depan- dimana ada sebuah mobil hitam yang terparkir di samping mobil Will. Veronica tersenyum saat sang pengemudi keluar dari dalamnya. "Rex!" Rex Champbell. Pria awal tiga puluh tahunan yang terlihat amat modis dan rapi. Dengan rambut pirang, mata biru, dan tubuh gagah, dia benar-benar idama semua wanita. Dia merupakan mantan model yang saat ini berubah haluan menjadi bankir. "Veronica, maaf agak lambat, jadi aku sempat kehilangan jejakmu, sekarang ayo kita pergi, kau sudah selesai?" tanya pria itu bersandar di pintu mobil. "Iya." Veronica turun dari undakan, tapi lengannya disambar oleh Will sampai dia berbalik kembali. "Apa maumu? Will sama sekali tidak mengenalnya. Dia yakin dalam dua bulan belakangan, Veronica tidak pernah terlihat bersama pria itu. Perasaan cemburu hebat menguasai dirinya. d**a serasa ditimpa benda berat sampai sesak bukan main. "Siapa dia, Veronica?" Ia bertanya. "Kekasihku yang asli," jawab Veronica yang hanya kebohongan belaka. Dia merasa dengan cara seperti ini, maka Will mungkin berhenti mengganggunya untuk sementara. "Apa katamu?" "Intinya aku berselingkuh denganmu selama ini- jujur saja, aku sudah bersama Rex selama setahun belakangan." Veronica terdengar angkuh dan acuh, namun sebenarnya hatinya juga retak. Dia tak mau mengakui bahwa dia terluka karena mengatakan hal buruk pada Will. Will memaksa agar wajah Veronica mau terarah padanya. Otot pelipisnya tegang, tak mau percaya semua ini. "Kau lihat aku, coba katakan kalau itu tidak benar. Kau tidak mungkin punya kekasih lain 'kan? Aku tidak peduli tujuanmu mendekatiku, tapi tolong katakan ... kau tak berhubungan dengan pria lain 'kan?" Veronica menarik lengannya. Dia menguatkan ekspresi dingin di wajahnya saat memandangi Will. "Kau 'kan sudah tahu aku sering keluar dengan pria lain, jadi kenapa masih ragu aku punya kekasih selain dirimu?" Karena Veronica terlalu lama, Rex berjalan mendekati mereka. Dia sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dari penjelasan wanita itu. Mereka sudah berteman lama, tak heran saling mengerti. Meskipun di dalam hatinya ada benih cinta, tapi persahabatan di antara keduanya jauh lebih kuat. Niatnya tulus hanya ingin membantu Veronica ... membalas dendam. "Hei, lepaskan Veronica," pintanya sembari menepis tangan Will, lalu menarik Veronica hingga turun dari undakan teras. "Kau b******k!" bentak Will yang terbakar api cemburu. Dia spontan turun dan mendorong tubuh Rex sampai hendak terjungkal ke belakang. "Katakan padaku kalau kau tak punya hubungan dengan Veronica!" "Will! Jangan sakiti Rex!" Veronica berusaha melerai, tapi dia malah didorong jauh-jauh oleh Will. Will mengoyak kerah kemeja Rex, kemudian membentaknya lagi, "cepat katakan kau tak ada hubungan dengan Veronica!" Rex bingung karena dia sendiri memang tak ada hubungan dengan Veronica. Matanya sepintas menengok ke wanita tersebut, dan kemudian tersadar kalau dirinya dijadikan alat untuk memanas-manasi Will. "Lepaskan aku, b******n!" Ia balik membentak seraya mendorong Will sampai melepaskan kerah bajunya. "Apa urusanmu memangnya? Aku dan Veronica memang sedang berkencan. Aku tahu siapa dirimu, Veronica hanya memanfaatkanmu." Naik pitam, Will meninju wajah Rex- yang sontak saja membuat Veronica menjerit. "Hentikan!" Veronica murka sembari mendorong Will menjauh. Dia buru-buru menyeret Rex ke mobilnya. "Sudah ayo kita pergi, aku sudah dapat berkasnya." Will terpaku di tempatnya berdiri. Dia meraba d**a bekas dorongan dari tangan Veronica. Dampak dari rasa sakitnya terlalu besar sampai dia ingin meneteskan air mata. Namun dia masih yakin kalau semua ini hanya omong kosong. Saat mobil mulai menjauh, Will berlari mengejarnya, berusaha keras mendapatkan perhatian Veronica dengan cara mengetuk kaca jendela. "Veronica, aku tahu kau melakukan ini karena membenciku, aku akan menunggumu mengatakan sejujurnya, jadi tolong bicaralah padaku, Veronica? Veronica!" katanya. Mobil itu lantas melaju kencang meninggalkannya sendirian. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD