Dinner

1311 Words
Mas ganteng. Kok bisa ada mas ganteng? Bukankah seharusnya dia sudah pulang? Senja langsung terkesiap dan melepas rangkulannya. "B-bapak." "Kamu sakit kan? Saya antar kamu pulang." ucap Langit langsung membuat Senja syok, tidak menyangka, hingga sampai membuatnya mencubit pipinya. Kok sakit? Berarti ini bukan mimpi. Mas ganteng mau nganterin aku pulang?! Langit tersenyum "Ayo kita pulang." Tunggu, Senja. Barangkali kamu sedang terperangkap dalam ilusi yang dihasilkan karena efek radiasi ketampanan pak Langit. Aku harus melepas diri dari ilusi ini dengan cara menutup mata dan tunggu selama tiga detik lalu buka. Satu, dua tiga. Tutup. Senja menutup matanya selama tiga detik, lalu membuka matanya. Ia melihat wajah tampan membahana badai Langit yang tampak tersenyum memandangnya. Lalu pemilik bibir merah dan seksi itu berkata "Ini bukan mimpi maupun ilusi." sembari tersenyum. Bagaimana mungkin ia tahu apa yang Senja pikirkan barusan?! "Ayo." "T-tapi bapak, kenapa bapak mau nganterin saya? Saya enggak enak sama bapak, sudah malam juga." "Apa harus ada alasan tertentu supaya saya bisa mengantar kamu pulang?" tanya Langit "Eh, enggak sih." jawab Senja "Alasan saya adalah karena kamu sedang sakit. Saya tahu kamu sudah berjuang tadi." "O,oh." Langit pun pergi lalu disusul Senja dari belakangnya, mereka menuju area parkiran sekarang. Mereka pun berada di parkiran. Senja melihat parkiran sudah lengang karena sudah banyak karyawan yang pulang, hanya ada beberapa mobil saja disana. Saat berjalan menuju mobil Langit. Senja melihat ada mobil Pajero sport terparkir disana. "Waah mobilnya Angkasa ada disini. Mulus, kinclong dan besar lagi. Apa pemiliknya mirip Angkasa ya? Uhh serasa masuk ke dalam dunia novel aww." ucap Senja dalam hati. Langit mendengar suara hatinya, ia melihat bagaimana antusiasnya gadis itu dengan mobil mirip kepunyaan Angkasa. Tokoh utama dari novel yang ditulisnya. Dasar gadis aneh. Langit membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan Senja masuk. Senja merasa seperti seorang tuan putri disana. Tuh kan manis, mas ganteng yuk ke rumah. Penghulunya udah nungguin Langit tersenyum dan masuk ke dalam mobilnya, mengendalikan kemudi dan mulai jalan. Mobil sudah meninggalkan area kantor dan sedang menyusuri jalan raya. "Rumah kamu dimana?" tanya Langit sambil membuka google map di ponselnya. "Perum. Griya asri bahagia blok G5 no. 1" sebut Senja dan langsung diketik oleh Langit. Ia memilih petunjuk jalan paling atas, ia ikuti rute yang ditunjukkan oleh google map. Suasana hening dan hanya ada suara petunjuk dari google maps. Senja berpikiran macam macam saat itu. Langit diam diam tersenyum mendengar isi pikirannya. Tanggung jawab mas, tanggung jawab! Jantungku jadi bermasalah karena kamu! Duh tenang jantung, tenang. Ini mas ganteng, bukan guru matematika. Belum jadi suami aja udah jantungan begini, gimana kalo udah jadi? Pasti bisa kejang kejang. Tapi sebelum kejang kejang, kamu sudah keburu diguyur sama ibu. Mimpimu selesai. Mas ganteng tahu perbedaan mas sama terasi apa? Kalo terasi buat nyambel, kalo kamu buat aku awww! Mas mas, gantengnya tolong dikondisikan dong, gemes bawaannya pengen karungin terus bawa pulang. Mas saya culik ya sekarang? Tebusannya pakai cinta aja hehe Mas kapan sih rencananya berhenti jadi objek yang saya pandang? Kok saya hampir enggak bisa berpaling ya dari wajah mas. Mas, ini kamu ke rumahku mau ngajakin kawin kan ya? Kita bulan madunya ke kolong tol ya mas, liatin mobil lewat. Langit melihat ke arah Senja sembari tersenyum. Senja yang sejak tadi melihatnya langsung salah tingkah, apalagi saat disenyumi seperti itu. Damagenya enggak nahan mas. Senyuman mas benar benar membuat hati saya meleleh. Seakan akan saya kutub utara dan mas polusinya. Meleleh aku tuh. Lama lama jadi kayak blue band deh ini... nama boy band eh salah maksudnya nama mentega mas... Langit mencoba menahan wajahnya untuk tidak tertawa. Ia fokus menyetir. Selalu saja, gadis ini selalu mampu membuatnya tertawa. "Kamu tadi hebat. Saya salut sama permainan kamu. Benar benar tegang saat menontonnya." ujar Langit sembari mengendalikan setir. "Makasih pak. Bintang juga mainnya bagus, jadi saya kebantu juga berkat permainan dia." jelas Senja. "Lelaki itu Bintang namanya? Kalian dekat?" tanya Langit. "Enggak terlalu dekat sih, baru kenal." ujar Senja. "Oh. Saya kira kalian pacaran." ucap Langit "Eh, enggak pak. Enggak mungkin. Kita aja baru kenal." ujar Senja. Pak Langit kok berpikiran kayak gitu sih ya? memangnya aku dan Bintang terlihat sedekat itu? Salah pak, Bintang itu dekatnya sama Arini bukan saya. Kenapa pak, bapak cemburu ya? Enggak apa apa pak, cemburuin aja saya terus pak. Saya ikhlas. Langit terdiam, seolah tak mendengar apa apa. Ia langsung mengalihkan pembicaraan. "Kamu belum makan ya sekarang?" tanya Langit, Senja terkejut. "B-belum." "Yasudah kita makan dulu sekarang ya?" "Eh?" Senja mengerjap ngerjapkan mata sambil menatap Langit. Lelaki itu yang merasa dilihat lama langsung tertawa. "Apa? Enggak kamu enggak mimpi." ucap Langit. "Tapi pak, ini aneh. Kenapa bapak tiba tiba ngajakin saya pulang dan makan? Aneh loh pak. Bapak kan direktur dan saya." ucap Senja langsung dipotong oleh Langit. "Terus kenapa kalo saya direktur?" tanya Langit "E-enggak apa apa sih pak. Tapi ini diluar rasional aja." ucap Senja. "Tidak semua direktur ada didalam rasional kamu." balas Langit enteng. Senja terdiam. Ia benar benar merasa amat senang, seperti kejatuhan durian montong dari langit, bisa diajak makan dengan direkturnya. "Mau makan apa?" tanya Langit. "Eh terserah bapak." jawab Senja. "Restoran Italia, Jepang atau Amerika?" tanya Langit. "J-jangan restoran. Kemahalan, aku enggak sanggup bayar nanti." ujar Senja. "Pakai uang saya, saya sengaja mentraktir kamu." ucap Langit, langsung membuat Senja terkejut. "Eh? Kok traktir? Enggak, enggak. Saya bayar sendiri pak." tolak Senja. "Enggak apa apa. Anggap saja saya mentraktir kamu sebagai hadiah karena kemenangan kamu tadi dan hadiah juga karena kamu sudah menghibur saya tadi." Pak Langit uwu banget sih, jadi gemes ih. Pengen cubit deh. "Bapak baik banget sih pak." ucap Senja langsung disenyumi oleh Langit. "Tapi jangan makan di restoran ya pak. Kalo enggak bapak traktir saya pecel ayam aja pak!" ucap Senja langsung direspon oleh Langit. "Kamu yakin enggak mau ditraktir makan di restoran? Jarang jarang kan kamu makan enak?" tanya Langit. "Enggak pak, saya enggak mau makan enak. Apalagi dibayarin sama bapak." ucap Senja "Lho kenapa?" tanya Langit. "E-enggak pak, saya maunya makan enak pakai uang saya sendiri aja hehe." ujar Senja. "Enggak perlu merasa tidak enak sama saya. Hanya karena saya direktur kamu. Jujur saya tidak suka membandingkan profesi orang lain, seperti yang saya katakan waktu itu. Saya menganggap kamu sama dengan yang lain, termasuk saya." jelas Langit. Senja merasa sangat kagum dengan perkataan Langit. Mas ganteng, saya tahu saya enggak salah mengagumi mas. Mas bukan hanya ganteng aja ternyata hatinya juga baik. "Gimana? Jadi makan direstoran?" tanya Langit. "Enggak. Makan pecel ayam aja hehe." "Yaudah." Beberapa saat kemudian Langit pun melihat ada tukang pecel ayam. Ia menepikan mobilnya ke sebelah kiri tepat disebelah tukang pecel ayam. Mereka keluar dari mobil dan duduk berhadapan disebuah kursi. "Kamu suka pedas enggak?" tanya Langit. "Aku suka." jawab Senja. Langit pun segera memesan dua pecel ayam pada ibu penjualnya. Selagi menunggu mereka saling berdiaman. Senja terus melihat Langit yang tampak bersinar meski hari sudah malam. Lelaki itu terlihat tampan dan mempesona. Namun setelahnya ia langsung meneguk teh manisnya karena Langit keburu menatapnya. Langit tersenyum. "Biasanya malam malam begini kamu ngapain?" tanya Langit "Saya buka f*******: dan menulis." ujar Senja "Menulis apa?" tanya Langit. "Novel pak." "Kamu bisa menulis novel?" "Masih amatir sih pak, sekedar hobi aja menuangkan cerita melalui tulisan." "Keren loh. Kamu masukin di blog enggak?" "E-enggak sih pak. Aku nulis di platform online." "Nama platformnya apa?" "Dreame." "Nama novelnya apa?" "J-jangan pak saya malu kalau tulisan saya dibaca sama bapak." "Kamu tidak perlu malu, kalo enggak seperti ini aja deh. Saya meminta sesuatu hal dari kamu." "Meminta apa pak?" "Diluar jam kerja anggap saya sebagai pria biasa dan bukan seorang direktur." "Eh? Kok bisa begitu pak?" "Bisa begitu, karena saya ingin mengenal kamu lebih dekat." ucap Langit tersenyum. Senja tersentak dan hampir kehilangan nyawanya. Senja bangun! Ini mimpi kan?? Senja menepuk pipinya dan mencubitnya hingga melar. "Mau saya bantu cubit?" tanya Langit langsung digelengi oleh Senja. "Pak, saya mau tanya." ucap Senja "Tanya apa?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD