Chapter 6 (Kenyataan Pahit)

2133 Words
Efek perkelahian antara Ahmad dan Bass ternyata cukup parah. Demi keselamatan Ahmad mau tak mau ia harus dilarikan ke rumah sakit. Keadaan Ahmad yang sudah mengkhawatirkan segera di sambut oleh beberapa tenaga kesehatan dengan sigap. Mereka memang pantas di katakan garda terdepan. Sosok yang selalu siap dan sigap untuk membantu orang orang yang sedang sakit dan butuh pengobatan. Dengan segera Ahmad dibawa untuk diobati. Ahmad kini sudah terbaring lemah. Ia terbaring di ranjang rumah sakit seperti tanpa pergerakan. Rania dan Asma di menunggu di depan ruangan dengan cemas masih terlihat sangat khawatir. Hal ini dapat ditebak dari raut wajah yang terlukis di sana. Terlebih Rania. Beribu ribu bulir mata air dengan deras berjatuhan membasahi pipinya. Selang beberapa lama dokter keluar. Kedatangannya pun disambut dengan sangat hangat. Asma dan Rania terlihat sangat tidak sabar dengan apa yang akan dokter utarakan kepada mereka. Terlebih ketika melihat ekspresi yang bersarang di wajahnya seperti tidak bersahabat. “Bagaimana kondisi kakak saya dok?” “Beliau sekarang masih terbaring lemah,” “Kalau kalian mau menemani di samping silakan, namun beliau masih sangat lemah” “Terima kasih dok” Air mata Rania tak dapat dikendalikan. Begitu juga Asma yang kini mulai menitikkan air mata setelah melihat keadaan kakaknya langsung. *** “Kak bagaimana sudah merasa lebih baik dari hari kemarin?” “Mendingan, tapi masih sedikit pusing.” “Iya sudah biar kakak istirahat total dulu. Asma tinggal ke depan bantu Rania melayani pelanggan ya kak” Asma keluar dari kamar di Kurya Bakery. Ya toko satu satunya yang menjual roti roti Indonesia ini memiliki dua buah kamar. Kamar ini selalu digunakan untuk tinggal para karyawannya. Kamar ini sedikit luas. Satu kamar untuk perempuan dan satu kamar untuk laki-laki. Dahulu Kurya Bakery sempat mempekerjakan beberapa karyawan. Namun karena kurangnya omzet penjualan terpaksa pengurangan karyawan dilakukan. Dan kini mereka sedikit mengalami keteteran karena kini Kurya Bakery sedang naik daun dan seakan menjadi tujuan kuliner. Bahkan seperti destinasi kuliner utama. Hal ini dapat diketahui dari semakin banyaknya pembeli seiring bertambahnya waktu. Rania terlihat sedang sibuk mempersiapkan satu persatu. Terlihat ia sedikit kewalahan karena pengunjung sudah mulai berdatangan. Asma segera membantunya. Dengan bantuan Asma, Antrian panjang pun dapat sedikit teratasi. Ternyata eksistansi Kurya Bakery tidak berlangsung lama. Seakan sedang naik naik daunnya di paksa untuk turun. Sebuah toko roti yang baru baru ini beroperasi di seberang jalan tak jauh dari Kurya Bakery. Bahkan toko roti itu bukan sekedar toko, melainkan Galery Bakery. Gedung itu sudah hampir jadi dan memiliki bangunan yang megah. Galery Bakery ini merupakan tempat penjualan kue Internasional. Bukan hanya kue dari Indonesia, disana tersedia kue dari berbagai negara. Bahkan jenis kue yang di tawarkan tiap negara sangat kompleks. Mereka mempekerjakan langsung orang orang dari berbagai negara untuk memproduksi kuenya. Dan yang jelas mereka memproduksi kue dari asal negara masing masing. Tak butuh waktu lama. Kurya Bakery pun kini terpaksa gulung tikar. Makin hari penjualannya makin turun. Menutup toko adalah salah satu cara yang harus dilakukan. Mau tidak mau mereka pun menutup Kurya Bakery. Dan mereka berniat akan menjualnya. Mau bagaimana lagi Kurya Bakery akan di jual dan mereka akan segera pulang ke Indonesia. Hari ini adalah hari penerbangan itu. Mereka sudah berada di bandara. Beberapa koper juga nampak di samping mereka. Ahmad yang masih mengalami luka di bagian lengannya, keadaan tubuhnya juga belum benar-benar pulih. Pesawat melaju perlahan. Kecelakaan tanpa disangka terjadi. Entah ada kerusakan di baling baling atau dimana. Pesawat oleng tak karuan. Orang orang yang berada di dalamnya pun dibuat panik. Mereka cemas bukan main. Para pramugari berusaha menenangkan mereka dengan sedikit panik. Mereka mulai memakai sabuk dan oksigen sesuai instruksi dari pramugari. *** Tanpa diduga, kepanikan itu dapat berakhir dengan napas lega. Pesawat mendarat di Bandara terdekat. Semua orang segera di evakuasi keluar dan diberi pertolongan. Rania dan Asma terlihat mengangis tak kuasa. Ternyata sedikit kecelakaan yang di alami pesawat berhasil membuat penyakit jantung Ahmad kambuh. Dengan penuh kepanikan itulah Ahmad menghembuskan nafas terakhirnya. Ia benar benar tak bisa ditolong lagi. Rania sungguh terpukul. Ia tidak bisa menerima ini. Ia bahkan sampai pingsan tak tersadarkan diri. Teman teman dekat Ahmad semasa kuliah dan beberapa gurunya segera datang ke Bandara dimana Ahmad berada. Ahmad adalah orang yang sangat mudah bergaul dan ia memiliki banyak teman. Tentu banyak yang merasa kehilangan dan tanpa pamrih membantunya bahkan ketia ia tiada. Ya Bandara terdekat berada di Negara tetangga. Karena jarak yang tidak begitu jauh dari Amerika, mereka tidak terlalu lama untuk sampai disana. Berdasarkan permintaan Asma dan keluarganya Ahmad akan dimakamkan di negara kelahirannya. Keluarganya merasa sangat terpukul. Merek menolak keras jika Ahmad di makamkan di sana dan dengan pemakaman yang tidak sesuai dengan syariat islam. Karena itu mereka segera membawa Ahmad ke Indonesia. Asma turut juga dalam penerbangan ke Indonesia. Rania yang pingsan tak tersadarkan diri dengan terpaksa ia di bawa ke Amerika yang jaraknya tidak terlalu jauh untuk di rawat oleh Viera teman Nisa yang masih berada di Amerika karena studinya belum selesai. *** Rania membuka matanya dengan perlahan. Kepalanya terasa sangat berat. Bahkan ia bingung kini ia berada di mana. Ia tidak ingat kejadian terakhir yang ia alami. Ingatannya seperti lumpuh seketika. Sangat dan teramat sakit ketika ia memaksa dirinya untuk mengingat ingat apa yang telah terjadi kepadanya. Sesosok wanita yang asing bagi Rania tiba tiba muncul. Postur tubuhnya yang agak tinggi dan tidak terlalu berisi itu terlihat anggun dengan mengenakan jilbabnya. Wanita itu tersenyum kepada Rania. “Sudah bangun? Kalau sekali kamu tidak tersadarkan diri dan aku sangat menunggu waktu ketika kamu membuka mata” “Maaf saya dimana dan kamu siapa?” Rania berusaha untuk duduk dan wanita itu melarangnya dan menyuruhnya tetap terbaring. “Sudah tidak usah bangun, istirahatlah, Saya Viera temannya Nisa” “Lalu apa yang terjadi kenapa saya bisa berada di sini bersama kamu?” “Kamu tidak tersadarkan diri ketika Ahmad meninggal dunia” “Hah?”wajah Rania penuh kebingungan. Ia semakin dibuat bertanya tanya. ‘Siapa Nisa? Siapa Ahmad? Kenapa aku tidak dapat mengingatnya’ batin Rania. “Mereka orang orang terdekatmu” Viera mencoba tersenyum dengan tenang. Ia berharap Rania tidak panik setelah menyadari siapa Ahmad. Yang membuat Viera bingung mengapa Rania tidak mengetahui Ahmad? Bukankah ia akan menikah dengannya? Ah sudahlah. Sepertinya ini memang yang terbaik untuk sekarang mengingat keadaannya yang baru siuman dan terlihat ia sangat lemas dan penuh kebingungan. “Sudahlah beristirahatlah terlebih dahulu...”pinta Viera. *** Di Kediaman Veira kini Rania sudah berangsur-angsur pulih. Ia terlihat lebih sehat. Ingatannya terus memikirkan kata kata Viera beberapa hari sebelumnya. Ya Rania memikirkan siapa Nisa dan siapa Ahmad. Kenapa ia tidak dapat mengingatnya? Kenapa nama tersebut sepertinya tidak asing baginya? Siapakah mereka ? Tanpa merasa ragu, Rania mencoba bangkit. Rania mendekati Viera yang tengah terduduk di depan laptopnya. Ia tampak serius menatap layarnya. “Maaf, ada yang ingin aku ketahui dari kamu” ucap Rania yang sudah terduduk di belakang Viera. “Eh sudah bangun, badan sudah enakan?” bukannya menjawab pertanyaannya Viera justru menanyakan kesehatannya. “Sudah lebih enakan dari kemarin...” “Eee, ada yang aku mau tanyakan” ulang Rania mendapati pertayaannya tidak juga kunjung diberi jawaban. Sudah sedari tadi ia menunggu jawaban. “Eh iya, apa yang ingin kamu tanyakan ? bicaralah...” “Kemarin kamu mengatakan nama Nisa dan Ahmad? Kalau boleh tau siapa mereka? Aku tidak dapat mengingatnya sama sekali. Tapi rasanya mereka tidak asing bagiku” Rania mencoba memecahkan teka teki yang terus mengganggu pikirannya itu. Tentu saja hal itu membuat dia penasaran. Mendengar apa yang Rania utarakan dan melihat dari ekspresi yang terekam di wajahnya, Viera sedikit ragu untuk menjawab. Viera merasa ada yang tidak beres pada Rania. Bagaimana mungkin ia melupakan semuanya yang berkaitan dengan Nisa dan Ahmad? Bukankah mereka orang orang terdekat Rania? Viera tidak mau menambah beban pikiran Rania. Terlebih lagi Rania baru sedikit terlihat lebih sehat. Viera sedikit khawatir jika Rania tetap tidak bisa mengingatnya dan terus berusaha untk mengingat justru akan membuat pikirannya semakin sakit. Apakah Rania insomnia? Viera bukan bersyukur Rania melupakan mereka berdua. Namun apa jadinya jika Rania ingat semua kejadiannya. Dan mengingat semua kejadiannya dengan Nisa dan Ahmad? Apalagi sekarang AHmad telah tiada? Akankah Rania kuat menghadapi kenyataan ini. Itulah yang ada di benak Viera. “Tidak.. Mereka teman temanku dan teman kamu juga ...” Viera sebisa mungkin mencoba menjawabnya dengan senyum sumringah. Ia tidak mau membuat tekanan pada batin Rania melihat kondisinya. Apakah benar yang di jawab oleh Viera? Rania tidak merasa puas dengan jawaban Viera. Benar memang jawaban Viera terdengar meyakinkan. Namun kenapa Aku merasa memiliki hubungan lebih dengannya? Namun hubungan apakah ini? Melihat Respon dari Rania, Viera pun merasa Rania mengalami kesehatan pada ingantannya. Bagaimana mungkin seseorang yang memiliki ikatan dekat dapat melupakan begitu saja. Viera bermaksud untuk membawa Rania ke dokter. Hanya dokter yang dapat mengetahui apakah Rania sakit amnesia atau pun kerusakan pada otak sehingga ingatannya bisa melemah seperti ini. Bahkan ia tidak bisa mengingat orang yang begitu dekat dengan kehidupannya. *** “Maaf dok, apa yang teman saya alami?” tanya Viera yang terduduk di depan dokter. Rania tampak duduk si sampingnya. Rania telah selesai di periksa dokter. Kini mereka tengah menunggu hasil diagnosa dari dokter. “Mohon maaf, saudara Rania sepertinya mengalami sedikit masalah pada saraf otaknya. Ini memerlukan beberapa pengobatan untuk sedikit membantu ingatannya.” “Ya Allah...” ucap Viera pada dirinya sendiri. Viera tampak kaget tidak percaya. Berbeda dengannya Rania justru memasang ekpresi yang sama seperti sebelumnya. Sepertinya ia tidak mengetahui apa yang dokter bicarakan. Benar seusai dugaan. Rania tidak mengetahui yang dokter katakan. Amnesia. Apalagi kata itu sungguh terdengar sangat asing baginya. Ia tidak mengetahui apa maksud dari kata itu. Rania merasa semakin kebingungan. Tiap minggunya Viera harus selalu membawa Rania untuk melakukan beberapa terapi. Awalnya Rania menolak, namun Viera mencoba membujuknya. Awalnya segala bujukannya gagal. Rania berhasil di buat yakin untuk melakukan terapi setelah Viera mengutarakan bahwa setelah Rania di terapi ia akan dapat menjawab kebingungannya selama ini. Ya ingatan mengenai siapa sebenarnya Nisa dan Ahmad yang selalu berkeliaran di kepala Rania tanpa henti. Karena penasarannya itu Rania menyerah dan ia mau mengikuti perintah Viera untuk menjalankan terapi kesembuhan. *** Sementara di Indonesia, Asma mencoba untuk bangkit. Kehilangan Ahmad sebagai sosok kakaknya sungguh sangat membuatnya terpukul. Asma sendiri kini juga tengah terbaring di rumah sakit. Ia mengalami kesedihan mendalam yang berakibat melemah fisiknya. Obat obatan dan beberapa perawatan pun mau tidak mau harus ia rasakan. Orangtuanya yang juga terpukul menemaninya di rumah sakit. Siapa lagi kalau bukan mereka yang menemani Asma. Kini Asma adalah satu satunya anak yang mereka punya. Ayah Asma bahkan menambah cuti kerja beberapa waktu demi menjaga putrinya itu. Ya begitulah kini yang di alami Asma dan Rania. Dua orang yang dekat dengan sosok Ahmad. Ternyata bukan hanya mereka yang merasa kehilangan Ahmad. Sahabat sahabatnya pun banyak yang mengalami hal serupa. Mereka kehilangan sosok yang selalu memberi kehangatan dalam kebersamaan. Terasa sangat kurang tanpa keberadaannya. *** Berbulan bulan Rania melakukan terapi. Kini ia sudah mulai pulih kembali. Ia mulai mengingat Nisa. Ia berhasil mengingatnya setelah ingatan mengenai ia yang jatuh sakit berhasil lewat pada pikirannya. Ia seketika juga ingat semuanya. Ia ingat juga bahwa ia akan menikah dengan Ahmad. Rania hendak mencarinya. Sepertinya memori Rania belum bisa mengingat semuanya. Rania lupa Bahwa Ahmad telah tiada. “Terima kasih banyak kak Viera, aku mau mencari Ahmad sekarang” ucapan Rania mengejutkan Viera yang tengah sibuk dengan ponselnya. Mereka duduk bersebelahan. Viera bingung bagaimana ia harus merespon. Tidak mungkin juga Viera langsung mengatakan yang sebenarnya. Namun jika tidak? Ah sungguh ini pilihan yang berat bagi Viera. “Kak, kok diam?” “Eh maaf, gimana tadi?” Viera pura pura tidak mendengar. “Terima kasih buat semuanya, Kini Rania mau mencari Ahmad” “Eeee...” “Hm?” respon Rania sambil mengangkat sebelah alisnya. Viera sungguh Ragu. Namun apabila ia tidak memberi tahu Rania maka Rania akan terus mencari. Dengan penuh hati hati Viera mulai berbicara. “Maaf, apa Rania belum bisa ingat apa yang terjadi semuanya?” Viera tidak mau memberinya secara terang terangan. Sungguh kondisi Rania masih belum benar benar pulih. “Masih adakah ingatan Rania yang belum pulih?” Rania mencoba bertanya kepada Viera untuk meyakinkan apa yang dimaksud Viera. Veira menjawab tanpa sepatah kata pun. Viera hanya mencoba sedikit tersenyum dan menganggukan kepala. Rania terlihat gelisah. Sepertinya ia berusaha keras untuk mengingat semua yang terjadi. Ekspresi di wajahnya tampak kasihan. Sepertinya semakin Rania memaksa dirinya untuk mengingat sesuatu itu justru membuat kepalanya semakin sakit. “Rania, tetap terapi ya kamu belum benar benar sembuh. Biarkan kamu dapat mengingatnya semua terlebih dahulu.” Rania tidak menjawab. Ia justru pergi ke kamarnya. Viera hanya bisa terdiam. Viera bingung bagaimana ia harus bersikap. Namun sepertinya ia memberi tahu ke Rania pun itu akan menjadi duka baru. Dan kini keadaannya masih belum begitu pulih. Viera memilih menunda waktu untuk menyampaikan langsung kepada Rania.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD