Chapter 7 (Ingatan Rania Kembali)

1386 Words
KLEK !!! Suara pintu berhasil di buka Rania pada pagi pagi buta. Langit masih tampak gelap. Belum terlihat setitik pun cahaya matahari yang meneranginya. Usahanya masuk ke kamar Viera untuk mengambil kunci pintu depan tidak sia sia. Dengan seketika ia berhasil lenyap dari rumah Viera. Rania berjalan tanpa arah dan tujuan. Orientasinya hanya satu. Bagaimana ia bisa lepas dari Viera yang selalu menyembunyikan apa apa darinya. Bukannya Rania marah. Tapi Rania kesal ia tidak dapat segera mendapat jawaban dari perkataan Viera. Mungkin memang benar Rania belum benar benar pulih. Namun Rania tidak mau menunggu terlalu lama untuk mengetahui hal yang sebenarnya terjadi. Bahkan parahnya Viera melarang Rania untuk mencari Ahmad. Ingatan Rania belum pulih semuanya. Masih ada beberapa memorinya yang masih hilang dari ingatannya. Di tengah perjalanan menuju Kurya Bakery ia bertemu dengan Bass. Ia merasa tidak asing dengan sosok itu. Namun Rania tidak dapat mengingatnya siapa orang itu sebenarnya. Bass yang melihat Rania seakan lebah melihat bunga. Bass masih mengharapkan Rania dalam hidupnya. Bass menginginkan Rania yang seperti dulu. Rania yang tanpa mengenakan hijab dan hanya berbalut baju baju yang menempel di badannya dan menampilkan lekuk lekuk tubuhnya yang anggun. “Hey, kemana kamu akan pergi?” “Siapa kamu? Aku tidak kenal kamu” Jawaban Rania membuat Bass sedikit berpikir. Bagaimana Rania tidak mengenalinya. Sementara aku adalah orang yang pernah masuk dalam kehidupannya. Rania dengan segera pergi meninggalkan Bass. Bass yang masih penuh dengan tanda tanya segera berlari menyusul Rania yang sudah semakin menjauh dari hadapannya. “Kamu lupa sama aku? Sama sekali tidak mengingatku” tanya Bass yang kini sudah berada di depan Rania dan berhasil menghentikan langkah Rania. “Aku tidak tahu siapa kamu. Dan aku tidak ada urusan denganmu” jawab Rania dengan tegas. Ia merasa terusik dengan Bass yang selalu mengintrogasinya ini. “Aku Bass. Kamu adalah belahan jiwaku” “Bohong! Aku tidak kenal siapa kamu” Rania kembali berjalan. Bass tidak mau menyerah. Ia terus berusaha untuk mendekati Rania. Bagaimana pun ia harus mendapatkan hati Rania kembali. Rania dapat membuatnya hidup dengan mudah. “Sebenarnya apa yang kamu cari?” Bas terus membuntuti Rania. “Aku mencari Ahmad, tolong ,menyingkirlah dariku. Kecuali lo tau dimana Ahmad berada” Mendengar ucapan Rania, Bass merasa memiliki kesempatan. Sepertinya ada yang bermasalah dengan Rania. Kenapa ia tidak bisa mengingat dirinya? Bukankah Rania selalu menghindar darinya? Sungguh ini kesempatan yang harus dimanfaatkan dengan baik untuk membawa Rania. “Aku tahu dimana Bass berada. Ikutlah bersamaku. Aku akan menemukanmu dengannya” Mendengar apa yang Bass ucapkan, muka garang Rania berubah seketika. Rasa senang dihatinya telah membuat ia berhasil tersenyum dan berharap Bass bisa membawanya untuk bertemu dengan sosok yang akhir akhir ini Rania cari. “Dimanakah ia sekarang? Bolehkan aku bertemu dengannya” kini ucapan Rania sudah berubah penuh harapan. Rania sangat berharap bisa sesegera mungkin ia bertemu dengan Ahmad. “Sekarang ikutlah denganku.” Bass berjalan memasuki mobilnya. Sementara Rania mengikutinya dari belakang tanpa di perintah. *** Viera yang terbangun dan menyadari Rania tidak ada di rumahnya seketika merasa khawatir. Viera tidak pernah berpikiran kalau Rania akan kabur dari rumahnya. Keadaan Rania pun membuat Viera panik. Bagaimana Rania akan bisa menjaga diri sementara ia sedang mengalami gangguan ingatan? Pastilah di luar banyak bahaya yang sangat mungkin akan ia alami. Viera segera menghubungi Nisa di Indonesia. Viera berharap akan mendapat pertolongan dari teman teman Nisa untuk membantunya mencari Rania. Bagi Viera, semkain banyak yang mencari Rania maka semakin mudah untuk menemukan Rania. Viera tidak mau Rania yang pernah mengalami hidup kelam akan kembali lagi ke hidupnya yang dulu. Nisa yang mendapat kabar dari Viera pun tak kalah paniknya. Terlebih lagi Nisa paham betul masa masa sulit yang dialami Rania hingga ia bertemu dengan Bass. Manusia yang sangat membuat khawatir Nisa adalah Bass. Jika saja Bass dapat menemukan Rania, dan kini Rania dalam keadaan gangguan ingatan ini akan sangat mudah untuk membawa Rania hidup ke jalan yang kelam kembali. Nisa segera menghubungi semua teman temannya. Ia pun segera mencari penerbangan waktu dekat ke Amerika. Nisa tidak bisa diam. Nisa sungguh menyayangkan apabila Rania keluar dari keistiqomahannya selama ini. Rania harus tetap dijalan yang benar. Itu yang Nisa harapkan. Sesampainya di Amerika, Nisa langsung menuju ke kediaman Viera. Nisa dan Viera mencari Rania bersama dengan mengendarai mobil Viera. Beribu ribu kilo meter telah di tempuh. Namun sosok Rania belum juga ditemukan. Mereka sudah mengintari pusat kota, bahkan hingga tempat tempat kecil yang pernah Rania singgahi. Di tengah kepanikan, Nisa mengingat untuk menuju ke tempat hiburan malam. Tapi bagaimana mungkin mereka dapat kesana? Sementara mereka menutup aurat mereka dengan sempura. Tidak mungkin juga jika mereka mengenakan pakaian layaknya kupu kupu malam. Akan sangat aneh jika mereka dengan hijabnya masuk ke sana untuk mencari Rania. Pasti juga mereka akan menjadi pusat perhatian mata mata buaya yang tajam. Sungguh mengerikan jika dibayangkan. Hari masih memancarkan matahari dengan teriknya. Ini menandakan siang hari sedang berjalan. Mereka harus menunggu malam jika akan pergi kesana. Siang hari tempat itu sepi seperti kuburan. Tanpa tanda tanda kehidupan. Dengan terus berpikir mereka mencari alamat tempat tersebut. Nisa mengingat ia pernah di beri tahu nama tempat itu oleh Rania kala dulu. Nisa membuka ponselnya. Mencari pesan yang pernah Rania kirim kepadanya. Huh untung baik obrolan mereka via chat kala itu belum di hapus oleh Nisa. Sampai juga mereka berada di depan bangunan itu. Viera dan Nisa duduk di depannya dan bermaksud mencari bantuan ke orang sekitar untuk memintanya mencari Rania di dalam ketika malam telah datang. Seorang pria terlihat lalu lalang disana. Pria tersebut menatap ke arah Viera dan Nisa dengan tatapan aneh. Ia seakan tidak pernah melihat wanita berjilbab. Viera dan Nisa yang menyadari keberadaan pria itu pun merasa terganggu. Viera yang mulai terlihat sangat tidak nyaman dan tergores rasa ketakutan segera mengajak Nisa untuk pergi. Bukannya Nisa tidak takut. Namun ia berusaha untuk tetap tenang. Nisa adalah sosok yang pintar dan selalu memikirkan solusi dari semua permasalahan dengan tetap tenang. Segawat dan sebesar apapun masalah itu. Sifat Nisa yang baik ini membuatnya justru menolak ajakan Viera untuk pergi. Nisa menduga pria tersebut memang tidak asing dengan bagunan di belakang mereka. Nisa yakin pria tersebut pasti sering kesana ketika malam tiba. Nisa mendekati pria tersebut. Pria tersebut semakin menatap tajam kearah Nisa. Tanpa keraguan ia terus berjalan mendekat. Tak peduli dengan tatapan pria tersebut yang semakin lama semakin tajam. Nisa berpikir tidak mungkin juga pria tersebut akan menyakitinya dan berbuat jahat kepadanya mengingat keadaan sekitar yang tampak lalu lalang orang orang. “Misi..” Pria tersebut tidak menjawab. Ia hanya mengangkat alis kanannya sebagai tanda ia merespon ucapan wanita di depannya. “Apakah anda tau Rania?” Benar saja dugaan Nisa. Pria tersebut langsung mengurangi tatapan ganasnya. “Rania? Kenapa kalian bisa kenal wanita itu?” tanya pria itu, seakan ia merasa tidak percaya jika seorang Rania kenal atau bahkan memiliki hubungan dekat dengan wanita di depannya yang menutup aurat itu. “Rania. Dia adikku” “Anda tidak mengarang cerita? Mana mungkin anda kakaknya” pria itu tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Nisa. Memang sangat tidak masuk akal jika Rania memiliki kakak yang memiliki gaya busana yang sangat jauh berbeda dengan Rania. “Tidak saya tidak mengarang cerita. Saya orang yang sudah menganggapnya seperti adik saya sendiri” “Rania setiap malam ada di sini. Kesini saja kalau kalian mau nanti malam” “Sungguh? Rana biasa ke sini ?” “Ya begitulah” “Maaf saya tidak dapat masuk ke dalam nanti malam untuk menemui Rania. Bisakah anda membantuku?” Pria tersebut tidak begitu merespon apa yang Nisa katakan. Nisa pun tidak kehabisan cara. Ia menawarkan sejumlah uang kepada pria tersebut. Rania menyerahkan sejulmah uang kepada pria tersebut. “Tolonglah saya bawa Rania kepadaku, aku akan menambah dua kali lipat dari uang ini jika kamu berhasil membawanya kepadaku” pinta Rania sambil menyodorkan sejumlah uang di tangannya kepada pria tersebut. Yah, tidak mungkin juga ia akan menolak sejumlah uang yang dengan mudah dapat ia dapatkan dari wanita di depannya. Ia merasa sangat mudah untuk mendapatkan uang hanya dengan membawa Rania ke depan wanita di depannya. Tanpa ragu pria tersebut menerima tawaran Nisa. Nisa dapat bernafas lega sekarang. “Nanti saya segera bawa Rania ke hadapan anda. Kirimkan alamat ke nomer ini,” pria tersebut menyerahkan kartu namanya kepada Nisa. Nisa segera mengambilnya dan mengajak Viera untuk segera kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD