Chapter 8 ( Rania Hilang)

1214 Words
Matahari sudah menenggelamkan diri. Kini tinggal bulan dan bintang bintang yang bertugas untuk menghiasi langit malam. Nisa duduk bersandar di sofa. Pandangan matanya tidak bisa lepas dari ponselnya. Ia terus memantau layar tipis itu. Berharap ada pesan dari pria tadi siang yang ia temui. Waktu berganti waktu, tidak ada satu pesan pun yang masuk ke ponselnya. Disamping Nisa, Veira sudah tertidur. Ia terlihat sangat menikmati tidurnya. Viera begitu nyenyak. Hal ini wajar mengingat tenaga yang hari ini sudah ia habiskan. Nisa hanya melirik ke Viera. Pandangannya tidak tega. Malam semakin larut. Belum juga ada tanda tanda pesan masuk yang sedari tadi Nisa tunggu. Tanpa gentar Nisa masiih bertahan di sofa. Matanya sudah sedikit mengantuk. Namun hatinya menolak untuk tidur. Hatinya sangat berharap ia dapat bertemu dengan Rania kembali pada malam ini. *** Pria itu terus mengamati Rania dari kejauhan. Bass tampak berdiri tidak jauh dari tempat Rania berada. Tatapan Bass juga sesekali terutuju pada Rania. Sepertinya Bass memang selalu mengawasi Rania. Ya begitulah adanya. Rania sangat menguntungkan hidup Bass. Dengan adanya Rania di sisinya ia dengan mudah akan mendapatkan kemewahan dalam hidupnya. YA sebuah kebahagiaan. Rania bagai sumber keuangan baginya. Lelah mengamati Rania dari kejauhan, kini pria tersebut mendekati Bass. Ia menyodorkan segepok uang kepada Bass. Uang tersebut adalah uang pemberian dari Nisa tadi siang. Tidak masalah ia harus kehilangan separuh dari uang yang ia dapatkan tadi siang. Tidak ada cara lain untuk mendapatkan Rania yang selalu berada di bawah pengawasan Bass. Hanya dengan uanglah Bass dapat taklukkan. Demi mendapatkan Rania untuk Nisa, tidak masalah sebagian uangnya hilang. Itu juga bukan uang dari jerih payahnya. Uang itu pemberian Nisa. Lagi pula uang yang diserahkan ke Bass hanya sebagian. Ia masih memiliki setengah bagiannya lagi. Ditambah setelah berhasil membawa Rania kepada Nisa ia akan mendapat uang kembali. Bahkan jumlahnya dua kali lipat lebih banyak dari pada yang telah ia dapatkan. Sungguh bukan masalah jika ia harus kehilangan sebagian uang yang sudah di tangannya. Tanpa berpikir lagi, ia mendekati Bass. Tanpa kata yang terucap ia menyodorkan segepok uang itu. Bass yang dasarnya gila uang pun dengan segera menyambar uang tersebut. Sungguh mudah sekali untuk memperdaya Bass. Andai saja Bass tau ia akan membawa pergi Rania dari hidupnya, pasti ia tidak akan menyerahkan Rania begitu saja. Dengan kode yang di berikan oleh Bass, pria tersebut mendekati Rania. Ya kode tersebut merupakan tanda izin dari Bass. Dengan segera ia membawa Rania. Diam diam ia membawa Rania keluar dari bangunan tersebut. Rania yang hanya menurut saja sesuai instruksi Bass tidak melakukan pemberontakan sama sekali. Dengan bergegas Pria itu menyuruh masuk ke mobil. Mobil segera di pacu jauh meninggalkan Bass yang masih tidak menyadari bahwa Rania dibawa kabur. Pria tersebut memacu kecepatan mobilnya tiada tara. Rania pun yang tidak mengerti mau di bawa ke mana, merasakan mobil yang ia tumpaki melaju cepat ia berpegangan pada kursinya. Di tengah mengemudi, ia mengambil ponsel dan menghubungi Nisa. Tanpa menunggu lama balasan pesan dari Nisa sudah masuk ke dalam ponselnya. Disusul sebuah alamat yang harus ia tuju. Ia memasukkan ponselnya kembali dan segera memacu mobilnya menuju tempat yang diperintahkan Nisa. *** “Dimana posisi anda sekarang?” sebuah pesan meleset cepat ketika pria tersebut berhenti di depan mall yang tamapk megah namun kini sunyi karena malam sudah begitu larut. “Posisi saya berada di kursi taman samping mall” sebuah balasan dari Nisa masuk ke dalam ponsel pria tersebut. “Jangan lupa serahkan uang yang tadi siang anda janjikan kepadaku.” “tenang saja sekarang saya sudah membawanya. Yang penting serahkan Rania kepada saya” membaca pesan tersebut, pria itu segera keluar dari mobil dan membuka pintu mobilnya untuk memerintah Rania turun. Pria tersebut jalan di belakang Rania. Ia terus memastikan jika Rania tidak akan kabur darinya sebelum ia berhasil menyerahkannya kepada Nisa. Memang sedikit ada gerak gerik dari Rania yang ingin pergi menjauh. Hal ini sangatlah tidak membantunya apabila Rania benar benar kabur. Dua masalah besar, pertama ia tidak bisa kembali ke tempat tersebut karena akan bertemu dengan Bass dan meminta Rania kembali, yang kedua ia tidak akan mendapatkan uang yang sudah di janjikan Nisa. Uang itu akan ia gunakan untuk kembali ke negara asalnya dan untuk menopang hidupnya. Nisa yang sedari tadi menunggu kedatangannya beranjak dari kursinya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Viera. Nisa yakin yang menuju ke arahnya adalah pria tersebut yang membawa Rania. “Rania !” teriak Nisa ketika mereka semakin mendekat dan sosok perempuan itu sudah dapat dikenali oleh Nisa. “Stop!” teriakan itu menghentikan langkah Nisa yang sudah kegirangan. Sumber suara itu berasal dari balik tubuh Rania. Ya sudah pasti sosok pria itu adalah orang yang sama ketika Nisa menemuinya di sinag hari. “Serakan dahulu uangnya. Aku tidak bisa mempercayaimu begitu saja” Nisa yang sudah menyiapkan uang pun langsung mengambil brangkas yang dari tangan Viera. Ia langsung menyerahkannya kepada pria tersebut. “Ambillah, silahkan buka dan periksa” sambil menyodorkan brangkas tersebut. Bagai burung yang menyergap mangsanya. Pria itu langsung mengambilnya dan membukanya. Matanya berubah menjadi biru. Bagaimana tidak, uang sebanyak itu berada di depannya dan kini menjadi miliknya. Ia pun langsung menyerahkan Rania kepada Nisa. “Terima kasih banyak, senang bekerja sama dengan anda” ucap Pria tersebut sembari tersenyum tipis. “terima kasih juga atas bantuannya” Nisa segera memeluk Rania. Rania yang sedari tadi panik memikirkan hal jahat akan menimpanya, kini berubah penuh air mata. Ia sungguh tidak menyangka jika pria mengerikan itu justru membawanya bertemu dengan Nisa. Rania masih tidak mengetahui siapa wanita yang tengah mendekapnya. Ia tidak dapat mengenalinya. Namun pelukannya sungguh membuatnya nyaman dan Rania merasa ia memiliki hubungan dekat dengannya. Di belakang Nisa tampa Viera. Tentu saja Rania dapat mengenali wanita berjilbab itu. Ia lah orang yang selalu menyembunyikan berbagai pertanyaannya yang terus melayang di kepala. Masih sedikit terbesit rasa tidak menyukainya. Wanita itu mendekat. Viera mengatakan kalau Wanita yang tengah memelukknya adalah Nisa. Salah satu sosok yang selalu ia tanyakan padanya. Rania pun tidak menyangka jawaban dari pertanyaannya selama ini sudah ada di depan mata. Ia tidak sabar untuk saling bercerita kepada Nisa. Banyak sekali pertanyaan yang akan ia tanyakan kepada Nisa. Yang jelas pertanyaan pertanyaan itu berkaitan dengan tanda tanyanya selama ini. Kini mereka sudah berada di rumah Viera. Malam yang semakin larut tidak sedikit pun menimbulkan rasa kantuk bagi mereka. Kebahagiaannya yang mereka rasakan berhasil mengalahkannya. Kini Rania sudah memaafkan kesalahan Viera yang baginya sudah sangat menjengkelkan. Rania paham maksud dari Viera. Ia tahu alasan Viera selalu mengalihkan pembicaraannya. Rania pun sudah mengingat sosok Nisa yang berada di depannya itu. Ingatan ingatan bersamanya sudah berhasil menembus memorinya kembali. Namun malang, Rania tidak bisa mengingat kejadian pahit mengenai Ahmad. Nisa pun berniat membawa Rania ke Indonesia untuk bertemu Asma. Sepertinya Asma lah satu satunya yang akan memulihkan ingatan Rania mengenai Ahmad. *** Ditempat yang berbeda. Kini Bass mencari cari Rania sedari tadi. Mengapa ia tidak kunjung kembali kehadapannya? Rasa marah pun menghantam kalbunya. Belum pernah ada orang yang berani membawa Rania selama ini. Tempat ia berada pun sudah semakin sepi. Pagi akan segera datang. Bass semakin frustasi. Ia terus mencari Rania sudut demi sudut. Semua ruangan sudah ia sapu tanpa ada yang tersisa. Sial. Benar memang Rania tidak berada di sana. Tidak ada cara lain. Ia harus segera mencari Pria semalam yang membawanya. Kini ingin memusnahkan pria itu sudah bersarang di hati Bass.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD