Rex tidak tetap bungkam hingga mereka sampai di rumah baru milik Veronica. Rumah baru yang berdiri di lahan berhektar-hektar penuh dengan pepohonan Ek dan bunga-bunga aneka jenis, paling banyak ialah mawar.
Tempat ini bagaikan surga bunga. Rex agak terkejut karena Veronica bisa membeli lahan yang luasnya tak main-main ini.
Pria itu tidak tahu kalau semua ini dibeli Venonica dari uang pemberian Will. Semua kekayaan yang sudah dia keruk sebagian besar diinvestasikan berupa rumah.
hingga saat ini sudah ada lima rumah dan satu vila yang ia miliki. Hanya dalam waktu beberapa bulan saja, dia benar-benar telah mengeruk keuntungan berlipat-lipat.
Mereka berdua duduk di sofa ruang tamu, sama-sama melepas penat dengan menghela napas panjang. Mimik wajah Veronica semakin muram dan pucat, dan Rex menjadi curiga.
"Kau kelihatan pucat beberapa hari belakangan. Kau tak apa?" Ia bertanya.
Veronica mengangguk. "Hanya sedikit pusing, terlalu banyak masalah. Aku tak nafsu makan. Entahlah rasanya perutku tak enak ... apalagi saat melihat wajah Will."
"Dia benar-benar mencintaimu, Veronica, dan kelihatannya kau juga begitu."
"Aku tak peduli." Veronica tidak mau mengelak, karena dia tahu tak ada gunanya.
Mereka sudah kenal lama, jadi sedikit kebohongan akan bisa ditebak. Sebenarnya, dia sendiri sudah bisa menduga kalau Rex kemungkinan menyukainya. Akan tetapi, dia juga terus berusaha biasa saja agar mereka tetap berteman baik.
"Kau tidak menyesal meninggalkannya? Maksudku ... terlepas dari dia mungkin pelaku dari pembunuhan ibumu, tapi aku bisa yakin dia benar-benar tulus mencintaimu. Jarang ada pria seperti ini, jangan salah paham, aku mengatakan ini dari sudut pandang seorang pria yang jelas sudah sering bertemu sejenisku."
"Dari awal aku tak mau melibatkan urusan asmara dalam hal ini, Rex, kau 'kan sudah paham, aku hanya ingin mencari tahu tentang tatto yang ada di tubuhnya, tapi nyatanya keempatnya punya tatto. Rasanya seperti sia-sia saja mendekati Will."
"Jangan bohong, kau bilang ini sia-sia? Rumah ini, tabunganmu, dan segala-galanya?"
"Aku malah belum puas sampai dia jatuh miskin, tapi memang kekayaan keluarga Pearson itu banyak sekali, dan dia satu-satunya anggota keluarga sekarang. Sulit bagiku menguras semua hartanya dalam beberapa bulan."
"Coba jujur padaku, kau menyukainya 'kan?"
Veronica menaruh berkas yang didapatnya dari rumah mendiang ibu Will ke atas meja, lalu membukanya. "Aku tidak tahu harus berapa kali aku bilang padamu, asmara tidak perlu disangkutpautkan dengan ini. Dari kecil, Rex, dari kecil aku sudah menaruh dendam pada siapapun yang membunuh ibuku. Kau pikir aku menjadi cantik seperti ini demi diriku, tidak, demi bisa merebut hati para b******k itu. Kau lihat sendiri, berhasil 'kan?"
"Tapi Will mungkin jatuh cinta padamu di pandangan pertama."
"Iya memang mencintaiku, mencintai wajah cantik ini, kau pikir pria sepertinya mengenal cinta tulus? Tidak mungkin. Dia hanya pengusaha kaya b******k yang menyukai wanita muda, seperti kebanyakan orang."
"Astaga, itu kejam, tapi bisa kupahami. Coba sedikit saja jujur, kau tetap mencintainya 'kan?"
Veronica enggan menjawab pertanyaan Rex, jadi langsung saja membuka topik obrolan baru, "sudahlah, sekarang bantu aku meneliti berkas ini."
Dia menyerahkan beberapa lembar kepada Rex. "Tolong pastikan apakah semua ini asli. Aku sama sekali tidak bisa percaya Will, tidak satupun dari mereka berempat."
Rex melihat sekilas catatan kepolisian dan laporan otopsi. Dari semua stempel dan keterangan yang terlihat, bisa dipastikan kalau itu asli tanpa perlu dicaritahu. "Ini asli, Veronica. Kertasnya sudah agak rapuh, tulisannya juga sudah buram, jadi sebaiknya kita lebih hati-hati."
Ketika melihat potret hitam putih ibunya di salah satu kertas yang bertuliskan identitas korban, Veronica menjadi sedih. Matanya menjadi panas, lalu perlahan berair. "Diperkosa, dibunuh, ini mengerikan, Rex, sampai mati pun, aku akan membalas siapapun yang melakukan ini, aku akan membunuhnya, termasuk jika itu Will."
"Kejadian ini sudah lima belas tahun silam, mereka masih remaja, apa kau tak bisa merelakan semua ini saja? Begini, bukannya aku menganggap balas dendammu ini salah, tapi kudengar kalau mereka berempat sudah memberikan kompensasi dan menjalani wajib lapor selama bertahun-tahun, Veronica ..."
Tatapan Veronica menajam pada Rex, tak terima perkataan semacam itu. Dia mulai merasa kalau Rex membela mereka karena sama-sama pria. "Jadi jika ada wanita yang dilecehkan, disiksa, dan pria pelakunya, kalian..."
"Oke, oke, aku akan membantumu," potong Rex tak mau berdebat dengan Veronica. Dia mengangguk. "Aku akan membawa berkasnya, kau baca sisanya. Akan kukabari besok."
"Terima kasih."
"Kau akan disini terus sampai besok?"
"Ya."
***
Malam hari tanpa kehangatan dari Will sudah dirasakan Veronica selama beberapa hari belakangan. Dia merasa hampa sekarang. Malamnya berubah amat dingin dan sunyi.
Dia sengaja memajang semua foto sang ibu di seluruh kamarnya, ini dilakukan agar hatinya tetap teguh mencari keadilan. Masa kecilnya hancur karena peristiwa itu, semuanya berantakan.
Perasaannya sesak sekaligus pedih.
Dia berbaring di atas ranjang, punggungnya bersandar di tumpukan bantal. Matanya mungkin fokus lurus ke acara televisi, tapi pikirannya kemana-mana.
Sudah hampir tiga jam dia telah mempelajari berkas tentang penyebab kematian sang ibu serta bukti-bukti yang menyatakan bahwa keempat pria itu memang tidak mungkin pelakunya.
Saat keempat pria itu masuk ke dalam toko, sebenarnya sang ibu sudah dipastikan telah tewas. Jadi ada orang yang lebih dahulu masuk- namun, siapapun orang itu, dia tak terekam oleh kamera pengawas manapun, dan kepolisian menduga sang pelaku asli lewat dari pintu belakang yang tak ada kamera pengawas ataupun saksi manapun.
Tak berselang lama, ponselnya berdering dan seseorang dengan nomor asing menelpon.
"Halo?" Veronica tanpa ragu menjawabnya.
Di balik sambungan telepon itu, nyatanya adalah Will. Dia berkata [Veronica, akhirnya aku bisa mendapatkan nomor ponsel barumu. Aku ingin bicara denganmu secara langsung. Kau ada dimana?]
Hati Veronica sakit. Setelah apa yang dikatakannya tadi, Will masih bersikap lembut. Alih-alih menjawab, dia malah menutup sambungan telepon tersebut, lalu mematikan ponselnya.
Dia pun memaksakan matanya terpejam.
Kejadian di sepanjang hari ini begitu melelahkan, wajar saja dia tertidur pulas.
Ketika pagi hampir menjelang, tidur nyenyaknya itu mulai terganggu, sehingga terus berganti-ganti posisi, dan puncaknya adalah perasaan tak nyaman di perut.
Dia membuka mata, lalu terdiam memandangi atap plafon untuk satu menit lamanya.
"Pusing." Dia bangkit terduduk seraya memijat pelipisnya. Sudah dari kemarin tubuhnya merasakan gejala tidak enak ini. "Apa aku terlalu banyak memikirkan semua ini?"
Ada sesuatu yang hendak membuncah dari mulutnya. Veronica pun turun dan berlari ke arah kamar mandi. Disana dia muntah-muntah di wastafel, tapi tak ada isi perut yang keluar. Perutnya mual bukan main, tapi dia curiga kalau ini bukan karena tubuhnya akan sakit-
Tak nafsu makan, tak enak badan, pusing, suasana hati berubah-ubah. Veronica tak mau membayangkan kalau ini adalah pertanda dari 'itu'.
"Apa mungkin aku hamil?"
Dia selalu menyediakan banyak alat tes kehamilan semenjak menjalin hubungan intim dengan Will. Selama ini dia rajin memakai segala macam kontrasepsi agar kejadian ini tidak terjadi.
Akan tetapi nyatanya, tanda di test pack yang dia gunakan telah menunjukkan dia positif hamil.
"Tidak mungkin, tidak mungkin, tidak mungkin!" serunya terus menerus sembari melempar alat tes itu ke lantai kamar mandi.
Dia memandangi wajah pucatnya di depan cermin wastafel. Dia sangat berantakan dan benar-benar kelihatan kalau sedang butuh banyak nutrisi- karena sekarang ada kehidupan lain di tubuhnya.
Panik, dia segera berlari keluar, lalu mencari-cari ponsel di atas ranjang. Satu-satunya orang yang bisa membantunya adalah Rex- pria itu memiliki banyak koneksi dengan rumah sakit untuk menggugurkan kandungan.
Pikirannya menjadi pendek karena ketakutan. Bagaimana bisa dia tenang jika perutnya sekarang sedang mengandung anak Will?
***