Beberapa jam setelahnya partai ketiga pun dimulai, Senja dan Langit kembali berdiri didepan net. Senja melihat ke arah Langit yang saat itu melihatnya.
Mas, kalo saya menang. Mas mau kasih apa? Cium? Jangan mas, bukan muhrim Hehe, saya mah enggak muluk muluk mas, cuma pingin mas datengin rumah saya sambil bawa penghulu.
Langit tersenyum ia kembali mengalihkan wajahnya ke arah lain, menghindari mata Senja.
Yah mas mah ngeliat ke arah sana mulu. Mas ganteng.
Ini akan menjadi pertandingan bulu tangkis terakhir karena merupakan final. Senja mulai melakukan servis. Tim lawan menepuk kok dan membalikkan ke arah mereka namun sayang terbentur net. Skor pertama diraih oleh pasangan Senja dan Bintang.
Berkali kali tim lawan terus melakukan kesalahan hingga rentang skor terbentang jauh untuk tim Senja dan Bintang, mereka tak terkejar.
Padahal sudah akan menjelang malam namun Senja merasa lebih banyak berkeringat, perutnya tiba tiba merasa mual dan kepalanya pusing. Senja mulai pucat wajahnya hingga disadari oleh Bintang. "Elo kenapa, Sen? Kok kayak pucat gitu mukanya?" tanya Bintang.
"Eh? Enggak kok. Enggak apa apa." ujar Senja mencoba tersenyum meski bibirnya terlihat pucat
Ya Allah kenapa mendadak pusing begini ya kepala. Perutnya juga mual, apa karena aku telat makan tadi?
Langit yang mendengar suara hati Senja langsung khawatir.
Kuat Senja. Sebentar lagi kamu menang. Ada pak Langit disana, kalo kamu kalah, pasti akan sangat memalukan bukan?
Senja terus memaksa dirinya bermain meski harus menahan sakit di kepala dan perutnya. Ia juga sempat keteteran saat bermain. Bintang yang melihat Senja begitu kelelahan saat bermain langsung khawatir.
"Senja Lo sakit ya?" tanya Bintang cemas. "Aku baik baik aj--" Senja merasa mual dan hampir akan muntah namun ia tahan.
"Lo sakit Sen? Kita udahin aja ya permainannya." ujar Bintang
"Enggak Bin, aku enggak apa apa. Tanggung skornya dikit lagi." ujar Senja.
"Wajar kalo Lo sakit, soalnya kita main dari siang. Ngejar tiga partai sekaligus!" ujar Bintang.
"Enggak, enggak apa apa." ujar Senja dengan wajah pucat dan kelelahan yang semakin terlihat.
Skor saat ini adalah 19-6 set kedua. Senja melakukan servis, tim lawan menepuk kok dan membalikkan ke arah area sebelah kanan Senja yang kosong.
Senja membiarkannya karena bola keluar. Skor kembali diraih oleh Senja dan Bintang 20-6. Satu poin lagi final akan dimenangkan oleh mereka.
Ratih dan Arini bersorak menyambut ini, mereka berteriak. "Abisin! abisin! abisin!" secara serentak dengan semua penonton.
Langit merasa cemas dengan keadaan Senja, apakah dia baik baik saja?
Senja sempoyongan saat mengejar kok, semua penonton termasuk Arini dan Ratih bingung melihat Senja sempoyongan.
"Lah lah, kenapa tuh bocah." tanya Ratih.
"Kok kayak sempoyongan gitu ya karat."
Skor bertambah 1 untuk tim lawan jadi 7-20, semua penonton terlihat meng-yahkan skor tambahan yang berasal dari kesalahan Senja itu, dia tidak sanggup mengembalikan dropshot dari lawan.
"Sen! Lo udah enggak kuat! Ayo kita udahin aja! Lo bisa sakit!" ucap Bintang cemas. "Sekali ini lagi Bin, aku mohon." ujar Senja dengan wajah kelelahan.
"Ini cuma permainan biasa, tahun depan juga masih bisa ikut. Enggak perlu maksain diri buat sekarang." ujar Bintang.
"Enggak apa apa Bin, perjuangan kita sampai final enggak boleh sia sia. Belum tentu tahun depan kita bisa sampai di final."
"Tapi Lo sakit."
"Satu skor lagi. Aku mohon."
"Terserah."
Bintang benar benar tidak habis pikir dengan gadis ini, sebenarnya apa yang membuatnya begitu menginginkan kemenangan dari pertandingan ini?
Bintang merasa Senja gadis yang cukup aneh, sangat sulit baginya untuk memahami apa yang ada didalam kepalanya.
Senja dan Bintang kembali berdiri didepan net, bersama tim lawan yang sudah ancang ancang untuk melakukan servis. Kok masuk ke area Senja, gadis itu menepuknya.
Senja dan perempuan dari tim lawan saling adu drive hingga akhirnya pengembalian dari tim lawan malah menyentuh net.
Senja jatuh terduduk tak menyangka, skor bertambah untuk kemenangan mereka. Bintang merasa sangat senang. Semua penonton bergemuruh menyambut kemenangan Senja dan Bintang.
"Alhamdulillah ya Allah." ucap Senja sambil berguliran air mata.
Langit melihat Senja lantas dipeluk oleh Bintang saat itu. Entah kenapa, ada perasaan aneh di hatinya yang membuatnya tidak terima dengan pemandangan itu.
Gandhi menyaksikan hal itu jelas, tiba tiba ponselnya berdering. Ia langsung mengangkat teleponnya. "Halo? Iya pak Presdir?" tanya Gandhi.
Sebuah suara dari ujung telepon terdengar. "Dimana Langit? Saya meneleponnya berkali kali tidak diangkat. Kemana dia?" tanya Richard.
"Pak Langit sedang sibuk mengurus lomba pak." ujar Gandhi.
"Belum selesai juga lombanya? Sudah menjelang malam begini?" tanya Richard.
"Sebentar lagi acara mau selesai, ini sekarang lagi penyerahan medali pak." ujar Gandhi.
"Oh yasudah, jangan lama lama. Katakan pada Langit saya sudah pulang bersama istri saya. Mungkin lusa akan bertemu di kantor. Opa juga kelihatannya sudah sampai dari Surabaya." ujar Richard.
"Baik pak."
Telepon ditutup, Langit sudah tak ada lagi disamping Gandhi. Ternyata direkturnya itu sudah berada di depan lapangan, bersiap memberikan medali dan karangan bunga pada Senja, Bintang dan kedua tim lainnya.
Medali perak dan perunggu sudah di kalungkan kepada dua tim oleh Langit. Tersisa medali emas yang belum.
Langit segera mengambil medali emas dan mengalungkannya pada Bintang namun tiba tiba saja Gandhi muncul di belakangnya dan mendorong tubuh Langit hingga mereka berpelukan.
Mereka saling bertatapan saat itu, bahkan seperti ada suara nyanyian India ditelinga Gandhi ketika mereka saling bertukar pandang seperti itu. Ia benar benar berharap, cinta diantara mereka muncul setelah ini.
Senja merasa sangat pusing, ia berulang kali coba menegaskan pandangannya yang mulai kabur. Kedua kakinya mulai lelah untuk menopang.
Ia tidak sanggup lagi berdiri hingga akhirnya pada detik ketiga ia ambruk didepan mereka. Bintang yang melihatnya pingsan langsung kaget dan berteriak memanggilnya. "Senja!"
Bintang pun langsung mengangkat tubuh Senja dan menggendongnya, ia bawa gadis itu menjauh dari lapangan menuju kedalam kantor.
Satu jam kemudian, Arini, Bintang dan Ratih sedang menunggu didalam klinik. Mereka terus menanti Senja yang sedang terkulai pingsan di atas kasur.
"Dia masih belum bangun, gue enggak bisa lama lama disini. Anak gue takut nyariin. Gue ijin pulang duluan ya Rin, Bin?" tanya Ratih.
"Iya Karat, duluan aja. Biar kita berdua nungguin Senja disini, sampai dia bangun." ujar Bintang.
Ratih pun keluar dari ruangan itu seraya menjinjing tasnya.
Bukan hanya Ratih saja yang pulang, ternyata banyak karyawan yang bergegas pulang diluar sana. Jam sudah menunjukkan pukul 19.30. Festival olahraga sudah selesai dan akan dilanjutkan kembali besok pagi.
Disaat Arini dan Bintang terduduk di ruangan istirahat menunggu Senja. Gadis itu tiba tiba membuka kedua matanya, terbangun. Arini yang melihat Senja bangun langsung memberitahu Bintang. "Bin, itu."
Senja mencoba duduk. "Kalian. Aku kenapa bisa ada disini?" tanya Senja seraya memijat pelipisnya. "Kamu tadi pingsan pas lagi penyerahan medali." jelas Arini, langsung diohkan oleh Senja.
"Lo masih pusing ya? Mau gue anterin lo pulang?" tanya Bintang. Senja melihat Arini dan merasa tidak enak dengannya. "Enggak Bin, enggak apa apa. Aku baik baik aja kok. Tadi cuma pusing sedikit, sekarang udah mendingan. Udah kamu anter aja Arin pulang, kalian kan biasa pulang bareng. " ujar Senja tersenyum.
"Arini biar nanti belakangan, gue yang anterin Lo dulu." ujar Bintang.
"Enggak, aku baik baik aja. Udah kalian pulang aja. Gih. Udah malem. Aku juga mau pulang ini." ujar Senja sambil menyuruh mereka pergi.
"Bener nih?" tanya Bintang.
"Iya udah pergi aja. Nih aku mau pergi abis kalian pergi. Udah sana." ujar Senja.
"Yaudah kita pergi ya. Lo kalo udah pulang kasih tahu gue." ujar Bintang.
"Iya. Udah sana." ucap Senja.
Arini dan Bintang pun pergi keluar dari ruang istirahat. Tak sengaja mereka berpapasan dengan Langit, mereka menyapa Langit dan lantas pergi.
Gandhi mendekati Langit. "Ehem, bapak enggak berniat mengantar cowok tadi?" tanya Gandhi langsung dikernyitkan dahi oleh Langit.
"E-enggak pak, bukan apa apa. Oh iya tadi pak Presdir menelepon saya. Katanya beliau sudah pulang ke rumahnya bersama istrinya. Dan kakek bapak sepertinya sudah ada dirumah." ujar Gandhi.
"Oh." hanya itu jawabnya. Gandhi pun terdiam, beberapa saat setelahnya ia pun pamit pulang.
"Kalau begitu saya pulang dulu ya pak. Bapak enggak berniat menginap disini kan?" tanya Gandhi.
"Saya menginap." ujar Langit.
"Eh? Serius? Bapak menginap? pakai tenda pak?" tanya Gandhi
"Enggak. Bercanda. Sudah sana pulang." ucap Langit.
"Iya pak, saya pamit. Sampai jumpa besok pak." ucap Gandhi langsung berlalu pergi meninggalkannya.
Di lain sisi Senja pun menutup pintu ruang istirahat dan jalan menjauh dari sana. Namun tiba tiba saja kepalanya terasa pening, ia hampir akan terjatuh namun Langit sudah menangkap dan merangkulnya.
Mereka saling bertukar pandang saat itu. Kembali, Langit merasa jantungnya berdebar tidak karuan ketika melihat Senja dari dekat.